
Graciella memakaikan pakaian tidur yang dibawa mereka dari rumah Anali ke hotel yang letaknya cukup jauh dari kediaman mereka. Anali pun ikut dengan mereka sedangkan Ronnie, dia akan menyusul karena ada hal yang harus dia lakukan.
Hotel itu bukanlah hotel yang mewah. Hanya sebuah hotel berbintang dua yang sederhana. Tapi hotel ini adalah yang paling bagus yang ada di tempat itu dan cukup untuk mereka beristirahat malam ini.
Graciella menyisiri rambut Moira perlahan. Setelah bermain itu, Moira langsung mereka bawa ke hotel untuk bisa menghabiskan malam ini bersama dengan mereka. Saat ini Ailin sudah ada di kamarnya, sehingga Graciella hanya berdua dengan Moira.
“Mama, Mama mau bawa Kaoru pergi ya?” tanya Moira tiba-tiba. Graciella yang masih menata rambut anaknya langsung terdiam sejenak. Dengan sebuah senyuman dia melanjutkan merapikan rambut anaknya itu.
“Dari mana Moira tahu hal itu?” tanya Graciella. Belum biasa memanggil gadis kecil di depannya ini dengan nama Kaoru.
“Kaoru bertanya pada nenek. Dan nenek menjelaskan bahwa sekarang adalah waktunya Kaoru tinggal dengan Mama dan Papa. Ma, kalau Kaoru dengan Mama, bagaimana dengan ayah dan ibu?” tanya Moira yang memutar tubuhnya menghadap ke arah Graciella agar bisa melihat Graciella yang ada di belakangnya. Graciella mendengar itu terdiam.
“Jika Ibu dan Ayah ikut juga dengan kita. Apakah Moira akan senang?” tanya Graciella.
Moira langsung menunjukkan senyuman yang maksimal menunjukkan gigi-geliginya yang putih teratur, dia mengangguk dengan keras. Graciella tersenyum teduh setelah melihat jawaban anaknya.
“Tapi bagaimana jika tidak bisa. Apakah Moira akan ikut dengan Mama dan Papa atau dengan ibu dan ayah?” tanya Graciella mencolek dagu anaknya.
Mata lentik dengan manik mata berwarna hitam kelam yang langsung menurun dari Xavier itu menatap ke arah Graciella dengan tatapan diamnya. Graciella melihat pantulan dirinya dari mata indah itu. Mencoba menebak apa yang sedang dipikirkan gadis kecilnya yang bahkan lebih bijak dari pada umurnya.
“Kaoru sayang Mama dan Ibu, Kaoru juga sayang Papa dan juga Ayah. Kaoru bingung,” ujar Moira dengan wajah yang mengerut. Dia juga tampak sedikit sedih, tidak ingin memilih antara ayah ibu atau papa dan mamanya.
Graciella melihat hal itu menjadi merasa tak enak. Dia malah memberikan pertanyaan begitu berat pada anaknya.
“Mama, kenapa mama dan papa tidak pindah saja ke sini bersama Kaoru?” tanya Moira dengan wajah yang bertanya tapi lebih banyak berharap. Graciella menggigit bibirnya. Tentu saja dia bisa saja tinggal di sini, tapi tidak mungkin untuk Xavier. Bagaimana pun dia masih terikat dengan janjinya sebagai abdi negara. Tak mungkin semudah itu untuk pindah, apalagi di tempat ini.
__ADS_1
“Moira suka ada di sini?” tanya Graciella.
“Ya! Kaoru suka di sini. Kaoru punya banyak teman. Mama harus bertemu teman Kaoru. Ada sepuluh!” ujar Kaoru yang menunjukkan semua jari yang dia punyai di tangan kecilnya. Dia memandangi jarinya. Pandangannya tampak kagum dia punya banyak teman.
“Benarkah?” ujar Graceilla yang merasa lucu dengan tingkah anaknya.
“Ya! Kalau Kaoru ikut dengan Mama dan Papa ke kota. Kaoru harus pergi dari teman Kaoru dan Kaoru takut,” ujar Kaoru lagi dengan wajahnya dan suaranya yang imut.
“Takut? Takut kenapa?” tanya Graciella memengang dagu anaknya yang menunduk.
“Takut jika nanti Kaoru tidak punya teman. Orang bilang kota itu ramai ya Ma? Kaoru takut mereka tidak mau berteman dengan Kaoru. Nanti Kaoru akan sendiri,” ujar Moira dengan polosnya.
Graciella kaget dengan kekhawatiran yang dicetuskan oleh anaknya. Ternyata putri kecilnya banyak menyimpan pemikiran.
Hal itu membuat Graciella jadi bingung. Tentu tujuan utama mereka adalah untuk menjemput Moira dan kembali menjadi keluarga seutuhnya. Tapi mereka tidak pernah berpikir, apakah Moira nantinya mau ikut bersama dengan mereka. Apalagi Moira tiba-tiba mengatakan ‘seperti dulu.’
“Seperti dulu bagaimana?” tanya Graciella. Apakah Moira masih ingat dengan kejadian yang menimpa dengannya dulu.
“Dulu ada seorang paman yang pernah memarahi Kaoru karena Kaoru terus menangis. Dia memarahi Kaoru dengan suara yang begitu keras pada Kaoru hingga Kaoru diam. Kaoru takut orang yang seperti itu, dan paman itu dari kota, Ma. Ma, Kaoru tidak suka di kota. Kita di sini saja ya Ma, bersama Ibu dan Ayah,” ujar Kaoru lagi.
Graciella yang mendengar hal itu hanya diam. Dia tidak bisa menjawab apa yang diminta oleh Graciellla. Mengiyakan, itu artinya dia akan berpisah dengan Xavier. Tapi menolak akan membuat anaknya sedih.
“Ehem, Papa boleh masuk?” tanya Xavier yang berdiri di pintu sambung ruangan hotel yang memang memiliki pintu sambung itu.
Karena suara Xavier itu membuat Graciella dan juga Moira memalingkan pandangan mereka ke arah suara. Mereka tersenyum melihat kedatangan Xavier yang mendekati mereka. Xavier bisa menangkap senyuman tertahan yang menghiasi wajah Graciella. Tentu ada hal yang menganjal di perasaannya.
__ADS_1
“Papa!” sambut Moira. Xavier langsung berjongok di dekat Moira. Memandang anaknya yang duduk di pinggiran ranjangnya menghadap dirinya.
“Moira tahu apa pekerjaan Papa?” tanya Xavier dengan senyuman ramah yang jarang sekali keluar. Hanya pada Graciella dan Moira dia bisa menunjukkannya.
Moira menggeleng kuat. Dia memang tidak tahu apa pekerja papanya sebenarnya. Jika ayahnya, dia sudah tahu, dia seorang nelayan.
“Papa adalah seorang prajurit. Karena Papa seorang prajurit. Papa tidak bisa pergi begitu saja dan tinggal di mana saja karena Papa harus siap dan mengabdi, menjalankan tugas yang diberikan pada Papa. Dan saat ini Papa ditugaskan di kota,” ujar Xavier menjelaskannya pelan pada putri kecilnya agar Moira bisa mengerti.
“Jadi kita tetap harus pergi ke kota?” tanya Moira lagi dengan polosnya.
“Benar. Papa harus menjaga negara ini di kota. Jika tidak nanti akan terjadi sesuatu yang berbahaya. Lagipula, papa janji tidak akan ada orang jahat lagi yang berani menyentuh Moira. Papa juga yakin Moira akan punya lebih banyak teman di sana, lebih dari sepuluh karena Moira adalah gadis yang yang sangat manis,” ujar Xavier yang mencubit pipi anaknya. Tentu membuat Moira langsung tertawa karena digoda oleh ayahnya. Graciella pun menjadi ikut tertular tawa anaknya.
“Tapi Ibu dan Ayah, apa boleh ikut?” tanya Moira lagi. Tetap saja memikirkan tentang ayah dan ibu angkatnya.
“Tentu, tentu ayah dan ibu boleh ikut jika mereka mau ikut. Mama dan Papa akan meminta Ayah dan Ibu ikut ke kota, bagaimana?” tanya Xavier.
Moira tampak menganalisa sejenak apa yang dikatakan oleh Xavier. Dia langsung mengangguk setuju. Xavier tersenyum sedikit lebar dan langsung dibalas pelukan oleh Moira.
“Sekarang tidurlah, sudah malam.” Xavier langsung menggendong anaknya dan segera membaringkannya di tempat tidur itu. Moira mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan oleh ayahnya. Dia segera menarik selimut yang dibuat oleh Graciella. Graciella langsung mengecup dahi gadis kecilnya.
“Mama, temani Kaoru tidur. Ibu biasanya tidur dengan Kaoru,” pinta Moira. Graciella melihat ke arah Xavier yang mengangguk memberikan persetujuan.
“Baiklah, mama akan tidur dengan Kaoru malam ini. Ayo kita tidur,”ujar Graciella yang segera mengambil tempatnya. Xavier sudah berjalan meninggalkan Graciella dan Moira. Membiarkan mereka memiliki waktu bersama lebih lama.
Graciella yang tidur di samping Moira kaget ketika tiba-tiba gadis kecilnya ini memeluk tubuhnya, meringkuk di sampingnya. Graciella melihat kemanjaan yang ditunjukkan oleh Moira hanya tersenyum. Dia mengelus pelan rambut anaknya yang hitam lurus itu. Rasanya begitu nyaman dan lega. Sudah lengkap kehidupannya. Dia sudah tahu dimana anaknya, bagaimana dia tumbuh, dan juga bagaimana keadaannya. Semua itu sudah sangat membuatnya bahagia. Rasanya saat ini dia tak perlu apa-apa lagi. Hanya berdoa kebahagiaan ini bertahan selamanya. Sejenak saja, bukan hanya Moira yang tertidur. Dia pun lelap akan kenyamanan yang dia rasakan.
__ADS_1