Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 37. Wanita yang penuh kesedihan.


__ADS_3

Xavier membuka pintu kamar yang tampak gelap yang sengaja dimatikan oleh Laura setelah terakhir kali dia mengintip keadaan Graciella. Awalnya dia ingin menyalakan lampunya. Namun dia urung melakukannya karena melihat wajah cantik itu sedang tertidur cukup pulas.


Dibiarkannya pintu itu terbuka sehingga cahayanya yang lurus menerangi tubuh Graciella. Xavier lalu duduk di tepian ranjang. Melihat Graciella yang terbungkus oleh selimut. Wajahnya sedikit mengerut melihat bibir Graciella yang gemetar.


Xavier langsung menyentuh dahi dan pipi Graciella yang terasa panas. Xavier membesarkan matanya. Demam! dia demam.


"Graciella?" Xavier mencoba untuk membangunkan Graciella dengan lembut. Dia tak mau Graciella kaget. Tapi Graciella hanya mengerutkan wajahnya, tampak susah membuka matanya.


Graciella merasakan tubuhnya panas. Namun ujung-ujung jarinya terasa dingin. Bahkan napasnya saja sangat panas karena itu tidurnya tak nyaman.


Tiba-tiba saja dia merasakan tangan dingin yang menggusap lembut dahi dan pipinya. Disambut samar-samar dia mendengar suara mirip Xavier. Ah! apa Gracilella benar-benar sudah punya perasaan pada pria itu? bahkan dalam mimpi demamnya pun, dia mendengar suara Xavier.


Graciella mencoba membuka matanya. Terasa begitu berat tapi perlahan dia bisa membukanya. Dia menemukan sosok itu duduk di dekatnya. Graciella sedikit mengerutkan dahinya. wajahnya samar karena membelakangi cahaya.


"Kau demam?" tanya Xavier.


"Kenapa kau ada di sini?" tanya Graciella. Ingin bangkit tapi tubuhnya tak mengizinkannya. Semua terasa begitu panas. "Apa aku sedang bermimpi?" Graciella merasa ini hanya mimpinya. Mana mungkin Xavier ada di apartemen ini. Otaknya hanya terlalu panas hingga memunculkan gambaran-gambaran halusinasi.


Melihat Graciella yang meracau. Xavier yakin keadaanya benar-benar tak baik.


"Kita ke rumah sakit." Xavier langsung berdiri. Dia segera ingin menggendong Graciella karena tahu wanita ini belum bisa berdiri sendiri apalagi berjalan.


Namun niatnya terhenti ketika Graciella memegang tangannya. Graciella seolah menyuruhnya kembali untuk duduk di sampingnya.


"Di sini saja. Aku tidak mau ke rumah sakit. Jika di rumah sakit aku takut Adrean akan datang dan dia pasti akan membunuhku. Aku kabur darinya semalam." racau Graciella. Dia merasa bisa mengutarakan semuanya karena ini hanya mimpi.


Xavier menatap wajah dengan bibir pucat itu. Sebegitu takutnya kah dia dengan Adrean? Pria itu pasti sudah menyiksanya sangat dalam hingga dia seperti ini.


"Tunggu di sini," ujar Xavier.


Pria itu segera berdiri dan berjalan ke arah luar. Saat di dekat pintu dia berhenti sejenak.


"Tak perlu mengendap-endap seperti itu." Xavier melirik ke sebuah lemari. Laura keluar dari persembunyiannya sambil sedikit menyengir kuda.

__ADS_1


"Aku hanya mengambil tas." Laura menunjukan tasnya.


"Aku perlu obat dan alat untuk mengompres Graciella. Dia demam," ujar Xavier.


"Benarkah? Untung aku belum pergi. Aku rasa aku punya Paracetamol di kotak obat. Sebentar aku akan membawakan apa yang kau butuhkan," kata Laura.


"Terima kasih."


Xavier langsung masuk ke dalam kamar kembali. Kali ini dia menghidupkan lampunya. Graciella sudah kembali tertidur. Dia melihat Graciella yang tampak gelisah dalam tidurnya.


"Eh, ini! Dia benar-benar demam. Ini obatnya, ini makanannya dan ini untuk mengompresnya. Aku serahkan dia padamu, tolong rawat temanku sepenuh hati ya." Laura mengatakannya dengan gayanya yang luar biasa berlebihan. Xavier hanya mengerutkan dahinya.


"Ajudanku akan datang, boleh dia masuk?" tanya Xavier sebelum Laura benar-benar pergi.


"Tentu. Apakah kau sudah menyelidikinya?" Laura penasaran membuatnya urung melangkah.


"Ajudanku sedang mengumpulkan semua datanya."


"Benarkah? Sial! Kenapa aku harus bekerja?" umpat Laura. Tahu begini dia tak akan mengatakan bahwa dia punya kerjaan. Dia penasaran dengan pria yang sudah meniduri temannya tiga tahun yang lalu dan meninggalkannya begitu saja tanpa tanggung jawab sama sekali. Bahkan mencarinya pun tidak! pria begitu harus di hukum mati. "Pastikan jika kau Sudah bertemu dengannya kau harus memberikannya hukuman paling berat. Ini semua kesalahannya. Tanpa dia, Graciella tak mungkin seperti ini! ingat ya!"


Laura hanya mengangguk dengan wajah manyun. Mau tak mau dia harus keluar dari ruangan itu. Apalagi Xavier orang yang sangat peka. Dia pasti tahu kalau dirinya masih ada di rumah.


Xavier langsung mengambil handuk yang ada di dalam air hangat, memerasnya lalu meletakkannya perlahan di dahi Graciella.Graciella mengeliat sedikit tapi segera terlihat nyaman. Xavier jadi tak enak untuk membangunkan Graciella untuk minum obat.


Xavier menatap wajah dengan pipi memerah karena panas tubuhnya. Ada raut wajah tak nyaman yang dia munculkan. Dia kembali mengambil handuk itu dan mengompres tubuh Graciella.


Saat dia menarik tangannya. Graciella kembali menggenggam peryelangan tangannya. Dari wajahnya terlihat raut wajah kesedihan dan kesakitan yang membuat Xavier menekan giginya. Bahkan dalam mimpi pun dia tersiksa?


Xavier membuka selimut Graciella. Melihat tubuh kecil cenderung kurus. Ternyata jika dilihat lebih seksama. Kulit Gracilella tak semulus itu. Ada beberapa bekas luka yang sudah menyembuh.


Xavier semakin tak kuat melihat bagaimana keadaan Graciella. Semakin dilihat dan semakin tahu keadaannya semakin terasa sangat menyedihkan. Kenapa ada orang yang bisa menyiksa seorang wanita seperti ini? Xavier segera keluar dari kamar dan segera menelepon Fredy.


"Apa kau sudah mendapatkan datanya?" tanya Xavier segera sudah tak sabar. Apakah yang ada dipikirannya benar?

__ADS_1


"Tidak banyak komandan. Datanya sudah banyak terhapus dan sepertinya memang sengaja dihapus. Anda tahu maksduku, tapi … aku menemukan sebuah data yang mungkin sedikit ada sangkut pautnya dengan apa yang Anda cari."


"Kirimkan padaku datanya," ujar Xavier segera.


"Siap komandan. Saya mengirimkan data yang saya dapatkan."


Xavier segera mendapatkan notifikasi E-mail baru di ponselnya. Dia membukanya dan segera menggigit bibirnya. Dia kembali menelepon seseorang.


"Kau boleh kembali sekarang, ada yang harus aku lakukan," ujar Xavier tegas yang langsung membuat Laura bingung. Padahal dia baru saja ingin minum kopi yang baru dia pesan. Apakah dia juga tahu Laura hanya mengada-ngada tadi?


"Eh, baiklah," kata Laura walau bingung dia tak sanggup melawan perintah dari Xavier. Dia langsung segera pergi menuju apartemennya yang ada di lantai tujuh belas. Tak menunggu lama, Laura akhirnya sampai juga di apartemennya dan menemukan Xavier yang tampak gusar.


"Ada apa? apa Graciella baik-baik saja?" Tanya Laura yang bingung kenapa Xavier menjadi begitu gelisah.


"Baik-baik saja. Aku sudah memerintahkan bawahanku untuk berjaga di sini. Aku pergi dulu." Xavier berlalu seperti itu saja membuat Laura jadi bingung. Apa yang terjadi sebenarnya?


...****************...


Xavier melewati ruang tamu yang megah. Langkahnya tegas dan cepat. Tak lama dia sampai juga di ruang tengah. Seorang kepala pelayan langsung menyambutnya.


"Tuan Xavier. Selamat datang," ujar pelayan itu sambil memberikan penghormatan.


"Di mana perdana menteri?" tanya Xavier cepat dengan nada emosi yang tertahan.


"Maaf. Tapi Beliau masih ada di luar negeri. Bukannya Anda tahu?"


Xavier menggertakkan giginya keras. Tangannya mengepal erat membuat otot-otot di lengannya mengeras.


"Kapan dia pulang?" tanya Xavier dengan nada yang menahan emosi.


"Tiga hari lagi jika sesuai jadwal, tapi Nyonya sudah pulang tadi pagi. Apakah Anda ingin berbicara dengannya?"


Xavier mengangguk. Dia tahu ibunya pasti tahu tentang masalah ini. Dia benar-benar harus menanyakan tentang hal ini secepatnya.

__ADS_1


"Baiklah, saya akan memanggilkan beliau," ujar Kepala Pelayan itu ingin beranjak. Namun Xavier langsung menahannya.


__ADS_2