
“Laura? Apa kau sudah melihat berita tentang Adelia?” Graciella mendatangi kamar sahabatnya yang tampak bahkan belum bangun walau jam sudah menunjukkan pukul 09.00. Laura sama sekali tidak bisa tidur, entahlah, kata orang kesusahan tidur hanay akan terjadi jika kehamilan sudah masuk ke trimester ke tiga. Tapi untuk kasus Laura, dia bahkan merasakannya sejak awal. Karena itu, dia yang baru tidur dini hari, membalasnya dengan tidur hingga siang.
“Berita apa?” tanya Laura masih enggan meninggalkan bau bantalnya. Matanya mengerjab beberapa kali mendekati sang sahabat yang perutnya sudah jauh lebih buncit dari padanya Graciella duduk dengan wajahnya yang tampak tak bisa menutupi rasa syoknya.
“Lihatlah dulu.” Graciella langsung menekan tombol remot televisi yang ada di kamar Laura. Menganti beberapa program televisi sebelum dia menemukan apa yang dia cari.
Laura tentunya menatap itu dengan malas. Nyawanya masih terbang di awang-awang, bahkan rasanya kalau dia merasa apa yang dikatakan oleh temannya ini sama sekali tidak penting. Laura akan segera marah.
Namun, bahkan dengan membaca judulnya saja Laura sudah membelalakkan matanya.
“Adelia? Selingkuh?” tanya Laura dengan mata membesar, bulat sempurna dan bulut yang menganga tak percaya. “Bagaimana bisa begitu? Sini! Besarkan volume suaranya!” Laura merampas remote itu dari tangan Graciella karena merasa takut tertipu dengan matanya yang masih belum fokus. Tapi apa yang dia dengar sepertinya mengkonfirmasi apa yang ada di sana. Apalagi foto-foto yang di tunjukkan di sana. Laura benar-benar tidak percaya hingga dia memegangi kepalanya. “Jadi Adelia juga berselingkuh?”
Graciella hanya diam saja memperhatikan apa yang terpampang di depan layar televisinya. Semakin dia perhatikan, semakin dia ragu bahwa wanita itu berselingkuh. Ada raut wajah sedih dan kesepian yang sangat terekam jelas di wajah Adelia bahkan saat dia bersama dengan pria itu. Walaupun dia harus mengakui. Di beberapa foto lain, saat Adelia tertawa, dia tampak jauh lebih baik. Graciella –dengan segala ketajaman otaknya– merasa mereka hanya menghabiskan waktu bersama, mungkin memang ada ketertarikan, tapi bukan sebuah tanda bahwa ini adalah perselingkuhan.
“Aku pikir, aku sangat jahat pada Adelia selama ini. Tidak menyangka bahwa dia juga ternayata melakukannya. Ah! Sekarang aku merasa lega. Ternyata aku tidak terlalu menyakitinya.” Laura menghela napasnya. Selama ini dia berpikir bahwa dia adalah wanita paling jahat. Jelas-jelas jatuh cinta pada pria yang sudah menjadi suami orang, walaupun awalnya pria itu yang sudah memaksanya. Tapi, dengan wajahnya yang polos dan elegan itu, Laura tak pernah berpikir Adelia mampu melakukanya.
“Aku rasa tidak.” Graciella menggigit bibirnya. Kenangan buruknya muncul. Dia tahu sekali apa yang sekarang dirasakan oleh Adelia. Mungkin sama seperti apa yang dia rasakan saat dia baru pertama kali bertemu dengan Xavier.
__ADS_1
“Eh? Apa?” tanya Laura dengan wajah berkerut.
“Tidak apa-apa. Bangunlah, dan sarapan. Kau harus menjaga asupan makananmu dari sekarang, bukan?” saran Graciella menghela napasnya sambil berusaha untuk berdiri dengan perutnya yang membulat. Bukan tak ingin menjelaskan lebih lanjut. Hanya saja, sekarang posisi Laura bukanlah posisi yang bisa merasakan hal itu, dan lagi, jika Graciella mengatakannya, dia takut Laura malah semakin memikirkannya dan itu tidak baik untuk kandungannya. Lagi pula, untuk saat ini, Graciella tak bisa melakukan apa-apa.
“Gracie ….” Laura menangkap tangan Graciella yang langsugn menatap ke arah sahabatnya. “Ada apa? Kau tahukan otakku ini terkadang tumpul, apalagi sekarang, rasanya otakku benar-benar lambat. Mungkin karena sejak kecil aku sering sakit dan diberikan banyak obat-obatan.” Laura mencucurkan bibirnya bak bebek.
Mendengar itu Graciella tak bisa menahan tawa kecilnya. “Sebagai dokter, seharusnya kau tahu itu hanya mitos belaka.”
“Ya, tapi … ada apa?” tanya Laura. Merasa ada yang ditutupi oleh sahabatnya ini. Graciella memang suka menjadi sosok yang misterius.
“Tidak apa-apa. Itu hanya perasaanmu saja.” Graciella tersenyum manis sambil menepuk punggung tangan sang sahabat yang menarik napasnya. Mau tak mau menerima hal itu.
Katakanlah bahwa Laura wanita yang jahat. Tapi entah bagaimana, dari hati kecilnya, muncul secercah harapan.
Apakah keadaannya akan lebih baik untuk keduanya?
Laura mengusap pelan perutnya yang rata sambil berharap-harap cemas.
__ADS_1
***
Kerlap kerlip lampu blitz dari para wartawan membuat silau mata Antony yang mau tak mau akhirnya muncul juga di depan publik. Dengan seluruh pengawalan paspamres yang siap sedia di sekelilingnya. Menjaganya bahkan dari para kolega, kenalan, bahkan keluarga Adelia atau bahkan Antony.
Antony menatap ke arah puluhan press yang menjejali aula kepresidenan itu. Menatap dengan wajahnya yang tegas dan mata yang tegas. Dengan jas hitam yang rapi dia berjalan perlahan ke arah meja yang sudah disiapkan. Kembali seluruh sorot kamera dan cahaya ke arahnya. Antony bahkan tak bisa melihat dengan jelas wajah-wajah penasaran yang bahkan tak berperasaan di depannya.
“Selamat siang.” Suara Antony yang berat terdengar menggema di seluruh antero ruangan itu. Membuat suara ribut dan juga blitz kamera yang tadinya riuh tiba-tiba senyap seketika. Tentu saja mereka tidak ingin melewatkan apa yang akan dikatakan oleh seorang Presiden yang dikhianiti ibu negaranya dengan salah satu paspamresnya. Antony menarik napasnya dalam.
“Aku tahu bahwa kabar ini mengejutkan semua orang. Dan tentunya, bagi diriku juga. Aku juga tidak bisa menyalahkan siapa pun sekarang, baik orang-orang yang sudah berusaha dengan sangat mengulik semua kehidupan pribadi kami berdua atau Adelia, bahkan pria yang kalian ambil fotonya bersama dengan istriku.” Antony terdiam sejenak. Sesekali suara blitz kamera terdengar lagi, seolah sebagai pengingat bahwa Antony harus menyelesaikannya dengan segera.
“Di titik ini, aku sadari bahwa kita tidak bisa membuat semua hal menjadi sempurna. Orang-orang memilihku, memberikan tanggung jawab padaku untuk mengurus seluruh negeri ini dan aku menyanggupinya. Tapi, sekarang, aku rasa ada banyak orang, terutama lawan dari partai politikku yang mungkin mengeluarkan pendapat mereka tentang ini. Bagaimana seorang presiden seperti diriku bisa becus merawat, membangun dan juga membesarkan negara ini kalau seseorang sepertiku bahkan tidak bisa mempertahankan istriku. Aku yakin itu akan segera muncul di berita.” Antony tersenyum kecut karenanya. Membuat semua orang di sana terpaku. Bahkan Luara dan juga Graciella yang melihat hal itu hanya bisa diam. Entahlah, apakah Antony memang merasakan kesedihan atau bagaimana, tapi Graciella bahkan Laura mengakui, pria itu pintar sekali melakoni kesedihannya.
“Ya, Dan yang seharusnya disalahkan adalah diriku. Aku terlalu fokus dengan pekerjaanku. Melakukan semuanya demi negara ini dan rakyat yang sudah memilihku hingga aku lupa bahwa ada satu orang yang sedang menunggu, menantikanku, dan juga butuh perhatian dariku. Dulu aku berpikir berumah tangga akan seperti kami hidup bersama, saling memahami dan setelah itu berjalan dengan baik. Tanpa berpikir bahwa mengurus sebuah rumah tangga sama sulitnya seperti mengurus sebuah negara. Konflik-konflik kecil yang sering aku abaikan menjadi sebuah konflik besar. Dan, ya, semuanya terjadi begitu saja. Aku tidak akan menyudutkan Adelia. Tapi aku memang mengakui itu semua kesalahanku. Maaf, jika Aku malah mengatakan semua hal yang tidak berguna ini. Dan di sini.” Antony yang tadinya duduk dengan tenang langsung berdiri, dengan wajah begitu menyesal langsung menatap lurus ke salah satu kamera yang ada di depannya. “ Aku atas nama presiden dan juga istriku, meminta maaf akan kehebohan masal yang kami perbuat. Dan dengan ini pula, Aku menyatakan mundur dari kursi kepresidenan dan menyerahkan jabatanku pada wakilku. Sekali lagi, aku minta maaf. Terima kasih.” Antony menyudahi wawancaranya dengan cepat dan segera berjalan dari podium itu yang tentunya langsung dikejar oleh para wartawan yang merasa tak puas. Seolah diberikan sepotong cerita, tapi diselesaikan terburu-buru oleh siempunya cerita. Mereka butuh menggalinya lebih dalam.
Graciella dan Luara langsung melempar tatapannya. Bibir keduanya terkunci sempurna. Tidak menyangka bahwa hal itu akan keluar dari bibir Antony.
Benarkah? Dia akan turun dari jabatannya?
__ADS_1
***
Hai kak, haha, sekian purnama akhirnya tergerak menulis ini. Aku tuntaskan. Tapi mungkin sedikit terburu-buru, dan gaya penulisannya juga sedikit berbeda dengan yang dulu. Jadi maaf jika mengecewakan ya. Aku penuhi janjiku dulu untuk beberapa orang yang sudah setia menunggu cerita ini ya.