Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 214. Bagaimana tidak mungkin?


__ADS_3

Stevan hanya mengerutkan dahinya lalu melihat ke arah Xavier. Xavier hanya mengangguk kecil. Mana mungkin melarang istrinya ini. Tentu itu sudah menjadi tujuan awal dirinya kenapa dia harus sampai datang ke kantor polisi sepagi ini.


“Baiklah. Tapi kau tetap berhati-hati. Kita tidak tahu walau terlihat gemetar dan gelisah. Kita belum tahu bagaimana sebenarnya dirinya.” Stevan memperingatkannya.


“Ya, aku tahu kok. Lagipula ini akan cukup mudah. Dia sudah cukup kelelahan tampaknya,” ujar Graciella bersemangat melihat ke arah James yang tampak mulai mengantuk. Tepat sekali dia datang sekarang.


Graciella menarik napasnya semangat. Dia lalu berbalik dan ingin segera keluar dari tempat itu. Tapi Xavier langsung memegang tangannya.


“Berhati-hatilah,” ujar Xavier.


“Tenang saja. Aku punya dua Jenderal dan juga begitu banyak polisi di sini. Aku tidak akan apa-apa,” ujar Graciella menepuk tangan suaminya. Xavier melepaskan tangannya dan segera melihat wanita itu keluar dari sana.


Xavier, Daren dan Stevan tampak diam mengamati Graciella yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu. Graciella membuka pintunya dengan perlahan yang membuat perhatian polisi dan juga James ke arahnya.


“Permisi. Maaf, tapi aku sudah mendapatkan izin dari Jenderal Stevan untuk melanjutkan penyelidikan ini,” ujar Graciella pada polisi yang tampak kaget. Dia lalu terlihat memegangi telinganya. Mungkin mendapatkan sebuah perintah dari alat yang ada di telinganya. Dia langsung mengangguk mengerti.


“Baiklah, Silakan Nona,” ujar polisi itu segera mempersilakan.


Graciella langsung mengangguk pelan sambil melihat ke arah cermin itu. Xavier dan Stevan melihat tatapan Gracilela langsung menarik napasnya. Graciella langsung duduk di depan James yang tampak ogah-ogahan sekarang dia sudah begitu lelah.


“Selamat pagi Tuan James,” ujar Graciella lembut membuat James hanya memandangnya.


“Jika Anda ingin bertanya hal yang sama dengan apa yang ditanyakan oleh mereka dari tadi. Aku tidak punya jawabannya. Lagipula ini sudah melanggar hak asasi manusia. Kalian menahanku begitu lama. Aku bahkan tidak diperbolehkan untuk istirahat.” tampak sekali James kesal.

__ADS_1


“Benarkah? Mereka kejam sekali ya,” ujar Graciella lagi dengan tatapannya yang perhatian. James melihat itu mengerutkan dahinya.


“Walau Anda terlihat perhatian. Aku tahu itu hanya intrik Anda saja,” ujar James lagi. “Kalian tidak benar-benar peduli denganku. Tak perlu lagi menggunakan trik polisi jahat dan baik padaku, tidak berguna. Aku sudah katakan bahwa aku tidak tahu. Bisa saja darah itu ada sebelum aku menyewanya kan? Kenapa kalian tidak memanggil orang yang sebelumnya menyewa mobil itu? Kenapa hanya aku?” tanya James kesal sekali.


Graciella mengangguk pelan, “Benar juga. Ehm? Jenderal? Kenapa kita memanggil orang yang sebelumnya ya?” tanya Graciella pada cermin itu. James mengerutkan dahinya, dan Stevan yang ada di balik cermin itu hanya tampak terkejut, apalagi Daren dan juga Xavier sama-sama melihatnya. Kenapa yang disalahkan dia? Bukannya Graciella sendiri yang menyuruhnya menangkap James.


“Ada orang di balik cermin itu?” tanya James kaget dan bingung.


“Ya, apakah anda tidak tahu di setiap ruang interogasi pasti ada cermin ada dua arah. Dari pertama kali anda masuk di sini. Ada lebih dari 3 orang yang berdiri di sana. Mencatat semua gerak gerik Anda. Bahkan ketika Anda gemetar seperti itu, mereka akan mencatatnya,” ujar Graciella menunjuk tangan James yang langsung dia tarik dari meja itu.


“Tidak, ini hanya karena aku kelaparan. Mereka belum memberikan aku makan,” ujar James lagi.


“Jendral, bolehkah membawa makanan untuknya? Anda mau kopi hangat atau teh hangat?” tanya Graciella lagi.


James berwajah kaget, “Apa? Kau serius?”


“Aku ingin kopi saja,” ujar James pelan.


“Baiklah, mereka pasti sudah mencatatnya. Makanan Anda akan sampai beberapa menit lagi,” ujar Graciella kembali tersenyum.


“Eh, baiklah,” jawab James.


James kembali melihat wanita kecil di depannya yang hanya tampak sibuk membaca sesuatu yang tadi dia bawa. Wanita itu tampak tenang tidak memaksa seperti orang-orang yang tadi masuk ke sana. Bahkan polwan yang menginterogasinya semalam pun terkesan menekannya. Tapi kenapa wanita ini santai sekali. Dia bahkan hanya mengetuk-ngetuk pena yang dia bawa di atas meja.

__ADS_1


Tak lama pintu itu terbuka. James membesarkan matanya dengan wajah tak percaya. Satu nampan makanan dan juga kopi panas dibawakan langsung oleh polisi yang tadi menginterogasinya. Polisi itu segera meletakkannya di depan James. James langsung melihat makanan yang langsung membuat perutnya berguncang.


“Aku boleh makan sekarang?” tanya James. Semua hal ini membuatnya sangat lapar.


“Silakan, nikmati makanan Anda. Tak perlu sungkan,” ujar Graciella lagi tersenyum.


James ragu tapi makanan di depannya membuatnya tidak ragu-ragu. Dia langsung menyantap Sandwich hangat yang begitu enak dia rasakan mengisi penuh mulutnya. Dia juga dengan buru-buru menyeruput kopi panasnya yang tentu sedikit membakar lidahnya.


“Jangan buru-buru Tuan James. Anda mungkin punya banyak waktu untuk ada di sini,” ujar Graciella lagi dengan wajah mulai serius.


“Maksud Anda, apakah ini masih lama?” tanya James.


“Ya, seharusnya jika kami tidak memiliki bukti, Anda hanya akan kami tahan paling lama 24 jam. Tapi sayangnya, saya sudah mendapatkan buktinya,” ujar Graciella dengan wajah sangat kasihan.


James membesarkan matanya. Nafsu makannya langsung hilang begitu saja. Bukan hanya James bahkan Daren dan juga Stevan langsung bingung. Bukti apa lagi yang di dapatkan oleh Graciella tapi tidak di dapatkan oleh mereka.


“K–kau, kau jangan bercanda. Mana a–ada bukti, ‘kan?” kata James langsung terbata-bata menatap Graciella.


“Bagaimana jika benar-benar ada. Ini buktinya,” ujar Graciella menyerahkan foto kartu kemiliteran dari Xavier.


“Eh? Apa ini? Bukannya ini hanya hasil foto dari kalian. Jangan mengacau,” ujar James lagi. Meminum Kopinya tapi dia kembali lupa itu masih panas hingga dia harus memuntahkan kembali kopi itu ke dalam gelas. Melihat tingkah dari James itu, Graciella menjadi tersenyum lebar.  Itu menandakan kegugupan James meningkat. Dia sudah di jalan yang benar.


“Jangan mengelak lagi Tuan James. Tadi malam saat Anda di sini. Kami sudah menggeledah tempat usaha pencetakan Anda. Dan kami mendapatkan softcopy file ini. Itu menandakan Anda pernah mencetaknya bukan?” ujar Graciella dengan senyuman penuh percaya diri. James melihat kembali foto yang di tunjukkan oleh Graciella.

__ADS_1


“Heh, itu tidak mungkin. Kau jangan membohongiku dengan wajahmu yang manis itu,” ujar James dengan sunggingan tawanya.


“Kenapa tidak mungkin. Bagaimana kalau kami benar-benar menemukannya?” ujar Graciella sedikit meninggi nada bicaranya.


__ADS_2