
Graciella menarik napasnya panjang. Dia baru saja menyelesaikan novel yang dia baca. Sejak peristiwa penculikan dan juga perdarahan yang dia alami. Xavier sepertinya terobsesi mengurungnya di kamar seharian dan juga menyuruh Graciella untuk istirahat.
Graciella tak bisa menolaknya. Apalagi alasannya adalah si cabang bayi.
Kediaman mereka di markas militer itu sepi. Nenek dan ibu mertuanya tidak ada di kediaman. Moira sudah meminta pulang karena rindu dengan ibu dan ayah angkatnya. Xavier sibuk bekerja dan tinggalah Xavier yang ditemani oleh Serin. Bosan! Hanya itu yang terasa.
Tapi tiba-tiba pintu kamar Graciella siang itu terketuk. Graciella mengerutkan dahi. Ada apa?
"Masuk!"
Pintu itu segera terbuka. Sosok Serin muncul di depannya. Graciella pastinya sudah menebak itu adalah dia. Siapa lagi? Xavier dan yang lain tak akan mengetuk dulu untuk masuk ke kamarnya.
"Maaf Nyonya, ada hal yang ingin saya laporkan," ujar Serin sungkan.
"Ya kenapa?" Graciella meletakkan novel yang cukup tebal di atas nakas sebelah ranjangnya.
"Ibu Negera datang untuk mencari Anda."
Graciella langsung mengerutkan dahi. Ibu negara? Datang ke sini? Menemuinya lagi? Ada apa lagi? cerca pikiran Graciella.
"Di mana Beliau?" Tanya Graciella.
"Di depan. Beliau mengatahui keadaan Anda karena Beliau sudah lebih dulu mencari Anda ke biro penyelidik swasta milik Tuan Daren," bener Serin.
Apa yang dikemukakan oleh Serin membuat Graciella makin menatap aneh. Sebegitu niatkah dia bertemu dengan Graciella? Hati kecil Graciella langsung bisa menebak. Pasti semua ini ada hubungannya dengan Laura.
"Baiklah, minta beliau masuk. Aku akan segera ke ruang ramu," ujar Graciella. Dia harus bersiap-siap sejenak. Tak mungkin menemui Ibu negara dengan baju tidur terusan yang sekarang dia pakai.
Selesai mengganti baju. Dengan perlahan Graciella segera berjalan ke ruang tamu. Dia bisa melihat Adelia duduk dengan begitu anggun menunggunya.
Mata adelia segera cemerlang melihat ke arah Graciella yang sedang menunju ke tempatnya. Dia segera tersenyum dan berdiri menyambut yang empunya tempat.
"Maaf Graciella, mengganggu waktu istirahatmu," ujar Adelia ramah.
__ADS_1
"Tak apa-apa ibu negara. Aku sudah cukup lama berisitirahat. Silakan duduk." Graciella mempersilakan sekaligus dia juga duduk.
Hening sejenak, mereka hanya melempar senyuman.
"Jadi begini. Ehm, apakah kau sudah mendapatkan kabar di mana Laura?" Tanya Adelia To the point. Toh dia tidak berlama-lama di sini. Akan mengundang kecurigaan jika dia berlama di sini.
Greciella yang sudah tahu tujuan Adelia tadi hanya memipihkan bibirnya sejenak. "Maaf Ibu Negara, tapi keadaanku sekarang masih belum menemukan Laura."
Graciella memang mencoba mencari Laura. Tapi dirinya sendiri masih begitu banyak masalah.
"Begitu ya? Maaf, aku juga tak ingin memaksa. Hanya saja …." Ujar Adelia. Dia juga tak bisa memaksa. Keadaan Graciella juga tak baik. Begitulah yang dia dengar dari info yang dia dapat.
"Hanya saja?" Tanya Graciella sedikit mengerutkan dahi.
Adelia menatap ke arah Graciella. "Antony akhir-akhir ini bersikap aneh. Dia sering tidak pergi tiba-tiba dan menghilang begitu lama. Apa menurutmu ini ada hubungannya dengan Laura?" Tanya Adelia begitu hati-hati. Dia tidak mungkin langsung mengatakan bahwa Antony kemungkinan besar sudah menemukan Laura.
Graciella menekuk bagian di antara kedua alisnya. Melihat ke arah Adelia dengan bingung.
"Apakah Anda merasa itu ada hubungannya dengan Laura?" Tanya Graciella menyimpulkan.
"Tidakkah itu terlalu dini? Walaupun Antony sangat mencintai Laura. Bagaimana jika hatinya Antony ternyata tertambat dengan wanita lain tapi dia masih mengakui bahwa dia mencintai Laura?" Tanya Graciella. Menuduh seperti itu tentulah tidak baik. Masalah perasaan begitu mudah berubah.
Dulu, dia sangat mencintai Adrean. Tapi begitu dia bertemu dengan Xavier, perasaannya ternyata berubah dan mencintai pria itu bahkan lebih dari Adrean. Bagaimana jika Antony juga begitu? Hanya saja dia tidak bisa mencintai Adelia.
Adelia terdiam. Dia ingin mendesak bahwa Antony sendiri yang mengatakan hal itu. Tapi sepertinya itu terlalu gamblang dan dapat membuat kedudukan Antony terancam.
"Kenapa Anda tidak menyewa saja detektif untuk mengikuti Tuan Presiden?" Greciella mencoba memberikan saran. Urusan menyelidiki orang dan mengikutinya seperti ini bukan bidangnya. Graciella lebih fokus untuk penyelidikan kriminal. Apalagi keadaannya sekarang tak akan memungkinkan.
"Sudah. Tapi hasilnya nihil. Graciella, aku yakin bahwa wanita itu adalah Laura," desak Adelia tak tahan juga. Dia bahkan memegang lengan Graciella dengan kedua tangannya.
Graciella mengerutkan dahinya tambah dalam. "Bukannya waktu itu Anda ingin mencari Laura agar Antony dan Laura bisa bersatu? Anda mengatakan bahwa Anda tidak ingin berada di antara mereka berdua? Lalu, jika benar sekarang Antony sudah menemukan Laura. Kenapa Anda tampak cemas? Seharusnya Anda sudah lega bukan?" Tanya Greciella dengan tatapan menganalisa.
Adelia mendengar itu membesarkan matanya. Dia langsung melepaskan pegangan tangannya. Dia menggigit bibirnya. Apakah kedoknya sudah terlihat?
__ADS_1
"Aku hanya takut, Antony membalas dendamnya pada Laura dan membuatnya celaka." Adelia mengatakannya pelan.
"Jika Anda yakin Antony mencintai Laura. Dia pasti tak akan melakukannya. Mungkin akan marah beberapa hari tapi tak akan sampai mencelakakannya. Aku rasa Antony tak sekejam itu," ujar Graciella.
Adelia kembali menggigit bibirnya. Apalagi yang harus dia katakan.
"Aku kenal Laura. Walaupun dia sedikit ceroboh dan bertindak sesuka hatinya. Tapi dia punya pendirian yang tetap. Jika dia dikekang dia akan berontak. Jadi aku rasa Anda tak perlu khawatir," ujar Graciella.
Adelia hanya diam memandang ke arah depan tanpa melihat ke arah Graciella.
"Kalau memang tujuan Anda untuk menyatukan Laura dan Antony. Anda tak perlu takut bukan, apalagi seperti yang Anda bilang Antony mencintai Laura dengan sangat."
Adelia kembali hanya terdiam. Dia tak mungkin mengatakan bahwa dia sama sekali tak punya tujuan seperti itu. Dia ingin Antony bersama dengannya.
Adelia lalu melihat ke arah Graciella yang berwajah serius. Dia tersenyum cukup manis.
"Benar. Aku hanya terlalu banyak berpikir. Aku takut terjadi apa-apa pada Laura. Bukannya banyak yang menjadi benci ketika cinta sudah tersakiti? Anda juga pernah mengalaminya." Adelia tersenyum lebih lebar.
Graciella mengerutkan dahi lebih dalam. Apa maksud Adelia? Kenapa insting Graciella mengatakan wanita ini menyimpan sifat aslinya.
"Terima kasih sudah mendengarkan keluh kesah saya. Saya undur diri dulu," ujar Adelia berdiri cepat dengan senyumannya.
Graciella segera berdiri dan mengangguk. "Hati-hati di jalan," ujarnya mencoba sopan dan ramah.
Adelia segera berjalan keluar dari rumah itu. Graciella hanya mengantarnya di batas pintu. Dia melepas senyuman ketika Adelia masuk ke dalam mobil.
Graciella segera masuk. Dia kembali mengerutkan dahinya. Dia tahu Antony begitu mencintai Laura dan jika sikap Antony berubah seperti dikatakan oleh Adelia. Mungkin saja dia memang sudah menemukan Laura. Tapi, jika wanita itu sudah kembali, mustahil dia tidak menemui Graciella. Jangan, jangan Graciella, bagaimana dengan orang tuanya. Apakah Antony melakukan sesuatu pada Laura seperti kata Adelia. Greciella harus menyelidikinya.
Graciella bergegas tapi tetap hati-hati menuju kamarnya. Dia mengetik sebuah pesan, lalu dikirimkannya. Wajahnya sejenak masih cemas sebelum dia kembali berbaring. Dia juga harus menjaga dirinya, tak boleh terlalu banyak tekanan.
...****************...
maaf kakak, 2 hari ga up ya. si kecil rewel dan demam karena tumbuh gigi, disusul kakaknya dan suami kena flu meriang. Makanya kadang ga bisa pgg hp karena harus ful gendong si kecil.
__ADS_1
satu dulu, malam saya balas kekurangannya ya.