Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 262.


__ADS_3

“Aku hanya sedikit penasaran. Bagaimana keadaan Graceilla? Apakah sudah ada kabar? Bukannya kau memintaku untuk menunggu sampai pagi? Ini sudah pagi!” ujar Laura seperti anak-anak yang menuntut ayahnya memberikan sesuatu yang ayahnya janjikan malam sebelumnya.


“Oh, aku kira kau merindukanku,” goda Antony tiba-tiba.


Laura terdiam. Pria ini bisa berubah dari pria yang tampak dingin menjadi pria penggoda dalam waktu sepersekian detik. Tapi entah kenapa mendengar godaan Antony yang begitu receh baginya. Pipinya malah memanas, merona.


"Serius lah!" ujar Laura pura-prua kesal.


“Graicella sudah berhasil diselamatkan. Sekarang dia ada di rumah sakit dan dirawat bersama Xavier.”


“Benarkah? Kenapa? Apa Graciella terluka? lalu bagaimana keadaannya?” tanya Laura lagi mendengar sahabatnya itu dirawat.


“Xavier yang terluka saat berhadapan dengan Adrean,” jawab Antony datar.


Laura terdiam sejenak menganalisa kata-kata Antony. Antony hanya mengerutkan dahinya. Dia kira Laura akan bertanya soal Xavier. Walaupun tak pernah mengatakannya, tapi dia tahu Laura mengidolakan Xavier.


“Lalu apakah Adrean benar-benar ….” tanya Laura. Dia juga kepikiran tentang hal ini. Bagaimana jika Adrean benar-benar tamat riwayatnya karena permintaannya. Apa yang akan dia katakan pada Tuhan jika begini.


“Ya. Adrean dinyatakan meninggal. Mereka sudah mendapatkan mayatnya. Akan dibawa ke rumah duka,” ujar Antony dengan wajahnya yang sedikit bertanya. Tapi dia sembunyikan saja.


“Benarkah? Apakah itu karena permintaanku semalam?” Laura menjadi syok. Bagaimana bisa permintaannya yang aneh itu malah terkabul.


“Tidak juga. Bukan tentara yang aku kirim yang membunuhnya. Xavier yang membunuhnya.”


“Apa? Jadi apakah Xavier akan dipenjara? Jika dipenjara maka kasihan Graciella. Dia sedang mengandung bukan? Apa kau bisa membiarkan Xavier bebas? Masa temanku melahirkan lagi tanpa ayah dari anaknya?” Laura tampak sangat prihatin dengan keadaan Graciella. Saat melahirkan anak pertamanya. Dia belum tahu siapa ayah dari anaknya. Sekarang, dia mengandung lagi. Masa Xavier harus ditahan.


Antony hanya menaikkan satu alisnya. “Kau benar-benar kasihan dengan Graciella atau kasihan dengan Xavier?”


“Ya Graciella lah! Bukannya dari kemarin aku meminta bantuanmu untuk Graciella bukan untuk Xavier,” ketus Laura. Kenapa malah bertanya seperti itu. Mendengar jawaban spontan tanpa berpikir dari Laura itu, Antony menaikkan sudut bibirnya. Dia tahu kedudukan Xavier di hati Laura hanya sekedar mengagumi saja.


“Xavier membunuhnya di luar zona kedaulatan negara kita. Tidak ada yang bisa menjeratnya dengan hukum jika dia melakukan hal itu. Lagipula dia melakukannya demi menyelamatkan istri dan juga dirinya sendiri. Semua hal itu akan membuatnya bebas,” jelas Antony.


“Wah! Benarkah! Kalau begitu baguslah!” Laura tampak bahagia. Akhirnya dia bernapas lega. Temannya selamat dan sepertinya dia akan bahagia setelah ini dengan anak dan juga suaminya.


“Sudah?”

__ADS_1


“Sudah!” Laura mengembangkan senyuman anak-anaknya. Benar-benar menggemaskan bagi Antony, tapi dia berusaha untuk datar saja melihat wajah Laura.


“Kalau begitu aku akan pergi sekarang,” ujar Antony sambil melihat jamnya. Sebentar lagi waktunya dia harus ke kantor.


Mendengar itu tiba-tiba saja perasaan Laura menjadi tidak rela. Baru datang kenapa Antony sudah ingin pergi lagi.


“Kau langsung ingin pergi lagi? Kenapa tidak menemaniku makan dulu?” tuntut Laura. Dia tidak suka makan sendirian.


“Aku sudah makan bersama dengan Adelia tadi.” Antony datar saja mengatakannya.


Laura kembali memasang wajah ngambeknya. Pria ini! Apakah dia sengaja mengatakan hal itu agar Laura merasa cemburu! Tidak! Tidak akan! Laura tidak akan cemburu walaupun pagi, siang, sore, dia makan bersama dengan Adelia dan meninggalkannya makan sendirian di villa yang sepi ini.


Laura mendengus lalu segera memutar tubuhnya. Dia tidak cemburu! Dia hanya kesal! Kesal sekali.


Melihat tingkah Laura yang tampak marah padanya membuat Antony menaikkan sudut bibirnya. Wanita ini! Mungkin ini yang membuat Antony menyukainya. Wanita yang tidak segan-segan menunjukkan suasana hatinya dan tak pernah berpura-pura. Kalau dia kesal dan tidak suka, dia tidak akan bisa mengulas senyum di bibirnya.


“Ya sudah, aku akan menemanimu makan,” ujar Antony yang mengejar Laura sambil memegang pergelangan tangan Laura.


Laura melihat hal itu kaget. Tapi dia jadi senang karena Antony ternyata masih seperti dulu yang memikirkan dirinya.


Antony memutar tubuhnya melihat wajah nakal Laura. Dia tahu wanita ini sengaja menggodanya begitu agar mendapatkan jawaban yang dia inginkan.


“Dari pada kau menerorku terus seperti tadi, aku terpaksa menemamimu,” ujar Antony dengan wajah sedikit datar walaupun dalam hatinya dia ingin sekali tersenyum.


“Ha? Jadi ini terpaksa?” Kembali Laura kesal karena tak mendapatkan jawaban yang dia inginkan. Padahal dia ingin sekali Antony mengatakan bahwa tak ada yang lebih penting dari dirinya. Tapi malah mendapatkan jawaban terpaksa.


Antony sudah tidak tahan melihat wajah cemberut dari Laura yang terlalu imut baginya. Hal itu membuatnya tertawa cukup sumringah, Membuat lesung pipinya yang dalam langsung terlihat dan menambah menawan wajahnya.


Entahlah, kenapa baru sekarang Laura sadar wajah Antony begitu menarik perhatian. Jika dia diam, terlihat tampan. Jika dia tersenyum atau tertawa seperti tadi, begitu terlihat manis. Ah! Kenapa bisa dia memuji pria ini sekarang?


“Sudahlah, ayo makan. Aku tidak bisa melihatmu makan dengan wajah cemberut seperti tadi.” Antony menarik lembut tangan Laura yang akhirnya melangkah perlahan dengan senyuman manisnya. Rasanya hati juga manis sekarang.


...****************...


"Wah! kalian memang berjodoh sekali ya! di rawat saja harus berdua!" celoteh Stevan yang langsung sumringah melihat keadaan Graciella dan juga Xavier. Dia lega akhirnya semua ini berakhir.

__ADS_1


"Ya. Aku benar-benar khawatir saat tahu kau diculik." Kali ini Daren yang mengutarakan isi hatinya. Stevan dan Daren baru datang pagi ini untuk melihat keadaan Xavier dan Graciella. Mereka sudah seperti sepasang sejoli sekarang. Di mana ada Stevan entah kenapa sekarang ada Daren.


"Ya, aku rasa saat ini kami baik-baik saja. Terima kasih sudah mengkhawatirkan kami," jawab Graciella pada kedua orang yang tampak mengembangkan senyuman manis mereka ke arah Graciella dan Xavier.


"Kalian juga tidak perlu takut lagi. Adrean sudah dipastikan tewas. Mereka sudah mengevakuasi mayatnya." Stevan langsung memberikan kabar itu agar Graciella menjadi tenang. Sudah tidak ada lagi pria yang akan membuatnya menderita.


Mendengar itu Graciella mengerutkan dahinya. Dia pikir Xavier berhasil membawa Adrean untuk ditangkap. Tapi tidak menyangka bahwa Adrean tewas, apakah?


Graciela menatap Xavier yang juga menatap dirinya. Graciella hanya diam. Dia tahu Xavier pasti punya alasan kenapa dia melakukan hal itu. Dan dia yakin, semua ini yang terbaik untuk mereka. Jadi, Graciella tidak akan bertanya kenapa Xavier melakukan hal seperti itu walaupun dia tahu itu tidak seperti suaminya.


"Lalu, Stevan berhasil menangkap Elaine." Daren mengabarkan keberhasilan Stevan menangkap seorang ratu penipu. Wanita itu sangat licik dan licin. Dia sering melarikan diri dengan caranya sendiri.


"Elaine?" tanya Graciella bingung. Dia baru dengar nama itu.


"Wanita yang membiusmu dan juga Serin. Dia sudah dipenjara sekarang. Tapi sebenarnya kita juga harus berterima kasih dengannya," beber Stevan.


"Untuk apa?" tanya Daren bingung.


"Tanpa dia yang memasukkan alat pelacak GPS di baju Graciella. Kita tidak akan menemukannya. Coba kau periksa di salah satu saku bajumu. Mungkin alat itu masih ada," ujar Stevan lagi.


Graciella mendengar itu mengerutkan dahinya. Tapi dia langsung memeriksa saku di bajunya. Dan benar saja, alat itu ternyata ada.


"Benar bukan? ini akan menjadi bukti! kalau kau tidak keberatan, aku akan menyitanya," ujar Stevan segera ingin mengambil alat pelacak itu. Graciella segera menyerahkannya.


"Baiklah, sepertinya semuanya akan berjalan dengan baik untuk kita semua," ujar Daren dengan semangat.


Tapi baru saja dia mengatakan hal itu. Tiba-tiba saja ponsel Stevan berdering. Stevan melihat bahwa panggilan itu dari bawahannya langsung saja mengangkatnya.


"Halo? Ha! apa! bagaimana bisa! aku akan ke sana segera!" kata dan teriak Stevan yang membahana. Membuat ketiga orang yang lainnya langsung kaget dan bertanya-tanya. Ada apa lagi sekarang!


"Stevan? ada apa?" tanya Xavier.


Stevan tidak langsung menjawab dan hanya memperhatikan wajah-wajah bingung yang menatapnya.


"Elaine, Kabur dari penjara!" Stevan mengatakannya dengan suara yang turun.

__ADS_1


__ADS_2