Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 123. Aku tidak bisa menemukan pembunuhnya.


__ADS_3

Graciella memandang wanita yang wajahnya tampak sayu. Ada lingkaran hitam yang jelas di matanya. Rambutnya di ikatnya seadanya. Wajahnya pucat seperti orang yang kurang tidur. Jelas saja, mendekam beberapa hari di dalam penjara itu. Tentu akan membuatnya syok dan stress.


Riana masuk dengan menunduk, dia lalu melihat ke arah Graciella yang memandangnya. Petugas wanita yang membawanya masuk segera menyerahkannya pada Graciella.


“Terima kasih, petugas,” ujar Graciella yang dibalas anggukan oleh petugas itu dan dia segera keluar. “Selamat pagi Nona Riana. Perkenalkan saya Graciella Luo, salah satu penyelidik dari kasus dari Nyonya Hana Westboold, silakan duduk.” ramah Graciella menyapa Riana.


Riana tampak hanya mengerutkan bagian tengah kedua alisnya. Perlahan pula dia duduk di depan Graciella. Ada ketakutan dan kecemasan yang tampak di wajahnya. Sebuah respon yang memang seharusnya dia miliki.


“Nona Riana ….” ujar Graciella dengan penekanan.


“Aku tidak membunuhnya. Nona, aku benar-benar tidak membunuh Nyonya Hana Qing. Aku benar-benar tidak melakukan hal itu!” sanggah Riana langsung bahkan sebelum Graciella menanyakan apa pun,


Graciella yang mendengar hal itu hanya tersenyum manis. “Aku tahu tentang hal itu. Tapi bisakah kau menjawab beberapa pertanyaan yang akan membantumu nanti?” ujar Graciella dengan sangat lembut. Xavier yang memperhatikan gerak gerik dan kata-kata Graciella hanya menatapnya dengan sangat serius. Kekaguman muncul di sorot matanya.


“Aku rasa Graciella sudah mengetahui sesuatu, dia selalu begini jika dia sudah mengetahui tentang sebuah kasus,” ujar Bruce, sekali lagi mencoba mendekatkan diri dengan Xavier.


Xavier hanya mengangguk. Bruce mengerutkan dahinya. Pelit sekali pria ini berbicara.


“Nona Riana, pasti kau sudah lelah di tanya kenapa sidik jarimu ada di jarum suntik ini bukan?” ujar Graciella.


“Ya, dan aku selalu mengatakan bahwa aku memang membantu Nyonya Hana dalam menyuntikkan vitamin c ke tubuhnya. Mungkin itu adalah alat suntik yang sudah kami gunakan. Pelakunya menggunakan itu untuk menjebakku,” ujar Riana dengan menggebu.


Graciella mengangguk mengerti dan segera menarik foto bukti sebuah alat suntik. “Lalu apa Anda tahu tentang Nyonya Hana yang suka melakukan perawatan-perawatan bahkan operasi plastik?” tanya Graciella lagi.

__ADS_1


Xavier mendengar itu mengerutkan dahi. Bruce pun kaget mendengar pertanyaan dari Graciella. Dia membuka data-data tentang kasus ini, Tidak ada yang mengarah ke arah sana.


Riana menatap wajah Graciella, mengamatinya sejenak. Tidak seperti biasanya dia ditanya tentang motif atau pun tentang hubungannya dengan korban. Penyelidik wanita ini malah bertanya tentang perawatan tubuh korban.


“Ya, sudah tiga tahun ini Nyonya Hana memang menyukai perawatan tubuh. Dia sering datang ke klinik kecantikan, dia juga memintaku untuk menyuntikkan vitamin agar kulitnya lebih cerah dan bersinar. Tentang operasi plastik, aku tidak tahu,” ujar Riana menjelaskan sambil memegang pergelangan tangannya erat. Sebuah cincin berbahan platinum memantulkan cahaya lampu yang ada di atas Graciella melihat gerak aneh itu, dia lalu tersenyum mendengar penjelasan dari Riana.


“Oh, lalu Anda sudah bersama dengan nyonya Hana selama 10 tahun. Usia anda sekarang 27 tahun, berarti Anda sudah mengikuti Nyonya Hana sejak Anda berumur 17 tahun, benar?” tanya Graciella lagi.


“Ya, saat umurku 17 tahun, Nyonya Hana membawaku dari negaraku ke Amerika. Setelah itu aku tinggal bersamanya dan keluarganya di sini.”


“Nona Riana, apakah Nyonya Hana sering menggunakan kuku palsu jenis ini?” tanya Graciella lagi yang tentu sekali. lagi membuat semua orang mengerutkan dahinya. Bagaimana bisa penyelidik ini malah menanyakan hal-hal yang tidak penting seperti ini.


Graciella menyodorkan foto dari tangan korban. Terlihat korban menggunakan kuku palsu berbentuk runcing yang panjang terpoles oleh cat kuku berwarna merah darah. Riana mengerutkan dahinya.


“Baiklah, aku hanya punya pertanyaan satu lagi untuk Anda,” ujar Graciella dengan senyuman mengembang mengambil foto yang tadi dia suguhkan.


“Apa itu?” tanya Riana menahan napasnya.


“Nona Riana, apa kau suka wangi jasmine?” tanya Graciella tersenyum tenang. Semua orang di balik kaca dua arah itu tampak bingung. Pertanyaan macam apa itu?


Riana pun semakin bingung, tapi dia hanya mengangguk pelan.


“Baiklah, terima kasih sudah menemui diriku hari ini Nona Riana.”

__ADS_1


“Nona, tapi aku tidak melakukan pembunuhan itu, aku tidak mungkin tega untuk melakukan pembunuhan pada siapa pun. Nona, tolong aku! lepaskan aku! aku tidak ingin lebih lama ada di sini!” ujar Riana memelas.


“Aku tahu itu. Nona Riana tenang saja, jika kebenaran sudah terungkap pasti Anda akan dibebaskan,” ujar Graciella tersenyum mengambil barang-barangnya dan segera keluar dari kamar itu interogasi itu.


Bruce dan Xavier juga beberapa petugas yang dari tadi melihat prosesnya segera menemui Graciella.


“Graciella? Apa maksudnya itu tadi?” tanya Bruce kebingungan. Tak ada satu pun pertanyaan dari Graciella yang bisa dia tebak.


“Aku sudah tahu siapa yang menyebabkan kematian dari Nyonya Hana. Panggil Prof. Callahan agar aku bisa berdiskusi dahulu dengannya. Aku minta juga keluarga korban untuk menyampaikan penyidikan yang aku dapatkan,” ujar Graciella memandang Xavier dengan serius. Xavier hanya mengangguk kecil. Tak tahu sebenarnya apa yang terjadi. Tapi dia yakin Graciella memang sudah tahu bagaimana kejadian ini bisa terjadi.


*****


Graciella duduk di ruang tamu keluarga Westblood. Seperti permintaan keluarga korban yang tidak ingin datang ke kantor polisi dan kasus ini sampai ke media maka mereka yang datang ke sana. Di temani oleh Prof. Callahan, Bruce dan penyidik yang bertanggung jawab. Graciella menghadapi suami dan putra korban yang sudah berumur 24 tahun.


“Katakan padaku! Siapa yang sudah membunuh ibuku!” ujar pria dengan wajah tampan blasteran Asia dan Amerika itu.


“Aku takut aku tidak bisa menemukan seseorang yang membunuh ibu Anda,” ujar Graciella lagi tenang tapi sangat serius. Semua orang di sana berwajah serius.


Putra dari korban tampak mengerutkan dahinya dalam, wajahnya bingung, kaget dan marah. “Lalu untuk apa kau mengumpulkan kami di sini dan seolah-olah ingin memberitahu kami tentang kematian dari ibuku? Jika kalian tidak sanggup menemukan pembunuh ibuku, lebih baik kalian pergi dari sini!” ujar anak korban bernama Betrand itu penuh amarah. Merasa dipermainkan oleh para penyidik yang ada di depannya.


“Saya memang tidak bisa menemukan pembunuh ibu Anda, karena menurut saya ibu Anda tidak kehilangan nyawa akibat pembunuhan,” ujar Graciella lagi.


Ketiga orang yang duduk di depannya itu mengerutkan dahi. Bagaimana bisa korban bukan dibunuh?

__ADS_1


“Apa maksudmu? Bagaimana bisa kau mengatakan bahwa ibuku tidak meninggal karena dibunuh! Jelas-jelas menurut keterangan saksi ibuku ditancapkan suntikan berisi racun!” ujar Betrand lagi dengan sangat menggebu.


__ADS_2