
Xavier melihat wajah Graciella yang memerah langsung merasa wanitanya itu terlalu menggemaskan. Tapi Xavier malah terus memandang Graciella dengan tatapan teduhnya.
"Graciella, ada yang ingin kau katakan padaku?" tanya Xavier. Melihat Greciella mata Graciella yang bergerak-gerak menatapnya.
Sejujurnya memang ada hal yang mengganjal di dalam pikiran Greciella dari tadi. Dia terpikir tentang panggilan dari Adrean. Greciella tak enak karena tak memberitahukan Xavier tentang itu, baru dari tiba hingga sekarang, Xavier seolah lebih dingin, tak tahu itu hanya pikirannya atau memang begitu. Bukannya jika mereka ingin memulai sebuah hubungan harus memulainya dengan keterbukaan.
"Ehm, tadi siang, tentang panggilan telepon itu, itu dari Adrean," ujar Graciella. Bagaimana pun reaksi Xavier, dia harus menerimanya.
Xavier hanya memandang Graciella dengan bibir yang dia pipihkan. Xavier merubah posisinya menjadi terlentang seolah membuang pandang dari Graciella. Melihat hal itu membuat Graciella merasa bersalah. Pasti Xavier marah padanya.
"Aku sudah tahu," ujar Xavier melirik Graciella.
"He? bagaimana kau tahu?" Tanya Graciella kaget.
"Aku memerintahkan Fredy untuk melacak siapa saja yang menelepon mu."
"Lalu?" Greciella tak percaya ternyata Xavier sudah tahu semuanya.
Xavier menarik napasnya cukup kasar dan kembali memiringkan tubuhnya menghadap Graciella. "Aku hanya ingin tahu darimu. Apa susahnya mengatakan panggilan itu dari Adrean?" ujar Xavier.
"Aku hanya takut kau akan marah. Lagipula bukannya itu memang adalah panggilan yang tidak penting," ujar Graciella membela dirinya. Walaupun dia tahu salah entah kenapa dia tetap mencoba untuk membela diri.
"Lain kali katakan saja, aku tak akan marah padamu tentang seperti itu, kita harus mengawali hubungan ini dengan baik," ujar Xavier lagi memandang Greciella dengan tatapan sendunya.
__ADS_1
Tentu hal itu membuat Graciella langsung mengangguk pelan. Patuh dengan permintaan Xavier. Dia juga ingin hubungannya dengan Xavier diawali dengan baik dan berjalan dengan baik pula.
"Tapi kau tetap akan dihukum karena sudah menutupinya dariku!" Ujar Xavier yang langsung bangkit dari tidurnya, dengan cepat berguling ke arah Graciella. Graciella saja kaget melihat pergerakan Xavier yang begitu gesit dan cepat, dapat melewati Moira yang tidur di antara mereka tanpa membuat Moira terganggu.
Graciella terdiam menatap ke arah Xavier yang sekarang ada di atasnya. Bertumpu dengan dua tangannya yang ada di kanan dan kiri kepala Graciella. Mata mereka saling beradu. Tatapan penuh perasaan dan cinta yang mengalir bagi keduanya. Graciella tanpa sadarnya menahan napasnya, heran sekali, dia bisa begitu lama menahan napas tanpa merasa sesak. Tatapan dengan guratan n’af’su terlihat dalam pancaran mata Xavier. Graciella bisa merasakan napas Xavier yang semakin lama semakin berat.
Perlahan wajah Xavier mendekat ke arah wajah Graciella. Membuat jantung Graciella semakin nyata berdetak kencang. Kali ini dia baru sadar sudah begitu lama tidak menarik napasnya. Sayang sekali, walaupun dia sudah menarik napasnya begitu dalam, tapi sepertinya udaranya terlalu panas untuk bisa masuk memenuhi paru-parunya. Menyesakkan tapi juga menyenangkan.
Napas hangat Xavier menyapu pipi Graciella yang sudah memanas, semakin memerah. Bagi Xavier pemandangan ini sangatlah menggodanya. Graciella tak bisa lepas dari perangkap tatapan mata Xavier yang begitu menghipnotisnya. Seolah lumpuh Graciella hanya bisa pasrah.
Bibir Xavier perlahan mencium dahi Graciella, bibirnya menyusur tulang hidung Graciella lalu jatuh pada kedua pipi Graciella. Sebuah kecupan yang hangat. Xavier tidak buru-buru untuk ******* bibir Graciella. Dia kembali melihat ke arah mata Graciella yang tampak hanya mengikuti pergerakan dari Xavier. Xavier menyentuhkan bibirnya ke bibir Graciella. Tidak menekan, hanya menyapunya perlahan membuat sensasi tersendiri. Tentu hal itu membuat Graciella menjadi tergelitik, rasanya ada yang kurang, seakan Xavier sengaja membuat perasaannya menggantung. Apalagi dia melakukannya cukup lama. Entah kenapa membuat Graciella merasa geram.
Graciella tanpa sadarnya langsung menaikkan kepalanya seolah ingin lebih dari hanya sekedar sentuhan-sentuhan ringan di bibir mereka. Graciella ingin merasakan hangat bibir Xavier. Xavier yang melihat Graciella mengangkat kepalanya langsung memundurkan kepalanya. Sedikit tersenyum menggoda melihat tingkah Graciella yang akhirnya seperti meminta lebih. Bagi Xavier itu adalah lampu hijau baginya. Graciella menggigit kembali bibirnya memandang Xavier dengan tatapan nanarnya tapi masih dengan posisi setengah tubuh terangkat. Xavier benar-benar mempermainkan perasaannya.
Xavier akhirnya sedikit iba melihat wajah Graciella yang memelas. Dia akhirnya mengecup lembut bibir Graciella yang disambut oleh Graciella dengan sedikit ganas. Terlalu lama dipermainkan perasaannya menjadi seolah-olah Graciella yang menginginkan hal ini terjadi. Graciella bahkan menaikkan tubuhnya lebih hingga dia terduduk tanpa memutuskan pautan bibir mereka. Xavier memberhentikan sejenak pautan bibir membara mereka. Dia melihat Moira yang tampak menggeliat, mungkin terusik dengan gerakan yang dibuat oleh ayah dan ibunya.
Xavier membaringkan tubuh Graciella perlahan di karpet tebal yang menutupi lantai kamarnya. Tak lupa menyelipkan bantal pada kepala Graciella agar Graciella lebih nyaman. Mereka bisa saja pindah ke kamar yang lain, tapi rasanya untuk mengulang lagi perasaan menggebu-gebu ini, mereka takut tak akan sama rasanya.
Xavier kembali mengecup bibir Graciella pelan, sejenak saja dia bermain di sana. Lalu bibir hangat itu menyelusuri ke bawah, mulai dari dagu perlahan turun ke leher putih dan berakhir dengan kecupan hangat di bahu kanan Graciella, hal ini membuat tubuh Graciella menegang, bahkan Graciella hingga mendongak karena sensasi geli tapi juga mengalirkan perasaan seperti listrik yang menjalah pelan keseluruh tubuhnya.
Xavier melanjutkan aksinya, mencium, mengecup, menyapu seluruh tubuh Graciella. Perlahan dan lembut dia lakukan hingga beberapa kali Graciella harus menahan desahannya dan menggenggam tangannya menahan rasa yang sejujurnya baru pertama kali dia rasakan. Dulu, Xavier tak selembut ini padanya. Bahkan begitu kasar dan langsung saja tanpa ada pemanasan.
Xavier menarik tubuh Graciella yang sekarang hanya terbalut pakaian dalamnya. Memposisikan dirinya sendiri dengan perlahan agar tidak menyebabkan nyeri di kakinya yang akan sangat mengganggu keadaan ini. Graciella dia tuntun untuk duduk pangkuannya. Tangan Xavier mengelus pelan punggung Graciella dari atas hingga ke bawah dengan gerakan begitu perlahan, sementara tangan yang lain menurunkan tali yang ada di bahu Graciella. Tubuh Graciella menggelinjang geli dengan semua perlakuan dari Xavier. Sentuhan tangan yang lembut, belum lagi hangatnya bibir dan kecupan dari Xavier yang mengantarkan Graciella menemukan perasaan yang belum pernah dia rasakan.
__ADS_1
Xavier melakukannya dengan sangat perlahan, benar-benar ingin menciptakan rasa nyaman untuk Graciella. Graciella menggigit bibirnya saat perlahan Xavier bergerak. Nyatanya walaupun sudah selembut mungkin, Graciella tetap saja tegang hingga membuat rasa nyeri sesaat.
Tapi Xavier tak langsung terburu-buru, dia sekali lagi mencoba untuk membuat Graciella nyaman atas kedatangannya. Hingga akhirnya Graciella bisa menerimanya dan yakin Graciella bisa menikmati semua yang Xavier lakukan. Bersatu dalam cinta, rasa dan raga. Merengguh nikmat duniawi yang membawa keduanya terbang ke surga dalam ******* napas yang memburu. Diantara sentuhan-sentuhan lembut. Memperkuat ikatan dalam pautan. Melakukan penyampaian perasaan dengan komunikasi tertinggi yang bisa dilakukan oleh pria dan wanita. Tanpa ucapan maupun arahan keduanya bisa memahami maksud masing-masing hingga keduanya dapat mencapai kenikmatan bersama.
Graciella berbaring di atas dada Xavier, mendengar nada teratur dari jantung Xavier. Separuh tubuh mereka tertutup oleh selimut putih. Mempertahankan kehangatan keduanya yang masih belum rela mereka lepaskan. Xavier mengelus kepala Graciella dengan perlahan.Graciella tentu terlena dengan semua yang dilakukan oleh Xavier.
Tiba-tiba saja pintu kamar mereka diketuk cukup kuat. Graciella mengerutkan dahi menatap Xavier. Apa Xavier memang harus mengerjakan semua pekerjaannya sekarang?
"Sebentar," ujar Xavier yang merasa ada yang tidak beres. Fredy atau siapapun di rumah ini tak akan berani mengetuk kamarnya jika tidak ada keperluan mendesak. Graciella hanya mengangguk sambil menari selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos tanpa sedikit pun helaian benang.
Xavier segera mengambil pakaiannya yang terletak tak jauh dari mereka. Memakainya dengan cepat dan segera membuka pintunya. Greciella hanya terduduk, melihat apa yang dilakukan oleh Xavier dari balik ranjang itu.
"Maaf menganggu Komandan!" ujar Fredy sambil memberikan hormat.
"Ada apa?" Xavier menjawab dengan suara tegasnya.
"Jenderal Marco memanggil Anda untuk menemui Beliau!" jawab Fredy.
"Jenderal Marco? semalam ini?" Xavier mengerutkan dahi lebih dalam. Jenderal Marco adalah atasan Xavier, tentu dia bisa memanggil Xavier kapan saja. Tapi kenapa harus semalam ini.
...****************...
Aku minta maaf ya kak, 2 hari ini performa nulis turun karena memang sedang sibuk2nya dan juga keadaan tubuh yang enggak memungkinkan.
__ADS_1
Hari ini juga cuma sanggup kasih 2, belum bisa Crazy up.
Hallo kak! jangan lupa Like, Comment, Share, Dan Favorit ya kak! Kerena semua itu membuat Othor jadi semangat! See you next chapter ya kak!