Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 162.


__ADS_3

“Kau!!!” bentak Tuan Robert dengan suara begitu tinggi yang langsung membuat Tuan Bernardo dan juga Xavier melihat ke arahnya.


Tuan Robert terlihat begitu marah. Matanya dan wajahnya memerah dan tangan yang menunjuk ke arah Xavier tampak gemetar. Dia benar-benar terlihat menahan amarahnya yang begitu memuncak.


Tuan Bernando melihat itu tampak bingung dan tak menyangka Tuan Robert bisa membentak Xavier. Sedangkan Xavier tampak santai melayani mantan kakek mertuanya itu.


“Ada apa Tuan Robert?” tanya Xavier memasang wajah yang seolah tidak tahu apa-apa. Tentu hal itu langsung menambah emosi dari Tuan Robert.


“Kau! Apa kau tidak tahu terima kasih! Kau bisa seperti ini karena campur tangan diriku! Kau kira kau bisa menjadi seorang Jenderal hanya dalam empat tahun karena kemampuanmu sendiri?” ujar Tuan Robert sudah tidak lagi bisa menahan emosinya. Dia benar-benar merasa terhina. Pria yang ada di depannya ini benar-benar tidak tahu terimakasih.


Xavier dan Tuan Bernando semakin mengerutkan dahi mereka dan sekilas mereka saling pandang karena mendengarkan apa yang dikatakan oleh Tuan Robert yang tiba-tiba saja meledak.


“Tuan Bernando, aku akan menemui Anda di dalam. Ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan dengan Tuan Robert. Maafkan kelancanganku untuk meminta Anda menunggu,” ujar Xavier.


Tuan Bernando hanya mengangguk pelan dan mencoba mengerti. “Baiklah, aku akan masuk.”


Xavier melihat ke arah Tuan Bernando yang segera meninggalkan mereka. Tuan Robert menyipitkan matanya menatap Xavier yang akhirnya melihat ke arahnya. Dia lagi-lagi bertambah kesal, bagaimana anak ini bisa begitu sopan berbicara dengan Tuan Bernando, tapi tidak kepadanya.

__ADS_1


“Tuan Robert, sekarang apa maumu?” tanya Xavier melihat ke arah Tuan Robert dengan wajahnya yang sedikit malas. Tentu wajah itu membuat Tuan Robert semakin naik pitam. Pria ini memang sudah tidak lagi menghargainya sedikit pun.


“Oh, jadi begini caramu sekarang berbicara denganku? Kau benar-benar tidak tahu diuntung!” ujar Tuan Robert dengan nada marahnya.


“Bagaimana dengan Anda, Anda mengatakan hal-hal seperti itu di depan kolega saya, apakah Anda juga menghormati saya?” tanya Xavier, tentu berusaha bersikap semenyebalkan mungkin untuk Tuan Robert.


“Tapi semua yang aku katakan benar adanya, kau bisa begini karena diriku!” bentak Tuan Robert lagi.


Xavier hanya menaikkan sudut bibirnya. Satu tangannya dia selipkan ke dalam saku celananya dan melirik ke arah Tuan Robert yang benar-benar tak bisa menyembunyikan lagi kedongkolannya terhadap pria di depannya ini. Xavier langsung mencondongkan tubuhnya ke arah Tuan Robert.


“Tuan Robert, sekarang aku adalah seorang Jenderal dan tentu aku punya kekuasaan yang dibutuhkan banyak orang. Aku punya pandangan yang bagus dari masyarakat. Aku adalah calon tunggal terkuat untuk menjadi presiden. Dan semua orang melihatku karena itu. Mereka tidak akan pernah ingin tahu bagaimana aku mendapatkan kedudukan ini atau siapa yang membantuku, jadi aku rasa walaupun Anda ingin mencoba menghancurkan namaku, Anda harus memikirkannya matang-matang. Aku tahu bagaimana menghancurkan nama Anda dengan sangat mudah. Jangan lupa, aku dulu juga adalah bagian dari keluarga Anda. Empat tahun, aku bisa tahu semuanya,” bisik Xavier tenang pada Tuan Robert yang hanya bisa diam, tangannya tampak begitu tegang dan mengepal kuat. Tuan Robert hanya bisa menggertakkan giginya hingga otot lehernya tampak menebal. Dia lalu melirik Xavier dengan sangat tajam. Tak menyangka, mantan menantunya ini sangat licik.


“Tidak akan. Untunglah ayahku selalu mengingatkanku betapa liciknya dirimu. Anda hanya orang yang gila kekuasaan. Anda ingin menjadikanku presiden agar kau bisa lebih leluasa untuk memperlancar semua kekuasaanmu dalam segala aspek di negara ini dan aku rasa ayahku sudah bisa memprediksi itu hingga dia perlahan-lahan mencari dukungan yang lain. Langkahnya sangat tepat mengingat sekarang kami berada di pihak yang punya kekuasaan penuh.” Xavier menaikkan kedua sudut bibirnya. Tampak begitu licik.


Robert hanya bisa terdiam mendengar semua perkataan dari Xavier. Ternyata benar, dalang semua ini adalah David Qing. Tentu dia sudah tahu bahwa pria itu juga sama liciknya. Mana mungkin Xavier bisa menjalankan semua ini tanpa bantuannya. Menghimpun semua kekuatan, dia pasti sudah mengkhianatinya! Dan Robert adalah orang yang paling benci dengan pengkhianatan. Dia harus membalaskan semua pengkhianatan ini!


“Permisi, Tuan Bernando sudah menungguku. Dan sebentar lagi ayahku juga akan datang, karena itu aku harus segera pergi,” ujar Xavier lagi langsung melangkah pergi tanpa mempedulikan lagi bagaimana Tuan Robert memandangnya. Dia memandangnya seolah ingin melenyapkan Xavier segera.

__ADS_1


Tuan Robert terus melihat ke arah Xavier hingga pria itu lenyap dari pandanganya. Dengan wajah geramnya dia langsung berbalik untuk keluar dari tempat itu. Tapi baru beberapa langkah saja dia berjalan dia langsung melihat ke datangan dari David Qing.


Dua orang yang awalnya bersatu menjadi kolega tapi berakhir menjadi rival ini saling berpandangan. Dari kedua sorot mata mereka terlihat sekali kebencian yang sangat. Tuan Robert yang dari tadi sudah memuncak emosinya langsung mendatangi David Qing dengan langkah cepat. David Qing hanya mengerutkan dahinya melihat tingkah Tuan Robert.


“Aku akan membalas semua perbuatanmu!” ujar Tuan Robert menunjuk ke arah David Qing yang heran kenapa pria ini marah sekali dengannya. “Kau akan mendapatkan karmanya! Camkan itu!”


Tuan Robert langsung pergi meninggalkan David Qing yang hanya terdiam melirik kepergian dari Robert Kim.


“Tuan, Tuan Xavier dan Tuan Bernando sudah menunggu Anda,” ujar Asisten David Qing yang mencoba untuk menyadarkan David Qing dari fokusnya terhadap Tuan Robert. David Qing menarik jasnya. Dengan pandangan masih terus ke arah Tuan Robert yang menuju ke arah mobilnya, David Qing melangkah masuk ke dalam tempat pertemuan itu.


Graciella menggigit bibirnya dengan sangat keras. Berusaha untuk tetap sadar dan ingat bahwa dia tidak boleh keluar dari mobil ini. Jika saja Xavier tidak melarang dengan keras agar dia keluar dari tempat ini. Dia pasti akan segera keluar dan menemui dua orang pria yang sudah memancing rasa benci keluar memenuhi rongga dada dan kepalanya. Dua orang itu pasti tahu di mana keberadaan Moira sekarang. Ah! Graciella tak bisa duduk tenang saja seperti ini.


“Nona!” ujar supir Xavier yang melihat Graciella mulai gusar dan terlihat ingin keluar dari mobil itu.


“Bagaimana cara membukanya?” tanya Graciella. Dia benar-benar ingin menghambur ke sana dan bertanya di mana putrinya sekarang. Dia ingin cepat-cepat menemukannya. Jika dia hidup dalam tekanan dan juga derita, maka setiap detik adalah berharga. Dia tak ingin putrinya menderita.


“Nona, Anda tidak boleh keluar dari mobil ini. Nona, Komandan akan sangat marah jika rencana ini gagal,” ujar Supir itu langsung gelagapan melihat Graciella. Dia bahkan langsung menekan tuas mobil dan segera melajukan mobil meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


...****************...


Lagi-lagi minta maaf karena ini file mentahan yang belum bisa di edit sempurna. Ngejar Ampe akhir bab, jadi kerjainnya ampe malam kak.


__ADS_2