
Andrean menghisap kuat pun’tung rokoknya membuat bara di ujung rokoknya menyala. Segera mengebulkan asapnya yang terbang melayang mengelilingi dirinya. Dia lalu menyipitkan matanya memandang satu titik tapi pikirannya melayang ke kejadian semalam.
Semalam, dia memang ingin memberikan pelajaran untuk Graciella. Dia awalnya yakin sekali membiarkan Graciella dicicipi oleh temannya. Tapi saat dia menunggu. Entah kenapa rasa tak rela muncul. Dia tiba-tiba saja teringat wajah Graciella saat dia membaringkan tubuhnya di ranjang. Sudah lama dia tidak melihat dengan jelas wajah Graciella yang tampak lugu. Entah kenapa saat dia melihat Tuan Rupert memandangi tubuh istrinya, dia merasa tak nyaman. Karena itu dia tak bisa menunggu dengan tenang dan dengan cepat dia kembali untuk melihat bagaimana keadaan dari Graciella.
Tapi apa yang dia dapatkan. Ternyata Graciella sudah kabur. Ada perasaan lega tapi juga marah yang dia rasakan. Adrean langsung mencari Graciella. Tapi dia tidak menemukan wanita itu. Bahkan hingga sekarang dia tak tahu di mana Graciella dan gilanya, entah kenapa dia ingin sekali melihat wanita itu.
“Adrean, kau sedang apa?” tanya sekretarisnya menyuguhkan kopi seperti biasa yang dia lakukan. Adrean hanya melirik wanita yang segera berjalan ke arahnya. Berlenggak-lenggok seperti biasa ingin menggoda Adrean.
Setelah meletakkan kopi itu, dia langsung meletakkan kedua tangannya yang berhiaskan jari jemari yang lentik itu ke pundak Adrean. Memijat lembut bahu Adrean yang terasa tegang.
Adrean menaikkan sudut bibirnya sedikit tinggi. Dia lalu melihat wajah wanita yang sangat menggodanya. Bibirnya penuh dipoles dengan pewarna bibir. Kulitnya mulus teralas dengan bedak yang tebal. Alis dan matanya semua penuh dengan goresan dari riasan wajah. Cantik, tentunya sangat cantik. Tapi entah kenapa? saat ini dia merasa itu tidak menarik baginya.
Bayangan tentang kepolosan dari wajah Graciella tadi malam membuatnya merasa wajah sekretaris yang biasanya dia jadikan pelampiasan nafsunya ini tak menarik sama sekali. Walaupun tadi malam Graciella menggunakan riasan, tapi tak setebal wanita ini. Kecantikan alaminya tetap terpancar. Adrean memudarkan senyumannya membuat wanita itu mengerutkan dahi. Apa hari ini dia tak cantik?
“Keluar lah. Aku sedang tak ingin bertemu dengan orang lain," ujar Adrean terkesan malas. Sekretarisnya semakin berwajah masam.
“Apa kau sedang emosi gara-gara Graciella lagi? aku bisa menurunkan emosimu," rayu wanita itu lagi sambil terus memijit bahu Adrean, tangannya melunsur turun ke arah dada Adrean yang tegap. Adrean yang mendengar itu tampak sedikit berwajah malas. Gerakan menggoda dari sekretarisnya juga tak menaikkan nafsunya sama sekali.
“Sudah, aku sedang tidak mood.” Adrean menepis jari jemari lentik dari sekretarisnya itu. Tentu hal itu membuat wanita cantik bak model itu kaget. Adrean tak pernah menepis tangannya sekasar itu. Dia memegangi tangannya yang ditepis oleh Adrean. Memasang wajah sedihnya yang terlihat manja.
__ADS_1
Adrean melirik ke arah wanita yang tampak cemberut. Tampak sekali ingin dirayu olehnya. Tapi melihat hal itu dia malah semakin geram. Baru saja ditepis begitu, wajah wanita ini sudah sok kesakitan. Adrean malah terngiang dengan Graciella kembali. Wanita itu, seberapa kasar pun Adrean memperlakukannya. Dia tak pernah menunjukkan wajah seperti itu. Sekalinya memang terlalu sakit, dia hanya menangis. Tapi tak pernah menunjukkan wajah mengemis perhatian seperti ini. Entah kenapa? wajah manja itu membuat dirinya muak.
“Kenapa masih di sini? aku bilang aku sedang tak ingin bertemu dengan siapapun. Kau bisa mendengar tidak?” bentak Adrean melihat sekretarisnya hanya diam. Sekretarisnya itu tentu sangat kaget. Selama dia bekerja dengan Adrean pria ini sangat manis dan romantis. Tapi sekarang? kenapa malah begitu kejam. “Kalau kau masih ingin bertahan di sini. Aku akan menarik semua aset yang sudah aku hadiahkan padamu!” ancam Adrean.
Tentu hal itu membuat sekretaris Adrean langsung bergegas pergi. Walaupun dia menyukai pria itu, tapi dia lebih menyukai semua hal yang sudah Adrean berikan padanya. Tentu dia tak mau kalau sampai semua yang dia nikmati ini hilang semua.
“Sial!” umpat Adrean menghempaskan tubuhnya ke kursi kerjanya. Dia menjepit batang hidungnya yang terletak di antara matanya. Sesaat dia mempertahankan posisi itu. Kenapa? dia ingin sekali tahu di mana sekarang keberadaan Graciella?
Dia mengambil ponselnya seketika. Menelepon seseorang dengan cepat. Baru beberapa kali nada sambung akhirnya panggilan itu tersambung.
“Aku ingin kalian mencari di mana keberadaan Graciella!” perintahnya tegas.
“Baik, Tuan,” jawaban dari seberang sana.
Dia segera menarik jasnya yang tergantung. Dengan cepat keluar dari kantornya. Dia harus mencari wanita itu!
...****************...
“Satu … satu … ehm, satu lagi ....”
__ADS_1
Graciella mengerutkan dahinya mendengarkan Laura yang menghitung langkahnya yang harus melompat-lompat. Dia sedang dibantu oleh Laura menuju ranjangnya.
“Kenapa terus satu?” tanya Graciella. Bukannya habis satu adalah dua?
“Aku salah menghitung, seharusnya menghitungnya mundur, kalau begini akan lewat dari tiga langkah," ujar Laura.
Graciella mengerutkan dahinya lebih dalam tapi dibarengi oleh senyum di wajahnya. Aneh sekali temannya ini.
“Dua … tiga! hore! sampai juga," ujar Laura yang segera membantu Graciella menghempaskan tubuhnya di ranjangnya. Dia juga lelah membantu Graciella berjalan.
Dia melirik temannya itu. Tak menyangka keadaannya separah ini. Dia melihat luka di tangan dan kakinya. Tapi dia bisa menebak bahwa ada yang lebih parah dari luka fisiknya. Dari mata Graciella yang membengkak, dia tahu wanita ini pastinya sudah menangis begitu parah. Ah! Graciella yang malang.
“Kau ingin sesuatu? kau harus minum obat bukan?” tanya Laura. Orang yang sakit hati tentu tak bisa langsung diajak bicara, apalagi jika dia sudah diam seperti ini. Lebih baik menunggu saat dia sendiri ingin mengutarakannya.
“Boleh minta air putih?” tanya Graciella.
“Siap dokter!” ujar Laura yang malah mengikuti gaya Fredy. Graciella tertawa kecil melihatnya. Laura mengerutkan bibirnya. Senyuman itu … senyuman di balik sebuah luka.
Tadi Laura mendapati Graciella di antar ke depan markas militer. Sebenarnya Fredy ingin mengantarkan Graciella langsung ke tempat yang dia ingin tuju. Tapi karena Laura sudah menunggu di sana dan juga dia tak ingin Xavier tahu di mana dia sekarang. Graciella memutuskan untuk pulang dengan Laura.
__ADS_1
Graciella tak sempat berpamitan dengan Xavier. Bahkan untuk mengucapkan kata terima kasih dia pun tak bisa. Pria itu tak ingin menemuinya dan pergi begitu aja meninggalkan Graciella. Biarlah, toh dia juga tak tahu apakah sanggup mengatakan salam perpisahan untuk pria itu sekarang.
Graciella tiba-tiba teringat apa yang dikatakan oleh Fredy selama perjalanan mereka keluar dari markas militer.