JAWARA PILIH TANDING.

JAWARA PILIH TANDING.
Episode 23.


__ADS_3

"saya dulunya tinggal di kampung Bojong, dan sekarang saya sudah tak mempunyai Apa apa lagi Ki Sanak." jawab Ki Sanggah Langit,


"eleuh. kampung Bojong mah lumayan jauh atuh Tuan, dari sini mah. memangnya teh Tuan mau mencari tempat tinggal dimana? karena di sini mah Rawan Tuan," ucap si Otong Tiba tiba lirih. ke telinga Ki Sanggah Langit.


"iya memang jauh Ki Sanak, saya juga berjalan menuju kemari. memerlukan waktu yang cukup lama Ki Sanak, Hem. maaf maksud Ki Sanak Rawan bagaimana ya?" kata Ki Sanggah Langit bertanya balik,


"ohh.. aduh kasian juga ya, tapi ya sudah tenang saja Tuan. jika Tuan lapar mah, nanti akan saya buatkan makanan Enaklah hehe.. iya justru itu Tuan, di Daerah Dusun ini sedang Ramai Rampok. tapi saya mendengar kata Orang yang sudah numpang makan di sini, katanya teh Daerah Panembong mah sudah aman katanya Tuan." kata Otong menjelaskan,


"hehe.. sudah jangan Repot repot Ki Sanak, ehhm. memangnya ada ke jadian apa saja gitu Ki Sanak di Kampung Panembong itu?" tanya Ki Sanggah langit Pura pura tidak tahu Apa apa,


"hehe, aduh bagaimana ya Tuan. soalnya saya teh ingin memberi penghormatan pada Tuan teh gitu. sebab kan Tuan habis perjalan jauh atuh, menuju kemari teh. oh kalau soal ke jadian di Kampung Panembong Tuan, berawal dari Musuh Bubuyutan Ki Langkir. yaitu Tokoh Jawara di kampung tersebut, hingga ia pun pernah berhadapan langsung dengan Musuh Bubuyutannya itu. hingga Akhirnya pun tewas mengenaskan, naah hingga sekarang Karaman itu selalu mengganggu Warga Penduduk Desa ini. terutama Kampung Panembong itu," kata si Otong menjelaskan.


"hem, ternyata seperti itu rupanya ya. lantas mengapa sekarang katanya sudah terlihat aman, siapa yang sudah berhasil menaklukkan Karaman tersebut?" tanya Ki Sanggah Langit,


"iya Tuan, dan katanya yang telah menolong warga Kampung itu. Seseorang yang sangat Asing katanya Tuan, lalu Seseorang itu menutup bagian mukanya dengan Cadar berwarna Cokelat Tuan," jelas si Otong pada Ki Sanggah langit.


"oh, jadi begitu rupanya ya Ki Sanak. tapi Kira kira Ki Sanak tahu, dimana tempat tinggal para Karaman itu Ki Sanak?" tanya Ki Sanggah Langit,

__ADS_1


belum juga mau menjawab, tapi Ki Sanggah Langit Tiba tiba menebaknya." oh maaf, sepertinya saya mendengar tempat, Karaman itu Ki Sanak. kalau tidak salah di Alas Waringin juga ya, emmh.. saya baru tahu sekarang, mereka tinggal di Kampung Pamidangan kalau tak salah." jawaban dari Ki Sanggah Langit sendiri, tentunya membuat si Otong mengerutkan Dahinya.


"Ah, ko tebakan Tuan tepat sekali? dan mengapa Tuan tahu letak perkampungan di wilayah Desa kami? memangnya kalau boleh tahu, siapakah sebenarnya Tuan ini?" tanya si Otong Tiba tiba.


"hehe, saya dahulu pernah di bawa kemari. oleh Orang Tua saya, semenjak beliau masih hidup Ki Sanak." untung saja Ki Sanggah Langit pandai bersandiwara dalam bahasa,


"oh begitu. kirain saya teh maaf Tuan ini teh, Mata mata musuh gitu hehe.." kata si Otong,


"hampir saja, aku ketahuan." gumam Ki Sanggah Langit di dalam hatinya,


waktu terus berputar. awan yang terang sekarang sudah terlihat Gelap, karena Siang dan pagi sudah tergantikan oleh Malam. di kediaman Perguruan Sanca Dawuk, sedang Geger. karenan Tawanan yang berada di Hutan Hanjuang ada yang lolos melarikan diri, siapa lagi kalau bukan si Singa Maruta.


Ki Sanca yang sedang berduduk Nyaman itu, jadi kaget dan beranjak berdiri. lalu menatap dua Orang suruhannya yang sedang jongkok menyembah Hormat pada Gurunya,


"apa? para kawanan kalian Tewas oleh si Maruta? Kurang Ajar, takkan ku biarkan kau melarikan diri begitu saja." kata Ki Sanca,


para dua Orang Suruhannya itu keduanya tak ada yang mau bicara lagi, karena sangat terkesima. melihat Tatapan Gurunya yang sedang marah,

__ADS_1


"cepat kejar dia malam ini juga! jangan sampai dia Lolos jauh, biar aku nanti menyusulnya!" seru Ki Sanca, marah Besar.


"baik!!" seru kedua suruhannya itu.


mereka pun berdiri, dan melangkah keluar. untuk mencari si Singa Maruta, sedangkan yang mau mereka bertiga kejar. sudah hampir jauh dari pelataran Perguruan Sanca Dawuk, Singa Maruta menghentikan larinya. dan Ngos ngosan, merasakan rasa Cape sehabis lari barusan.


"ahhk, aduh bagian bawahku masih Sakit sekali! ternyata pengaruh jurus si Sanca itu. lumayan sangat mematikan juga, aku merasa Ngilu sampai detik ini juga. Aaa," ucap Singa Maruta meringis.


saat mendengar ketiga Orang suruhan Ki Sanca sampai di tempat Singa Maruta, yang sedang bersembunyi. Singa Maruta sengaja mengatur bagian tubuhnya agar tak ketahuan, dia ternyata sudah memiliki Ilmu halimun. sehingga tubuhnya tak bisa terlihat oleh kesat Mata orang biasa, lalu suruhan Ki Sanca mendekati Rerimbunan Semak semak di wilayah itu. para ketiga suruhan Ki Sanca pun sudah mulai kebingungan mesti mencari kemana lagi,


tapi setelah parah Suruhan Ki Sanca itu terhenti. dan melirik kanan dan kiri dengan Cahaya Obor yang di genggamnya, terlihat Seseorang yang sedang berdiri di bagian belakang sala satu ketiga Orang itu.


"Guru! mohon maaf Guru kami telah kehilangan Jejaknya Guru," seru sala satu suruhannya itu pada Ki Sanca yang sedang berdiri.


"tidak Apa apa murudku, kalian sudah berusaha sekuat tenaga pun itu sudah cukup. tapi lebih baik kalian cepat kemari," kata Ki Sanca di tujukan pada mereka bertiga.


lalu ketiganya pun melangkah secara perlahan mendekati Ki Sanca, setelah dekat Ki Sanca pun berkata." coba matikan Obor kalian bertiga," kata Ki Sanca.

__ADS_1


tapi mereka bertiga pun, langsung menurutinya. lalu segera meniup Api Obornya, keadaan pun jadi gelap. hanya dengan cahaya Rembulan saja, mereka dapat melihat sekitar di sana.


Ki Sanca rupanya sudah tahu keberadaan Singa Maruta, ia sengaja menyuruh ketiga suruhannya itu untuk mematikan Cahaya Obornya. seusai Api Obornya padam, Ki Sanca pun Duduk bersila dengan kedua tangannya posisi menyembah. lalu di ikuti oleh kedua Matanya terpejam, Ki Sanca memusatkan Mata Bathinnya untuk melihat situasi di sekitaran tempat itu. dengan Mata Bathinnya, tapi Ki Sanca melihat ada bekas Duduk Seseorang di depan dirinya. yang terhalangi Semak semak,"rupanya kamu menggunakan Ajian Halimun Maruta. jangan harap kamu bisa lari dariku hem! seru Ki Sanca di dalam hatinya, saat melihat bentuk lingkaran bekas Duduk Seseorang.


__ADS_2