
Rose tersenyum sinis melihat Graciella dari atas hingga bawah. Melihat senyuman licik Rose itu perasaan Graciella tak enak. Dia baru sadar sudah mengiyakan tantangan Rose yang entah apa nantinya.
"Baiklah." Rose melipat kedua tanganya di depan dadanya. Dia yakin kali ini dia pasti akan menang dengan Graciella.
"Apa yang akan kita pertaruhkan?" tanya Graciella lagi. Menilai apakah pantas hal itu dijadikan taruhan.
"Kalau aku menang! kau harus menolak kenaikan jabatanmu dan kau harus mengakui di hadapan semua orang yang ada di sini bahwa kau memang tidur dengan Direktur untuk mendapatkan jabatan ini!" Rose memandang remeh pada Graciella.
Graciella menautkan kedua alisnya membuatnya bergelombang. Teman-teman Rose pun memandangnya dengan tatapan mengejek. Egonya menolak untuk mundur sekarang.
"Baiklah! jika kau kalah! kau harus keluar dari rumah sakit dan mengakui bahwa kau lah yang punya affair dengan direktur!"
"Ok kalau begitu! kalian saksinya ya!" kata Rose pada teman-temannya. Graciella mendengus kesal. Kemana Laura saat dia membutuhkannya. Padahal dia yang mengajaknya ke mari.
"Jadi tantangannya adalah kau dan aku mengikuti lelang malam ini. Kita lihat siapa yang mendapatkan tawaran paling tinggi, dialah yang menang!"
"He? tantangan macam apa itu?" seketika Graciella merasa bodoh. Dia kira Rose akan menantangnya berkelahi atau adu ketangkasan bahkan jika Rose menantangnya adu kecerdasan, Graceilla pasti menang telak. Tapi dia lupa, Rose pasti bukan orang suka seperti itu. Dia pasti mencari kelemahan dari Graceilla.
"Kau takut akan kalah dariku? Kau memang menyedihkan. Memang tak akan ada yang akan tertarik dengan wanita seperti mu. Bahkan suamimu saja tak punya ***** melihat dirimu!" Rose tertawa keras melemparkan hinaan itu.
Graciella menggigit bibirnya. Dia mengepalkan tangannya. Hinaan itu benar-benar menusuknya. Apa yang sudah dikatakan Adrean pada wanita ini?
"Sudah Rose, jangan terlalu menghinanya. Kasihan sekali dia sudah terlihat ingin menangis," ejek salah satu dari teman Rose yang melihat Graciella menggenggam tangannya erat.
"Baiklah! aku terima tantangan mu!" kata Graciella lagi. Toh, mau bagaimana pun se isi rumah sakit juga semua sudah mempercayai bahwa dia mendapatkan jabatan itu kerena tidur dengan direktur. Sudah kepalang basah! lebih baik mandi sekalian.
__ADS_1
"Wow! aku akui kau punya nyali! baiklah! aku sudah tak sabar melihat kekalahan mu!" Rose segera berjalan meninggalkan Graciella dan langsung menuju panggung yang ada di sana. Dia tampak membisikkan sesuatu pada salah satu teman dokter mereka di dekat bar. Pria itu melihat ke arah Graciella.
Sial! entah apa yang sudah dipikirkan oleh Graciella. Tapi dia benar-benar tak ingin direndahkan oleh wanita murahan seperti Rose.
Graciella kembali ke mejanya. Tak lama dia melihat Laura yang kembali membawa segelas minuman keras. Wajah Laura tampak sumringah, sepertinya dia bersenang-senang.
"Kenapa wajahmu bertekuk seperti itu?" tanya Laura.
Graciella hanya memandang temannya dengan wajah marahnya. Dia menyambar minuman keras di tangan Laura. Meneguknya bagaikan minum air putih hingga Laura sendiri kaget bagaimana bisa Graciella meminumnya seperti itu.
"Gracie? apa yang kau lakukan?" tanya Laura.
Graciella hanya melirik Laura dengan tatapan tajam, "Aku butuh itu agar bisa mengalahkan si Rose! Jika aku kalah, anggap saja aku bukan temanmu!" ujar Graciella lagi. Tak ingin menyeret Laura karena kesalahannya.
Laura mengerutkan dahinya melihat Graciella yang langsung berdiri dan segera menuju panggung tempat Rose dan pria itu sudah berdiri.
"Benar!" kata Rose. Graciella hanya mengangguk ketika Andy melihatnya.
"Baiklah, silakan naik Graciella. Kalian silakan siapkan penawarannya. Penawaran akan ditutup jika lagu yang diputar nanti sudah habis. Dan kita akan lihat siapa yang mendapatkan penawaran lebih tinggi!" kata Andy yang langsung di sambut tepuk tangan riuh dan beberapa sorakan dari orang-orang yang mengikuti pesta itu.
"Gracie! apa-apaan ini? kau gila ya! kau dibandingkan dengan Rose! ah! kau ini benar-benar gila!" ujar Laura. Tak biasanya Graciella bisa begitu ceroboh dalam mengambil keputusan. Akhir-akhir ini memang dia terlihat lebih labil emosinya dan lebih nekat hingga mengambil keputusan yang salah seperti ini.
"Anggap saja gara-gara ini aku menyumbangkan uang. Lagipula, hingga mulutku berbusa, mereka tetap akan berpikir aku tidur dengan si tua bangka itu. Aku juga ingin berhenti dari rumah sakit. Mereka semua tak menyukaiku!" ujar Graciella meracau, sepertinya alkohol itu mulai menguasainya. Setidaknya nanti dia tak akan dikenang sebagai pengecut.
"Tapi bukan begini juga!" ujar Laura yang merasa cemas sekaligus kesal. Juga ada rasa bersalah sudah membawa Graciella ke mari. Ah! kenapa Tuan es batu itu belum muncul juga? Laura mengedarkan matanya melihat sekitar.
__ADS_1
"Gracie! bisakah kau naik sekarang agar tak membuang waktu!" ujar Andy melihat Graciella masih betah ada di bawah panggung.
Graciella berjalan perlahan. Dia sedikit mengamati mata-mata yang memperhatikannya. Bahkan ada yang melihatnya dari atas hingga ke bawah. Mungkin dalam otak mereka berpikir bagaimana bisa Graciella dengan bodohnya menantang Rose yang bahkan dari penampilan saja Graciella kalah telak.
"Baiklah! mulai musiknya!" ujar Andy. Suara dentuman lagu kembali terdengar sedikit keras. Tapi tak sekeras yang tadi agar bisa mendengar suara para penawar.
Rose sudah melakukan aksinya. Tersenyum menggoda dan luwes berlenggak lenggok, sedikit menari di atas panggung itu. Pakaiannya yang memancing ***** semakin membuat kaum adam tak jemu meliriknya. Tentu jauh berbeda dengan Graciella. Dia hanya diam saja. Dandanannya pun tak ada menariknya. Di lihat sekilas saja sudah tahu pemenangnya.
Tawaran pertama tentu jatuh pada Rose. Graciella akui, wajah Rose pun penuh daya pikat. Dia wanita yang cantik, apalagi setelah dipoles dengan riasan tebalnya.
Tawaran demi tawaran terus bergulir. Tentu semua memperebutkan Rose. Pria-pria pasti ingin dua jam mereka ditemani oleh wanita seperti Rose daripada Graciella yang malah menunjukkan wajah tak nyamannya di atas panggung. Sejujurnya, kepala Graciella terasa pusing. Tak tahu karena hiruk pikuk tempat itu atau minuman yang baru dia minum.
"$ 450 untuk Rose! ada yang lain? musiknya sebentar lagi akan berhenti! dua jam bersama mereka! ayo! siapa lagi yang ingin menawar," tawar Andy.
"$ 500 untuk Graciella!" ujar Laura. Dia berusaha agar bisa membuat Graciella menang. Rose mengerutkan dahinya menatap ke arah Laura sedangkan Graciella sedikit tersenyum. Temannya bisa juga diandalkan.
"$ 700 untuk Rose!" ujar Sam, salah satu dari pria yang memang sangar menyukai Rose.
"$ 720 untuk Graciella!" pekik Laura. Ini penawaran terakhirnya. Uang simpanannya sudah tak ada lagi. Ah! seharusnya dia tak terlalu boros.
"$ 1000 untuk Rose!" ujar Sam lagi. Laura memandang sinis ke arah pria yang menunjukkan wajah tersenyum puasnya. Laura bingung, jika menaikkan harganya lagi, dia tak tahu harus meminta uang pada siapa?
"Ya, $1000 untuk Rose! ada lagi? siapa lagi? satu ... dua ... dan!!!"
"$ 3000 untuk Graciella."
__ADS_1
Suara berat itu seketika membuat semua hening. Semua orang juga kaget. Serempak melihat ke arah sumber suara.
Graciella mengerutkan dahinya. Dia tak bisa melihat siapa yang menawar dirinya hingga $3000. Perlahan tapi pasti sosok itu muncul juga dari remangnya cahaya. Graciella membesarkan matanya! Ah kenapa pria itu lagi?