
"Gracie! Gracie!"
Graciella menggeliat. Dia masih enggan membuka matanya, baru saja dia terlelap beberapa jam dan seingatnya hari ini dia tak punya jadwal jaga. Biarkan aku tidur sejenak! pikirnya sambil menggeser tubuhnya.
"Gracie!" sebuah pukulan telak mengenai tangannya yang terbalut perban. Luka hasil serempetan peluru tadi malam.
"Aduh! apaan sih Laura?" kesal Graciella yang sudah tahu itu Laura. Graciella memegang lukanya. Kembali berdarah akibat ulah dari Laura.
"Eh? kau terluka?" tanya Laura yang baru sadar akan tindakannya.
"Iya. Ada apa?" tanya Graciella sambil membenarkan rambutnya yang sedikit berantakan.
"Kenapa kau tidur di sini? apa semalam kau tidak pulang?" tanya Laura lagi. Graciella mengerutkan dahinya. Tadi malam selepas kejadian penyanderaan, dia memang kembali ke rumah sakit untuk mengobati lukanya. Karena dia juga bingung harus ke mana? dia memutuskan tidur di IGD. Ingin tidur di kamar jaga sudah pasti ada yang menempati. Ingin pulang ke rumah, dia tak yakin pria itu sudah pergi.
"Ya, aku tak perlu menjelaskannya padamu. Aku akan pulang sekarang, selamat berjaga!" ucap Graciella dengan senyumnya yang mengejek sambil memukul pundak Laura. Tak ingin tiba-tiba Laura meminta menggantikan pekerjaannya.
"Sepertinya kau tidak bisa pulang sekarang," ucap Laura segera membuat langkah Graciella yang hendak mengambil tasnya terhenti. Kenapa dia tidak boleh pulang, hari ini hari liburnya.
"Kenapa?" Graciella mengerutkan dahinya.
"Karena sepertinya sebentar lagi kau akan dipanggil oleh direktur rumah sakit karena kenaikan jabatanmu! ah! Graciella bagaimana caranya kau bisa menjadi kepala IGD, padahal kau baru dua tahun bekerja di sini? semua orang heboh membicarakanmu! apa itu benar?" ujar Laura dengan gaya khasnya yang selalu semangat cenderung berlebihan.
"Kenaikan jabatanku? kepala IGD? apa yang benar?" cerca Graciella yang bingung belum lagi kepalanya masih sakit karena kurang tidur.
"Iya, namamu sudah diletakkan di bagian kepala IGD di papan kepagawaian. Apa itu benar?" selidik Laura lagi curiga.
"Apanya yang benar, Laura? kalau bertanya yang jelas!" kesal Graciella apalagi wajah Laura cukup menyebalkan baginya.
__ADS_1
"Itu! tentang kau tidur dengan Direktur agar mendapatkan posisi itu?" bisik Laura pada Graciella yang bersungut gara -gara tingkahnya.
"Ha? apa kau kira aku wanita seperti itu! bahkan jika diiming-imingi menjadi wakil direktur rumah sakit ini tapi harus tidur dengan direktur yang tua bangka itu, aku tak akan mau!" ujar Graciella kesal, siapa yang sudah menyebarkan gosip murahan seperti itu.
"Ya, aku hanya mendengar mereka mengatakan hal seperti itu, aku kan baik memberitahumu," sungut Laura.
Graciella menekan gigi geliginya. Pagi-pagi begini dia sudah menjadi bahan gunjingan orang serumah sakit ini. Tapi bagaimana bisa tiba-tiba saja dia diangkat menjadi kepala IGD bukannya peraturannya hanya dokter yang sudah bekerja lima tahun yang boleh menjabat menjadi kepala IGD.
Graciella lalu mendengar suara ponselnya yang bergetar. Dia melihat nama Adrean di layarnya. Awalnya dia tak ingin menjawabnya, tapi dia putuskan untuk menerima panggilan itu karena dia ingin bertanya, apakah Adrean sudah selesai bersenang-senang di rumahnya?
"Halo?" kata Gracilella.
"Bravo! Bravo Graciella! aku ingin mengucapkan selamat padamu!" suara Adrean terdengar menyebalkan. Jelas sekali nadanya mengejek Graciella.
"Untuk apa?"
"Biasakah kau tidak menyebarkan hal yang tidak-tidak?" geram Graciella menggenggam tangannya sendiri. Ingin rasanya dia merobek mulut pria itu sekarang.
"Aku? tanpa perlu menyebarkannya itu sudah menjadi pembicaraan umum. Gracie? kau kira kau disukai di sana? apalagi sekarang, semua orang akan semakin tak menyukaimu!" Adrean tertawa puas di seberang sana, membuat darah Graciella semakin mendidih karenanya.
Graciella tidak mau banyak berbicara dengan pria gila itu. Semakin lama dia berbicara, akan semakin naik tensinya. Karena itu dia segera mematikan panggilannya.
Graciella mengambil napas panjang dan mengeluarkannya dengan kasar. "Di mana Direktur sekarang?" buru-buru dia menyambar tasnya, hendak segera keluar.
"Mungkin di kantornya. Kau mau apa?" tanya Laura yang melihat wajah Graciella yang memerah menahan emosi.
"Aku ingin menolak kenaikan jabatanku!"
__ADS_1
"Kau gila? semua dokter di IGD ingin mendapatkan jabatan itu dan kau menolaknya? Gracie! ini kesempatan baik untukmu!" ujar Laura yang mengejar langkah Graciella yang cepat.
Graciella tak ambil pusing. Dari pada dia terus digunjingkan dengan si tua bangka yang memang terkenal genit itu. Lebih baik dia menjadi dokter IGD seumur hidupnya.
Tapi tiba-tiba langkah Graciella terhenti seketika saat seorang dengan baju tentara lengkap muncul di depannya. Laura yang mengikutinya menabrak punggung Graciella. Laura sama kagetnya dengan Graciella melihat sosok di depannya itu.
"Dokter Graciella?" sapa Fredy dengan senyuman ramah. Akhirnya bertemu wanita ini juga.
"Ya? kau siapa?" Graciella mengerutkan dahinya, serasa semalam tak melihat pria ini. Apa karena mereka menggunakan baju yang sama sehingga Graciella tak begitu ingat wajah-wajah mereka?
"Perkenalkan saya Fredy, saya ajudan Letnan Jendral Xavier. Komandan yang memimpin misi semalam," ujar Fredy mengenalkan dirinya.
"E? lalu? bukannya aku sudah melakukan tugasku?" tanya Graciella.
"Misi apa?" bisik Laura yang penasaran. Matanya tak lepas pada sosok Fredy yang menurutnya menarik sekali. Graciella hanya menegur Laura dengan pandangan tajamnya.
"Benar. Anda melakukan tugas Anda dengan sangat baik, karena itu Letjen Xavier ingin berterima kasih. Beliau yang merekomendasikan Anda menjadi Kepala IGD." Fredy menjelaskannya dengan senyuman manis di wajahnya. Ramah sekali, berbeda dengan atasannya yang galak, pikir Graciella.
"Oh! ternyata dia yang membuat semua rumah sakit ini menjadi heboh pagi-pagi begini!" ujar Graciella dengan nada menyindir. Ah! gara-gara dia, nama Graciella jadi jelek. "Katakan padanya! lain kali jangan membantuku lagi," dengus Graciella kesal.
Fredy mengerutkan dahinya, kenapa wanita ini malah tak senang?
"Baik Dokter. Satu lagi, Komandan ingin mengajak Anda untuk makan siang hari ini sebagai permintaan maaf Beliau karena meragukan Anda semalam," kata Fredy lagi
Graciella mengerutkan dahinya. Mau apa lagi pria galak itu? pikirnya. Tentu Graciella tak ingin makan siang dengan pria yang tak ada sisi ramahnya sama sekali, lagi pula Graciella yakin nantinya akan menjadi masalah, lebih baik menolaknya saja.
"Maaf, tapi saya tak bisa menerima maksud baik Beliau. Suami saya tak akan mengizinkan saya untuk makan siang dengan Beliau. Terima kasih," ujar Graciella sesopan mungkin dan menekankan kata 'suami' agar mereka tahu dia sudah punya suami.
__ADS_1
"Eh? baiklah saya akan menjelaskannya pada komandan, tapi saya kira Beliau hanya ingin mengajak Anda makan siang formal," ujar Fredy. Dia tahu bagaimana sifat Xavier. Tiga tahun bersamanya, dia orang yang paling tidak suka kata-kata penolakan.