JAWARA PILIH TANDING.

JAWARA PILIH TANDING.
Episode 28.


__ADS_3

"lupakanlah dulu tentang hal itu, Sekarang saya mau bertanya. ada hal apa Ki Sanak akan pergi ke Daerah Cirebon?" tanya Gusti Prabu,


"mohon maaf Gusti, Hamba hanya di beri tugas oleh Guru Hamba. untuk memberikan Surat pada Syekh Nurjaman, yang berada di Cirebon. cuma itu Gusti Prabu." jawab Bardi, Membuat Gusti Prabu tercengang kaget,


"Tunggu tunggu.. ada Hubungan Apa Gurumu dengan Syekh Nurjaman?" tanya Gusti Prabu lagi.


"kalau tidak salah, setahu Hamba Guru Hamba dan Syekh Nurjaman adalah Saudara seperguruan." jawab Kang Bardi, yang berusaha untuk tetap tenang.


"Saudara seperguruan, siapa Gurumu itu?" tanya Gusti Prabu sangat penasaran,


"Nama Guru Hamba Kiyai Hasbullah, Putra Kiyai Haji Hasyim." jawab Bardi,


"Masyaa Alloh, berarti Ki Sanak berkeyakinan Muslim? Alhamdulillaah.. ternyata Paman Hasbullah sudah mendirikan Perguruan di sana," kata Gusti Prabu, membuat Bardi kaget.


"Alhamdulillaah saya Muslim Gusti, dan rupanya Gusti sangat mengenali Guru Hamba." Ucap Bardi,


"Syukurlah sebuah kehormatan bagi Tamu yang sekeyakinan denganku, pasti saya mengenalinya Ki Sanak. karena aku Adalah pewaris Ilmu Syekh Nurjaman," kata Gusti Prabu.


"Alhamdulillaah sebuah kebetulan sekali kalau begitu Gusti," ucap Bardi.


"iya benar Ki Sanak, tapi..." ucapan Gusti Prabu terputus,


"mohon maaf tapi kenapa Gusti?" tanya Bardi penasaran,


"Syekh Nurjaman sudah Tiga Bulan sudah Wafat," kata Gusti Prabu.


"yaa Alloh Innalillahi.. memangnya kenapa Gusti? ya soalnya pasti ada sebabnya gitu?" tanya Bardi,

__ADS_1


"jadi Wafatnya Syeckh Nurjaman, akibat terkena Tembakan peluru Emas Belanda. ia sedang berjalan menuju kediaman kami dulu, sebelum pindah ke Daerah sini. Tiba tiba segerombolan Belanda datang menghadang dan menangtangnya, karena pasukan Belanda itu tak suka pada Syeckh. karena penyebaran Aliran Muslim sudah mulai ramai di Daerah Pasir Langu, hingga Akhirnya Syeckh Nurjaman di jebak supaya turun dari atas Punggung Kudanya. untuk bertarung menghadapi Mark Fater, yang memiliki Peluru Emas itu. hingga Akhirnya beliau terkena oleh Tembakan itu," begitulah penjelasane dari Patih Sentana.


karena Gusti Prabu sangat bersedih jika menceritakan tentang Gurunya itu, Gusti Prabu pun menengadahkan kepalanya. lalu menatap Kang Bardi," iya begitulah Ceritanya Ki Sanak. mohon maaf saya tak bisa menjelaskannya secara langsung." ucap Turunan Raja Kuningan itu,


"ahh nggak Apa apa Gusti.. justru Hamba yang mestinya meminta maaf pada Gusti, karena dengan kedatangan Hamba kemari. membuat Gusti jadi teringat lagi beliau," kata Bardi.


"hehe.. tidak Ki Sanak, justru kami sangat senang dengan kedatangan Ki Sanak kemari. ternyata ada tamu yang ada kaitannya dengan Gurunya Gusti Prabu, bukan begitu Gusti." ucap Seorang Patih, sambil memberi hormat pada Gusti Prabu Jaya Giri.


"iya betul Ki Sanak, kalau Ki Sanak mengizinkan apakah saya bisa melihat isi Surat dari Kiyai Hasbullah yang Ki Sanak bawa?" tanya Gusti Prabu,


"oh iya tentu saja boleh Gusti.." jawab Kang Bardi, sambil maju perlahan untuk memberikan Suratnya pada Gusti Prabu.


setelah Gusti Prabu mengambilnya dari tangan Bardi, hingga di baca sampai Tuntas olehnya. dan kembali melipatkan Surat itu kembali," oh jadi Kiyai Hasbullah sedang memerlukan Bantuan Syeckh Nurjaman? lantas siapa yang Namanya si Petir itu Ki Sanak?" tanya Gusti Prabu Bertubi tubi.


lalu Kang Bardi pun menjelaskan asal mulanya si Petir, Kang Bardi menceritakannya sangatlah rinci. dan Kang Bardi pun mengakhiri Ceritanya," naah seperti itu Gusti ceritanya." kata Kang Bardi,


"Hamba menghadap Gusti," kata Seorang Dayang yang sudah Duduk sopan di depan Gusti Prabu.


"Ambilkan Ramuan yang ada di tempat Ruang Khususku," ucap Gusti Prabu memerintah pada Dayang itu.


"Hamba segera akan mengambil Gusti," ucap Dayang itu sambil beranjak berdiri dan melangkah menuju Ruangan khusus yang di katakan oleh Gusti Prabu.


tak lama Beberapa detik kemudian Dayang itu sudah kembali menghadap Gusti Prabu lagi, dan memberikan sebuah Botol Kecil yang berbentuk Guci. dan di Tutupi ujung Botol atasnya oleh Kain Merah, dan Dayang pun kembali melangkah menuju tempatnya lagi.


"naah inilah Ramuan yang sengaja aku Racik, ini juga Almarhum Syeckh Nurjaman yang mengajari saya. untuk membuat Ramuan ini, yang di Namai, Ramuan Raksa Jasad." kata Gusti Prabu, sambil memberikan Botol Ramuan itu pada tangan Kang Bardi.


Kang Bardi segera meraihnya, lalu melihat sebentar bentuk botol berisi Ramuan itu. setelahnya segera menyimpan Ramuan itu di balik bajunya Bardi.

__ADS_1


"tolong gunakan Ramuan secara Baik baik Ki Sanak, karena kalau aku menghargakan Ramuan itu. cukup lumayan Mahal Harganya." ucap Gusti Prabu,


"tentunya Insyaa Alloh.. saya akan memanfaatkan Ramuan ini secara Mestinya Kanjeng Gusti," kata Kang Bardi.


tak lama kemudian setelah lama percakapan dengan mereka, Bardi pun memohon izin untuk Pamit. di Siang hari yang sangat Cerah itu, Bardi baru saja keluar dari Gerbang Istana Kuningan.


dan akan segera Pulang ke Tatar Kulon, Panglima Kerjaan pun mengantar Kang Bardi. dengan Menggunakan Kereta Kencana milik Kerajaan Kuningan, sampai daerah Perbatasan.


setelah mengantarkan Kang Bardi pulang ke Perbatasan, Panglima Kerajaan pun balik lagi menuju Istana. kita tinggalkan dulu Kang Bardi yang sedang Perjalanan menuju pulang,


kita Ceritakan di kediaman Padepokan Girilayang, Kiyai Hasbullah sedang kedatangan Tamu dari Daerah Alas Waringin. yaitu Marta dan Ki Langkara, keduanya di Sambut dengan penuh Rasa Penghormatan. oleh Kiyai Hasbullah dan Gayatri,


"silahkan kalian berdua jangan Sungkan sungkan, yaah mohon maaf sebelumnya karena Jamuan kami hanya seala kadarnya saja." ucap Kiyai Hasbullah,


"tidak Apa apa. terima kasih juga atas Sambutan dan Penghormatan Kiyai dan Ibu kepada kami berdua," kata Ki Langkara.


"iya Paman, kami justru sangat Berterima kasih terhadap Paman. karena sudah membesarkan si Petir dengan sangat baik,," ujar Marta.


"hehe.. itu sudah ke wajiban saya Tuan tuan, karena si Petir sudah kami anggap Anak kami Sendiri. bukan begitu kan Bah," sahut Gayatri. lalu Melirik Kiyai Hasbullah,


"benar Tuan, justru kami sangat senang sekali. dengan adanya si Petir di kehidupan kami Tuan, dan aku juga Bangga terhadap dirinya." ucap Kiyai Hasbullah,


"syukurlah kalau begitu Kiyai, jadi apakah saya boleh melihat keadaannya?" tanya Ki Langkara, pada Kiyai Hasbullah.


"oh silahkan Tuan, mari saya antar." jawab Gayatri,


lalu mereka berempat pun berdiri, lalu melangkah mengikuti Gayatri menuju Kamarnya si Petir. sesudah sampai di dalam Kamarnya si Petir, Marta pun melihatnya dengan cermat. takutnya lukanya sangat Parah, menimpa si Petir.

__ADS_1


ternyata setelah di deteksi oleh dua jemari Marta yang di kenakan pada Titik Syaraf si Petir, Marta pun memanggut sambil tersenyum.


__ADS_2