Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 136. Entah berapa kali aku mengatakannya. Kau adalah wanitaku!


__ADS_3

Graciella melihat ke sebuah rumah minimalis yang terletak di pinggiran kota. Baru saja mobil mereka berhenti di perkarangan rumahnya. Graciella terus memperhatikan rumah yang tampak kontras dari rumah yang lainnya.


Saat Graciella masih mengamati keadaan. Supir itu menyerahkan sebuah kertas putih pada Graciella yang menerimanya dengan kerutan dahi.


“Apa ini?” tanya Graciella.


“Kode untuk masuk ke dalam rumah. Komandan sudah menunggu Anda di dalam rumah,” ujar supir itu dengan tegas tanpa membalikkan tubuhnya menatap ke arah Graciella. Setelah itu dia bagaikan tak bisa di ganggu lagi. Diam seribu bahasa.


Graciella mengamati kertas putih itu. Tak lama suara pintu mobil terbuka terdengar. Karena merasa keadaan ini membuat tegang, Graciella mendengar hal itu saja langsung terkaget.


Graciella segera turun dari mobil itu. Perlahan dia berjalan ke arah rumah yang tampaknya remang. Daerah di sana sepi sekali. Bahkan mobil saja sangat jarang berlalu lalang. Kenapa Xavier malah ingin bertemu di sini? Pikir Graciella yang merasa tidak mungkin.


Graciella langsung mundur beberapa langkah. Ini kesempatan terakhirnya untuk pergi dari sana. Mungkin saja ini semua salah. Mungkin saja orang yang membawanya ke sini bukanlah bawahan dari Xavier dan berniat untuk mencelakannya. Mungkin saja bukan?


Tapi baru beberapa langkah Graciella mundur, tiba-tiba ponselnya berdering. Nama Chris lagi-lagi muncul di sana.


“Halo?” jawab Graciella cepat.


“Kenapa tidak masuk?” tanya Xavier. Graciella tahu sekali itu suara Xavier. Tak ada suara berat yang seperti dirinya.


“Eh? Dari mana kau tahu?” tanya Graciella melihat sekitar.


“CCTV di sudut, masuklah, aku tidak menggigit,” ujar Xavier yang malah membuat Graciella mengerutkan dahinya. Kenapa dia merasa aneh mendengar candaan keluar dari mulut Xavier. “Masuklah,” pinta Xavier lagi.


Graciella memandang kembali rumah itu. Walau masih ada ragu di dalam dirinya. Graciella memberanikan dirinya. Dia langsung memasukkan kode untuk membuka pintu itu. Tak lama suara pintu terbuka membuat Graciella mau tak mau menekan knop pintu itu dan membuka pintu itu perlahan.


Graciella mengintip sedikit ke rumah yang tampak kosong itu. Cahayanya sama remangnya dengan yang ada di luar. Graciella berjalan lebih masuk sambil terus mengamati semuanya. Tak menyadari Xavier yang berdiri di dekat pintu melipat tangannya menatap punggug Graciella yang tampak mengamati sekitarnya.

__ADS_1


Xavier perlahan menutup pintu yang ditinggal oleh Graciella terbuka tak terkunci sempurna. Graciella yang mendengar itu langsung spontan melihat ke belakang. Tentu kaget melihat sosok Xavier yang sudah ada di sana. Tampak begitu santai hanya menggunakan kaos dan juga celana rumahan. Beda sekali dengan sosoknya jika sedang menggunakan pakaian dinasnya. Gagahnya tetap menempel, tapi aura mencekam itu sedikit berkurang.


“Lain kali tutup dulu pintunya baru menjelajah masuk,” ujar Xavier berjalan mendekati wanita yang mengamatinya dari atas hingga ke bawah itu.


“Aku hanya bersikap siaga. Jika terjadi apa-apa di dalam sini, akan lebih mudah jika pintunya belum terkunci,” ujar Graciella lagi melihat sosok dengan dada bidang itu sudah berhenti dan berdiri tepat di hadapannya.


“Bisa di terima,” ujar Xavier dengan ulasan senyuman tipis tapi manis. Graciella sedikit kaget menerima senyuman itu. Biasanya wajah pria ini selalu saja ketat dan juga penuh kewaspadaan, tapi kali ini dia benar-benar santai.


“Ehm? Apa yang ingin kau katakan padaku?” ujar Graciella. Dia tidak ingin buang-buang waktu. Perjalanan ke sini saja butuh waktu lebih dari setengah jam. Dia harus kembali lagi ke cafe itu dan mengambil mobilnya lalu kembali ke rumah Lauranya yang jaraknya cukup jauh.


“Kenapa terburu-buru,” lembut Xavier mengucapkannya yang membuat Graciella menahan napasnya. Jantungnya sudah berdetak lebih cepat ketika melihat sosoknya. Sekarang sepertinya dia akan kembali mengalami serangan sesak napas jika semakin lama di dekatnya.


“Bukannya itu tujuannya? lagipula sudah malam, aku harus kembali ke rumah Laura?"


“Aku tidak punya niat untuk membiarkanmu pulang malam ini dan tujuan utama aku memanggilmu ke sini karena aku merindukanmu,” ujar Xavier yang seketika membuat Graciella membesarkan matanya. Apa-apan pria ini? Kenapa tiba-tiba mengatakan hal itu. Bahkan sejujurnya Graciella sendiri tidak pernah menyangka bahwa kata-kata seperti itu akan meluncur dari bibir Xavier yang indah.


“Aku mengatakan yang sebenarnya. Apa kau tidak merindukanku?”


“Untuk apa? Kau pikir aku aku wanita apa? kita baru saja bertemu beberapa kali, dan jika kau berpikir aku menyukaimu dengan semudah itu, kau salah,” elak Graciella pada Xavier. Tapi dia tidak berani menatap ke arah mata yang dia tahu akan membuatnya langsung terperangkap.


“Benarkah?” tanya Xavier yang berjalan maju ke arah Graciella. Tentu membuat Graciella refleks untuk mundur. Graciella mengangguk panik dengan apa yang dilakukan oleh Xavier. Tampak sekali mengintimidasi dirinya.


Tiba-tiba saja Xavier menyelipkan tangannya ke belakang kepala Graciella. Dan Seketika Graciella tahu bahwa tubuhnya sudah tertahan tembok yang ada di sana. Tangan Xavier sengaja dia susupkan agar kepala Graciella tidak terbentur tembok itu.


“Jika berani, katakan sambil menatapku,” ujar Xavier dengan tatapan langsung menembus ke hati Graciella. Mata hitam itu seketika menyedot semua perhatian dari Graciella. Belum lagi senyuman tipis itu begitu menggoda. Ada apa dengan Xavier malam ini? Graciella berusaha sekuat tenaganya untuk memalingkan wajahnya.


Tentu Graciella tidak berani melakukannya. Bahkan dia tidak bisa membuka bibirnya sama sekali. Dia mendorong dada bidang Xavier agar sedikit menjauh darinya karena semakin lama Xavier semakin dekat.

__ADS_1


“Xavier, bisa jangan terlalu dekat, aku sedikit kepanasan,” alasan Graciella, walaupun mendorong dada Xavier, tapi pria itu sama sekali tak bergeming.


“Aku yakin kau menyukaiku,” ujar Xavier berbisik pelan pada Graciella yang terus saja mencoba untuk menghindari kontak mata dengan Xavier. “Lihatlah aku.” Xavier segera mengarahkan wajah Graciella agar dia menatap dirinya. Tentu hal itu sekali membuat Graciella terdiam, sekali menatap ke arah Xavier, dia tidak mungkin lagi bisa berpaling.


“Kenapa kau yakin aku menyukaiku?” Graciella pelan menjawab Xavier.


“Karena jika kau tidak menyukaiku, kau tidak akan datang untuk menemuiku malam ini,” ujar Xavier sambil tersenyum lebih lebar karena melihat wajah Graciella yang sudah memerah.


“Aku – aku – aku hanya –” Graciella terbata ketika mengatakannya dan bibirnya langsung tidak bisa mengatakan apa pun karena bibir Graciella langsung dibekap dengan bibir Xavier. Graciella membesarkan matanya. Di ingatannya dia sudah begitu lama tidak mencium seseorang. Mungkin sudah hampir 8 tahun dia tidak sedekat ini dan juga seintim ini dengan seorang pria.


Graciella awalnya berpikir tubuhnya dan otaknya akan menolak perlakuan dari Xavier, terbukti awalnya dia mencoba mendorong Xavier yang tak bergerak sedikitpun. Tetap saja ******* bibir kecilnya.


Tapi perlahan, entah bagaimana dia merasa begitu nyaman dengan perlakukan Xavier. Gerakan bibir Xavier terasa begitu lembut memperlakukannya. Graciella juga kaget karena dia tak terlalu melakukan perlawan terhadap Xavier. Entah kenapa, ada perasaan rindu yang tiba-tiba saja muncul. Apakah Graciella memang haus sentuhan hingga merasa rindu dengan ciuman Xavier?


Xavier melepaskan bibirnya perlahan. Walau menggebu dia tak ingin membuat Graciella tertekan dengan perlakuannya. Bagaimana pun sudah lama mereka tak saling menautkan bibir seperti ini.


Ingatan Xavier masih samar, dia tak mengingat semua hal yang dia lakukan dengan Greciella. Tapi mendengar cerita dari Fredy tentang dirinya dan juga Graciella, dia yakin wanita ini adalah wanita yang selama ini dia cari. Wanita yang selalu menghantui mimpinya. seorang wanita yang tampak samar dalam kegelapan yang menyedihkan.


Xavier menatap Graciella dengan penuh perasaan. Ada gejolak yang begitu dalam yang menyesakkan, tapi perasaan itu bukan hanya dirasakan oleh Xavier. Greciella pun bisa merasakannya. Sentuhan-sentuhan jari Xavier yang lembut menggapai tangannya entah kenapa malah membuatnya semakin melayang. Itu bukan daerah sensitif, bukan juga daerah terlarang. Tapi genggaman kuat dari tangan Xavier pada jemarinya, membuat dia seketika saja tenang. Gusar yang selama ini selalu dia rasakan tanpa tahu sebabnya, tiba-tiba saja seolah lenyap menguap di antara udara bernafaskan asmara.


"Aku tidak ingat apakah aku sudah pernah mengatakan hal ini padamu. Aku juga tak yakin kau mengingatnya, tapi Graciella, jadilah wanitaku!" Pinta Xavier dengan tatapan tegas dan seriusnya. Ingin Graciella merasakan bahwa dia tak main-main dengan perkataannya.


"Tapi kau …." Ujar Graciella. Siapa yang hendak dia bohongi? Bahkan dia tahu betul bahwa dia menyukai Xavier. Tapi, dia hanya merasa ini terlalu cepat. Xavier baru saja bercerai jika ada yang tahu maka semua orang akan berpikir Graciella adalah sebabnya.


Xavier langsung mengecup kembali bibir Greciella, hanya sebuah kecupan kecil agar Graciella menghentikan kata-katanya.


"Aku tidak terima penolakan! Kau adalah wanitaku! Tak akan ada yang bisa membantahnya! Mengerti!" Xavier dengan nada memerintahnya yang tak terbantahkan dan hal itu entah bagaimana bisa membuat Graciella langsung mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2