
“Nyonya, kita tidak bisa membawa Nona Graciella di rumah sakit besar. Itu sangat riskan, jika diketahui oleh Tuan, kita bisa dapat masalah,” ujar salah satu asisten yang dibawa oleh Monica. Dia bahkan harus menyewa mobil agar dia tidak bisa dilacak.
Monica melihat Graciella yang tampak kembali pingsan. Dia sudah tak sanggup lagi membuka matanya. Semuanya sudah kembali menghitam.
“Kita letakkan saja dia di rumah sakit terdekat. Seseorang akan melihatnya dan menolongnya.”
“Baik Nyonya!” jawab asisten itu lagi.
Mobil sewaan itu menepi tak jauh dari rumah sakit kecil terdekat yang bisa mereka temukan. Setelah memastikan tidak ada CCTV di sekitar mereka. Mereka segera membuka pintu mobilnya dan menjatuhkan tubuh Graciella di pinggir jalan. Setelah itu mereka segera meninggalkan tubuh Graciella.
Monica terus melihat ke arah Graciella yang tubuhnya tergeletak lemah tak bergerak di pinggir jalan. Semoga saja ada yang menemukannya segera sebelum terlambat, hanya ini yang bisa dia lakukan untuk anaknya.
...****************...
“Stevan! Aku sudah menemukannya!” ujar Daren yang langsung menelepon Stevan setelah dia memastikan bahwa dia mendapatkan laporan yang sebenarnya. Selama beberapa hari ini dia menyelidiki keberadaan Graciella. Tapi dia tidak bisa menemukan apa pun. Stevan pun tak bisa membantunya lebih banyak. Apalagi aksesnya untuk mencari Graciella seolah tertutup. Dia yakin semua ini karena kekuasaan dari David Qing.
Pagi ini dia mendapatkan kabar bahwa seorang wanita dengan ciri-ciri mirip sekali dengan Graciella ditemukan tergeletak di sebuah jalan sepi di dekat sebuah rumah sakit pinggiran kota. Dia langsung datang dan memastikan bahwa itu adalah Graciella.
“Di mana?!” ujar Stevan melonjak kaget. Akhirnya mereka melepaskan Graciella juga. Stevan benar-benar stress memikirkan nasib Graciella. Xavier, walaupun dia tidak bisa menemukan pria itu, tapi dia bisa melihatnya dari TV saat pengumuman pernikahannya dengan Devina yang akan dilakukan hari ini.
Dia bahkan tidak diundang dan tidak bisa mendekati Xavier. Dia tidak tahu bagaimana Xavier bisa setuju menikahi Devina, tapi pastinya ini semua karena Graciella.
“Rumah sakit A, tapi aku ingin membawanya ke rumah sakit milik keluargaku. Aku akan menghubungimu ketika aku sudah membawanya ke rumah sakit itu.” Daren memandang miris ke arah Graciella yang tampak begitu kasihan. Luka di pipinya tidak bisa dijahit seluruhnya karena ada infeksi dan menunggu infeksinya menyembuh dahulu.
__ADS_1
Tubuhnya tampak begitu lemas dan dari yang terakhir kali dia ingat, tubuh Graciella jauh lebih kurus. Dari tadi dia tiba di sini hingga sekarang. Graciella tak membuka matanya sama sekali. Daren begitu tersentuh melihat keadaan Graciella sekarang.
“Ambulancenya sudah siap Tuan,” ujar seorang perawat.
“Baiklah, pindahkan dia segera,” ujar Daren.
"Baik Tuan."
"Terima kasih."
Beberapa perawat segera menyiapkan pemindahan perawatan Graciella. Tak lama mereka memasukkan tubuh Graciella ke dalam ambulans dan Daren mengikutinya dari belakang.
...****************...
Graciella tentu tidak merespon apapun perkataan dari Laura. Stevan yang juga baru saja sampai hanya memainkan rahangnya. Merasa miris dengan keadaan Graciella yang sangat parah. Andai saja dia punya kekuatan lebih atau pangkatnya sedikit lebih tinggi pasti tak ada yang bisa menekan dirinya seperti ini. Stevan merasa begitu menyesal.
"Apa kau berpikir tentang siapa dalang dari semua ini?" tanya Daren.
Stevan mengangguk kuat, "David Qing tentunya."
"Aku sudah berusaha semampuku, tapi mencari Graciella adalah hal paling susah yang pernah aku lakukan," ujar Daren lagi. Bukannya dia tak serius mencari Graciella tapi dia hanya detektif swasta. Dia bahkan tak bisa mengakses apa pun. Tidak ada bukti atau saksi. Tidak ada petunjuk apa pun yang tertinggal, mereka benar-benar bersih dalam melakukannya.
Stevan melirik ke arah Daren, "Jangankan kau, aku bahkan kesulitan untuk menemukannya. Mukjizat sekali bisa menemukannya seperti ini. Ini bukan seperti gaya mereka. Aku yakin ada seseorang yang menolong Graciella atau memang dia yang entah bagaimana bisa berhasil keluar."
__ADS_1
"Pagi itu ada mobil pekerja yang lewat. Dia melihat mobil berwarna hitam yang menurunkan seorang wanita yang tak sadarkan diri. Tapi mereka tak mengingat plat mobilnya. Oh, dan dia membawa guci kremasi itu, dia memeluknya dengan erat sesuai dengan keterangan saksi yang menemukannya. Apa kau tahu kira-kira abu siapa itu?" tanya Daren menunjukkan guci kremasi yang ada di atas nakas samping ranjang Graciella.
Stevan langsung mengerutkan dahinya. Dia memandang guci kremasi kecil itu. Matanya membesar seketika dan langsung menatap Daren dengan wajah yang begitu kaget. Tidak! Tidak mungkin apa yang dia pikirkan benar! Itu tidak mungkin bukan, tapi Graciella tidak membawa Moira dan malah memeluk guci kremasi itu.
Stevan langsung melangkah ke arah guci kremasi itu. Memegangnya dan langsung merasa begitu sesak. Akankah benar yang ada dalam pikirannya? Kenapa perasaannya mengatakan hal itu benar adanya. Tidak mungkin ini adalah ….
"Guci kremasi siapa itu? lalu apa tidak ada tanda-tanda Moira?" tanya Laura begitu polos. Dia sudah mengguncang tubuh Graciella dari tadi, mencoba membangunkan wanita itu. Tapi Graciella seolah begitu lelap tak terganggu sama sekali.
Stevan memandang Laura. Tiba-tiba rasa begitu sedih menusuk perasaannya. Menyergapnya hingga membuat matanya merah dan berair. Tanpa terduga air matanya turun begitu saja. Stevan menundukkan pandangnya. Laura yang melihat ekspresi dan juga tingkah Stevan menangkap maksud pria itu.
"Tidak! Kau jangan berlebih! Itu tidak mungkin abu Moira, bukan?!" ujar Laura menggeleng dengan keras. Dia saja bahkan hingga bangkit berdiri.
"Moira? Anak Graciella?" ujar Daren yang memang sudah diberi tahu Stevan bahwa dia diculik bersama dengan anaknya.
"Jika bukan Moira, untuk apa Greciella membawa guci ini dan memeluknya erat. Ukurannya pun adalah ukuran anak-anak," ujar Stevan sebisa mungkin menahan dirinya sehingga suaranya bergetar.
"Tidak! Tidak mungkin!" Laura sedikit histeris. Dia tidak bisa membayangkan hal ini. Anak begitu lucu dan cantiknya. Dia menarik napas panjang yang rasanya malah menyesakkan dadanya! Dia tidak bisa terima ini.
Laura langsung terduduk melihat Graciella. Dia saja tak sanggup dan sesak membayangkan kematian Moira. Apalagi Greciella, walaupun dia baru bertemu dengan anaknya, tapi sebagai ibu pastilah perasaan Greciella begitu hancur. "Tidak! Aku tidak bisa menerimanya. Jangan berasumsi, sebelum Gracie yang mengatakannya, aku tidak akan percaya itu milik Moira!" Teguh Laura. Tidak! Dia tidak terima dan tak akan menerima.
"Sial! Aku akan membunuhnya jika saja ini benar!" Ujar Stevan dengan emosi memuncak. Dia masih bisa ingat senyuman dan tawa dari Moira saat mereka bermain bersama. Walau hanya sejenak, tapi begitu membekas di hati Stevan. Gadis kecilnya!
"Stevan, jangan gegabah. Kau bukan tandingannya sekarang. Jika kau bertindak sekarang, kau tamat. Tapi jika kau bisa lebih punya kedudukan maka kau bisa lebih leluasa menghancurkannya!" saran Daren. Bukannya tidak berduka jika itu benar adalah abu anak Graciella. Tapi dia tidak mengenal Moira, karena itu rasa sedihnya hanya sekedar simpati.
__ADS_1