Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 115


__ADS_3

"Korban sedang duduk dengan tiga orang sahabat yang sudah bersahabat dengannya cukup lama. Nyonya Adeline duduk tepat di depan korban. Nyonya Susan duduk di sebelah Nyonya Adeline, lalu ada Nyonya Britney di duduk tepat di sebelah korban. Orang terakhir adalah Nona Riana, dia adalah pelayan pribadi korban selama sepuluh tahun terakhir." Seorang inspektur polisi menjelaskan keadaan sebelum korban dibunuh. "Semua sudah dimintai keterangan dan hanya Nona Riana yang masih ditahan di kantor polisi."


"Kenapa?" tanya Bruce yang cukup penasaran. Profesor Callahan hanya diam dan lebih banyak mengamati. Dia memang orang yang membiarkan timnya melakukan penyelidikan.


"Karena sidik jari Nona Riana yang ada di jarum suntik yang menancap ke leher Nyonya Hana. Di jarum suntik 3 cc itu hanya terdapat sidik jari Nyonya Hana yang memang ditemukan dalam keadaan memegang badan dari jarum suntik itu. Sedangkan di bagian plunger (pendorong) dari jarum suntik itu hanya terdapat sidik jari dari Nona Riana sehingga sepetinya hanya dia yang bisa menyuntikkan racun itu Saya akan kirimkan video interogasi dari seluruh orang yang ada di ruangan ini bersama dengan korban selama 3 menit itu. Ini adalah foto yang berhasil kami dapatkan di TKP sebelumnya," ujar petugas itu lagi menyerahkan foto-foto kepada Bruce dan Graciella. Bergantian mereka melihatnya. Xavier mendekati Graciella untuk melihat foto dari TKP sebelumnya.


Greciella mengerutkan dahinya. "Ini rahasia!"


"Aku sudah mendapatkan izin, lagipula kau harus ingat, aku mengawasimu." lirik Xavier ke arah Graciella dengan tajam. Graciella hanya munjukkan wajah terganggunya.


"Ehm, sepertinya sudah bisa dipastikan bahwa kasus ini adalah kasus pembunuhan dan juga Nona Riana adalah pelaku utamanya. Bukti-bukti sangat memberatkan dirinya," ujar Bruce menganalisa. Tentu hal itu seperti sudah dipastikan.


"Apakah sudah diketahui isi dari suntikan itu?" tanya Graciella sekarang mencoba menggambarkan suasana saat kejadian.


"Ya, risin. Racunnya adalah Risin," ujar petugas itu lagi.


Graciella mengerutkan wajahnya menunjukkan mimik yang lebih serius. Risin adalah salah satu racun yang paling mematikan. Di dapat dalam biji buah pohon jarak. Saat disuntikkan dalam tubuh akan begitu cepat menyebabkan kematian. Tapi apa yang membuat seseorang menyuntikkan racun sekuat itu. Itu seolah-olah menegaskan, pelaku ingin memastikan bahwa korban harus mati. Jika benar, pembunuhnya punya emosi yang terpendam pada korban.


"Apa ada motif dengan keempat orang itu?" Tanya Graciella lagi. Xavier yang dari tadi ada di sana tak bergeming. Dia hanya memperhatikan. Graciella yang tampak serius. Xavier juga tak ingin mengganggu. Wanita dengan keberanian itu cukup menarik perhatiannya.


"Tidak ada, sejauh ini tidak ada motif untuk membuaf mereka ingin membunuh Nyonya Hana."


"Melihat dari posisi, Nyonya Britney dan Nyonya Susan akan sulit menancapkan suntikan itu karena posisi jarumnya ada di sebelah kanan," ucap Graciella mencoba mereka adegan.

__ADS_1


"Nyonya Adelina punya kesempatan lebih, dia bisa menyerang korban karena mereka berhadapan langsung," ujar Bruce.


"Ya, tapi dengan tusukan tepat di tempat gelap, ini terlalu tepat sasaran. Nyonya Adelina harus benar-benar tahu dimana posisi Nyonya Hanna agar dapat melakukannya


Padahal 3 menitan mereka dalam kegelapan. Kecuali Nyonya Adelina seorang yang kidal, itu akan lebih mudah. Ehm? Apa dalam tiga menit itu tak ada satupun yang mencari sumber cahaya, pasti mereka punya ponsel dan mencoba membuat keadaan tidak lagi gelap dengan ponsel mereka?" tanya Greciella. 3 menit waktu yang cukup menyerang seseorang seperti itu tapi jika mereka menyalakan lampu dari ponsel sebelum tiga menit, salah satu dari empat orang ini pasti bisa melihat siapa yang menyerang Nyonya Hana.


"Nyonya Adelina bukan kidal dan ini adalah hal yang aneh. Ketiga sahabat korban mengatakan bahwa entah kenapa tiba-tiba mereka dilarang membawa ponsel mereka. Mereka harus menitipkannya sebelum memasuki ruangan ini. Alasan dari Nyonya Hana adalah dia sedang sakit kepala dan takut akan radiasi ponsel yang menambah sakit kepalanya dan memang ponsel ketiganya ada di ruang tamu. Hal ini juga menghambat mereka untuk memanggil pertolongan segera," ujar petugas itu lagi.


"Jadi maksudmu sudah pasti yang melakukannya adalah Nona Riana? Tempat dan posisinya sangat pas, apalagi sidik jari yang tidak bisa dipungkiri lagi." Bruce mencoba menghubungkan semuanya.


Graciella mengangguk pelan tapi cukup intens seraya melihat foto dari korban yang tergeletak di sofa yang sekarang ada di depan mereka. Korban sudah tampak kaku sambil memegang jarum yang masih tertancap di lehernya. Ada pertanyaan besar dalam benak Greciella.


Xavier yang melihat wajah Greciella semakin penasaran apa yang ada di otak Graciella. Wanita ini seolah tahu sesuatu.


"Saya tidak mengatakan hal seperti itu. Semua hal memamg sangat pas jika Nona Riana yang melakukannya. Tapi, ini masih perlu melakukan penyelidikan lebih lanjut apakah benar Nona Riana yang sudah melakukan pembunuhan atau ada seseorang yang sengaja melakukan hal ini, sehingga seolah-olah Nona Riana lah harus disalahkan karena hal ini."


Profesor Callahan memainkan bibirnya. Ujian pertama Graciella bisa dia lewati dengan baik. Tak mungkin menyimpulkan sebuah kasus hanya melihat satu sisi saja.


"Boleh melihat kamar tidur dari korban?" tanya Graciella.


Petugas yang dari tadi menjelaskan tentang keadaan di sana mengerutkan dahinya. Untuk apa memeriksa kamar korban? Xavier mendengar itu juga hanya menatap wanita itu dengan kerutan di wajah. Graciella sadar akan tatapan setajam elang, tapi dia sebisa mungkin tak melihatnya.


"Kami sudah melakukan pemeriksaan seluruh rumah ini dan semuanya tampak baik-baik saja termasuk kamar korban, masih tertata sangat rapi. Kita harus meminta izin kembali pada Tuan Rudolf untuk hal ini tapi apa yang ingin Anda lakukan di sana?" Petugas itu mencoba mengetahui apa yang ingin dilakukan oleh Gracilella.

__ADS_1


"Tidak ada, aku hanya ingin mengetahui dan mengenal lebih jauh tentang korban hingga dia bisa mengalami hal seperti ini," ujar Greciella.


"Aku akan mengizinkanmu," ujar Xavier lagi yang seketika membuat semua mata mengarah ke arahnya. "Rumah ini sekarang sudah aku yang mengambil alih. Pamanku dan putranya masih berduka hingga mereka menyerahkan semuanya padaku," jelas dari Xavier.


"Baiklah, kalau begitu izinkan kami masuk," ujar Graciella lagi dengan sedikit ketus.


"Dengan satu syarat. Hanya kau yang boleh masuk ke dalam, aku tidak mengizinkan banyak orang masuk ke dalam ruangan itu," ujar Xavier menatap ke arah Graciella lalu beralih ke arah Profesor Callahan dan Bruce. Profesor Callahan tampak santai mengiyakan. Sedangkan, Bruce tampak sedikit kaget.


"Tapi bagaimana jika Graciella butuh bantuan," Ujar Bruce.


"Aku akan menemaninya," ujar Xavier.


Bruce semakin mengerutkan dahinya. Melihat hal itu Greciella menepuk kecil pundak Bruce yang masih tak percaya. Padahal dia sangat ingin masuk. Kenapa hanya Greciella dan Xavier yang boleh masuk?


"Aku akan baik-baik saja," ujar Greciella yang merasa Bruce mengkhawatirkan dirinya. "Baiklah, antar aku masuk."


Greciella harus mengesampingkan rasa kesalnya pada pria demi mengungkapkan kebenaran dari kasus ini.


...****************...


Halo kak, banyak yang tanya kenapa upnya sedikit, sekali lagi aku minta maaf dan masih dalam suasana pindahan. Pindahnya pindah kota dengan semua barang2 seabrek yang harus di packing dan di unboxing lagi di atur agar pas di tempat baru ini. Karena itu aku mohon pengertiannya.


Sekali lagi terimakasih sudah selalu mendukung. Esok Insta Allah di lanjut tanpa gantung. See you next chapter

__ADS_1


__ADS_2