Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
bab 287. kita tunggu tahun depan.


__ADS_3

Adelia menggigit bibirnya keras. Saat dokter menekan perutnya dengan alat transduser USG itu. Dokter mencari di mana rahim Adelia dan akhirnya menemukan gambaran.


Antony menatapnya dengan mata yang sedikit disipitkan. Hanya ada dirinya dan Adelia juga dokter serta perawat yang membantunya.


Kedua orang tua mereka sengaja tak dibiarkan masuk atas permintaan Adelia. Dia mengaku malu menunjukkan perutnya.


"Bagaimana?" tanya Antony dengan wajah harap-harap cemas. Jika tak berisi. Jelas sekali wanita ini bohong. Tapi jika berisi, dia juga tahu Adelia bohong dan dia harus membuktikannya.


"Hasilnya kosong. Rahim Anda tidak menunjukkan kehamilan atau penebalan dinding rahim, semua normal." Dokter itu meletakkan alat transduser dan perawat langsung membersihkan sisa gel yang ada di perut Adelia.


Adelia menggigit bibirnya dengan keras. Tak ingin melihat wajah Antony yang menatapnya dengan dingin. Ada perasaan sedih yang muncul di dalam perasaannya. Salahkan dia berbohong untuk mendapatkan suaminya kembali?


"Apakah ada kemungkinan belum terdeteksi?" tanya Antony lagi. Bukannya kasus Laura juga begitu.


"Kapan terakhir kali Anda melakukan hubungan badan?" Tanya Antony.


"Lebih dari dua bulan yang lalu," ujar Antony. Tak ingat tepatnya karena dia tak ingin mengingat hal itu.


"Oh, tidak mungkin tak terlihat. Jika sudah begitu lama. Sudah dipastikan Nyonya tidak sedang hamil. Semua mungkin hanya hormonal." Dokter itu menjelaskan dengan senyuman ramahnya.


"Baiklah," ujar Antony segera melihat ke arah Adelia yang hanya menunduk. "Bisa kalian tinggalkan aku berdua dengan istriku. Kalian bisa mengabarkan hal ini pada kedua orang tua kami."

__ADS_1


"Baik Tuan Presiden." Dokter itu dan perawat segera keluar dari tempat itu.


"Sekarang kau puas?" Tanya Adelia dengan sorot mata marah. Pria ini benar-benar berbeda dengan pria yang pernah dia kenal dulu. Adelia benar-benar marah dengan perbuatan Antony ini.


"Kenapa kau yang marah? Seharusnya di sini aku yang marah karena kau sudah berbohong padaku," ujar Antony menarik kursi yang digunakan oleh dokter tadi. Menatap wajah istri sahnya dengan wajah datar.


"Kau tidak perlu mempermalukan diriku seperti itu di depan orang tua kita."


"Tentu aku harus memberitahu mereka. Mereka pasti sangat menantikan cucu dari mu. Jika dariku itu tak akan mungkin. Kau beruntung rahimmu kosong. Jika tidak, aku mungkin bisa menggunakannya untuk perceraian kita," kata Antony dengan gampangnya.


Adelia menggenggam tangannya erat. Tak mengacakah dia. Dia yang sudah menghamili wanita lain. Tapi kenapa Adelia yang sekarang seolah menjadi sosok yang salah.


"Aku juga bisa melakukannya padamu. Aku tahu Laura mengandung anakmu. Aku bisa menghancurkan semuanya jika aku mau. Bahkan tujuh keturunanmu akan menerima kesalahanmu," ancam Adelia. Jika Antony bisa berpikir begitu, dia juga bisa melakukannya.


"Antony! Apa kau tidak malu! Kau benar-benar mau menghancurkan semuanya hanya untuk wanita itu? Kau sudah sangat kelewatan batas!" Adelia bingung melihat sikap Antony ini. Benarkah dia ingin menghancurkan segalanya. Dia bahkan tak takut Adelia mengancamnya.


"Aku sudah bilang. Menjadi presiden bukan keinginanku. Itu keinginan ayahmu dan ayahku. Aku hanya mengikutinya untuk menemukan Laura. Aku tak masalah melepas kedudukan ini dan dibenci oleh seluruh penduduk di negara ini asalkan aku bisa bersama orang yang aku cinta." Antony menatapnya Adelia dengan sangat dalam.


Adelia terdiam sejenak. "Kau sudah gila Antony. Itu bukan cinta! Itu adalah obsesi."


"Cinta atau obsesi, itu terserah orang yang menilai. Tapi aku dan Laura jelas-jelas saling mencintai. Adelia, berhentilah. Kita sudahi saja semua ini. Kau wanita yang baik dengan semua hal yang disukai banyak pria. Tapi sayang, aku bukan pria yang seperti itu. Aku yakin kau akan mendapatkan pria yang akan mencintaimu dan memperlakukanmu lebih baik dariku," ujar Antony berdiri.

__ADS_1


"Kau mau ke mana?" Tanya Adelia melihat Antony ingin pergi meninggalkannya.


"Aku rasa aku akan mengumumkan perceraian kita pada kedua orang tua kita." Antony sudah menimbang segalanya. Dia tak ingin anaknya nanti lahir tanpa nama belakangnya karena dia lahir sebelum pernikahannya dengan Laura.


Adelia membesarkan matanya. "Antony! Antony! Jangan! Aku mohon jangan!" Adelia langsung menahan langkah Antony dengan berdiri di depan pria itu. "Kau akan membunuhku jika kau melakukan itu. Ayahku bisa saja terkena serangan jantung, dan ibuku pasti sangat sedih. Antony tolong! Jangan ceraikan aku sekarang."


Antony hanya diam. Dia tak bisa mengiyakan atau membantah keinginan Adelia ini. Dia tahu kalau dia menceraikan Adelia. Ayah Adelia pasti sangat terpukul. Dia orang yang paling mendukungnya selama ingin menjadi presiden dulu. Tapi jika dia tak menolaknya, dia akan menyiksa wanita ini lebih dalam. Antony tak mau itu terjadi. Lagipula, bagaimana dengan Laura.


"Aku mohon." Adelia menyatukan kedua telapak tangannya ke arah Antony. Jika mereka bercerai, dia akan menjadi perbincangan seluruh keluarganya. Wanita yang tak bisa mempertahankan seorang pria seperti Antony. Walau Antony yang salah, mereka pasti akan menganggap Adelia bodoh. "Aku akan tutup mata, mulut dan telinga tentangmu dan Laura. Aku tak akan meminta orang mencarinya. Aku … " Adelia terisak. Pilihannya hanya dua, merelakan atau melepaskan. Dia memilih merelakan, rela Antony bersama dengan Laura. "Aku akan merelakan mu dengannya."


"Jangan menyiksa dirimu. Aku melakukan ini juga untuk kebaikanmu. Aku tak mau kau merasa seperti ini setiap waktu. Aku tahu rasanya bagaimana mencintai seseorang tapi orang itu tak bisa mencintai kita." Antony memang merasa bersalah. Tapi dia bisa apa. Tak ada setitik pun perasaan lebih untuknya. Lagipula perjuangannya dengan Laura pun tak mudah. Sekarang dia sudah mendapatkannya. Tak mungkin melepaskannya begitu saja.


Adelia menghapus air mata dengan suara napas yang tercekat. "Kau tahu bukan sakitnya. Tapi kau melakukan hal itu padaku. Miris bukan?" Adelia menghapus kembali air matanya dengan kuat. " Sudahlah. Tak perlu kau memikirkan aku. Aku berterima kasih jika kau bisa melakukan permintaanku. Aku melakukan semua ini hanya untuk keluargaku." Adelia mengatakannya dengan tegas dan suara segau. Sesekali dia menarik napasnya yang berair.


Antony hanya melihat wanita itu pergi. Salahnya, seharusnya dia tak pernah memberikan wanita itu harapan.


Adelia membuka pintu itu dan langsung di sambut oleh ibunya dan ibu mertuanya. Saat Adelia masuk dalam pelukan ibunya. Tangisnya kembali pecah.


"Tak masalah, bisa dicoba lagi nanti. Pernikahan juga belum genap setahun. Masih banyak waktu, ya." Ibu Adelia mengusap punggung anaknya. Merasa anaknya menangis karena pemeriksaannya negatif. Adelia semakin menangis. Tak akan mungkin ada kata nanti.


"Antony! Tak perlu berkecil hati. Aku mendapatkan Adelia diulang tahun pernikahan kami yang ke lima. Tak ada masalah. Apalagi sekarang banyak cara. Kalian bisa mencoba bayi tabung," ujar Ayah Adelia. Padahal dia juga sedikit kecewa.

__ADS_1


Antony hanya diam dan mengangguk sejenak. Adelia menatap ke arah Antony.


"Baiklah, kita tunggu tahun depan." Antony menatap ke arah Adelia. Adelia memaksakan senyuman. Tahun depan. Itu hanya tinggal satu bulan.


__ADS_2