
“Aku sudah memberitahukan Antony tentang kedatanganmu hari ini. Dia ingin datang menemui kita. Mungkin dia akan sampai sebentar lagi,” ujar Daren segera.
“Baiklah, Siapa saja orang yang dicurigai?"
"Setelah Xavier. Polisi menaruh perhatian pada Adrean, Devina, dan beberapa saingan bisnis dan politik beliau. Termasuk Tuan Xie dan juga Tuan Peter. Tapi semuanya tidak menunjukkan hal mencurigakan hingga kini," ujar Daren lagi menjelaskan. Graciella hanya mengangguk mengerti.
"Apa sudah mendapatkan petunjuk?” ujar Graciella.
“Ada beberapa hal yang harus aku berikan dari hasil penyelidikan polisi. Stevan mengirimkannya untuk kita," ujar Daren lagi segera membuka pintu ruang kerjanya. Graciella langsung duduk di depan meja kerja kakak angkatnya itu. Daren dengan cepat membuka laptopnya dan mencari CCTV yang dia dapatkan dari kepolisian.
“Ini adalah mobil yang di duga pelaku. Mobil ini masuk beberapa menit sebelum kejadian. Tidak jelas apakah dia benar-benar dari mobil itu atau tidak karena tiba-tiba CCTV itu terputus. Semuanya CCTV mati di saat pelaku melakukan penembakan itu. Tentu saja kecuali di kamar perawatan Tuan Robert hingga itu menjadi senjata untuk memfitnah Xavier.” Daren menjelaskannya.
“Bagaimana mobil ini dicurigai?” ujar Graciella yang langsung fokus dengan apa yang dia lihat.
“Karena lima belas menit kemudian CCTV kembali menyala dan mobil itu sudah tidak ada. Dari semua yang ada di sana. Hanya mobil itu yang tidak ada,” kata Daren.
“Lalu? Bagaimana penyelidikannya?” tanya Graciella. Kalau sudah menemukan hal yang mencurigakan kenapa tidak menyelidikinya.
“Polisi sudah mencari. Ada 178 mobil dengan model dan juga warna yang sama. Lagi pula mobil itu menggunakan nomor plat palsu sehingga polisi kesulitan untuk mendeteksinya.”
“Bagaimana dengan saksi? Pasti ada orang yang melihat atau malah mencegat pelaku malam itu. Bukannya itu bukan waktunya untuk membesuk?” tanya Graceilla.
“Ada, seorang perawat pria di rumah sakit itu. Tapi orang yang mengaku Xavier itu memberikan kartu tanda militer dengan nama Xavier,” ujar Daren lagi mengusap mulutnya dengan jari telunjuknya. Dia berpikir.
__ADS_1
“Dia mengambil fotonya?” kata Graciella.
“Ya, dia mengambil fotonya. Sebentar,” ujar Daren menggeser foto yang ada di sana.
Graciella lalu mengamati foto yang tidak terlalu jelas di ambil oleh perawat itu dan Graciella langsung mengambil ponselnya. Mengirimkan sebuah pesan untuk Xavier agar dia mengirimkan kartu tanda kemiliterannya. Tak lama muncul jawaban bahwa kartu itu sudah ada di kepolisian. Bersamaan dengan itu Xavier juga mengirimkan nomor Serin. Graciella berhenti sejenak dan mengirim pesan untuk Serin agar membelikannya testpack saat ke tempat ini. Serin langsung menjawab iya.
“Kartu militer milik Xavier juga sudah ada di kepolisian,” ujar Graciella menutup ponselnya. Kembali fokus dengan laporan.
“Ya, Dia segera menyerahkannya saat dia ditangkap kemarin.”
“Senjata pembunuh?”
“Senjata api standar militer. Kita tidak bisa melacaknya karena banyak orang menggunakan senjata api itu,” ujar Daren lagi. Graciella langsung mati langkah karena mendengar hal itu. Graciella kembali memutar otaknya.
“Bagaimana dengan CCTV di sekitar rumah sakit. Pasti ada beberapa gedung ataupun jalanan yang memiliki CCTV yang menangkap mobil itu bukan?” tanya Graciella lagi.
Graciella dan Daren langsung melihat ke arah pintu itu. Tentu Daren tahu itu bukan Antony. Jika Antony pasti akan di arahkan oleh karyawannya ke ruang pertemuan bukan ke ruang kerjanya.
Graciella langsung berdiri dan tersenyum melihat sosok yang sedikit kaget melihat dirinya. Sosok tak kalah gagah dengan suaminya jika sudah menggunakan pakaian dinasnya. Tapi jangan sampai tahu bagaimana sifat aslinya, pasti sangat bertolak belakang dengan apa yang dia kenakan sekarang.
“Graciella?” Stevan seperti melihat seseorang yang sudah lama sekali tidak ditemuinya. Tanpa aba-aba dia langsung memeluk Graciella yang berdiri menyambutnya. Graciella saja sampai kaget. Tapi dari pelukannya yang erat, sepertinya Stevan benar-benar merindukannya.
Graceilla sebenarnya tahu. Saat membuka ponselnya, ada berpuluh pesan dari pria ini menanyakan kenapa dia tidak bisa dihubungi. Walaupun berusaha untuk tidak menanggapi perasaan pria ini, Graciella bukan wanita yang bodoh yang tak tahu bagaimana perasaan Stevan padanya.
__ADS_1
“Ehem, jangan terlalu lama memeluk istri orang,” ujar Daren melihat bagaimana eratnya Stevan memeluk Graciella. Stevan memang menumpahkan rindunya. Tiga hari saja tak bertemu rasanya begitu berat. “Jika Xavier tahu kau memeluk istrinya. Dia bisa langsung datang dan mengajakmu berduel.” Entah kenapa Daren malah sedikit terkekeh karena hal itu.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Daren membuat Stevan sadar. Dia langsung melepaskan Graciella yang hanya tersenyum.
“Kau dan Xavier, Daren bilang ….” Ujar Stevan melihat jari manis Graciella yang sudah tersemat cincin pernikahan. Stevan mengangguk dengan senyuman enggannya. Ternyata apa yang dikatakan oleh Daren benar. Graciella menghilang karena pergi berbulan madu dengan Xavier. “Ya, ampun, selamat ya. Aku hanya khawatir kau tiba-tiba hilang. Maaf aku belum terbiasa menyerahkan kau kembali pada Xavier. Tapi – selamat ya!” ujar Xavier tampak sekali mencoba ceria dalam dukanya.
“Ya, terima kasih. Nanti jika bisa, datanglah ke pesta pernikahan kami,” ujar Graciella. Bukannya tidak mengerti perasaan Stevan. Tapi bagaimana pun dia memang tak punya perasaan lebih dengan pria ini dari awalnya dan yang paling penting sekarang, Graciella adalah istri sahabatnya.
“Untuk apa kau datang ke mari?” ujar Daren melihat Stevan.
“Aku ingin menyerahkan bukti terbaru. Ini rekaman CCTV yang ditangkap di daerah persimpangan 4 kilometer dari rumah sakit. Walau tidak terlalu jelas, tapi aku rasa ini adalah bukti yang perlu kita analisa,” ujar Stevan menyerahkan sebuah Flashdisk yang ada ditangannya.
Daren melirik ke arah Stevan. Tentu untuk mengirim data ini dia bisa melakukannya dari kantornya atau jika dia ingin, dia bisa memerintahkan bawahannya seperti yang sudah-sudah. Tapi begitu Daren mangatakan Graciella akan datang ke kantornya. Pria ini langsung saja datang ke sini. Bertepuk sebelah tangan sangat menyakitkan.
Daren segera memasukkan flashdisk itu dan segera melihat rekaman CCTV yang diambil beberapa menit setelah penembakan itu. Terlihat mobil itu berhenti di belakang sebuah mobil lain.. Graciella tampak mengamatinya. Walau tak tampak siapa yang mengendarai mobil itu tapi setidaknya mereka tahu mobil itu memang keluar tepat sesaat penembakan itu.
“Kau sudah melihat rekaman ini?” tanya Daren yang melihat Stevan yang duduk di samping Graciella.
“Sudah, aku sudah melihat berapa kali rekaman ini. Resolusinya kurang bagus karena memang camera pengawas di sana belum di ganti. Dia terlihat pergi ke arah jalanan yang tidak memiliki CCTV, tepatnya ke pinggiran kota.”
“Apakah gambar ini bisa lebih diperjelas? Apakah ada tim multimedia atau apalah yang bisa memperjelas gambarnya?” tanya Graciella tiba-tiba.
“Memangnya kenapa? Kau sudah menemukan sesuatu?” tanya Stevan tidak percaya. Bagaimana Graciella bisa selalu melihat hal yang tidak mereka lihat.
__ADS_1
“Hanya sedikit penasaran. Ini di bagian seatbelt ada pegangan seatbelt yang warnanya sedikit sama dengan seatbeat-nya,” ujar Graciella menunjukan sebuah pegangan seatbelt yang tertangkap kamera.
“Graciella? Ada seratus lebih kendaraan dengan merek dan juga bentuk yang sama. Dan mungkin ada lebih dari puluhan kendaraan yang memiliki pegangan seatbelt berwarna hitam seperti itu. Apa menurutmu kita harus memeriksa kendaraan itu satu persatu? Itu bisa memakan waktu lebih dari sebulan,” ujar Stevan.