Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 272. Kalau tidak bisa hadir lebih baik melepaskanku saja!


__ADS_3

Ponsel Calton berbunyi. Dia segera mengangkat panggilan dari Antony yang baru saja sampai di kantornya dan ingin tahu apa yang sedang dilakukan oleh wanita yang sedang merajuk tadi pagi saat dia tinggalkan.


“Halo, selamat pagi Tuan,” ujar Calton yang berdiri tak jauh dari Laura. Laura yang sedang menikmati makan paginya di pinggir kolam renang hanya menyipitkan matanya ke arah Calton. Silau tertimpa matahari karena pakaiannya yang serba putih. Entahlah, kenapa pria ini selalu menggunakan pakaian itu.


“Apa yang sedang dia lakukan?” tanya Antony segera.


“Nona Laura sedang sarapan, Tuan.”


Antony hanya diam sesaat. “Berikan ponselmu padanya.”


“Baik Tuan,” ujar Calton yang segera berjalan menyusuri pinggiran kolam renang itu. Dia segera menyodorkan ponselnya pada Laura yang tampak acuh tak acuh.


“Ada apa?” tanya Laura.


“Tuan Antony ingin berbicara dengan Anda.” Calton menyerahkan ponselnya. Antony hanya mengerutkan dahinya mendengar pembicaraan mereka. Sepertinya mood wanita itu sedang tidak bagus pagi ini.


“Halo?” tanya Laura sesudah dia mengambil ponsel dari tangan Calton. Calton langsung undur diri. Berdiri cukup jauh untuk bisa mendengar percakapan Laura dan juga Antony. Dia tak ingin dikira menguping pembicaraan mereka.


“Bagaimana keadaan kakimu?” tanya Antony langsung.


Laura melihat kakinya yang masih terlilit oleh kain bebat. Rasanya sudah tidak sakit lagi, malah lebih ke mati rasa. Laura sudah bisa menginjakkannya, walau belum terlalu kuat tapi cukup lumayan hingga dia tidak perlu lagi melompat-lompat dengan satu kaki.


“Aku rasa sudah baikan.” singkat Laura terdengar sedikit ketus. Dia masih sedikit marah dengan Antony yang meninggalkanya begitu saja. Gara-gara itu dia jadi tidak bisa tidur lagi dan hanya menonton televisi. Sekarang kepalanya pusing.


Antony memainkan bibirnya. Dia tahu wanita ini masih marah padanya. Tapi dia suka jika Laura marah padanya, tampang cemberutnya itu, menggeemaskan. “Kau masih marah padaku?” suara itu terdengar lembut. Laura mengerutkan dahinya. Dia sampai tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Kenapa pria ini bisa jadi cuek dan juga perhatian dalam waktu singkat.


“Tidak. Untuk apa aku buang-buang tenaga hanya untuk marah padamu. Mengesalkan sekali,” sungut Laura.

__ADS_1


Antony yang mendengarkan itu hanya tersenyum tipis. Tak marah tapi yang baru saja dia ucapkan benar-benar seperti orang sedang marah.


“Kau tahu, tadi malam itu sangat beresiko. Aku rasa aku tidak bisa datang ke tempatmu dulu beberapa hari ini.”


Laura mendengar itu terdiam. Tiba-tiba saja dia merasa tidak suka mendengar hal ini. Kenapa dia menambah kekesalan di hati Laura.


“Kenapa kau tidak bisa datang?” tanya Laura. Bukan dia tidak tahu alasannya. Tapi dia hanya ingin menegaskannya.


“Kedudukanku sekarang membuat semua gerak-gerikku di sorot. Terlalu banyak menghilang dan dalam waktu yang lama, akan membuat semua orang mulai curiga. Aku harus menjaga jangan sampai ada yang curiga, itu benar-benar tak baik untuk karirku.”


Laura memajukan bibirnya jauh ke depan. Ah! Dia kesal sekali. Sudah kesal semakin kesal dengan hal ini. Dia benar-benar seperti simpanan sekarang! Ya! Fix! Dia adalah simpanan seorang presiden. Tapi dia tak mau jadi simpanan.


“Ya sudah, itu terserahmu saja. Mau datang terserah, tidak juga tidak masalah. Lagipula aku lebih senang sendirian. Jadi tak ada yang menggangu.” Laura langsung meledak. Dia mengeluarkan jurus berbicara bagaikan kereta apinya. Panjang dan cepat.


Antony menggigit bibirnya karena menahan tawa kecilnya. Dia bahagia bisa membuat wanita ini kesal karena melakukannya. Walaupun apa yang dia katakan adalah benar, tapi tak menyangka hal itu akan membuat wanita di seberang sana begitu marah.


“Tiga hari?” Laura membelakakan matanya dan segera menegakkan tubuhnya. Calton yang melihat hal itu tahu bahwa wanita itu sedang tegang.


“Ya, mungkin saja minggu depan baru aku bisa ke sana.”


“Ya sudah! Tak perlu datang juga tak apa-apa. Aku bisa membiasakan diri bermain bersama dengan Calton saja!” ketus Laura lagi.


“Apa maksudmu dengan Calton?” tanya Antony yang mengerutkan dahinya.


“Ya, kalau kau tidak ada. Yang ada hanya dia dan aku hanya sendirian di sini. Bukannya aku memang harus membiasakan diriku dengan kehadirannya. Dia juga menyiapkan kebutuhanku. Jadi, ya aku harus membiasakan diriku saja.” Ancam Laura. Biar dia tahu bagaimana kesalnya Laura sekarang. Dia juga tidak membutuhkannya.


“Aku akan menggantikannya dengan asisten wanita,” ucap Antony lagi dengan sedikit kesal.

__ADS_1


“Ha? Kenapa? Kenapa harus mengganti orang? Aku merasa sudah cukup cocok dengannya. Dia bisa menemaniku di sini sementara kau tidak bisa!” sindir Laura lagi.


“Jadi kau sebenarnya ingin aku ada di sana?” tanya Antony menggoda Laura lagi.


“Tentu saja! Aku sangat kesepian ada di sini karena dirimu. Tapi, kau malah seenaknya mengatakan bahwa kau tidak bisa datang ke sini. Kau pikir aku ini apa? Tempat persinggahan?” kesal Laura.


Antony tertawa kecil mendengar cercaan dari Laura. Laura mengerutkan dahinya. Kenapa malah tertawa.


“Kenapa tertawa?” Laura tak suka itu. Dia sedang serius tapi pria ini malah menertawakannya.


“Kenapa tidak mengatakannya dari tadi?”


“Apanya?”


“Bahwa kau ingin aku datang dan ada di sana?”


Laura terdiam, apakah dia masuk dalam jebakan dari Antony. Sial! Bagaimana bisa? Dasar, otak bodoh! Pikir Luara.


Calton di ujung sana sekarang hanya mengerutkan dahinya, Nona itu sekarang sedang memukul-mukul sendiri kepalanya. Wanita presiden ini benar-benar unik.


“Masa hal itu harus dikatakan? Kau seharusnya sebagai laki-laki peka! Jika memang tidak bisa hadir, maka lepaskan saja aku. Jangan menahanku dan membuatku kesepian di sini!” ujar Laura lagi.


“Aku akan melakukan apa pun. Asalkan jangan minta untuk pergi dari sana. Kalau kau pergi, aku tidak bisa menjagamu,” ujar Antony tiba-tiba serius dan lembut.


Tentu hal itu membuat Laura seketika terbungkam kehabisan kata-kata. Ah! Kenapa pria ini bisa dingin dan begitu hangat dalam waktu bersamaan membuat Laura meriang karenanya.


“Sudah jangan menggombal. Buktikan saja, apakah kau bisa ada di sini atau tidak,” ujar Laura sambil mematikan panggilan itu. Bisa demam dia jika terlalu lama berbicara dengan Antony. Ah! Kenapa tidak dari dulu saja sifat dan sikap Antony seperti ini. Jika dia seperti ini, mungkin bukan Antony yang mengejar-ngejar Laura. Laura sendiri yang akan mendatangi dirinya.

__ADS_1


Antony hanya mengulas senyuman tipis mendengar nada pemutusan itu. Dia membayangkan wajah gemas wanita itu. Dia hanya geleng-geleng kepala sambil memutar kursinya. Paginya cukup indah karena Laura.


__ADS_2