
“Mama!”
Graciella langsung terlonjak dari tidurnya. Lagi-lagi napasnya memburu dan juga jantungnya berdetak dengan sangat kencang. Graciella menatap sekitarnya dengan panik.
Xavier yang merasa Graciella tiba-tiba terbangun dari pelukannya segera melihat keadaan Graciella yang tampak begitu panik dan cemas. Dia melihat wanita itu gemetar dengan sorot mata yang penuh ketakutan.
“Graciella? Ada apa?” tanya Xavier sambil memegang kedua tangan Graciella.
Graciella langsung melihat ke arah Xavier yang memandangnya dengan wajah bertanya. Graciella menelan ludahnya yang terasa sulit. Kenapa? Kenapa mimpi itu terulang lagi. Kali ini dia bahkan menemui seorang gadis kecil yang tak bisa dia ingat wajahnya. Gadis itu terus menangis dan saat Graciella ingin menyentuhnya. Gadis itu memegang tangannya erat dengan raut wajah yang marah. Apalagi dia terus memanggilnya mama.
“Aku bermimpi buruk,” ujar Graciella yang masih saja gemetar. Xavier hanya memandangi wanita itu, mimpi apa yang bisa membuatnya hingga gemetaran seperti ini.
“Mimpi apa?”
“Tak jelas. Aku pernah bermimpi tentang seseorang yang memberiku sebuah guci lalu guci itu pecah dan ada anak yang memanggilku mama. Kali ini aku bermimpi tentang seorang gadis kecil yang marah, dia juga memanggilku mama. Ada apa ini?” tanya Graciella. Dia bukannya tak pernah bermimpi buruk. Tapi tak pernah separah ini. Dia bahkan merasakan semua ketakutan hingga saat dia terbangun.
Xavier terdiam mendengar perkataan Graciella. Dia ingat menurut laporan dari Fredy, walau tak jelas bagaimana karena dia tidak bisa mengingatnya. Dia dan Graciella punya seorang putri. Fredy bahkan mengatakan Xavier pernah berkorban demi melindungi anak itu. Tapi Fredy tidak tahu lagi keberadaannya setelah dia tugaskan ke tempat yang lain. Dia sudah mencari cara untuk mengetahui keberadaan putrinya tapi sampai sekarang dia sama sekali tidak mendapatkan data apa-apa seolah dia tak pernah ada. Entah bagaimana, tapi dia rasa ada hubungannya dengan ayahnya.
“Tak ada apa-apa. Aku rasa itu hanya mimpi,” ujar Xavier yang tidak bisa mengatakan apa yang dia tahu. Entah kenapa dia merasa ada sesuatu yang terjadi pada putri mereka itu. Dia bisa dengan jelas mengatakannya dengan Graciella karena pasti wanita ini akan terpukul. Lebih baik dia tidak mengetahuinya untuk sekarang.
“Tidak, tidak. Ini tidak seperti mimpi yang lain. Ini seperti nyata. Tapi bagaimana aku punya seorang putri?” tanya Graciella pada dirinya sendiri. Dia bingung. Dia memang pernah melahirkan tapi anaknya itu sudah tak ada lagi setelah Adrean membawanya pergi. Apakah anaknya itu masih hidup? benarkah? kalau begitu dia harus bertemu dengan Adrean. Dia harus bertanya dengan jelas, apakah anak itu masih hidup atau tidak. Tiba-tiba semua itu membuatnya mual.
“Aku ingin ke kamar mandi!
“Gracie!” ujar Xavier yang melihat Graciella menarik handuk yang ada di dekatnya lalu berjalan cepat ke arah kamar mandi. Belum Xavier sempat bergerak. Pintu kamar mandi itu sudah tertutup. Dia mengambil ponselnya dan langsung menelepon seseorang.
“Aku ingin mencari semua detail tentang putriku bagaimana pun caranya!” ujar Xavier yang langsung mematikan ponselnya dan segera turun dan berjalan ke arah kamar mandi. Dia berdiri di depan kamar mandi dan mendengar suara keran air di hidupkan.
Graciella melihat dirinya pada cermin besar yang terpampang di depannya. Dia menarik napasnya panjang mencoba meluapkan semua perasaan yang muncul karena mimpi itu. Graciella mengigit bibirnya. Bagaimana caranya dia bisa menemui Adrean? Jika dia katakan pada Xavier apakah pria itu akan membiarkannya? Apakah dia harus mengatakan bahwa dulu dia pernah melahirkan seorang putri dari pria yang tidak dikenalnya? Dia tak yakin dia bisa melakukannya. Rasanya semuanya pusing dan mual tapi dia tidak bisa mengeluarkannya. Graciella mencuci wajahnya lalu mendengar pintu kamar mandi itu diketuk.
__ADS_1
“Graciella?” panggil Xavier pelan sambil mengetuk pintu kamar mandi itu. Xavier mempercepat ketukannya saat mendengar Graciella yang terdengar seperti sedang muntah.
Tak lama pintu itu langsung terbuka. Xavier melihat wajah Graciella yang tampak lebih segar dengan senyuman yang mengembang. Walau begitu entah kenapa dia tidak menyukai wajah itu. “Kau baik-baik saja?”
“Ya, aku baik-baik saja. Masih terlalu pagi, jika ingin tidur, tidurlah kembali. Aku sepertinya tidak bisa tidur lagi,” ujar Graciella berjalan keluar tanpa melihat wajah Xavier. Dia bingung harus bagaimana? Tentu perubahan dari sikap Graciella membuat Xavier mengerutkan dahinya.
“Ada apa?” tanya Xavier. Walau belum begitu lama bersama dengan Graciella, dia merasa sudah mengerti sifat wanita ini.
“Eh? Aku? Tidak apa-apa, hanya sedikit pusing karena kaget. Aku tidak....” ujar Graciella yang langsung terpotong dengan suara ponsel yang berdering. Graciella langsung mengalihkan pandangannya dan mengambil ponselnya, siapa yang menelepon dirinya pagi-pagi begini. Xavier pun mengerutkan dahinya. Punya pemikiran yang sama dengan Graciella.
Graciella mengerutkan dahinya melihat nama Laura yang ada di ponselnya. Graciella memukul kecil kepalanya. Besok adalah hari pernikahan Laura dan hari ini dia pasti ingin Graciella ada untuk menyiapkan pernikahannya.
“Laura,” ujar Graciella menunjuk ponselnya ke arah Xavier. Xavier hanya mengangguk mengizinkan Graciella untuk mengangkat panggilan itu.
“Halo?” Graciella menjawab segera panggilan telepon itu sebelum dimatikan.
“Halo, Graciella?”
Graciella tidak menjawab, dia hanya men-loudspeaker-kan panggilan itu.
“Halo? Graciella? Kau masih ada di sana?” suara pria itu terdengar lagi. Xavier mengerutkan wajahnya dalam. Siapa yang menelepon Graciella dengan ponsel Laura?
“Ya? Aku di sini? Ini siapa? Kenapa menggunakan ponsel Laura?” tanya Graciella dengan wajah yang curiga. Perasaannya sungguh tidak enak karena hal ini.
“Aku Antony,” ujar Antony.
Graciella menarik napas panjang sambil menutupi ponselnya. “Dia calon suami Laura,” bisik Graciella pada Xavier yang akhirnya mengerti.
“Oh, ya, Ada apa Antony?”
__ADS_1
“Apa Laura sedang bersama mu?” tanya Antony langsung.
“He? Tidak, bukannya seharusnya dia ada di rumah atau bersamamu, besok hari pernikahan kalian bukan?” tanya Graciella yang bingung.
Hening sejenak. “Laura pergi.”
Graciella langsung membesarkan matanya. Apa lagi yang sudah diperbuat oleh teman bodohnya itu.
“Pergi? Apa maksudmu?”
“Laura pergi. Dia meninggalkan semuanya di rumah. Kami sudah mencarinya dari tadi malam. Tapi tidak menemukannya sama sekali. Dan aku berharap dia sekarang ada denganmu.” suara Antony tampak sangat cemas. Graciella benar-benar tak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh Laura. Bagaimana bisa dia melarikan diri!
“Dia - dia- tidak ada bersamaku. Laura! apa sih yang ada di pikiranmu!” ujar Graciella memegangi dahinya.
“Aku harap jika dia menghubungimu. Kau bisa beritahu aku ke mana dia pergi,” ujar Antony yang terdengar frustasi dan putus asa.
“Baiklah. Aku rasa aku akan segera pulang ke sana. Aku akan membantumu untuk mencarinya. Antony, tolong jangan menyerah,” ujar Graciella mencoba untuk memberikan semangat untuk Antony.
“Ya, terima kasih,” ujar Antony. Tak lama langsung menutup panggilannya.
Xavier memandang ke arah Graciella yang tampak cemas. Graciella pun hanya bisa menatap ke arah Xavier. Bagaimana bisa si bodoh itu pergi meninggalkan pria seperti Antony! Ah! Membuat masalah saja! Umpat Graciella dalam hati.
“Aku akan segera meminta untuk mereka menyiapkan tranportasi kita. Kau tidak masalah jika harus naik helikopter bukan?”
“Tapi bukannya kita tidak boleh terlihat berdua jika di sana?” tanya Graciella.
“Hanya untuk menyeberangi laut, nanti aku akan menyiapkan kereta api untukmu.”
“Baiklah, aku juga akan menghubungi kak Daren agar dia tahu aku pulang hari ini.”
__ADS_1
“Ya.”
Graciella menarik napasnya lagi, pagi-pagi dia sudah dibuat repot oleh sahabatnya itu.