
Graciella baru saja keluar dari kamar mandi. Tubuhnya yang tadinya berat terasa lumayan ringan setelah berendam di air hangat cukup lama.
Graciella yang hanya menggunakan lilitan handuk segera melirik ke arah lemari baju yang tak jauh darinya. Mungkin tak apa meminjam kaos atau pakaian tidur dari Xavier. Dengan perlahan dia menggeser pintu geser lemari. Graciella mengerutkan dahinya. Di sana juga tidak banyak baju milik Xavier. Mungkin karena memang hanya sebuah rumah persinggahan.
Graciella mengambil sebuah kaos hitam polos yang ada di sana. Mencoba menggunakannya. Saat Graciella menggunakannya, wangi pewangi yang khas menyeruak masuk ke dalam penciumannya. Benar-benar mengingatkannya langsung pada Xavier.
Karena perbedaan tubuh mereka yang mencolok, kaos itu tentu terlihat begitu kebesaran pada tubuh Graciella. Bahkan cukup untuk menutupi tubuhnya hingga sebatas pertengahan pahanya. Celana Xavier pun tak ada yang muat untuk Graciella. Dia harus mengikatnya agar tetap bisa dia gunakan.
Graciella melihat pantulan tubuhnya pada cemin yang berdiri di dekatnya. Dia tertawa kecil melihat tubuhnya yang benar-benar tenggelam dalam baju itu. Saat dia masih merasa geli melihat tubuhnya, Graciella mendengar ponselnya berdering. Dia langsung saja berjalan ke arah ponselnya dan berharap menemukan nomor tak di kenal di layarnya. Tapi nama Daren terpampang di sana.
“Halo?” jawab Graciella segera.
“Halo? Graciella, kau ada di mana sekarang?” tanya Daren yang langsung saja tanpa basa-basi.
“Oh, aku? Aku menginap di tempat salah satu temanku. Kakak, maafkan aku ya, aku tidak langsung menemuimu untuk melapor dari kemarin. Aku akan menemuimu besok. Maafkan ketidakprofesionalan,” ujar Graciella memegang dahinya, benar sekali. Dia terlalu fokus mencari Moira hingga lupa dia punya tanggung jawab yang lain. Seharusnya dia menyampaikan laporan tentang kasus di pulau itu pada Daren.
“Tidak. Itu tidak apa-apa. Helena sudah melaporkan semuanya. Pekerjaanmu sangat baik dan langsung mendongkrak nama tim penyidikan kita. Tapi aku menelepon bukan karena hal itu,” ujar Daren yang terdengar sedikit cemas.
“Eh, lalu?” tanya Graciella yang kebingungan.
“Apa kau sekarang dengan Xavier malam ini?” tanya Daren lagi ragu-ragu.
Graciella langsung mengerutkan dahinya. “Tidak, aku tidak dengannya malam ini. Ada apa kak?” tanya Graciella. Tiba-tiba saja perasaannya tidak enak. Apalagi dia mengingat kata-kata Xavier yang mengatakan bahwa mungkin dia tidak bisa datang malam ini untuk menemaninya. Apakah terjadi sesuatu padanya?
“David Qing, dia tewas terbunuh malam ini,” ujar Daren terdengar sedikit pelan.
__ADS_1
Graciella langsung terdiam dan tertegun mendengar kabar dari Daren itu. Apa yang terjadi? Bagaimana tiba-tiba pria itu tewas? bukannya keadannya baik-baik saja tadi? Rasa cemas langsung membuncah dalam perasaan Graciella. Bagaimana kabar Xavier? Apa dia baik-baik saja? Graciella langsung merasa tak tenang.
“Graciella?” tanya Daren yang tak mendapati jawaban dari Daren.
"Eh? kakak, apa kakak tahu kabar Xavier?" tanya Graciella langsung. Tak bisa menahan rasa cemasnya. Dia bahkan Sampai menggigit kecil kukunya, tanda dia sudah sangat cemas sekarang.
"Tidak, aku tidak bisa mendapatkan kabar tentangnya. Aku mendapatkan kabar ini juga karena memiliki relasi di kepolisian."
“Oh, ya, baiklah, eh, kakak, aku akan memutuskan panggilan sejenak. Ada hal yang harus aku lakukan. Eh, terima kasih atas infonya kak. Aku akhiri ya,” kata Graciella buru-buru mematikan ponselnya. Dia ingin menghubungi pria itu, tapi Graciella baru ingat, bagaimana dia menghubungi Xavier. Bukannya dia tidak punya nomornya? Graciella benar-benar tidak tenang. Bagaimana dia tahu kabar Xavier? Graciella mencoba untuk menelepon nomor-nomor Xavier yang pernah menghubunginya. Nihil, semuanya tidak ada yang aktif. Hal itu membuatnya semakin cemas. Graciella hanya memainkan ponselnya.
Sebuah ketukan dari pintu kamarnya membuat Graciella kaget hingga jantungnya langsung berdetak lebih kencang. Graciella langsung berdiri dan membuka pintunya. Terlihat asisten wanita yang juga pernah ada di sana. Serin.
“Nona, maafkan saya mengganggu Anda, tapi Jenderal ingin berbicara dengan Anda. Beliau sudah menghubungi Anda, tapi nomor telepon Anda sedang sibuk. Ini Nona,” ujar Serin menyerahkan sebuah ponsel pada Graciella. Graciella langsung saja mengambilnya. Ada perasaan sedikit lega mengetahui pria ini dapat menghubunginya.
“Terima kasih,” ujar Graciella. Serin segera pergi meninggalkan Graciella yang langsung meletakkan ponsel itu di telinganya. “Halo?” ujar Graciella dengan pelan. Dia masih bertanya-tanya sekaligus menyiapkan dirinya untuk mendengarkan kabar yang paling buruk. Dia menggigit bibirnya pelan.
Graciella melepas gigitan bibirnya. Suara itu terdengar sedikit lemas, tidak tegas seperti biasanya. Graciella jadi bertambah cemas mendengarkannya.
“Ya, ada apa? Apa kau baik-baik saja, aku mendengar sesuatu kabar tentang …. “ ujar Graciella yang langsung ingin mencerca pertanyaan. Tentu dia tidak tahan dengan semua hal yang sekarang berputar di kepalanya.
“Aku baik-baik saja, Tapi malam ini aku tidak bisa menepati janjiku. Ada hal yang haru aku lakukan di sini,” ujar Xavier pelan. Graciella memipihkan bibirnya yang tipis hingga tampak hilang.
“Ya, aku mengerti. Aku sudah mendengar kabar tentang ayahmu, aku ….” ujar Graciella yang sekali lagi langsung dipotong oleh Xavier.
“Moira masih hidup. Tapi Robert Kim mengirimnya ke suatu tempat,” ujar Xavier lagi dengan nada yang masih datar.
__ADS_1
Hal itu langsung membuat bagian di antara kedua alis Graciella berkerut. Wajahnya langsung tak percaya, dia bahkan tak langsung menjawab perkataan dari Xavier.
“Apa?” tanya Graciella tak percaya apa yang baru saja disampaikan oleh Xavier.
“Kita akan menemukannya segera, aku berjanji,” ujar Xavier lagi dengan nada yang begitu menyakinkan.
Graciella terdiam kembali. Dari mana tiba-tiba Xavier mendapatkan hal ini. Bukannya ayahnya baru saja tewas. Mata Graciella membesar dengan cepat. Dia ingat dengan kata-kata Xavier sebelum dia pergi meninggalkannya. Dia akan menuntut keadilan bagi siapa saja yang sudah membuat mereka begini. Jangan-jangan ….
“Xavier, Ayahmu?” tanya Graciella yang tidak tahu harus berkata apa. Tak etis rasanya jika tiba-tiba saja dia mengatakan bahwa Xavierlah yang membunuh ayahnya. Itulah yang sekarang terlintas dalam pikirannya.
“Malam ini, pulanglah. Aku akan meminta Jack dan Serin mengantarmu pulang. Akan ada pasukan khusus yang menjagamu. Mulai saat ini, berhati-hatilah. Sampai aku bisa mendapatkan Robert Kim, keadaanmu semakin membahayakan,” ujar Xavier lagi seperti memberikan perintah pada bawahannya.
“Baiklah, aku akan pulang sekarang,” ujar Graciella patuh. Dia tidak bisa membantah perintah dari Xavier. Rasanya saat ini sudah terlalu serius. Dia tidak boleh gegabah apalagi mengikuti emosinya sendiri.
“Sekarang aku harus pergi. Aku akan menghubungimu secepatnya. Tolong, jangan pernah pergi sendiri. Jika ada yang datang dan mengatakan bahwa aku yang memintanya untuk menjemputmu, jangan ikut kecuali memang aku sudah menghubungimu,” ujar Xavier lagi.
“Baiklah.” Graciella hanya bisa patuh tapi perasaannya semakin cemas dan tak tenang. Hal itu tiba-tiba saja membuatnya merasa pusing dan jadi mual. Ah, keadaan tubuhnya memang sedang tidak baik. “Xavier!”
“Ehm?” tanya Xavier yang baru saja ingin memutuskan panggilan sepihak seperti biasanya. Graciella yang tahu langsung saja memanggilnya sebelum panggilan itu benar-benar terputus.
“Hati-hati ya,” ujar Graciella dengan nadanya sedikit manja. tak tahu kenapa sekarang dia sebenarnya hanya ingin bersama pria itu tapi apa mau dikata tak mungkin saat begini dia tetap mementingkan keinginannya.
Senyap sebentar, Xavier tak langsung menjawab perkataan Graciella. Xavier hanya merasa perasaannya yang kosong itu sedikit terasa hangat dengan perkataan Graciella. “Baiklah, bersiaplah jika ingin pulang. Aku akan matikan panggilannya.”
“Ya.”
__ADS_1
Langsung terdengar nada pemutusan panggilan. Graciella melihat layar ponsel itu. Jika Moira masih hidup dan Robert Kim tahu di mana dia, mereka harus bergerak lebih cepat. Bagaimana pun, mereka tak mungkin lagi membiarkan Moira menanggung semuanya. Graciella harus tahu dimana putrinya sekarang!