
Graciella berjalan terburu-buru keluar dari ruangan itu. Helena dan Ferdinand juga sedikit kesulitan mengejar Graciella karena wanita itu pergi begitu saja sedangkan cukup banyak barang mereka yang masih berserakan di atas meja.
“Kenapa terburu-buru, Nona Graciella?"
Suara itu membuat Graciella berhenti sejenak. Dia mengerutkan dahi melihat Brigjend Howard yang berjalan ke arahnya. Masih dengan gayanya yang angkuh, bahkan tangannya masih terlipat di dada dia mulai mendekati Graciella selangkah demi selangkah. Wajah Brigjend Howard tampak mengamati Graciella dengan serius.
Graciella tentu semakin menunjukkan wajah bertanya-tanya. Kenapa Brigjend Howard malah menatapnya seperti itu? Saat Brigjend Howard hampir mendekatinya, ponsel Graciella yang ada di tangannya bergetar.
Graciella tentu langsung menatap ke arah layar ponselnya. Lagi-lagi panggilan itu dari Stevan. Dia memang mengabaikan panggilan Stevan dari semalam. Terlalu fokus untuk menjalankan misi ini hingga dia tidak lagi memperdulikan ponselnya.
“Halo?” jawab Graciella.
“Nona Graciella? Kenapa kau tidak mengangkat teleponku atau meneleponku ulang? Aku sangat cemas dengan keadaanmu!” ujar Stevan langsung. Tentu dengan gayanya yang cukup berlebihan. Graciella hanya menggaruk alisnya yang tidak gatal. Selalu saja seperti ini, dia benar-benar seperti punya penjaga khusus.
“Ya, aku sedang bekerja di pulau A. Ada kasus yang sangat menarik dan aku sangat fokus dalam memecahkannya sehingga aku tidak bisa menjawab panggilanmu,” ujar Graciella. Melirik Brigjend Howard yang entah kenapa malah berdiri di dekatnya seolah mengawasinya.
“Kenapa kau tidak mengatakan bahwa kau sekarang ada di pulau A? Aku kan bisa mengirimkan bawahanku untuk menjagamu di sana. Jika terjadi apa-apa bagaimana?” tanya Stevan.
“Jenderal Stevan, aku bukan anak-anak lagi. Jadi aku tidak memerlukan pengawalan. Lagipula tugasku sudah selesai. Mungkin malam ini atau besok aku sudah pulang. Sudah, jangan terlalu mengkhawatirkanku,” jawab Graceilla yang memang sebenarnya suka memanggil Stevan dengan sebutan Jenderal, tahu bagaimana bangganya pria ini ketika mendapatkan gelar itu.
Tapi bagi Brigjend Howard, mendengar Graciella menyebut nama Jenderal. Membuatnya melirik remeh pada Graciella.
“Baiklah, aku akan menunggumu. Beritahu aku, akan aku jemput di stasiun kereta api,” ujar Stevan lagi.
“Baiklah, nanti aku akan memberitahumu kapan aku akan pulang. Baiklah, aku akan siap-siap dulu, Bye!” ujar Graciella ramah. Pria ini, memang selalu begitu. Terkadang Graciella merasa risih, tapi juga terhibur dengan sikapnya. Graciella segera memasukkan ponselnya ke dalam tas yang dibawa.
__ADS_1
“Wah, pantas saja Anda punya akses yang mudah untuk masuk dan menyelidiki kasus ini,” ujar Brigjen Howard dengan suara yang sedikit mengejek. Hal itu tentu membuat Graciella kembali berwajah bertanya.
“Maksud Anda?” tanya Graciella.
“Ya, saya kira Anda adalah wanita yang berdedikasi tinggi dengan pekerjaan sehingga kantor pusat mengizinkan Anda menyelidiki kasus ini walaupun Anda dari pihak swasta. Tak menyangka ternyata ada orang besar di belakang Anda. Yah, saya mengerti sekarang,” ujar Brigjen Howard dengan senyum remehnya.
Graciella mengerutkan dahinya dengan sangat dalam. Dia tahu betul arah pembicaraan dari Brigjen Howard dan tentu hal itu membuatnya langsung kesal.
“Brigadir Jendral Howard. Saya tidak tahu apa masalah Anda dengan saya sejak pertama kali kita bertemu. Anda tidak mengenal saya, jadi lebih baik Anda tidak menyimpulkan apa pun. Jika memang Anda tidak menyukai saya. Saya akan pergi sekarang!” ujar Graciella dengan kesalnya. Helena dan Ferdinand yang baru saja keluar dari ruangan itu tampak kaget melihat Graciella sedang berbicara kesal dengan Brigjen Howard.
“Nona Graciella ada apa?” tanya Ferdinand.
“Tidak apa-apa, ayo cepat pergi dari sini,” ujar Graciella yang masih menatap sinis ke arah Brigjend Howard yang hanya diam memandang Graciella pergi meninggalkan kantornya.
“Kapan kita pulang?” tanya Graciella menyusun barang-barang untuk segera pulang.
“Ehm, sebenarnya yang akan pulang malam ini hanya Ferdinand saja kak, dia yang akan menyerahkan laporan langsung ke kak Daren,” ujar Helena.
“Lalu? Kita kapan pulang? Kenapa tidak bersama dengan Ferdinand saja?” tanya Graciella mengerutkan dahinya.
“Ya, karena Bos ingin kakak berlibur dulu. Dia mengatakan agar kakak tetap di sini dan tidak mengizinkan kayak pulang. Dia juga ingin kita pindah ke hotel yang ada di pesisir pantai hingga nantinya akan lebih menyenangkan,” ujar Helena lagi.
Graciella yang dari tadi masih kesal karena ulah dari Brigjen Howard segera menyambar ponselnya dan menelepon Daren. Sekali saja nada sambung, panggilan itu langsung dijawab.
“Halo kakak, kenapa aku tidak boleh pulang sekarang?” tanya Graciella langsung. Daren langsung tahu bahwa adik angkatnya ini pasti sedang kesal. Apalagi dia mendapatkan laporan, kepala polisi di pulau itu tampaknya tak menyukai Graciella dan membuatnya kesal.
__ADS_1
“Kan sudah aku katakan bahwa kau harus mengambil waktu untuk berlibur sejenak. Hidup ini bukan cuma belajar dan bekerja saja, Graciella. Nikmati sedikit waktumu untuk berlibur. Lagipula kau sudah melakukan tugas dengan baik. Aku bahkan tidak menyangka kau hanya butuh dua hari menyelesaikan semua kasus itu. Jadi anggap saja itu hadiah dariku, bersenang-senanglah,” ujar Daren menjelaskan pada Graciella yang masih saja mengernyitkan dahinya,
“Tapi ….”
“Tidak ada tapi, terima saja liburanmu. Baiklah, aku harus kembali ke pekerjaanku. Have fun,” ujar Daren tersenyum. Tahu persis pasti muka Graciella sedang bertekuk mendengarkan perkatannya.
Graciella hanya melihat ke arah ponselnya. Panggilan itu sudah terputus. Kesal tapi tidak tahu harus bagaimana. Mungkin memang dia harus sedikit berlibur. Empat tahun ini dia memang habiskan untuk belajar dan belajar. Setelah itu langsung bekerja. Mungkin karena itu pula sekarang dia lebih gampang kesal.
“Jadi gimana kak? Kita jadi kan berlibur?” tanya Helena polos melihat Graciella yang tampak berpikir.
“Ya, kita akan berlibur,” ujar Graciella.
“Hore! Baiklah, ayo kita pindah ke hotel yang baru!” ujar Helena lagi segera mengambil tasnya dan berjalan keluar dari kamar hotel itu.
...****************...
Helena hingga ternganga melihat hotel yang sudah dipesankan oleh Daren untuknya dan Graciella. Graciella menyipitkan matanya melihat sebuah pondok yang dibangun di tebing yang langsung berbatas dengan pantai putih. Pondok itu tampak tradisional dengan pohon kelapa yang mengelilingi mereka.
“Silakan Nona, Anda di pondok nomor 4 dan nona ini di pondok nomor 5,” ujar pelayan yang menyambut mereka. Memberikan masing-masing kunci pondok untuk Graciella dan Helena. Graciella dan Helena saling pandang ketika mendapatkan kunci itu. Tak menyangka mereka mendapatkan pondok mereka masing-masing.
Graciella cukup terkesima dengan isi dalam pondok itu. Memang di luarnya terlihat hanya seperti pondok kayu biasa. Tapi di dalam begitu nyaman. Lantai dan dindingnya memang terbuat dari kayu, juga tempat tidurnya, tapi tatanannya terlihat begitu nyaman. Pondok itu juga dilengkapi balkon dan akses langsung ke arah pantai yang ada di bawah mereka, berbatas langsung dengan lautan biru yang sangat luas. Graciella tak menyangka, Daren menyediakan semua ini untuknya. Terkadang Graciella bingung, apa yang sudah dilakukannya hingga hidupnya begitu beruntung.
“Kakak!” teriak Helena dari pondok sebelah, dia juga baru saja sampai di balkon pondoknya. Dia langsung mencoba ayunan gantung yang ada di balkon itu. Graciella hanya tertawa kecil melihat tingkah dari Helena.
Graciella lalu kembali melihat ke arah pantai putih itu. Menemukan sosok yang dia kenal berdiri sedang menatapnya. Mata Graciella membesar sempurna hingga seperti ingin keluar. Bagaimana tiba-tiba dia ada di sini?
__ADS_1