
"Marta coba kamu selidiki dulu ke dalam Rumah itu. siapa tahu ada perbuatan yang menjijikkan di dalam sana," perintah Ki Langkara pada si Marta,
"baik Ki, saya akan melihatnya." sahut Marta sambil beranjak pergi, mendakati Rumah yang di tunjuk oleh Ki Langkara.
"hehe.. Dasar Orang Sedeng ya Paman, soalnya saya dengar orang itu sedang mengeniaya Seseorang Paman." ucapan si Petir mengagetkan Ki Langkara, karena tak menyangka kalau mendengarannya sungguh luar biasa.
"sungguh hebat pendengaranmu Petir, bisa mendengarkan Situasi di dalam sana. yang padahal jaraknya lumayan agak jauh," kata Ki Langkara sambil mengusap Rambut si Petir.
sedangkan Marta sedang menyelinap, lalu mendengar suara yang tak asing lagi. suara yang di dengar oleh Marta jelas, suaranya si Bewok.
si Bewok sedang memaksa Seorang Wanita di dalam Rumah itu, si Marta berusaha untuk mengintip di balik Dinding luar Rumah Bambu itu.
"sialan si Bewok Benar benar Binatang!" seru Marta sambil mengepalkan tangannya, tanda Geram melihat apa yang di lakukan oleh si Bewok. pada Perempuan yang tidak bersalah itu,
si Marta langsung menerobos masuk ke dalam, dan tentunya mengagetkan si Bewok yang sedang meniduri perempuan itu,
"Bangs*at..!! rupanya kau lagi, bukannya kau sudah di lumpuhkan oleh juragan Singa Maruta? tapi cepat sekali kau sudah terbebas." ucap Bewok,
"itu tidak penting Bewok, yang terpenting kau harus lenyap dari Bumi Alas Waringin ini. hiyaat!!" seru Marta menyerangnya terlebih dulu.
si Bewok dengan Mudah dan cepat menghindari serangan dari Marta, tapi Marta tak menyerah, terus menekan dengan Serangan saling Susul. hingga Bewok memutuskan untuk loncat ke atas, menembus atap Rumah yang terbuat dari Jerami itu.
Joreelaat.. jlig!
si Bewok loncat ke atas, dan berdiri di sana. tapi Marta menyelamatkan perempuan itu terlebih dulu.
si Petir menatap tajam, pada Seseorang yang sedang berdiri di atas Rumah Warga itu. dengan gerakan Ilmu peringan Badan yang lumayan tinggi itu, si Petir sudah berada di atas Rumah Warga itu. tanpa memperlihatkan Jejaknya,
__ADS_1
"coba itu lihat Ki Sanak, bukankah itu si Petir? sungguh luar biasa Anak itu." kata Ki Langkara yang sempat kaget, melihat Gerakan si Petir. yang sudah berhadapan dengan si Bewok,
"iya Den, itu benar si Petir Den. maaf ya memang gitu orangnya si Petir mah Den, Ngeyel." ucap Kang Bardi,
"Tidak Apa apa Ki Sanak, saya suka dengan Anak Pemberani Seperti.. Ponakanku ini," ucap Ki Langkara sambil menatap si Petir.
"hahaha.. hey Bocah untuk kamu naik kemari, mau cari Mati ya?" tanya si Bewok.
"hehe.. ternyata Akang ini lucu ya, emang Mati bisa di cari gitu? setahu saya mah Mati mah perkara yang bakal atuh Kang, betul nggak?" tanya si Petir membuat si Bewok penasaran.
"hey Bocah, jangan berani membantah Orang tua ya, lebih kau turun saja." kata si Bewok sambil memegang Pinggangnya dengan kedua tangannya.
"siapa juga yang melawan, mencubit juga nggak. lagian Orang tua siapa kau ini? Orang tuaku juga bukan," ucap si Petir dengan santai.
"Kurang Ajar.. jangan menyesal kau Bocah ya, hiyaat!!" seru si Bewok Sambil menyerangnya, tapi Bewok kaget. serangan dirinya tak mengenai sedikit pun pada Anggota badan si Petir. daya terjangan si Bewok dengan mudah di tahan oleh si Petir.
seet.. deg! seet.. deg!
Jebrod.. jebrod..dess!
"aaa..!!" seru si Bewok jatuh ke bawah akibat terkena Pukulan dari si Petir.
si Bewok Berhasil menahan tubuhnya, hingga bisa berdiri tegak di tanah. sedangkan si Petir tertawa di atas,
"hahaha.. sakit atau Geli Kang?" tanya si Petir sambil mengorek ngorek Kupingnya,
"hebat juga ini Bocah, daya ke Kuatannya di luar dugaanku." gumam si Bewok di dalam hatinya.
__ADS_1
tak lama kemudian si Jarong datang lalu bertanya." sudah belum?" tanya si Jarong yang baru saja tiba di samping si Bewok,
"sudah apanya, coba kau lihat di atas sana. dia bukan Bocah sembarangan, seranganku juga dapat di tangkisnya Beberapa kali. dan anehnya lagi. Pukulannya itu luar biasa," kata si Bewok sambil menunjukkan si Petir yang sedang santai di atas, pada si Jarong.
"alaah.. kau aja yang bego, ngadepin tuh Bocah aja kalah. Cemen banget kamu Wok," kata si Jarong.
"dari pada kau tak percaya buktikan saja sendiri." ucap si Bewok,
"baiklah, hiyaat!!" seru si Jarong sambil loncat ke atas. sesampainya di atas dia pun langsung menatap tajam pada si Petir.
sedangkan si Petir hanya melihatnya sebelah mata," ngomong sama siapa sih Kang, aduh kasian, si Akang jadi Gila ya? haha..!" seru si Petir, sambil melirik si Jarong.
"hey Bocah.. jangan merasa kau sudah unggul ya, jangan Mentang mentang baru saja sudah mengalahkan si Bewok. kau sudah unggul," kata si Jarong agak tinggi nada Bicaranya,
"hahaha.. yeh siapa juga yang merasa sudah unggul, dianya aja yang nggak becus." ucap si Petir, Membuat si Bewok geram.
"udah Jarong lawan saja, kalau kau berani!" seru si Bewok berteriak dari bawah.
tentunya si Jarong jadi penasaran, lalu kemudian maju menyerangnya.. dengan ke Cepatan tangan yang sangat luar biasa. si Jarong menyerang semua anggota badan si Petir, tapi si Petir dengan sangat sigap menghindari semua serangan itu.
Ki Langkara, Marta, juga Kang Bardi. merasa takjub dengan kemampuan yang di miliki si Petir, walau pun Usianya masih Remaja.
dan si Petir dan juga si Jarong Masih mencoba menyerangnya terus menerus, dan tak sempat si Jarong mau memundurkan Badannya sebentar. dengan maksud akan menggunakan ke Kuatannya. tapi tak sempat karena si Petir sudah memberikan Serangan baliknya. mengarah pada bagian Badan dan Dadanya,
lalu si Jarong jatuh, dan cepat si Jarong berdiri kembali. menatap si Petir, dan berkata" hey Bocah sialan, turun jika kau masih berani!" seru si Jarong samabil kedua tangannya memegang Pinggangnya.
"hehe... ah siapa takut, emang saya penakut kaya kamu hehe.." kata si Petir, meledek si Jarong. dan si Jarong pun merasa terhina dengan ucapan si Petir,
__ADS_1
"koekk Cih! budak set*an.. lancang sekali kau bicara," ucap si Jarong sambil mempersiapkan diri. akan mengeluarkan tenaga dalamnya,
si Petir pun mengerti apa yang akan di lakukan oleh si Jarong itu, lalu si Petir pun sama tak memperlihatkan jejak. si Petir sudah mempersiapkan dirinya, untuk menahan serangan lawan.