
“Aku sudah mendapatkan obatnya,” ujar Xavier yang mendatangi Graciella yang sedang serius melihat ponselnya. “Ada apa?”
“Sedang melihat hasil dari tes luminol yang dikirim oleh Stevan. Hasilnya positif, kita lebih dekat selangkah lagi dengan pembunuh itu,” ujar Graciella dengan senyum sambil berdiri. Tapi wajah Xavier malah tampak cemas. “Kenapa?”
“Apa sekarang harus kembali ke sana?” tanya Xavier khawatir. Dia ingat kata-kata dokter itu. Kehamilan Graciella masih muda dan rentan, dia tidak boleh terlalu lelah. Dia tidak mau melarang Graciella seperti yang pernah dia katakan. Tapi dia juga takut terjadi apa-apa dengan Graciella dan juga bayinya.
“Kata Stevan tidak perlu. Aku hanya akan datang jika diperlukan. Mungkin besok aku bisa sedikit menginterogasinya,” ujar Graciella.
“Baguslah. Kalau begitu kita pulang dan juga beristirahat. Tak perlu belanja. Aku akan meminta pelayan yang ada di markas untuk berbelanja sayuran dan makanan bergizi untukmu. Soal peralatan, nanti katakan saja padaku. Aku akan membelikannya,” ujar Xavier lagi memulai jalan. Kembali memegang tangan Graciella seolah benar-benar takut Graciella kenapa-kenapa.
“Eh? Padahal aku sudah berkhayal akan berjalan-jalan denganmu nanti sore,” ujar Graciella menggelayut manja pada tangan Xavier.
“Tidak. Pulang saja, nanti kau lelah.”
“Tidak, aku tidak lelah. Aku benar-benar senang hingga semangat sekarang.”
“Tidak, istirahat saja.”
“Suami??” rayu Graciella.
“Jadilah istri yang baik,” ujar Xavier melirik Graciella dengan tatapannya yang sedikit tajam.
“Baiklah, aku akan menurut sekarang. Jadi istri yang baik,”ujar Graciella dengan wajah ngambeknya. Xavier menaikkan satu sudut bibirnya, merasa istrinya imut sekali sekarang.
***
Xavier membuka pintu kediamannya yang ada di markas militer. Graciella mengerutkan dahinya. Kenapa tidak mengunci pintu. Mentang-mentang di kawasan militer dan merasa aman ya? Pikir Graciella sebelum dia tahu alasan kenapa pintu itu tidak terkunci.
“Graciella!!” suara Liliana langsung menggema keras membuat Graciella sampai terhentak kaget.
__ADS_1
“Nenek?” ujar Graciella tidak percaya Liliana ada di sana sekarang, di belakangnya dia bisa melihat ibu mertuanya.
“Xavier mengabarkan bahwa kalian baru saja melakukan pemeriksaan bayi. Ah! Bagaimana kabar cicitku?” tanya Liliana begitu senang. Lupa dengan nyeri badan yang selalu dia rasakan.
“Nenekmu memaksa untuk datang ke sini. Dia sudah marah karena tidak di ajak ke rumah sakit untuk melihat cicitnya. Karena itu sebagai gantinya aku meminta Xavier mengizinkannya datang ke sini,” ujar monica lagi.
“Oh, ya, baik-baik saja semuanya. Ini fotonya,” ujar Graciella memberikan foto hasil USG itu. langsung disambar oleh Liliana untuk melihat cicitnya. Dia tersenyum lebar walaupun dia tidak mengerti cara membaca foto itu.
“Graciella harus banyak istirahat. Aku akan membawanya ke kamar,” ujar Xavier langsung.
“Ya, ya, benar. Bawa saja istirahat. Monica akan pergi membeli bahan makanan bersama dengan pelayan. Aku akan menunggu di sini, tenang saja,” ujar Liliana.
“Eh? Benarkah? Ibu akan pergi berbelanja? Ibu, maaf aku merepotkanmu,” ujar Graciella menjadi tak enak.
“Tak perlu sungkan. Aku yang ingin pergi sendiri. Aku takut pelayanmu tidak tahu mana makanan yang berbahan kualitas tinggi. Kau butuh itu saat kehamilan mudamu ini,” jawab monica lagi.
Graciella tersenyum senang, dia melirik ke arah Xavier. Merasa sangat beruntung mendapatkan keluarga yang hangat seperti ini. Tidak menyangka, dulu dia sangat dibenci. Sekarang malah diperlakukan melebihi anak kandung.
“Baiklah.” Graciella segera berjalan dan masuk ke dalam kamar mereka.
Graciella segera membersihkan dirinya dan berganti pakaian yang cukup nyaman untuk dia bisa beristirahat di kamar itu. Dia melihat Xavier yang sudah menyiapkan minuman dan beberapa makan di sisi ranjang mereka.
“Ibu akan menginap di sini beberapa waktu,” ujar Xavier pada Graciella.
“Benarkah?” tanya Graciella.
“Ya, dia dan nenek memaksa aku mengizinkan mereka untuk tinggal di sini. Aku akan sibuk beberapa hari dan mungkin lebih banyak meninggalkanmu di rumah. Aku merasa jika ada ibu dan nenek, kau mungkin tak akan kesepian, bagaimana?” tanya Xavier.
“Baiklah, ehm … tapi aku masih akan bekerja untuk kasus ini. Bagaimana nanti ibu dan nenek? Apa mereka akan mengizinkan?” tanya Graciella yang duduk di sisi ranjangnya. Xavier memberikannya air putih yang langsung diminum oleh Graciella.
__ADS_1
“Aku akan berbicara dengan mereka dan mengatakan bahwa ada pekerjaan yang tak mungkin kau tinggalkan begitu saja. Tenang saja, walau mereka tak akan setuju, tapi mereka akan mengerti,” kata Xavier.
“Baiklah,” Graciella tersenyum pada suaminya.
“Ibu mengupas beberapa buah untukmu. Katanya kau harus menghabiskannya. Itu juga ada susu.”
“Aku harus menghabiskan semuanya? Tapi kita baru makan siang,” tanya Graciella. Merasa ini cukup berlebihan.
“Makan saja semampumu. Jangan dipaksakan. Mereka hanya terlalu senang. Kehamilan dan kelahiran di keluargaku sangat jarang, jadi maklum jika mereka begitu.”
“Baiklah.” Graciella mengerti.
“Istirahatlah. Aku akan melarang mereka masuk jika kau belum keluar. Aku akan pulang malam karena pekerjaanku yang tadi aku tunda. Aku akan menghubungimu.” Xavier mencium dahi Graciella dengan sedikit tekanan yang memancing senyuman hangat Graciella.
“Selamat bekerja, Papa,” ujar Graciela. Xavier langsung tersenyum lebih lebar mendengarnya walaupun dia langsung keluar dari ruangan itu.
Graciella membutuhkan waktu cukup lama untuk bisa sekedar tidur. Dia sudah tidak terbiasa tidur siang dan sekarang harus menghabiskan waktunya untuk beristirahat. Ternyata jika memang tidak terbiasa. Bahkan tidur siang pun menjadi hal yang susah.
Graciella terbangun, dia membuka matanya perlahan matanya yang terasa sedikit sepat. Dia lalu merasakan ada sesuatu yang tidak nyaman yang disekitar paha dan juga kakinya. Seperti rasa lembab dan basah.
Graciella langsung terduduk dari tidurnya. Membuka selimut yang menutup kakinya dan matanya membesar melihat darah yang menggenangi tempat tidurnya. Geaciella langsung gemetar dan napasnya tersekat. Sprei putih itu berubah menjadi merah darah yang menakutkan. Napas Graciella langsung memburu berat, matanya liar melihat ke arah kakinya yang terbungkus darah. Ada apa? Apakah dia keguguran? Bagaimana dengan anaknya?!
Graciella yang panik itu segera menurunkan kakinya. Dia ingin mencari bantuan, dia harus cepat, mungkin saja anaknya bisa dipertahankan. Tidak, dia tidak bisa kehilangan bayinya. Dia harus menyelamatkannya!
Tapi baru saja kakinya menjejak lantai itu. Tiba-tiba saja di depan wajahnya yang ketakutan, panik dan cemas menjadi satu muncul wajah Adrean. Tepat sekali di hadapannya.
“Graciella! Tak akan kubiarkan anak itu lahir!” katanya kejam sambil memukul perut Graciella dengan sangat kencang yang langsung membuat Graciella tersentak bangun dan terduduk hingga menarik dirinya ke tengah ranjang dan memeluk tumitnya.
Napas Graciella semakin berburu. Detak jantungnya sudah tidak karuan. Begitu cepat hingga dia bisa mendengarkannya. Tubuhnya gemetar dan juga penuh dengan keringat dingin. Rasanya dia baru saja seperti menghadapi ketakutannya yang terdalam.
__ADS_1
Dia melihat keadaan sekitarnya. Kosong dan cenderung gelap. Hening dan tenang seperti sebelum dia tidur. Beberapa saat kemudian, dia baru sadar. Semua itu ternyata hanya bermimpi buruk saja.
Graciella langsung ingat, dia melihat ke arah perutnya dan tempat dia tidur tadi. Sprei mereka masih bersih dan tak ada bercak darah sedikit pun. Graciella menarik napasnya panjang. Hanya mimpi! untunglah, itu semua hanya mimpi!