
Xavier membuka perlahan pintu kamarnya yang berderit sedikit. Dia lalu melihat ke arah ranjangnya. Istrinya sedang tertidur dengan ibunya.
Jam di dinding menunjukkan pukul tiga pagi. Xavier yang melihat ketengan yang ada di dalam kamarnya mengurungkan niatnya untuk masuk lebih dalam ke kamarnya.
Tapi baru saja dia ingin menutup pintunya lagi. Entah memang terganggu atau memang istrinya itu tidak tidur dengan nyenyak. Graciella tampak langsung terduduk.
"Xavier?" Panggilnya sedikit pelan. Wajah bangun tidurnya cukup ketara.
Xavier mau tak mau membuka kembali pintu yang tadinya dia ingin tutup. Melangkah perlahan menuju ke arah istrinya yang menatap harap agar dia mendekatinya.
"Kau baru pulang?" tanya Graciella menatap ke arah jam waker yang ada di meja kecil samping tempat tidurnya. Pukul tiga pagi.
"Ya, baru saja," jawab Xavier pelan sambil berjongkok di depan istrinya yang duduk di pinggir ranjang. "Kau tidak tidur dengan baik ya?" Suara Xavier dikecilkannya agar tak mengganggu ibunya.
"Tidak, aku tidur dengan baik. Tapi memang akhir-akhir ini aku menjadi sering terbangun pagi begini. Sepertinya memang bawaan bayi," ujar Graciella dengan senyumannya. Mengusap benih cintanya yang berkembang di perutnya.
Xavier tersenyum dengan cukup manis mendengar hal itu.
"Bagaimana?" tanya Graciella. Salah satu hal yang membuatnya tidak bisa tidur tentu saja karena rasa penasarannya yang begitu besar tentang kasus ini.
"Tuan Peter adalah pelakunya," jawab Xavier dengan wajahnya yang sedikit masih tidak bisa menerima.
"Benarkah? tapi aku rasa bukan hanya dia yang terlibat," ujar Graciella cukup kaget.
"Ya, aku juga merasa begitu."
Graciella merasakan ibu mertuanya yang sedikit menggeliat. Mungkin terusik dengan suara dari Xavier dan dirinya.
"Sepertinya kita harus pindah ke kamar yang lain," ujar Graciella.
"Ya." Xavier langsung berdiri dan mencoba untuk membantu Graciella berdiri. Greciella hanya tersenyum. Ingin mengatakan bahwa dia tak perlu sampai dibantu begitu, tapi takut suaminya malah merasa dia menolak niat baiknya.
__ADS_1
Xavier membuka kamar tamu yang lebih kecil dari kamar utama mereka. Ranjangnya pun tak selebar kamar mereka. Tapi cukup untuk mereka berdua.
"Ingin mandi? Aku sediakan air panasnya dulu ya," ujar Graciella melihat Xavier yang sudah membuka jaketnya. Xavier dengan cepat menangkap tangan istrinya.
"Tak perlu. Aku bisa melakukannya sendiri. Pagi begini jangan terlalu banyak terkena air. Jaga keadaanmu," ujar Xavier lagi menarik lembut Graciella.
"Baiklah, maafkan aku belum bisa menjadi istri yang baik. Kau terlalu cepat menghamiliku," ujar Graciella yang merasa belum bisa melayani Xavier dengan baik semenjak mereka menikah.
Mendengarkan hal itu membuat Xavier menaikkan sudut bibirnya dan membuka perlahan kancing baju dinasnya.
Tapi baru saja dia membuka kancing yang ketiga. Tiba-tiba terdengar suara bel yang langsung membuat Xavier dan Graciella saling pandang.
"Siapa pagi-pagi begini?" Tanya Graciella bingung.
"Pasti sesuatu yang mendesak," ujar Xavier yang lekas kembali mengancingkan bajunya. Tak mungkin ada yang berani membunyikan bel kediamannya pagi-pagi buta begini kalau tidak ada masalah.
Xavier langsung keluar dari kamar itu. Graciella mengikutinya dari belakang. Begitu Xavier membuka pintu itu. Dia melihat wajah Arnold yang tadi juga ikut dengannya tampak sedikit cemas.
"Ada apa?" Tanya Xavier yang tahu pasti ada kabar buruk.
"Darurat bagaimana?" tanya Xavier langsung tegang. Jika Arnold sudah melaporkan keadaan darurat padanya, maka keadaan memang darurat.
"Ada masa yang bergerak menuju istana kepresidenan. Mereka sudah mengepungnya. Anda diminta untuk datang secepatnya bertemu dengan Presiden," ujar Arnold segera.
Xavier mengerutkan dahinya lebih dalam, dia memandang Graciella yang hanya bisa diam mendengarkan laporan Arnold.
"Baik, aku akan pergi sekarang," jawab Xavier tanpa ragu segera masuk ke dalam rumahnya. Dia sigap mengambil barang-barang keperluannya tanpa memperhatikan Graciella yang tampak bingung dia harus apa. Baru pertama kali dia melihat Xavier begitu tegang.
Saat Xavier mengganti pakaian dinasnya dengan pakaian yang biasa dia gunakan untuk bertemu dengan Presiden. Ponselnya tampak bergetar. Graciella segera melihat ke arah layar. Nama Stevan muncul di sana.
"Dari siapa?" tanya Xavier memperbaiki kerah bajunya.
__ADS_1
"Stevan," ujar Graciella pelan.
Xavier mengambil ponsel itu dan mengangkat panggilannya.
"Halo?" Jawab Xavier. Seketika saja setelah itu matanya langsung membesar. Tampak sekali dia terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Stevan. "Kudeta?! Baiklah, kita bertemu di sana," ujar Xavier langsung menutup panggilan itu.
"Xavier, ada apa?" Tanya Graciella yang tiba-tiba merasa cemas dengan semua ini. Xavier harus pergi ke tempat yang sudah dikepung oleh masa. Bukannya itu berbahaya?
"Keadaan sedang sedikit kacau. Antony memimpin kudeta," ujar Xavier sambil terus melakukan hal yang dia harus lakukan, dia harus cepat.
"Kudeta? bagaimana bisa?" ujar Graciella kaget.
"Sepertinya ini semua memang sudah jadi rencananya. Dia ingin cepat menumbangkan kekuasaan Presiden yang sekarang. Dia mendapatkan dukungan penuh dari masyarakat ketika sberhasil memecahkan kasus ini. Dia memang sudah merencanakannya.” Tekan Xavier lagi.
Graciella menggigit bibirnya. Kalau begitu, sama saja dia sudah membantu Antony untuk melakukan kudeta pada pemerintah. Entah kenapa sekarang Graciella menyesali sudah pernah mengambil pekerjaan itu dari tangan Antony.
“Jangan khawatir.” Xavier memegang lengan atas istrinya dengan lembut. Dia tahu dari wajah Graciella yang langsung berubah khawatir dan juga sedikit cemas.
“Aku hanya merasa bersalah sudah melakukan ini. Seharusnya aku, aku ….” ujar Graciella. Dia tahu Antony mencari dukungan dari kasus ini. Tapi dia tidak tahu bahwa Antony akan melakukan hal senekat ini. Melakukan kudeta pada pemerintah. Graciella benar-benar merasa bersalah. Apalagi sekarang bisa dikatakan Xavier mendapatkan imbas dari perbuatannya.
“Tidak ada yang tahu dia akan melakukan hal itu. Aku juga terkejut dia melakukan hal ini. Tapi, tak perlu khawatir. Aku yakin dia tidak berani melakukan kerusuhan. Dia mengusung perdamaian dan keadilan. Pastilah tidak ingin membuat negara ini menjadi bermasalah,” ujar Xavier lagi.
Graciella mengangguk pelan. Walaupun hatinya belum tenang tapi dia harus mengerti. Tidak boleh juga membuat Xavier merasa khawatir tentang dirinya. Saat ini, negaranya membutuhkan dirinya.
“Aku harus pergi sekarang,” ujar Xavier mengecup kembali dahi istrinya.
“Baiklah,” ujar Graciella. Xavier langsung keluar dari kamar itu dengan langkahnya yang cepat. Graciella hanya melihat suaminya yang langsung masuk ke dalam mobilnya. Xavier langsung membuka kaca mobilnya.
“Masuklah dan istirahat lagi jika bisa,” teriak Xavier sedikit keras agar Graciella yang berdiri di depan pintunya bisa mendengarkannya.
“Ya, bisa beritahu aku keadaanmu jika bisa,” ujar Graciella segera.
__ADS_1
Xavier hanya mengangguk. Graciella walaupun enggan akhirnya masuk dan menutup pintunya. Melihat hal itu Xavier secepatnya menutup kaca. Waktunya tak banyak. Dia harus bergegas ke istana kepresidenan sekarang.
“Jalan!”