
"Akhirnya, ada juga yang bisa membuatmu duduk tenang," ejek Stevan melihat Xavier yang memandangnya tajam.
"Bagaimana keadaan Moira dan Graciella?" semenjak dia sadar. Hanya itu yang ada dalam pikiran Xavier. Dia takut apa yang dia dengar sebelumnya terjadi pada Greciella dan Moira.
"Aman. Anakmu dan ibunya selamat. Katakan padaku bagaimana cara membuat anak begitu sempurna?" Stevan masih saja tak bisa melepaskan selera humornya.
Xavier menaikkan satu sudut bibirnya. Dia terlalu panik semalam hingga dia tak memperhatikan bagaimana wajah putrinya lebih dekat.
"Graciella juga sudah dipastikan bercerai dengan Adrean Han, aku sudah dapat laporannya bahkan foto sertifikat perceraian mereka dari Sarah." Sambung Stevan lagi.
"Kita harus keluar dari sini," ujar Xavier dengan cepat. Dia sudah tak tahan menyimpan rasa rindunya pada anaknya dan tentunya juga pada Graciella.
"Aku rasa ini akan sulit," ujar Stevan. Dari tadi dia memutar otak bagaimana caranya untuk kabur dari sini dengan membawa Xavier yang bahkan kesulitan berjalan.
"Kenapa?" tanya Xavier.
"Di luar penjagaannya sangat ketat dan ayahmu akan tiba sebentar lagi, kau juga tak bisa berjalan dengan baik.. Sepertinya kita harus mengatur ulang misi pelarian ini," ujar Stevan terus memutar otaknya.
"Ya, penjagaan khusus untuk Anda di sekeliling tempat ini," timpal dokter pertama.
Xavier menggertakkan giginya, dia tak ingin lebih lama berpura-pura dalam keadaan tak sadarkan diri. Xavier mencoba memutar otaknya. "Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi, berikan senjatamu," ujar Xavier segera.
"Kau ingin apa?" tanya Stevan mengerutkan dahinya. Untuk apa Xavier meminta senjata?
"Berikan saja!" ujar Xavier dengan nada tinggi. Stevan segera mengeluarkan senjata api yang selalu dia bawa. Jaga-jaga dia membutuhkannya.
Xavier langsung mengambilnya dan dengan cepat memutar roda di kursi rodanya untuk keluar dari ruang radiologi.
"Xavier! Kau mau kemana?" Tanya Stevan yang gelagapan. Dokter pertama itu awalnya mau mengikuti mereka tapi merasa lebih baik tidak ikut campur dengan apa yang terjadi.
"Aku ingin menemui ayahku!" Ujar Xavier dengan nada tegasnya, tetap bertekad memutar kursi rodanya. Pria itu pasti sebentar lagi akan datang!
__ADS_1
Stevan membesarkan matanya, "Xavier! Kau jangan gila! Kau ingin membunuh ayahmu sendiri! Kau bisa dihukum seumur hidup!"
"Aku tidak akan membunuhnya!"
"Lalu?"
Xavier memperhatikan keadaan. Tak lama pintu itu mulai terbuka. Xavier langsung berhenti dan mengacungkan pistolnya saat pintu ruangan itu terbuka sempurna. Stevan kembali membesarkan matanya melihat dengan beraninya Xavier mengarahkan pistol itu ke arah ayahnya yang baru saja masuk ke dalam. Para penjaga yang ada di sana kaget, mereka juga membidik Xavier.
"Xavier apa yang kau lakukan?" tanya David Qing kaget dengan apa yang diperbuat oleh putranya.
"Aku ingin keluar dari sini dan aku tahu semua yang ingin kau lakukan!" ujar Xavier dengan teguh menatap ke arah David Qing. David Qing membesarkan matanya.
"Kalian keluarlah," ujar David Qing memerintahkan pada penjaganya. Para penjaga itu awalnya enggan tapi mereka tak mungkin menolak perintah dari seorang perdana menteri.
David Qing mengeraskan rahangnya melihat tingkah laku anaknya yang terus saja mengacungkan senjata itu pada dirinya.
"Kau tahu, jangan mentang-mentang kau bisa mendapatkan kedudukan hingga menjadi Letnan Jendral kau merasa bangga. Kau tetap anakku dan kau harus mengikuti kemauanku! aku bisa membuat karirmu tamat sampai di sini!" geram David Qing dengan anaknya. Baginya Xavier adalah anak yang tak tahu di untung. Dia sudah susah payah membangun namanya agar mendapatkan kekuasaan tertinggi. berkoalisi dengan orang-orang penting agar mengkokohkan kedudukannya. Tapi anaknya malah memilih bertanggung jawab dengan wanita yang sama sekali tak pantas untuknya.
David Qing makin menekan gigi geliginya. Tangannya mengepal erat hingga uratnya terlihat. "Anak tak tahu diuntung! Kau bisa melakukan ini pada orang tuamu hanya untuk wanita murahan dan anak haram yang belum tentu adalah anakmu! Apa dia sudah mencuci otakmu!"
"Ehm! Aku sudah mendapat laporan hasil DNA dari Moira, dia 99% kecocokannya dengan DNA Xavier dengan kata lain Xavier adalah ayah biologis dari Moira. Tuan David Qing, Moira adalah cucu Anda, dia keluarga Qing!" Ujar Stevan. Dia sengaja melakukan pemeriksaan DNA pada rumah sakit dengan sampel darah dari rumah sakit yang kemarin di ambil. Karena mengatakan untuk penyelidikan, hasil DNA bisa didapatkan cukup cepat.
Xavier cukup senang mendengarnya. Tapi saat ini dia belum bisa menunjukkannya. Dia masih harus fokus membidik ayahnya. Dia tak punya maksud untuk membunuh ayahnya. Tapi dia tahu jika tak diancam begini ayahnya tak akan membiarkannya pergi.
"Dia hanya anak haram! Anak yang didapatkan dari luar pernikahan, keluarga Qing tak akan menerimanya!"
"Aku menerimanya! walau harus keluar dari keluarga! Aku menerimanya!"
"Kau gila! Kau hanya akan menghancurkan semua yang ayah sudah lakukan padamu!"
"Kau bukan seorang ayah! Ayah tak akan tega membuat anaknya hanya sebagai alat untuk mencapai cita-citanya dan menghalalkan segara cara. Sekarang lepaskan aku dan jangan coba-coba melakukan sesuatu lagi pada Graciella atau anakku! Jika tidak, semua kebusukanmu akan ku bongkar hingga kau akan hancur!" ancam Xavier.
__ADS_1
David Qing menatap mata anaknya yang tak tersirat sedikit pun keraguan. Dia tahu seberapa keras kepalanya Xavier dan dia orang yang selalu memegang perkataannya. Jadi, kalau dia bilang akan membongkarnya maka itu yang akan dia lakukan.
David Qing menarik napasnya kuat dan dengan langkah tegas dia bergeser agar Xavier bisa keluar dari sana. Stevan yang awalnya kaget melihat semua ini langsung mendorong Xavier. Dia tahu ini salah, tapi dia juga tahu ini untuk sebuah kebaikan.
"Ingatlah! jangan coba-coba untuk menyentuh Graciella atau anakku! Aku bersungguh-sungguh!" Lirik Xavier pada ayahnya yang bertampang masam.
Pintu segera terbuka, para penjaga awalnya siaga. Tapi David Qing langsung memberikan isyarat agar membiarkan Xavier dan Stevan lewat. Stevan akhirnya bisa bernapas lega. Menjadi saksi anak membunuh ayahnya, belum pernah dia pikir akan terjadi pada hidupnya.
"Lain kali jika ingin melakukan hal seperti itu! Bicarakan dulu padaku! Aku hampir kena serangan jantung gara-gara kelakuanmu!" Ujar Stevan membantu Xavier naik ke atas mobil.
"Kalau tidak begitu, mukamu akan terlihat tidak natural." Xavier langsung memposisikan dirinya.
"Oh, jadi ceritanya aku sebagai umpan agar telihat semua itu nyata? Kau gila!" Ujar Stevan langsung menancap gasnya segera meninggalkan tempat itu. "Apa itu akan berhasil? Apa ayahmu tidak akan lagi mengganggu mereka?"
"Ayahku adalah seseorang yang rela mati mempertahankan nama baiknya. Aku tak yakin berhasil selamanya tapi setidaknya untuk beberapa hari dia akan ingat ancamankun!" Xavier menganalisa.
"Baik lah! Kau siap bertemu dengan anakmu? Ayah mertua?" Goda Stevan untuk menurunkan tensi darahnya yang naik seketika karena ulah sahabatnya.
Xavier mengerutkan dahinya. "Ayah mertua?"
"Haha, aku sedang bermimpi bisa menikahi anakmu!"
"Sampai aku mati aku tak akan mengizinkan kau menikahi putriku!" ujar Xavier menanggapi humor temannya.
"Woh! Aku ini juga termasuk menantu idaman. Aku mapan, tampan dan punya kedudukan. Hanya kau yang menolakku!" Gerutu Stevan, memangnya dia jelek sekali di mata Xavier! "Lagi pula, kau seharusnya memberiku banyak hadiah. Tanpa aku, kau dan Graciella tak akan semudah ini menikah." Lanjut Stevan.
Mendengar kata-kata menikah yang keluar dari mulut Stevan membuat Xavier menaikkan sudut bibirnya. Dia dan Graciella menikah? benarkah?
...****************...
Halo kak hari minta maaf karena semalam ga up! cuapek pol Ampe ga bisa buka mata ( tukang tdr emang otornya). Jadi ini semoga bisa menggantikan kekecewaan semalam.
__ADS_1
Kak! tetep jangan lupa Like, Comment, Share, Dan Favorit ya kak! Kerena semua itu membuat Othor jadi semangat! See you next chapter ya kak!