
Graciella membuka matanya dengan enggan. Sudah hampir subuh dia baru bisa menutup matanya menuju ke dunia mimpi. Dia juga sudah memberitahu Daren bahwa kemungkinan dia akan masuk kantor lebih siang akibat Jet Lag yang dia rasakan.
Dia baru terbangun ketika matahari sudah cukup tinggi di atas langit. Tidur begitu pagi nyatanya bukannya semakin membuat tubuhnya ringan tapi malah membuat kepalanya pusing.
Graciella mencoba mengingat apa yang terjadi malam kemarin. Saat dia tidur rasanya dia merasakan seseorang yang mengelus dan mengecup pipinya. Bau khas woody itu punya serasa masih tertinggal di dekatnya. Eh? Apakah dia masuk ke dalam sini semalam? tanya Graciella membesarkan matanya.
Graciella lalu melihat ke arah sebelah ranjangnya, tak ada tanda ditiduri di sana. Dia lalu berbalik dan mengerutkan dahinya melihat sebuah catatan yang ada di atas nakas di dekat ranjangnya. Sepertinya tidak ada catatan itu sebelumnya. Dia segera mengambilnya dan membaca isi dari kertas itu.
“Terima kasih mengizinkan aku menginap semalam. Maaf tidak bisa menunggumu untuk bangun. Ada hal yang harus aku lakukan segera. Sampai jumpa lagi.”
Graciella membesarkan matanya, apakah yang dia kira mimpi semalam itu bukan hanya mimpi. Pria itu benar-benar datang dan mengecup pipinya? bagaimana bisa dia melakukan itu? tanya Graciella sambil memegang pipinya. Otaknya seketika saja memunculkan sensasi lembut penuh perasaan yang bisa dia ingat. Ah! Kenapa dengan Graciella. Dia pikir dia akan marah, tapi sekarang … kenapa dia malah merindukannya?
“Ah! sudah, sudah Graciella! Itu hanya mimpi mu, mana mungkin dia masuk dan menciummu!” ujar Graciella menepuk pipinya. Tapi sekali lagi lembut hangatnya kecupan itu terasa. Ah! Graciella bisa gila karena pria itu.
Graciella langsung berjalan ke arah kamar mandi dan segera bersiap untuk hari pertamanya pergi ke kantor Daren. Saat Graciella melewati ruang makannya, dia terkejut melihat beberapa makanan sudah ada di atas mejanya. Sebuah catatan di atas meja makan itu.
“Panaskan jika dingin.”
Graciella mengerutkan dahinya, kapan pria itu sudah menyiapkan bubur untuknya? Graciella duduk dan mengecap sedikit bubur itu. Graciella terkejut karena rasanya cukup membuatnya ingat tentang makanan yang dulu sering dia makan. Lagi-lagi Greciella penasaran bagaimana pria itu tahu Greciella menyukai bubur seperti ini? bukannya mereka baru bertemu beberapa kali dan tak pernah membicarakan sama sekali tentang makanan kesukaan Greciella?
Bubur itu langsung disantap habis oleh Graciella.Rasanya rindu akan negara ini sedikit terobati karena bubur yang diberikan oleh Xavier. Graciella benar-benar menjadi bersemangat dan tak bisa berhenti tersenyum. Pria arogan dan sombong itu ternyata cukup perhatian.
Graciella segera berjalan keluar dari rumahnya. Saat melewati ruang keluarga, dia berhenti sejenak. Melihat tempat duduk Xavier kemarin. Eh? Kenapa Graciella merasa sudah kehilangan sosok itu? Graciella kembi menggeleng keras.
__ADS_1
Graciella segera masuk ke dalam mobil yang memang di sediakan oleh Daren untuknya. Sebenarnya Graciella sudah menolak dan tapi Daren tetap saja memaksa agar Graciella menggunakan mobilnya. Terkadang kebaikan dari Daren membuat Graciella malah tak enak padanya.
Mobil Graciella berhenti tepat di depan kantor penyelidikan milik keluarga Daren. Dia segera masuk dan menemui Daren yang ada di kantornya.
“Selamat siang! Maaf, aku begitu terlambat untuk datang,” sapa Graciella yang langsung membuat Daren kaget.
“Graciella? Bukannya sudah aku katakan untuk tidak perlu datang?” ujar Daren lagi segera menegakkan tubuhnya dan mencondongkan tubuhnya ke arah Graciella.
"Aku harus membiasakan diri. Jika terus mengikuti kemauan diriku, nanti akan terlalu lama mengalami Jet Lag-nya." Greciella menarik kursi di depan meja kerja Daren. Langsung duduk di depan atasannya.
"Baiklah kalau begitu. Siapa pun tak akan ada yang bisa menahanmu jika memang sudah bertekad seperti itu."
"Apakah ada kasus yang bisa aku kerjakan?"
"Tak perlu kasus yang menarik. Kasus biasa pun aku akan melakukannya," kata Greciella tersenyum.
"Baiklah. Ada satu kasus yang aku ingin kau lihat, sebentar aku ambil filenya di tempat anggota yang lain dulu," ujar Daren yang baru ingat dia punya satu kasus yang sudah lama ingin dia diskusikan pada Graciella.
Graciella mengangguk pelan melihat kepergian Daren. Sendirian di ruang kerja Daren membuat Graciella terdiam, dari tadi ada perasaan aneh yang muncul di dalam hatinya. Ada rasa mencari dan kehilangan sosok pria itu. Dia sedikit kesal, apakah ini tandanya Graciella benar-benar merindukannya?
Daren yang baru saja ingin masuk ke dalam kantornya mengerutkan dahinya melihat wajah Greciella yang tampak sedikit berbeda, seperti ada yang sedang membebani pikirannya.
"Ada apa denganmu?" tanya Daren pelan dan lembut penuh perhatian saat dia kembali duduk di depan Graciella. Dia urung menyerahkan file itu.
__ADS_1
"Ha? tidak! Tidak ada apa-apa. Apa maksud kakak?" ujar Graciella yang tampak sedikit salah tingkah.
"Graciella, walau tak sehebat dirimu, tapi aku juga seorang penyidik. Jadi aku tahu ada sesuatu di dalam pikiranmu, katakan padaku, kau tahu aku sangat pintar menyimpan rahasia. Katakan saja apa hal yang membuat mu sampai begitu padahal belum dua puluh empat jam kau ada di negara ini," desak Daren.
Greciella awalnya enggan mengatakan tentang Xavier. Tapi Daren termasuk orang yang punya pergaulan yang luas. Apakah dia kenal juga dengan Xavier?
"Kemarin malam, ada seseorang yang mendatangi tempat tinggalku," ujar Graciella.
"Ha? bagaimana bisa? Siapa? Apa kau mengenalinya?" Clcerca Daren kaget. Padahal dia kira tak akan ada yang macam-macam jika Graciella di sana. Komplek itu adalah kompleks pribadinya.
"Bukan, dia tidak melakukan apa-apa dan aku mengenalinya. Kami pertama kali bertemu di Amerika karena sebuah kasus lalu dia tiba-tiba saja datang ke sini. Saat itu dia masih memakai cincin pernikahannya tapi kemarin dia mengatakan dia sudah bercerai," cerita Graciella. Dia memang merasa nyaman berbicara tentang hal ini pada Daren.
"Ohoh! Kau hebat sekali, baru beberapa jam di sini sudah bersama seorang pria!" Daren tampak tersenyum-senyum kecil menggoda. Tak apalah, bukannya Graciella adalah wanita singel yang berhak membuka hati pada siapa saja.
"Ehm! Bukan begitu, dia berkata dia ingin menumpang, jadi aku mengizinkannya," ujar Graciella yang langsung menangkap perubahan ekspresi Daren. "Kami tidak melakukan apa-apa, aku hanya kasihan karena aku sudah membuat tangannya hingga terluka saat mencoba mengusirnya. Aku minta maaf kakak, aku mengizinkan pria itu menginap tanpa minta izin dulu padamu."
"Hahaha, jadi itu yang membebani pikiranmu? Kau sudah dewasa. Aku izinkan kau tinggal di sana karena menganggap kau adikku, lagi pula kau sahabat istriku. Tidak masalah jika kau ingin dengannya. Ehm, jika aku boleh tau, siapa pria beruntung itu?" Tanya Daren lagi dengan senyuman ciri khasnya.
Graciella memunculkan wajah ragunya. Tapi dia sudah kepalang tanggung, tak mungkin tak mengatakan siapa pria itu.
"Eh? Namanya Xavier, dia seorang perwira tinggi tentara negara kita," ujar Graciella dengan polosnya.
Daren yang mendengar nama Xavier tersebut langsung mengubah ekspresinya dari awalnya tersenyum menjadi mengerutkan wajahnya. Dia tak bisa menutupi keterkejutannya.
__ADS_1
"Jenderal Xavier?" Ujar Daren memastikan.