
"Max tidak bermaksud begitu, tapi jauh dari itu, dia orang yang baik dan setia."
"Haha, sudah jangan memujinya di depanku. Bagaimana pun aku tetap tidak menyukainya. Wajahnya saja seperti mafia," ujar Laura malah terkekeh. Calton sedikit bingung tapi mencoba tetap memberikan wajah mengerti.
Selesai terkekeh, Laura malah terdiam sejenak dan matanya kosong. Dia menarik napasnya panjang. "Kenapa Antony tidak membiarkan aku pergi saja. Padahal aku benar-benar tidak ingin melakukan apapun padanya. Ah! aku tidak habis pikir, kenapa dia obsesi sekali denganku?"
"Tuan Antony tidak mau melepaskan Anda bukan hanya karena dia ingin menahan Anda terus seperi ini. Tapi di luar sana, percayalah, banyak hal yang dapat membuat Anda celaka. Terutama dari Ibu Negera. Kemarin beliau mengirim dua orang untuk mencari dan mencelakakan Anda. Karena itu, saya kira Anda diminta tinggal di sini karena Tuan Antony tahu, Anda lebih aman di sini," ujar Calton pada Laura.
Laura mendengar itu terdiam. Benarkah? Bagaimana Adelia ingin mencelakakannya padahal bertatap muka saja mereka tak pernah.
"Benarkah? Bukannya dia melakukan ini karena dia marah padaku?" Pasti Laura lagi.
"Bukan. Saya yakin Tuan Antony punya tujuan lain selain hanya ingin menahan Anda. Jika dia hanya ingin menahan Anda. Tuan Antony tak akan mengizinkan dokter membawa Anda ke rumah sakit saat keadaan Anda kritis kemarin. Max bahkan sampai tak bisa melakukan apa-apa karena Tuan Antony mengatakan bahwa nyawa Anda lebih penting dari apa pun," ujar Calton lagi yang memang ada di sana saat Antony berbicara dengan Max yang terus mengingatkan konsekuensi dari keputusannya itu.
Laura kembali tertegun. Dia tidak tahu bahwa Antony tetap ingin membawa Laura ke rumah sakit walaupun dengan begitu bisa saja semua yang dia miliki hilang. Pria itu! Kenapa selalu melakukan hal-hal yang berlebihan!
"Apakah Anda tetap ingin menghubungi Tuan Antony?" Tanya Calton siap dengan ponselnya.
Teguran itu membuat Laura akhirnya sadar. "Tanyakan saja, apakah hari ini dia datang ke sini atau tidak?" Ujar Laura dengan nada sedikit kesal.
"Baiklah."
"Eh, bukan!" Tiba-tiba Laura menyela, membuat Calton yang ingin mengirim pesan ke Max kaget. "Katakan padanya, hari ini dia harus datang ke sini! Harus!" Tekan Laura.
"Eh, baiklah," ujar Calton.
Laura menghempaskan tubuhnya bersandar ke sofa empuk itu. Bibirnya dia majukan sambil memeluk bantal kursi di sana.
Nanti saat Antony datang. Dia ingin mengatakan bahwa dia tidak akan tersentuh hanya karena Antony rela kehilangan segalanya hanya karena dirinya. Bukannya memang Antony dari dulu begitu?
Laura menggigit kuku jarinya. Tapi saat ini apa yang dia pertaruhkan sangat besar dan bukan main-main, dia siap menukar kedudukan dan kebebasannya hanya untuk menyelamatkan Laura, bukankah itu sangat tidak setimpal? Siapa Laura dibandingkan kedudukan presiden dan kebebasannya? Padahal, pria itu sudah dilukai oleh Laura berkali-kali. Tapi dia tetap saja melakukan hal seperti ini.
Ah! Kenapa sekarang dia malah bimbang begini. Apalagi senyuman tipis dari Antony itu teringat lagi, pria itu benar-benar membuat Laura bingung. Dibilang berubah, memang berubah. Tapi jika dilihat sifatnya, tak ada yang berubah sama sekali. Dan sekarang, kenapa dia malah memikirkannya?
...****************...
Pintu mobil Graciella segera dibuka oleh Xavier. Teriknya mata hari membuat Graciella harus menyipitkan matanya.
"Ayo, dia pasti sudah menunggu," ajak Xavier mengulurkan tangannya ke arah Graciella.
Graciella menggapai tangan itu. Berjalan menuju ke sebuah lapangan yang ada di markas militer itu. Saat mereka Sampai di helipad, Helikopter yang membawa Moira pun baru mendarat..
__ADS_1
Pintu helikopter itu terbuka dan menapakkan sosok seorang tentara yang segera membantu anak perempuan turun dari helikopter itu.
Graciella tampak tersenyum melihat putrinya yang menatap dirinya. Saat kakinya menjejak tanah. Otomatis dia segera berjalan cepat ke arah mereka dan langsung si sambut pelukan oleh Graciella.
"Mama!" suara riang itu terdengar sebelum masuk ke dalam dekapan Graciella. Graciella memeluk anaknya dengan sangat erat. Setidaknya dia tahu, putrinya dalam keadaan Aman sekarang.
Xavier melihat putrinya akhirnya bisa benar-benar merasa lega. Dari tadi masih ada kecemasan yang muncul di hatinya jika putrinya masih belum dalam jangkauan matanya.
"Lapor Komandan, misi sudah selesai dijalankan," lapor bawahan Xavier yang membawa Moira sambil memberikan hormat. Hanya Moira yang dia bawa. Kedua orang tua angkatnya tak bisa ikut.
"Baik, terima kasih," ujar Xavier membalas hormat prajuritnya. Setelah Xavier menurunkan tangannya. Bawahan Xavier pun undur diri.
"Mama? Papa? Kenapa Kaoru di jemput?" Tanya Moira dengan polosnya.
"Tidak apa-apa. Mama dan Papa begitu rindu dengan Moira. Lagipula apakah Moira tidak rindu dengan Papa dan Mama?" Graciella mencoba menjelaskan sesederhana mungkin. Tak mungkin dia mengatakan bahwa nyawa anaknya mungkin dalam bahaya.
"Kita masuk ke dalam rumah dulu. Di sini panas," ujar Xavier.
"Ya, ayo. Nanti Mama akan kabarkan pada nenek dan juga nenek buyut. Mereka akan senang melihat Moira di sini," ujar Graciella menuntun anaknya berjalan. Rumah mereka tak jauh dari sana.
Sesampainya di kediaman Xavier di markas militer itu. Graciella langsung menyuapi Moira, setelah itu dia menjadikan putri kecilnya dengan semangat lalu menidurkannya. Setelah yakin putrinya telah lelap dia baru masuk ke dalam kamarnya.
"Lelah?" Tanya Xavier. Melihat Graciella melakukan semuanya. Tentu hari hari ini dia lebih banyak bergerak dan beraktivitas. Selama hamil, Xavier memang melarang Graciella untuk banyak melakukan aktifitas fisik, tapi hari ini dia mana mungkin melarang Graciella dalam mengusut kematian ibunya dan juga mengurus putri mereka.
"Mandilah, kau juga dari kamar mayat. Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu. Jangan terlalu lama berendam. Cukup untuk menghilangkan ketegangan saja. Setelah itu istirahatlah," perintah Xavier bagai berbicara pada bawahannya. Untung saja Graciella sudah terbiasa dengan nada itu.
"Siap komandan!" Canda Greciella. Dia segera menuju kamar mandinya. Tak lama dia membersihkan diri dan berendam. Cukup membantu sedikit. Setidaknya pundaknya tak lagi terasa berat
Graciella melihat suaminya sudah menyiapkan makanan dan buah untuknya. Sudah lengkap tertata rapi di nakas sebelah ranjangnya.
"Aku masih bisa makan di ruang makan, kenapa dibawa ke sini?" Tanya Greciella.
"Agar lebih praktis. Kau sudah banyak bergerak. Istirahatlah."
"Berjalan ke ruang makan tak akan membuatku lelah. Lagipula aku harus membatasi makananku. Aku sudah gemuk."
"Tidak. Kau tidak gemuk. Jangan batasi makanan. Makan yang banyak agar anak kita sehat."
"Ya! Dia sehat, aku akan menjadi balon."
"Aku suka balon." Ujar Xavier datar sambil menyodorkan sendok ingin menyuapi Graciella.
Graciella terkekeh mendengar kata-kata suaminya. Benar-benar tak bisa dibantah.
__ADS_1
"Apakah sudah ada kabar bahwa mereka sudah menangkap Adrean?" Tanya Greciella. Rasanya jika pria itu masih berkeliaran. Dia takut dia akan mencari cara lain untuk mengancam Graciella.
Padahal kalau dipikir-pikir. Apa salah Graciella. Bahkan dia sudah tidak bersama dengan wanita itu dari umur lima tahun. Bukannya di sini Graciella juga adalah korban?
"Belum. Tapi jangan khawatir. Dia tak akan bisa menyentuh kita. Aku berjanji akan menjaga kalian. Untuk saat ini lebih baik kalian tidak keluar dari markas ini. Dia tak akan bisa menyentuh kalian jika ada di sini."
Greciella mengangguk. "Tapi berusaha lah untuk menangkapnya."
"Pasti. Setelah ini istirahatlah dan aku harus melakukan beberapa hal. Aku akan membantu Stevan untuk menangkap Adrean jika diperlukan," jawab Xavier. Bagaimana pun menangkap penjahat seperti Adrean adalah hak dari kepolisian. Mereka hanya mencoba membantu jika memang diizinkan oleh pihak kepolisian.
.
"Kalau begitu pergilah sekarang. Aku masih bisa makan sendiri. Makan tak akan membuatku lelah dan aku janji setelah ini aku akan tidur. Jangan khawatir," ujar Graciella.
Xavier diam sebentar. "Baiklah." Dia menyerahkan makanan itu ke Graciella. Memberikan sebuah ciuman dahi yang menjadi ritualnya sebelum dia meninggalkan Graciella. Graciella melempar senyum sebelum suaminya pergi meninggalkannya.
Graciella mencoba menghabiskan makanannya tapi dia hanya makan setengahnya. Dia menunggu beberapa saat agar makanannya tercerna sempurna tiba-tiba ponselnya bergetar.
Greciella mengambil ponselnya dan seketika melihat sebuah pesan yang dikirimkan ke ponselnya dari nomor yang berbeda. Sebuah pesan ancaman.
"KAU KIRA KAU SUDAH MENANG! AKU BARU MEMULAINYA! LIHAT SAJA! GRACIELLA KAU AKAN MEMBAYAR SEMUANYA!"
Seketika perasaan cemas kembali muncul. Apa yang baru saja dimulai? Graciella langsung buru-buru turun dari ranjangnya, bahkan seperti melompat dan segera berjalan ke arah kamar anaknya. Dia ingin memastikan bahwa putrinya masih tidur di kamarnya. Untung saja saat dia membuka pintunya Moira masih di sana. Dia bisa bernapas lega walaupun pundaknya sudah kembali berat.
Graciella mengambil ponselnya. Dia mengrimkan nomor itu ke Stevan.
"Lacak sinyal nomor ini. Dia mengirimkan aku pesan lagi," tulisnya.
Tak lama balasannya segera muncul. "Baik! Aku akan segera memberitahumu hasilnya!"
Gracilella tak membalas pesan dari Stevan. Dia sekali lagi memastikan keadaan anaknya dan memberikan kecupan hangat pada dahi Moira yang tampak begitu lelap.
Setelah itu, Graciella ingin kembali ke kamarnya. Tapi tiba-tiba saja dia merasakan keram dan tegang di perutnya. Graciella saja sampai kaget karenanya. Kenapa tiba-tiba begini?
Graciella mencoba menggapai sofa yang tak jauh darinya. Duduk untuk menarik napasnya. Mungkin dengan mengatur pernapasannya. Perutnya tak akan tegang lagi.
Tapi rasa tegang dan juga keram itu semakin menjadi. Graciella juga merasa sesuatu keluar dari bagian bawahnya. Graciella menggeleng. Tidak, tidak boleh ada yang terjadi pada anak yang dikandungnya sekarang.
Greciella mengambil ponselnya dan langsung menelepon Xavier.
"Xavier! ada yang salah denganku!" ujar Greciella meringis.
...****************...
__ADS_1
Maaf ya kak, segini dulu dan maaf jika banyak typo. lagi diserang ngantuk berat. besok aku lanjutin. kalo bisa pagi aku up pagi. selamat malam semuanya