
“Mulai hari ini, apa pun yang kau atau aku rasakan, kita harus membaginya berdua,” ujar Xavier menggenggam tangan Graciella dengan sangat erat. Mengalirkan perasaan hangat yang langsung masuk ke dalam perasaan Graciella.
“Baiklah,” ujar Graciella dengan senyuman manisnya. Benar, mulai saat ini mereka sudah akan bersatu, selamanya.
Mobil itu cepat membawa mereka langsung ke depan kantor dinas pencatatan pernikahan. Tempat itu seharunya buka pukul delapan pagi. Tapi hari ini adalah hari yang sangat istimewa hingga mereka terpaksa buka dari pukul enam untuk menerima pernikahan seorang jenderal besar dipukul tujuh. Tentu itu adalah permintaan khusus hingga pernikahan ini tidak terganggu dengan orang-orang lain. Selain itu, pengamanan di sana begitu ketatnya.
Setelah mobil itu berhenti. Xavier langsung keluar dari mobil itu. Bawahannya yang berjaga di sana segera memberikan hormat padanya, tapi Xavier hanya mengangguk untuk menjawabnya, dia langsung berputar dan membukakan pintu untuk Graciella.
Perlahan Graciella keluar dari mobil itu dengan bantuan Xavier. Mata-mata penjaga yang ada di sana melirik ke arah Graciella. Tentu saja merasa pantas bahwa Jenderal mereka memilih wanita ini. Selain begitu cantik, sepak terjang Graciella dalam penyelidikan sudah mulai terdengar.
Xavier melangkah gugup. Bahkan lebih gugup dari pada saat dia dilantik menjadi seorang jenderal dulu. Di tangannya Graciella mengaitkan tangannya, berusaha mengatur perasannya yang rasanya sudah ingin meledak karena terlalu gugup. Mereka masuk dan langsung disambut oleh kepala dinas pencatatan pernikahan itu.
“Selamat pagi Tuan Jenderal dan Nyonya. Saya yang akan langsung melakukan pencatatan pernikahan Anda. Silakan untuk masuk,” ujar Kepala dinas pencatatan pernikahan itu. Tentu mereka bisa langsung membuat sertifikat pernikahan mereka. Berkas-berkas mereka sudah lengkap diurus oleh Arnold hari sebelumnya.
Graciella dan Xavier dibawa ke sebuah ruangan untuk pengambilan foto pernikahan mereka. Xavier dan Graciella diminta untuk tersenyum, walaupun terkesan kaku, akhirnya Xavier bisa juga tersenyum karenanya.
Tak perlu menunggu lama, sertifikat pernikahan mereka langsung selesai dan segera diserahkan pada mereka oleh kepala dinas pencatatan pernikahan itu.
__ADS_1
“Ini adalah sertifikat pernikahan Tuan dan Nyonya. Anda hanya tinggal membubuhi tanda tangan kalian berdua sehingga sertifikat pernikahan ini sah,” jelas kepala dinas pencatatan pernikahan itu pada Graciella dan juga Xavier yang sedang ada di ruang tunggu. Dia segera menyerahkan pena pada Graciella dan juga Xavier yang segera saja menandatangani surat itu tanpa ragu.
Selesai menandatanganinya, Xavier dan Graciella saling menatap satu sama lain, tentu saja dengan ini mereka sudah sah menjadi suami istri menurut negara. Keduanya bernapas begitu lega seolah baru saja lepas dari ikatan yang begitu kuat.
“Saya pinjam dulu sertifikat ini untuk dilakukan pen-scan-an data, setelah ini, Anda sudah boleh membawa sertifikatnya. Data-data pernikahan Anda juga akan segera dimasukkan ke dalam data kami. Harap menunggu sejenak,” jelas Kepala dinas itu lagi.
“Silakan,” ujar Xavier yang akhirnya bisa mengatakan hal itu. Dia menarik napas lega. Wanita yang duduk di sebelahnya ini sudah menjadi miliknya seutuhnya.
Graciella pun merasa lega. Akhirnya dia sudah memiliki suami kembali dan Xavier adalah orangnya. Dia sempat takut akan terjadi hal yang tidak dia inginkan tapi untunglah semua berjalan dengan baik. Sekarang dia tak butuh apa-apa lagi.
“Tuan dan Nyonya, selamat, sekarang kalian sudah menjadi suami istri yang sah. Karena Anda adalah seorang prajurit. Anda tidak bisa mengajukan perceraian kecuali pihak wanita yang menginginkannya,” ujar Kepala dinas itu lagi menatap ke arah Graciella yang menerima sertifikat pernikahan mereka.
Kepala Dinas pernikahan itu hanya bisa tersenyum. Pekerjaannya memang paling menyenangkan, menyatukan dua orang menjadi satu. Xavier dan Graciella tidak menunggu lama untuk melangkah keluar dari tempat itu. Sebentar lagi jam operasional kantor itu akan segera dimulai dan tempat itu akan dipenuhi orang, itulah yang dihindari oleh Xavier.
Graciella tidak bisa lepas tersenyum melihat sertifikat pernikahan mereka yang ada di tangannya. Dia melihat fotonya dan foto Xavier yang berdampingan. Entah kenapa melihat itu dia begitu bahagia. Xavier yang melihat wajah Graciella yang begitu senang menjadi tertular olehnya.
“Ingin ke mana setelah ini?” bisik Xavier.
__ADS_1
“Ehm? Ibu menyuruh kita segera pulang bukan? Mereka sudah menunggu kita,” ujar Graciella melirik suami yang baru dia nikahi.
“Bagaimana jika langsung berbulan madu saja,” bisik Xavier lagi.
“Ha? Bulan madu?” tanya Graciella yang tidak memikirkan hal itu. Dia mengira setelah menikah secara negara begini, dia akan disibukkan dengan persiapan pesta pernikahan mereka hingga dia tidak memikirkan tentang bulan madu.
“Kau tidak boleh menolaknya,” ujar Xavier. “Ke bandara sekarang!” perintah Xavier langsung ke supir mereka yang segera mengerti.
“Tapi, bukannya kita belum bersiap-siap? Baju? Perlengkapan yang lain?” ujar Graciella bingung. Bagaimana tiba-tiba langsung pergi ke bandara.
“Sudah ku bilang kau sekarang sudah menikahi seorang Jenderal. Tentu hal itu sangat mudah aku lakukan Nyonya Qing,” ujar Xavier dengan senyumannya yang terkadang terlihat angkuh.
Mendengar panggilan Nona Qing itu membuat jantung Graciella terasa sangat hangat dan berdetak lebih kencang. Dia benar-benar senang dipanggil seperti itu. Dia tersenyum sangat manis.
“Baiklah, Aku akan mengikutimu, suami,” ujar Graciella membalikkan keadaan. Sekarang Xavier yang tampak begitu senang dipanggil suami oleh Graciella. Xavier langsung mencium Graciella. Sebuah ciuman di awal pernikahan.
...****************...
__ADS_1
maaf jika banyak typo kak, aku cuma edit dikit, sudah terlalu malam wkwkkw