Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 121. Perasaan yang tak nyaman.


__ADS_3

“Kenapa kau menanyakan hal itu?” tanya Graciella.


Xavier hanya mengerutkan dahinya. Dia juga bingung kenapa dia menanyakan hal itu pada Graciella. Tapi perasaannya mengatakan bahwa dia pasti pernah berhubungan dengan wanita ini, perasaannya begitu yakin tapi dimana dan bagaimana?


“Aku tidak mengenalmu. Bukannya kita bertemu pagi ini,” ujar Graciella. Greciella juga cukup kaget dengan kata-kata yang terlontar dari bibirnya. Bagaimana bisa dia baru bertemu dengan pria ini tadi pagi tapi sekarang mereka lagi-lagi duduk satu meja. Rasanya itu bukan sifat Graciella. Biasanya dia cukup tertutup dengan pria-pria.


Xavier terus menatap ke arah Graciella yang merasa risih juga ditatap oleh Xavier begitu.


“Lalu, jika aku boleh bertanya, bagaimana kau mendapatkan lukamu?” tanya Xavier tidak bisa lagi menahan dirinya lebih lama. Seperti ada perasaan yang sangat ingin dia lampiaskan, tapi dia tak tahu perasaan apa itu dan bagaimana caranya.


Graciella mengerutkan dahinya. Itu bukan pertanyaan yang dia harus jawab pada seorang pria yang baru saja dia kenal.


“Aku mendapatkannya saat aku melakukan sesuatu,” ujar Graciella tidak mungkin mengatakan bahwa dia mendapatkannya saat dia mencoba bunuh diri karena masalah dengan mantan suaminya, setidaknya itulah yang dia yakini dan ingat selama ini.


“Melakukan apa?” tanya Xavier bagai mendesak dan mengintrogasi Graciella. Tentu sikap Xavier ini bagi Graciella berlebihan. Dia bahkan tidak pernah menceritakan hal ini pada siapa pun. Hanya orang-orang tertentu yang tahu tentang kejadian ini yang mengerti tentang hal itu.


“Kenapa aku harus mengatakan hal itu padamu?” tanya Graciella lagi dengan sedikit kesal, dia benar-benar tidak ingin membicarakan hal itu. Anak perempuan yang ada di tengah mereka hanya mengerutkan dahi melihat Nyonya dan Tuan ini saling berbicara dengan bahasa yang dia tidak mengerti.


“Nyonya, apakah Anda siap memesan?” tanya ayah anak tadi saat dia datang membawakan menu.


Graciella melirik sekilas pada Xavier lalu merubah wajah kesalnya menjadi ulasan senyuman manis.


“Tolong jangan tersenyum manis dengan orang lain,” ujar Xavier yang meluncur begitu saja dari bibirnya. Xavier saja sampai bingung kenapa dia mengatakan hal itu, sekali lagi, bagaikan De Javu. Dia seolah pernah merasakan dan ada di situasi seperti ini.

__ADS_1


Mendengar itu membuat Graciella mengerutkan dahinya dan melihat Xavier. Bagaimana pria ini bisa melarangnya tersenyum dengan pria lain? Apa haknya?


“Tuan, layani saja dulu Angeline. Berikan apapun yang dia mau. Angeline, pesan apa saja yang kau inginkan, tidak perlu sungkan ya,” ujar Graciella mengelus kepala Angeline.


Graciella lalu melihat ke arah Xavier yang hanya diam saja. “Kenapa aku tidak boleh tersenyum dengan orang lain?”


Xavier hanya memainkan rahangnya. Dia tidak tahu seharian ini dia kenapa? Dia seperti bukan dirinya dan banyak hal yang terjadi tanpa dia bisa kontrol. Xavier bukanlah pria yang gampang menaruh perhatian dengan pada seorang wanita, tapi sejak bertemu dengan Graciella, dia bahkan tak bisa melepaskan dirinya dari wanita ini. Bahkan dia rela menjadi penguntit agar bisa bersama dengan Graciella. Dia juga mengatakan hal-hal aneh tapi yang sangat menganggunya dan menjadi beban pikirannya sekarang adalah gambaran-gambaran yang muncul di kepala. Dia yakin gambaran itu adalah dari keping-keping ingatannya yang hilang. Tapi kenapa? Hal itu malah muncul ketika dia bersama dengan Graciella.


Xavier dan Graciella tiba-tiba saja teralihkan perhatiannya ketika ponsel Graciella yang dia letakkan di atas meja itu berbunyi. Graciella langsung melihat ke arah layarnya. Sebuah panggilan video dari Stevan. Xavier pun melihat nama Stevan yang muncul, dia mengerutkan dahinya lebih dalam. Stevan? Apakah mungkin Stevan sahabatnya dulu?


Graciella melirik ke arah Xavier sebelum dia menjawab panggilan video itu. Xavier hanya diam saja dengan wajah datarnya.


“Nona Graciella!” seru Stevan seketika panggilan mereka terhubung. Dia sangat senang melihat wanita ini.


“Tuan Stevan? Apa kabarmu?” ujar Graciella melihat pria yang selalu menunjukkan wajah cerianya. Selama 4 tahun di Amerika, pria ini sering sekali menghubunginya. Terkadang dia berbagi cerita tentang keadaan negaranya hingga membuat Graciella tidak merasa terlalu jauh dari negeranya. Selain Daren, Stevan adalah sahabat yang terbaik bagi Graciella sekarang.


Graciella tertawa kecil melihat tingkah Stevan. Tentu dia sudah terlalu terbiasa dengan godaan Stevan. Tapi bagi Xavier yang mendengar hal itu membuatnya merasa tak nyaman. Ada rasa emosi yang muncul begitu saja memenuhi rongga dadanya hingga dia merasa cukup kesulitan dalam bernapas.


“Apa yang sedang kau lakukan Tuan Stevan?” tanya Graciella melihat Stevan yang tampak sedang bersiap-siap menggunakan baju dinasnya. Di negaranya sekarang sedang pagi hari.


“Kau tahu hari apa ini? Hari ini adalah kenaikkan pangkatku. Aku sangat berharap kau ada di sini sekarang,” ujar Stevan dengan tatapan berharap pada Graciella.


“Benarkah? Selamat jika begitu! Ah! Sayang sekali aku tidak bisa melihat dirimu. Minggu depan saat aku pulang akan memberikanmu sesuatu untuk hadiah pangkatmu. Sekali lagi selamat atas kenaikkan pangkatmu,” ujar Graciella tampak senang. Tentu hal itu semakin membuat kecut wajah Xavier. Wanita ini? Tak sadarkah dia menyiksa Xavier secara tidak langsung. Tapi untuk apa dia merasa tersiksa? satu hal lagi yang membuat Xavier bingung.

__ADS_1


“Ya, mulai sekarang kau harus memanggilku Jenderal Stevan,” ujar Stevan dengan sangat bangganya.


“Iya, iya, aku akan memanggilmu begitu,” ujar Graciella. Xavier hanya mencoba menahan dirinya. Tangannya sudah mengepal dengan kuat.


“Jadi kau benar-benar akan pulang minggu depan. Aku akan menjemputmu di bandara,” ujar Stevan.


“Tidak perlu, Laura akan menjemputku,” ujar Graciella. Xavier melirik ke arah Graciella, ternyata minggu depan wanita ini akan pulang ke negara itu.


“Laura? Dia tidak mungkin bisa menjagamu, aku akan tetap menjemputmu, Nona Graciella,” kata Stevan dengan penekanan sedikit menggoda disaat dia memanggil nama Graciella.


Hal itu seketika membuat Xavier terlonjak berdiri. Mendengar percakapan yang begitu akrab antara Graciella dan Stevan membuatnya terasa terbakar. Graciella hanya mengerutkan dahinya sambil melihat Xavier yang tampak memandang Graciella dengan tatapan tajamnya.


“Aku pergi dulu,” suara berat Xavier terdengar. Tentu hal itu membuat Graciella semakin mengerutkan dahinya. Dia yang mengajak Graciella untuk minum coklat panas, tapi tiba-tiba saja dia pergi begitu saja.


“Nona Graciella, kau sedang bersama seseorang?” tanya Stevan yang samar mendengar suara pria.


“Oh, ya, aku sedang bersama seorang teman,” ujar Graciella. Kata-kata teman yang terlontar dari mulut Graciella semakin membuat Xavier merasa tak nyaman.


“Ah! Nona Graciella! Kau harus ingat ada aku di sini menunggumu,” ujar Stevan lagi yang tidak tahu bahwa di balik ponsel ini Xavier sudah bermata merah menahan amarahnya.


Xavier tanpa mengatakan apa-apa langsung berjalan meninggalkan Graciella yang hanya mengerutkan dahinya dan mengikuti pergerakan pria itu. Dia menerobos hujan yang masih deras. Kenapa dengan pria itu? Pikir Graciella.


Xavier benar-benar gerah mendengar perkataan Stevan. Pria itu, bagaimana bisa mengenal Graciella? Xavier memang tak pernah lagi berhubungan dengan Stevan karena mengetahui keterlibatan Stevan tentang kematian Malagha. Tapi bagaimana bisa dia juga berhubungan dengan Graciella? Xavier yang seluruh tubuhnya sudah basah kuyup karena hujan segera berhenti sejenak. Apa mungkin Graciella memang punya kaitan dengan masa lalunya?

__ADS_1


Xavier segera mengambil ponselnya dan segera menelepon salah satu ajudannya yang sekarang ada di negaranya.


“Cari semua berkas tentang Nona Graciella Luo, aku ingin tahu semua tentang dia. Beritahu semuanya malam ini! Kirimkan padaku langsung!” ujar Xavier sambil melirik ke arah Graciella yang tampak sudah tersenyum senang menyuapi Angeline coklat panas yang dia pesan.


__ADS_2