Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 24. berpura-puralah menjadi pasanganku.


__ADS_3

Graciella menatap dirinya pada cermin besar berukir di ruang ganti butik itu. Sudah hampir satu setengah jam dia ditangani oleh para pelayan di sana. Graciella bahkan tidak mengenali dirinya sendiri.


Rambutnya ditata sedemikian rupa tapi terlihat natural. Anak-anak rambutnya dibiarkan saja hingga tampak manis. Wajahnya ditutupi oleh riasan tapi tidak begitu tebal hingga terkesan natural. Matanya tak terlalu banyak diberikan riasan karena memang sudah terlihat begitu indah. Bibirnya di poles dengan warna gradasi natural buah persik. Pipinya yang biasanya pucat terlihat lebih cerah dengan sentuhan perona pipi berwana merah jambu yang lembut.


Graciella melihat tubuhnya yang sekarang terbalut gaun berwana biru dongker berbahan satin yang tampak sederhana namun memiliki kesan yang anggun. Tak banyak aksen di gaun itu, hanya potongannya yang panjang dapat memperlihatkan kaki Graciella hingga kakinya bisa terlihat jenjang.


Graciella sedikit menaikkan sudut bibirnya. Sudah lama sekali dia tidak pernah melihat dirinya berdandan seperti ini. Jika dia ingat, terakhir kali dia berdandan adalah saat pernikahannya dengan Adrean. Pesta pernikahan yang berakhir tragis.


Saat Graciella sedang termenung. Dua pelayan yang mendandaninya tadi tampak masuk dan segera bersiap ingin menyibakkan gorden beludru berwarna merah marun yang menutupi Graciella. Mereka segera menyibakkan gorden itu ketika Graciella berdiri.


Xavier terdiam melihat pemandangan indah yang ada di depannya. Matanya terpaku melihat Graciella yang tampak begitu anggun dengan gaun yang dipilihkan langsung oleh pemilik butik. Riasannya yang tak berlebihan membuat Graciella tampak begitu cantik. Cantik yang tampak alami hingga bak seorang dewi.


Graciella pun hanya memandangi Xavier yang sudah berbeda dari yang tadi. Pria itu tampak begitu tampan dengan setelan jas mewah berwarna senada dengan bajunya. Pria itu tampak sangat mempesona. Setelannya menunjukkan auranya yang begitu memikat. Mungkin hanya dengan berjalan, dia bisa membuat semua wanita berpaling.


“Bagaimana Tuan? Anda suka?” tanya pemilik Butik yang turun langsung karena kenal siapa Xavier. Ibunya adalah salah satu dari pelanggan prioritas di sini.


“Ya,” ujar Xavier singkat sambil memalingkan wajah. Graciella sedikit mengerutkan dahinya. Kenapa pria itu malah memalingkan wajahnya? Apa Graciella tidak tampak sesuai ekspektasinya.


Sebenarnya Xavier berusaha untuk tak terlihat terlalu terpaku pada Graciella tapi nyatanya dia tak mampu. Dia kembali melihat Graciella. “Cantik.” Kata-kata itu meluncur saja dari bibirnya.

__ADS_1


Graciella sedikit kaget dengan apa yang dikatakan oleh Xavier. Apa baru saja dia mengatakan bahwa Graciella cantik? Graciella sedikit tersenyum. Dia merasakan perasaan yang manis. Sudah lama tak pernah ada yang memuji dirinya. Dia lupa rasanya, ternyata seperti ini.


“Baiklah, sudah waktunya. Kita sudah di tunggu," Xavier kembali melihat ke arah jam tangannya.


“Ehm? kita akan pergi lagi?” tanya Graciella dengan polosnya.


“Ya. Lalu kau kira aku hanya ingin melihatmu berdandan tanpa ada tempat yang dituju?” Xavier menatap Graciella dengan wajah bertekuk. Xavier segera memulai langkahnya untuk keluar dari butik itu.


“Nona, tas Anda," ujar pemilik butik menyerahkan tas pesta bertahtakan batu swarovski yang berkilauan. Graciella hanya menerima tas itu, melihat nya sebentar lalu mengikuti Xavier yang sudah menunggu di pintu butik, berdiri menatap kearahnya. Menunggu Graciella yang berjalan perlahan karena tingginya sepatu yang sekarang digunakannya.


Mereka segera berjalan keluar dari mall itu. Sepanjang perjalanan Graciella hanya bisa tertunduk. Jujur saja dia tidak terlalu percaya diri, apalagi entah kenapa banyak orang yang melihat ke arah mereka. Mungkin terlalu terpukau dengan Xavier yang tampak begitu menarik.


“Masuklah," ujar Xavier pelan. Graciella hanya mengangguk kecil sambil menggigit bibirnya. Setelah memastikan Graciella duduk dengan nyaman di dalamnya. Xavier baru masuk dan duduk di sebelah Graciella dan mobil mereka segera melaju.


Graciella hanya diam memegang erat tas pestanya. Batu-batu swarovski itu sedikit sakit terbenam di kulitnya. Entah kenapa semakin lama dia merasa semakin gugup. Apalagi sepanjang perjalanan Xavier bahkan tak berkata apapun. Pria itu hanya diam lurus melihat jalanan.


Mata Graciella langsung melebar melihat mobil itu memasuki halaman sebuah rumah yang tampak bak istana bercat putih dengan segala ukiran bergaya klasik. Rumah itu penuh dengan cahaya yang menyinarinya. Benar-benar indah, apalagi ada air mancur megah di depannya. Siapapun yang tinggal di sini, dia punya selera yang bagus. Mobil mereka  berhenti tepat di barisan anak tangga menuju ke pintu utama rumah itu.


“Kita … di mana?” tanya Graciella. Dia sudah tak bisa menahan rasa penasarannya. Dia takut jika dia tak tahu apa-apa nantinya malah memalukan Xavier.

__ADS_1


“Hari ini adalah pesta ulang tahun nenekku. Aku harus mewakili ayah dan ibuku untuk hadir,” kata Xavier tenang.


Graciella membeliakkan matanya. Pesta ulang tahun nenek Xavier?! Kenapa dia tidak mengatakannya?


“Apa? kenapa kau tidak mengatakannya?” tanya Graciella histeris.


“Jika aku katakan, kau pasti tidak ingin pergi.” Xavier menarik ujung jasnya agar terlihat lebih rapi. Graciella kembali bersungut. Tapi yang dikatakan oleh Xavier benar adanya. Dia pasti akan menolaknya.


“Ya, tapi … bagaimana bisa kau mengajakku ke pesta keluargamu?” tanya Graciella lagi. Bahkan dengan keluarga Adrean saja dia tidak pernah bertemu. Bagaimana dia harus menyikapi keluarga Xavier?


“Tentu bisa,” kata Xavier enteng. Dia melihat ke arah Graciella yang tampak begitu paniknya. “berpura-puralah jadi pasanganku malam ini,” pinta Xavier dengan wajahnya  yang serius. Tapi tatapan matanya tidaklah tajam, malah terkesan tulus memintanya.


Graciella terdiam mendapatkan tatapan itu. Entah kenapa perasannya jadi tak enak untuk menolak permintaan Xavier. Ah! kenapa dia malah memunculkan pandangan seperti itu. Jika saja Xavier menatapnya tajam dan dingin seperti biasanya, pasti dia bisa dengan mudahnya bisa menolak Xavier. Graciella hanya menjawab dengan anggukan lemah. Pasrah saja, toh mau menolak dia tak tahu cara pulang.


“Hanya malam ini saja kan?” tanya Graciella, melihat Xavier keluar dari mobil dan menunggunya dengan menahan pintu mobil itu. Xavier menjulurkan tangannya. Graciella mau tak mau menggapainya karena kesulitan untuk turun dengan gaunnya. Dia tidak terbiasa. Saat Graciella sudah di luar dia baru sadar mereka berhadapan begitu dekat.


“Kenapa? kau ingin setiap malam?” Goda Xavier dengan sedikit menaikan sudut bibirnya. Graciella hanya terdiam melihat senyum Xavier yang ternyata begitu manis.


“A−eh? bukan begitu maksudku,” Graciella gelagapan. Jujur terpesona dengan senyuman itu tapi juga ingin membantah pertanyaan dari Xavier. Kenapa dia jadi merasa seperti orang yang benar-benar bodoh sekarang? susah sekali menghadapi pria seperti Xavier ini. Terlalu membingungkan dengan sifatnya yang berubah-ubah.

__ADS_1


Xavier terus melihat wajah Graciella yang tampak gugup. Pemandangan yang membuatnya bisa terus mempertahankan senyumannya.


__ADS_2