
““Permisi semuanya. Usiaku sudah terlalu tua untuk bisa tetap ada di sini. Nikmatilah pestanya dan maafkan jika aku harus kembali ke kamarku untuk beristirahat. Nikmatilah selagi kalian muda," ujar Liliana. Dia mendekati Xavier sejenak. “Tinggallah lebih lama. Jamu mereka untuk nenek. Nenek sudah tidak tahan dengan semua hiruk pikuk ini,” ujar Liliana. Pandangan Liliana pindah ke arah Graciella yang sedari tadi tampak gugup dan tegang. Dia menaikan sudut bibirnya, lalu mengeluarkan gestur agar Graciella mendekat.
“Jangan terlalu gugup," bisik Liliana pada Graciella yang mencondongkan tubuhnya ke arah Liliana. “Mereka semua ini penjilat. Seberapa baik pun kau pada mereka, mereka akan tetap membicarakanmu di belakang. Biasakanlah jika ingin masuk ke keluarga Qing.” Liliana mengedipkan sebelah matanya pada Graciella. Graciella membesarkan matanya. Dia tak menyangka akan mendengar hal seperti ini keluar dari bibir Liliana yang dari tadi terlihat begitu berkelas.
“Tolong bantu cucuku agar wanita itu menjauh, aku tidak menyukainya!” ujar Liliana lagi yang semakin membuat mata Graciella terbelalak. Liliana hanya tertawa melihat wajah kaget dari Graciella. Graciella pun tertular tawa Liliana. Devina di ujung sana panas melihat kedekatan Graciella dengan Liliana.
“Baiklah, aku permisi," ujar Liliana kembali menjaga sikapnya lalu segera pergi meninggalkan kerumunan orang-orang. Graciella membalas senyum Liliana sebelum dia menghilang dari pandangannya. Kelakuan dari Liliana membuat Graciella geleng-geleng kepala, keluarga ini benar-benar susah ditebak. Mata Graciella tanpa sadarnya mengarah ke Xavier. Xavier hanya menaikkan satu sudut bibirnya.
“Apa nenekmu tahu kita hanya pura-pura?” tanya Graciella, tak percaya bahwa nenek dan cucu ini berkomplot untuk membatalkan pertunangan Xavier.
“Dia memintaku membawa seseorang,” jawab Xavier yang sebenarnya tidak memberikan pada pertanyaan dari Graciella.
“Jadi dia tahu atau tidak?” tanya Graciella lagi, serasa dipermainkan oleh nenek dan cucu ini.
“Bisa tahu, bisa juga tidak.” lagi-lagi Xavier memberikan jawaban mengambang. Graciella jadi kesal sendiri karenanya. Lebih baik diam saja, pikir Graciella yang beberapa kali harus mengangguk pelan untuk mempersilakan beberapa tamu pulang membuat suasana semakin menyepi di sana. Graciella akhirnya bisa bernapas lebih lega. Setelah ini hutangnya akan selesai dan dia akan bebas dari pria ini, benarkan?
__ADS_1
“Graciella?!” Devina datang entah dari mana dan tiba-tiba saja menarik tangan Graciella dengan kasar hingga dia hampir terjatuh. Graciella tentu kaget, tarikan itu kasar dan membuat tangannya sakit, untung saja ketika dia ingin jatuh. Xavier dengan tanggap menangkap tubuh Graciella. Tangan Xavier yang kekar memegang pinggang kecil Graciella.
Tentu aksi dari Devina ini membuat semua orang yang tinggal di ruangan itu kaget dan terdiam. Mereka melihat aksi nekat dari Devina yang melabrak langsung saingannya. Siapapun di ruangan tahu bagaimana tergila-gilanya Devina pada Xavier. Bahkan sebagian dari mereka memilih untuk tetap ada di pesta itu karena ingin melihat bagaimana Devina melabrak Graciella. Pasti akan menjadi sebuah tontonan seru untuk mereka.
“Aku tidak percaya kau adalah pasangan Xavier! Bagaimana wanita sepertimu bisa menjadi pasangan Xavier! Hanya aku yang pantas menjadi pasangannya!” ujar Devina dengan emosi yang sangat. Dari raut wajahnya terlihat dia sudah mabuk.
“Devina, kau benar-benar harus menjaga sikapmu. Apa perlu aku mengusirmu keluar dari sini?” tanya Xavier pada Devina.
“Xavier! Diamlah! Ini adalah urusan wanita. Apa kau sekarang sudah kehilangan wibawamu dengan mengurusi urusan wanita? Ini urusan aku dan dia. Atau wanitamu ini terlalu lemah untuk berhadapan denganku hingga harus kau yang menghadapiku?” Devina menatap Xavier dengan mata memerah marah. Mata marah itu lalu kembali ke arah Graciella yang hanya diam. Wanita ini kacau sekali, pasti sangat sakit melihat pria yang kita cintai bersama wanita lain. Bukannya marah, Graciella merasa miris melihat Devina.
“Aku bukannya tidak bisa berbicara. Hanya saja aku merasa kasihan denganmu. Bagaimana bisa kau terus berusaha ingin mendapatkan pria yang bahkan tidak menyukaimu?” tanya Graciella. “Bagaimana bisa kau bertahan untuk mendapatkan seseorang padahal hal itu sangat menyakitimu? Kenapa tidak melepaskannya saja? kenapa harus memaksa hingga terlihat begitu kasihan?” Graciella menjadi emosi. Dia ingat kata-kata ini pernah tercetus oleh Clara. Wanita yang sudah menghancurkan biduk rumah tangga dirinya dan Adrean padahal baru saja berlayar. Saat itu, Graciella memohon pada Clara untuk tidak lagi berhubungan dengan Adrean. Dia ingin suaminya kembali padanya. Tapi itulah yang terucap oleh Clara. Graciella merasa bodoh pernah memohon seperti itu, ternyata Clara hanya permulaan. Masih lebih banyak hal menyakitkan yang Adrean torehkan. Dan sekarang, entah bagaimana bisa dia malah mengatakan hal itu pada Devina.
Xavier mendengar perkataan Graciella hanya menatap wanita itu dengan serius. Melihat bagaimana tajamnya mata Graciella memandang Devina. Tapi kesedihannya dapat Xavier rasakan.
“Kau! beraninya kau mengatakan hal itu padaku! Xavier adalah milikku, semua orang tahu bahwa dia adalah milikku!” kata Devina.
__ADS_1
“Kenyataannya sekarang dia milikku.” Graciella langsung menempelkan tubuhnya ke tubuh Xavier. Hal ini juga membuat Xavier kaget. Biasanya wanita ini tampak enggan berdekatan dengannya. Kali ini dia yang menggelayut manja pada Xavier bahkan dia menautkan tangan mereka, saling menggenggam. Bukannya sekali berpura-pura harus tuntas hingga orang-orang percaya, pikir Graciella.
“Tetap saja! aku tidak percaya kalian adalah pasangan. Aku yakin ini hanya akal-akalan mu saja agar membatalkan pertunangan kita. Aku yakin! kalian bersekongkol untuk membuatku membatalkan pertunangan ini!” ujar Devina. Masih tak masuk diakalnya dia bisa dikalahkan dengan wanita ini. “Buktikan jika kalian adalah sepasang kekasih. Jika kalian bisa membuktikannya, aku akan menerima pembatalan pertunangan ini!”
“Kami tidak perlu membuktikan apapun padamu,” ujar Xavier datar. Dia sudah hendak pergi dari sana. Tapi dengan sigapnya Devina menghadang Xavier.
“Kau mau pergi ke mana? takut? kau tidak bisa membuktikannya kan? Xavier! Jangan terlalu picik. Sudahi sandiwara bodoh kalian ini! Aku tak akan pernah membatalkan pertunangan ini! dan Kau! wanita murahan! bagaimana bisa kau mau saja diminta pura-pura menjadi kekasih Xavier? Benar-benar murahan! berapa banyak dia membayarmu?” Devina berapi-api. Semua orang hanya hening melihat pertengkaran ini. Benar bukan, ini tontonan yang sangat menyenangkan.
Graciella merasa sudah kebal mendengarkan kata-kata murahan, menjijikkan dan yang lain-lain. Sudah terlalu sering dia mendengarkannya hingga rasanya dia sudah tak punya masalah lagi dengan kata-kata itu sekarang. Bahkan saat dia tak melakukan sesuatu yang salah, dia selalu dicap seperti itu. Jadi sekarang rasanya biasa saja.
Namun dia merasakan tangannya yang digenggam oleh Xavier dire'mas olehnya. Graciella lalu melihat ke arah Xavier. Wajahnya seperti menahan marah. Kenapa Xavier marah? dari tadi sepertinya wajahnya tak peduli dan datar. Tapi sekarang kenapa tampak begitu marah?
“Lalu apa yang kau ingin kami lakukan?” suara Xavier tegas dengan nada marahnya.
“Cium dia!” ujar Devina. Dia tahu Xavier. Dia tidak mungkin mencium wanita sembarangan. Dia tentu bisa menggenggam tangan dan juga berdekatan dengan wanita murahan itu. Tapi jika menciumnya? Devina yakin dia tak akan mau!
__ADS_1