
"Kau ini! Cepat pakaikan bajuku!" Ujar Graciella salah tingkah.
Xavier mendengar perdebatan dua sahabat ini hanya diam saja dan segera berjalan keluar. Laura dengan segan masuk dan hendak menutup pintunya. "Nanti malam aku janji akan pergi dari sini, nanti malam lanjutkan lah!" bisik Laura pada Xavier yang membuat Xavier mengerutkan dahinya. Graciella mendengar hal itu melemparkan bantal pada Laura yang langsung berakting kesakitan.
"Kau ingin menjual ku ya?" Graciella bersungut dan melirik tajam pada temannya itu.
"Bukan begitu! kau tahu, dia itu menjagamu semalaman, dia bahkan tak tidur. Ah! sayang kau tidur. Kalau tidak kau juga akan meleleh dibuatnya, dia benar-benar kelihatan khawatir padamu," kata Laura mengambil baju tidurnya untuk diberikan pada Graciella. Sebuah baju terusan.
Graciella mengerutkan dahinya. "Benarkah?"
"Iya! demammu sangat tinggi, bahkan kau banyak meracau, dia mendengarkannya dengan sabar dan terus mengompresmu. Pria begitu! cari di mana lagi?" Laura melemparkan baju dan pakaian dalam baru miliknya pada Laura.
"Tapi bagaimana dia bisa tahu aku di sini?" tanya Graciella sambil memakai satu per satu pakaiannya.
Laura memasang wajah tak bersalahnya, tak mungkin dia mengatakan bahwa dia yang menghubungi Xavier untuk datang. Dia duduk di samping Graciella. "Itu karena jodoh. Lagipula dia itu pangkatnya tinggi, mencarimu tentu bukan hal yang sulit. Graciella! Kau memang dijodohkan dengannya."
Graciella mengerutkan dahinya. Jodoh? Dia sudah lama tak percaya adanya jodoh. Jika jodoh itu ada antara dia dengan Xavier? Lalu hubungan dia dengan Adrean? Apa nama hubungan mereka?
"Ehm, aku mau mengganti perban," ujar Graciella tak menanggapi apa yang dikatakan oleh Laura.
"Oh! iya aku ingin memasak!" Laura terlonjak seperti baru ingat sesuatu.
"He? Kan kau bisa melakukannya setelah mengganti perbanku!" ujar Graciella yang agak bingung dengan kelakuan temannya ini.
"Minta tolong saja pada Xavier. Aku yakin dia tahu caranya." Laura pergi saja ke arah pintu yang tertutup.
"Kau kan dokter, dia belum ahli melakukannya!"
"Kau juga dokter, kau bisa mengajarinya." Laura membuka pintu segera membuat Graciella langsung mengurungkan niatnya untuk menjawab Laura lagi. Xavier langsung melihat ke arah Laura, "Gracie minta tolong mengganti perbannya. Aku harus memasak sarapannya. Minta tolong ya, dia terlalu gengsi mengatakannya."
Xavier hanya mengangguk mengerti dan langsung masuk kembali ke kamar itu. Graciella hanya menggigit bibir melihat sosok tinggi tegap itu berjalan ke arahnya. Semakin mendekat semakin berdebar jantungnya. Xavier langsung mengambil kotak pengobatan.
"Aku rasa aku bisa sendiri." Graciella menarik kakinya. Tapi kaki yang ditarik oleh Graciella langsung ditangkap oleh Xavier.
"Ada hal-hal yang kau tidak bisa lakukan sendiri." Xavier langsung meletakkan kaki Graciella di atas pangkuannya. Graciella langsung menutup gaun yang dia pakai. Ini kenapa dia tak ingin dibantu oleh Xavier. Sepertinya Laura sengaja hanya memberikannya baju tidur terusan, jika begini salah-salah Xavier bisa melihat tubuh bagian bawahnya.
Namun, melihat keseriusan Xavier membuat Graciella juga jadi serius. Pria itu mulai menggunting kassanya.
__ADS_1
"Bagaimana kau tahu aku di sini?" Tanya Graciella ketika Xavier mulai membuka perban satu per satu. Sudah bertanya pada Laura, tapi dia ingin tahu pastinya dari pria ini.
"Laura yang memanggilku. Dia bilang tak ada yang menjagamu." Xavier melirik sedikit ke arah Graciella yang langsung salah tingkah.
Dasar! seharusnya dia tahu pasti itu ulah Laura! pikir Greciella.
"Ehm … kata Laura, kau menjagaku semalaman dan aku meracau, kalau aku meracau yang aneh-aneh, harap komandan tidak mengambil hati dari situ," ujar Graciella pada Xavier.
"Kau bukan anggota militer dan bukan bawahanku. Kau bisa memanggilku Xavier."
Graciella hanya mengangguk pelan. Xavier memakai sarung tangannya. Melihat luka jahitan di kaki Graciella yang sudah mengering. Dia lalu membersihkan luka dengan cairan khusus lalu segera mengoleskan salep antibiotik agar tak infeksi. Suasana hening saat Xavier fokus dengan luka itu.
"Lalu, tentang pria tiga tahun yang lalu, di hotel Sangri-La?" Xavier menatap ke arah Graciella.
Greciella mendengar itu langsung membesarkan matanya? Apakah dia tak sengaja mengucapkan hal itu?
"Dari mana kau tahu?" tanya Graciella. Xavier menangkap kesuraman dalam mata Graciella. Cahaya yang biasanya tampak langsung redup. Hal itu membuat hati Xavier tak nyaman.
"Laura mengatakannya padaku." Xavier menundukkan padangannya. Berpura-pura fokus melilitkan perban di kaki Graciella.
"Dasar! Sahabat bermulut besar!" ujar Graciella bertambah kesal. Bagaimana bisa dia mengatakan hal paling krusial dalam hidup Graciella pada Xavier.
"Tak perlu." Suara Graciella terdengar datar dan dingin. Xavier tak pernah mendengar Graciella dengan nada bicara seperti itu. Xavier hanya menatap wajah Graciella dengan sorot matanya yang suram. "Aku tak ingin bertemu dengan pria itu. Tak perlu mencarinya."
Xavier melihat Greciella beberapa kali menekan giginya. Ada amarah yang terpendam, jelas sekali terlihat. Genggaman tangannya yang erat itu juga menunjukkan bagaimana emosi Graciella.
"Aku …." ujar Xavier, sebenarnya masih ingin mengulik apa yang dipikirkan Greciella.
"Aku rasa tak perlu berbicara tentangnya. Aku tidak ingin membicarakannya apalagi bertemu dengannya. Dia! … aku tidak ingin membicarakannya," ujar Graciella tampak begitu kesal dan marah. Walau ditahan olehnya tapi aura yang ditunjukkan begitu terasa. Dendam itu sangat tampak.
Xavier yang melihat itu hanya diam. Wajahnya dan pandangannya benar-benar suram. Bagaimana cara dia mengatakannya? Apakah harus dia mengatakannya? Dan bagaimana jika suatu saat Graciella tahu bahwa dia orangnya? Bisakah nantinya Graciella menerima dirinya? Semua pertanyaan itu berkutat dalam pikiran Xavier.
Susana hening. Xavier tak lagi ingin berbicara dan mencoba menenangkan rasa tak nyaman di hatinya. Xavier menuntaskan pekerjaannya. Graciella hanya berpikir pria itu fokus dengan pekerjaan mengganti perbannya hingga tak lagi menegurnya.
"Terima kasih," ujar Greciella melihat Xavier sudah selesai mengganti perbannya.
"Aku harus pergi beberapa hari untuk tugas lapangan. Aku akan menemui secepatnya saat kembali," ujar Xavier kembali menatap ke arah Graciella.
__ADS_1
Graciella menautkan kedua alisnya. "Eh? kau tidak perlu memberitahuku untuk pergi. Lagipula kita kan bukan siapa-siapa?" Greciella sedikit kaku gara-gara perkataan Xavier tadi.
"Aku hanya membiasakannya. Mungkin akan sering memberitahu tentang hal ini selanjutnya, aku tak mau kau menungguku terlalu lama," ujar Xavier sedikit menaikkan sudut bibirnya. Walaupun perasaannya masih tak nyaman.
Graciella terdiam dengan apa yang dikatakan oleh Xavier. Pria ini kenapa bisa mengatakan hal seolah-olah dia dan Graciella akan bersama lebih lanjut.
"Koman … eh, maksudku Xavier?" Graciella mengerutkan alisnya.
"Hmm?"
"Apakah kemarin aku menjelaskan padamu kurang jelas? Aku dan kau, kita lebih baik menyudahi ini semua," ujar Graciella. Semakin hangat pria ini pada, semakin takut Graciella.
"Kemarin mungkin aku akan mengikuti kemauanmu. Tapi mulai saat ini, apapun alasanmu menolakku, aku akan mengejarmu. Hanya kematian yang membuatku berhenti berusaha mendapatkanmu," tegas Xavier mengatakannya pada Graciella. Sangkin tegasnya membuat Graciella terbungkam. Pria ini! Graciella tak tahu apa maunya?
...****************...
"Sudah kau temukan di mana dia?" Adrean mengisap rokoknya dalam-dalam sebelum mematikannya dan membuat asap nya perlahan. Mendengarkan seksama laporan dari anak buahnya dari panggilan telepon
"Dia ada di apartemen Teras Langit, lantai tujuh belas, di tempat atas nama Nona Laura," lapor pria yang ada di seberang.
Adrean tersenyum sinis. Graciella, bahkan ke ujung dunia pun, aku pasti menemukanmu, pikir Adrean senang. Akhirnya dia akan menemui istrinya yang entah bagaimana bisa mengusik ketenangannya selama dua hari ini.
"Tapi, aku rasa ada pria yang bersama dengan Nyonya, Tuan," lanjut pelapor itu.
Adrean langsung memupuskan senyumannya, berganti dengan kerutan di wajahnya yang seketika penuh emosi. "Siapa?!"
"Letjend Xavier, beliau dari keluarga Qing."
"Keluarga Qing …." Adrean menyipitkan matanya.
...****************...
Halo kak... maaf 2 hari ga up ya!
Kemarin udah usaha. tapi perjalanan jauh jadi malah ketiduran.
Ini aku ganti 3 bab ya... mudah2an bisa menutupi rasa kecewanya...
__ADS_1
terima kasih semuanya yang udah Baca, Like, Comment, Share, Vote. love you all!!