
“Hentikan mobilnya,” ujar Xavier yang menghentikan mobilnya tiga rumah dari rumahnya. Tentu supir mobilnya segera mengikutinya.
Xavier segera keluar dari mobilnya. Berjalan dengan wajah datar ke arah rumahnya. Xavier langsung berdiri di depan gerbang rumahnya. Semua penjaga yang ada di luar rumahnya tampak kaget dengan kedatangan Xavier. Tuan rumah ini jarang sekali datang ke rumah ini. Dia lebih banyak menghabiskan waktu di markas militer atau melakukan misi kenegaraan. Karena itu, walaupun umurnya masih cukup muda tapi dia bisa mendapatkan kedudukan sebagai Jenderal dengan mudah.
“Komandan!” ujar penjaga pintu itu langsung ingin membuka gerbang otomatis rumah itu.
“Jangan buka gerbangnya. Buka saja pintu samping,” ujar Xavier lagi pada penjaga rumah itu. Penjaga rumah itu mengerutkan dahinya. “Jangan coba-coba untuk memberitahukan Nyonya tentang kedatanganku! Laksanakan saja apa yang aku katakan,” ujar Xavier begitu tegas tak terbantahkan.
Penjaga rumah itu mengangguk mengerti. Dia segera berjalan ke arah samping, Xavier pun mengikutinya. Saat pintu itu dibuka, Xavier langsung masuk ke dalamnya. Dia segera masuk dan melangkah ke dalam pekarangan rumahnya. Matanya menyipit sedikit ketika melihat sebuah mobil yang tidak dia kenal tapi hal itu tidak membuatnya berhenti, dia malah tersenyum licik. Dia segera menuju ke arah pintu utamanya dan memasukkan kode rumah itu.
Dia segera masuk ke dalam rumahnya. Suasana rumah itu sangat sepi. Pelayan-pelayan pun kaget melihat kedatangan Xavier. Bukannya pria ini sedang di luar negeri? bahkan beberapa orang dari pelayan tidak pernah melihat Xavier secara langsung karena pria ini benar-benar jarang sekali ada di rumah ini.
“Tuan? Kenapa anda datang tidak mengatakannya pada kami?” kata kepala pelayan gelagapan sambil mengikuti langkah Xavier yang cepat dan tegas, dia tahu sekali dia harus ke mana. Xavier hanya mengangkat tangannya menandakan kepala pelayan itu untuk diam. Apa yang akan terjadi jika Tuan rumah ini tahu apa yang terjadi di rumah ini.
Xavier berdiri di depan kamar utama dari rumah ini. Dia segera melihat pintunya yang tertutup sempurna. Tanpa menunggu lama lagi, Xavier langsung memasukkan sidik jarinya ke pintu otomatis dari kamar itu.
__ADS_1
Dengan satu tarikan napas dalam. Xavier membuka pintu kamar itu dengan perlahan. Saat pintu itu terbuka terlihat dua orang yang sedang bergumul di atas ranjang. Sontak saja mereka tampak kaget. Xavier dengan wajahnya yang diam hanya memandangi Devina dan seorang pria tak dikenal yang sama-sama bu*gil di atas ranjang mereka. Mengamati mereka dengan mata yang sedikit menyipit.
“Xavier!” ujar Devina kaget menarik selimut menutupi tubuhnya dan pria yang sedang ada di bawahnya. Pria yang tadinya sedang beradu peluh dengan Devina pun tampak kaget dan langsung mendorong tubuh Devina dari atasnya.
Xavier hanya memandang mereka dengan wajahnya yang datar dan dingin. Dengan santai dia mendekati Devina dan lawan prianya yang tampak begitu panik dan kaget akibat dari perbuatan Xavier yang menangkap basah mereka. Tak ada wajah terkejut sama sekali melihat apa yang dilakukan oleh Devina. Xavier sudah tahu lama, rumahnya ini bagaikan rumah bordil, setiap hari selalu ada pria lain yang datang untuk menemani wanita yang sialnya terikat padanya sebagai istrinya.
Dan selama ini pula, Xavier membiarkannya. Toh, dia juga tidak bisa memberikan kenikmatan itu pada Devina. Seberapa pun dipaksa, dia tidak bisa menyentuh Devina.
Xavier lalu duduk di salah satu sofa di dekat ranjang kamarnya. Wajahnya tampak malas menanggapi situasi ini.
“Kalian sudah selesai melakukannya atau mau melanjutkannya lagi?” tanya Xavier tampak biasa saja melihat istrinya bergumul dengan pria lain. Dia tidak pernah bisa mengerti kenapa dia bisa sampai setuju menikah dengan Devina. Walaupun Devina terus mengatakan bahwa dia dan Devina dulu sangat mencintai sebelum dia kehilangan ingatan akibat dari menjalankan sebuah misi tetapi perasaan itu tak pernah muncul walau sedikit saja.
“Jika kalian sudah selesai, ada yang ingin aku bicarakan denganmu, Devina. Kau tidak keberatan?” tanya Xavier pada pria yang masih ada di samping Devina. Pria itu melihat ke arah Devina sejenak lalu langsung bergegas turun dari tempat tidur tanpa sehelai kain pun. Dengan cepat dia mengambil bajunya yang tergeletak di lantai. Dia langsung memakai celananya dan pergi begitu saja meninggalkan Devina yang hanya bisa diam memandangnya. Tidak ingin mengambil resiko. Dia tahu siapa suami wanita yang seharusnya dia puaskan malam ini.
Devina mengikuti pergerakan pria itu hingga matanya melihat para pelayan yang dengan leluasa bisa melihat apa yang terjadi di dalam kamar itu. Para pelayan tampak melihat dirinya dan Xavier dengan tatapan yang penasaran. Xavier memang sengaja membiarkan pintu itu terbuka lebar.
__ADS_1
“Apa yang kalian lihat!” ujar Devina dengan emosi segera turun dari ranjangnya dengan berbalut selimut berjalan arah pintu kamarnya membuat semua pelayan yang berkumpul langsung salah tingkah dan pergi dari sana. Devina menutup pintu itu dengan sangat kuat. Devina menggenggam tangannya begitu erat menahan emosi yang benar-benar memuncak. “Xavier! Kau sengaja melakukan ini untuk mempermalukan aku ya!! Apa kau lupa? Aku ini adalah istrimu, ini juga sama dengan mencoreng namamu!” ujar Devina segera meluapkan emosinya pada Xavier yang tetap saja santai duduk di sofa. Dia hanya memandang Devina yang sudah seperti kesetanan.
“Jadi menurutmu kelakuanmu di belakangku ini tidak mencoreng namaku? kau pikir aku tidak tahu apa yang selalu kau lakukan di belakangku? sudah berapa banyak pria yang kau bawa ke rumah ini? jadi apakah kau merasa menjadi istri yang baik untukku?” ujar Xavier berdiri dan mendekati Devina dengan tatapannya yang dingin. Melihat wajah cantik istrinya yang rambutnya sedikit awut-awutan akibat pergumulan tadi.
“Itu semua itu karena kau! Kau terlalu sibuk dengan karirmu?!” ujar Devina membela dirinya.
Empat tahun menikah dia bahkan tak pernah bersama dengan Xavier barang sebulan saja. Begitu menikah pria ini segera mengambil tugas keluar negeri selama dua tahun. Lalu Xavier terus melakukan tugas-tugas dan misi-misi yang membuatnya tidak bisa bersama dengan Devina. “Katakan padaku, dimana ada suami yang tidak pernah menyentuh istrinya? Kau bahkan tidak ingin menyentuh tanganku! Kita ini suami istri atau apa?”
“Bukannya itu semua keinginan kakekmu? Dia ingin aku terus menaikkan karirku, bukan? Aku hanya mengikuti keinginan keluargamu dan keluargaku,” jawab Xavier lagi berdiri dan berhenti tepat di depan Devina. Menatap wanita itu seolah menantangnya.
Devina memipihkan bibirnya geram. Apa yang dikatakan oleh Xavier juga benar adanya. Kakeknya memang mendorong Xavier untuk terus menaikkan jenjang karirnya agar bisa mendapatkan sorotan menjadi kandidat presiden.
“Apa kira-kira yang akan dia katakan jika mengetahui tentang hal ini? Istriku?” sarkas Xavier mengatakannya.
“Apa maksudmu? Jika ada yang tahu tentang ini, kau juga akan hancur bukan?” tanya Devina.
__ADS_1
“Jika ingin menghancurkan semuanya, aku bisa menghancurkannya. Kita akan hancur bersama-sama. Tapi jika kau mengikuti keinginanku, maka kita akan baik-baik saja,” ujar Xavier lagi menatap ke arah Devina.
“Apa maumu?” tanya Devina yang menyipitkan matanya.