Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 143. Pengembangan kasus


__ADS_3

“Begitu,” ujar Helena mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Menurutku, menjalin hubungan dengan seseorang yang pernah bersama kita itu hanya ada dua kemungkinannya,” ujar Ferdinand yang tampak begitu serius. Seolah dia sedang memecahkan sebuah kasus.


“Apa itu?” tanya Helena yang penasaran.


“Pertama, Jika kau kembali lagi dengan orang yang pernah keluar dari hidupmu dan orang itu tidak berubah, berarti kau sedang bersiap untuk merasakan penderitaan yang sama. Kau sudah pernah melewati jalan itu, kau sudah tahu bahwa akhirnya jurang, tapi tetap saja kau mengulang jalan yang sama, mengerti?” jelas Ferdinand lagi dengan serius. Helena mengangguk-angguk mengerti.


“Lalu yang kedua?” tanya Helena.


“Yang kedua, tentu saja itu artinya kalian berjodoh. Perpisahan awal yang kalian jalani mungkin hanya penguat rasa bahwa ternyata kalian membutuhkan satu sama lainnya dan berusaha untuk tidak mengulanginya kembali. Kalian sudah tahu di depan kalian akan ada jurang karena itu kalian berusaha untuk bisa menghindarinya atau bahkan melewatinya hingga akhirnya kalian bisa bersama.”


Graciella mendengar itu mengerutkan dahinya. Perkataan Ferdinand menurutnya cukup aneh.


“Baiklah, aku mengerti. Lalu Nona Graciella, kisahmu yang mana? Yang pertama atau yang kedua?”


“Eh? Lebih baik kau jangan memanggilku Nona, panggil saja aku Graciella atau kakak, ya!” tanya Graciella bingung menjawabnya sehingga dia mengalihkan pembicaraan mereka.


Tiba-tiba terdengar pengumuman bahwa kapal mereka segera akan bersandar ke dermaga di pulau A itu.


“Ayo kita sudah sampai,” ujar Graciella dengan semangat mengambil tasnya. Helena dan Ferdinand pun mengikutinya.


Graciella menatap ke dermaga yang tampak indah. Air laut yang ada di sana sebening kristal yang perlahan membiru. Debur ombaknya bagaikan nyanyian yang menggoda. Pantainya putih dengan angin yang tidak terlalu kencang. Bau pantai langsung masuk ke hidung Graciella. Udaranya yang panas tapi juga lembab membuat kulitnya langsung lengket.


“Kak, itu mobil yang menjemput kita,” ujar Helena melihat nama mereka tertulis di sebuah kertas di tangan seorang pria yang dari dandanannya seperti seorang supir.


“Silakan Nona, biar saya membawa barang-barang Anda,” kata pria itu segera setelah mereka mendekatinya. Graciella langsung masuk ke dalam mobil itu. Helena langsung mengarahkan AC ke tubuhnya. Panas di pantai itu menyengat dirinya. Ferdinand duduk di samping supir itu.

__ADS_1


“Nona, Anda ingin saya antar ke mana?” tanya supir itu.


“Kediaman Tuan Sato,” ujar Graciella langsung saja.


“Kak, kita langsung pergi ke sana? Tidak ingin pergi ke hotel dulu?” tanya Helena segera.


“Jika kalian lelah, kalian boleh ke hotel dulu. Aku ingin segera ke sana. Semakin lama TKP tidak diperiksa, semakin sedikit pula bukti yang bisa kita dapatkan. Belum lagi jika TKP nantinya sudah dirusak oleh orang-orang yang memeriksa tempat itu sebelum kita,” ujar Graciella. Dia tidak akan bisa beristirahat dengan tenang sebelum dia melihat TKP-nya.


“Ehm, baiklah,” ujar Helena. Tak mungkin dia pergi ke hotel sedangkan adik angkat dari bos mereka sudah langsung bekerja.


“Jika kalian ingin ke hotel dulu, tidak apa-apa. Aku memang selalu begitu. Jadi jangan sungkan jika kalian lelah,” ujar Graciella menunjukkan bahwa dia benar-benar tidak ingin memaksa mereka untuk mengikutinya.


“Tidak apa-apa kak,  jika kita cepat menyelesaikan tempat ini, semakin lama pula kita bisa liburan di sini,” ujar Helena. Sudah beberapa tahun dia tidak liburan. Dari kemarin hanya itu yang ada di dalam pikirannya. Graciella mengangguk dan mobil mereka segera melaju.


Graciella memandang dengan seksama rumah dengan dua lantai bergaya klasik yang tampak memang mencolok dibandingkan dengan rumah-rumah sekitarnya. Halaman mereka luas dengan berbagai tanaman, tapi dikelilingi oleh tembok yang menjulang tinggi hingga siapa saja yang berdiri di luarnya sama sekali tidak bisa melihat lantai satu dari rumah ini.


“Hei! Kau siapa?! Siapa yang mengizinkan kau melanggar batas kepolisian?” tanya seorang pria dengan kemeja putih dan juga celana hitam dengan lencana yang dikalungkan di lehernya. Graciella mengerutkan dahinya.


“Penyidik swasta? Untuk apa menyewa seorang penyidik swasta? Mereka tidak percaya polisi?!” ujar Brigjend itu tampak kesal. Dia lalu melihat ke arah Graciella dan Helena. Wajahnya tampak lebih kesal melihat mereka lebih percaya dengan dua orang wanita.


“Brigjen, maaf jika kami mengganggu Anda, tapi Kami hanya melakukan pekerjaan kami, jadi saya harap Anda mengizinkan kami untuk masuk ke dalam TKP,” ujar Graciella melihat pria yang menatapnya sinis.


“Kau siapa?” tanya Brigjend  itu langsung.


“Ini data mereka, kantor mereka sudah mengirimkannya,” ujar wanita itu segera menyerahkannya pada Brigjend  itu.


“Nona, Nona pasti adalah Nona Graciella, saya sudah membaca tentang Anda. Saya adalah Cindy, pangkat saya adalah Inspektur dua.”

__ADS_1


“Graciella, Ini Helena dan ini Ferdinand,” ujar Graciella memperkenalkan tim yang dibawa.


“Ya, ini adalah Brigadir Jenderal polisi Howard, Beliau yang menangani kasus ini,” ujar Cindy menjelaskan siapa pria ini.


“Baiklah, izinkan mereka masuk,” ujar Brigjend Howard yang walaupun tampak kesal tetap mengizinkan Graciella dan timnya masuk.


Graciella langsung masuk ke dalam rumah itu. Yang pertama kali dia light adalah sebuah lorong dan sebuah tangga menuju ke lantai dua.


“Jangan merusak TKP,” ujar Brigjen Howard dengan sedikit ketus. Graciella dan timnya yang sedang menggunakan peralatan khususnya hanya memandang pria itu.


“Dia itu kenapa ya kak? Dari tadi marah terus,” bisik Helena.


Graciella hanya mengulas senyuman. “Sudah, kita lakukan saja yang tugas kita.”


Graciella segera berjalan ke arah ruang pertama, ruang tamu keluarga Sato. Dia melihat sebuah bercak darah yang memang belum dibersihkan.


“Tuan Sato ditemukan tergeletak di sofa ini dengan luka tembak tepat di jantungnya. Pelaku menggunakan senjata api jenis standar. Di duga dia meredam suaranya dengan menggunakan bantal yang ada di sini, terlihat dari sebuah bantal yang terdapat di bantal ini. Luka tembak dalam jarak dekat,” beber Cindy yang menjelaskan semua keadaan di tempat itu.


Tentu sebagai penyelidik swasta, mereka selalu mendapatkan tempat kejadian perkara yang sudah dibersihkan. Korban pun sudah tidak ada di sana. Jadi mereka butuh foto atau apa pun yang penting di sini.


“Keadaannya masih sama?” tanya Graciella melihat ruangan itu sedikit berantakan.


“Semua barang masih sama, hanya korban saja yang sudah kita pindahkan,” ujar Cindy lagi dengan serius.


“Tanda masuk paksa?”


“Tidak di temukan. Di duga pelaku adalah orang yang dikenal oleh korban.”

__ADS_1


“TKP ke dua dimana?”


“TKP ke dua ada di dapur. Korban adalah Nyonya Chang, mertua dari tuan Sato, sepertinya dia sedang membersihkan dapur malam itu sebelum dia mendengar suara tembakan yang tak bisa teredam. Ada pecahan kaca piring di dekat wastafel tapi dia ditemukan di dekat pintu masuk dapur. Ruangan ini tidak terlalu berantakan. Dia hanya membuka laci-laci dari dapur ini.”


__ADS_2