Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 296. Aku tidak ingin berperan sebagai korban.


__ADS_3

Plak!


Suara tamparan yang luar biasa keras terdengar menggema di salah satu ruangan istana kepresidenan. Antony menahan rasa panas yang perlahan berubah menjadi nyeri yang menjalar hingga membuat telinganya berdengung.


“Apa kau sudah gila, Antony!” teriak suara pria dengan wajahnya yang sudah berubah memerah. Mata menyala-nyala penuh emosi yang ingin dituntaskan. Napasnya sangat dalam merasakan desakan amarah yang merambah setiap urat nadinya.


Antony hanya menatap ke arah ayahnya yang berwajah bengis. Antony mengunci bibirnya dengan rapat. Tidak ingin menanggapi kemarahan sang ayah.


“Jawab Ayah!” teriak ayah Antony sambil menantang Antony hingga sang Ibu harus menarik tubuh sang suami agar tidak menerkam putranya. “Kenapa kau malah mengumumkan bahwa kau akan turun dari jabatan kepresidenan?! Kau tahu apa yang sudah aku lakukan untuk membuatmu menjadi seperti ini?! Membuatmu menjadi seorang presiden!” cerca dan teriak ayah Antony dengan berapi-api.


Tentu saja dia kaget dengan semua hal ini. Hidupnya yang begitu tenang dan damai tiba-tiba terusik dengan keadaan yang membuatnya terlonjak dari tidurnya. Kasus perselingkuhan yang menyeruak sudah membuat kepalanya berdenyut. Saat melihat Antony memutuskan untuk melakukan konferensi pers. Ayahnya berpikir Antony akan segera menjelaskan dan meluruskan semua hal ini. Tapi apa yang disampaikan oleh Antony malah langsung membuatnya seperti tersambar petir. Bagaimana bisa anaknya ini mengumumkan bahwa dia akan turun dari posisinya sekarang.


“Apa yang aku lakukan adalah yang terbaik!” kata Antony akhirnya menjawab perkataan sang ayah.

__ADS_1


“Apa yang kau maksud dengan ‘yang terbaik!’ dengan turun dari jabatanmu! Apa kau sudah gila! Kau tahu berapa banyak orang yang menginginkan jabatanmu ini! Kau tahu itu! Aku sudah mencurahkan seluruh harta dan pemikiranku hanya untuk membuatmu sampai di puncak ini dan kau dengan mudahnya mengatakan untuk mundur!” teriak ayah Antony lagi.


“Kalau begitu kenapa tidak Ayah saja yang maju menjadi Presiden. Aku tidak pernah ingin menjadi Presiden. Dan apa yang menjadikan aku setuju menjadi Presiden sudah aku dapatkan, karena itu aku mundur. Lagipula, elektabilitas ku menjadi seorang Presiden sudah turun dengan semua ini. Bermain menjadi seorang korban, itu bukan hal yang akan aku lakukan.” Antony menatap tegas ke arah ayahnya. Wajahnya yang tenang mengusik semua orang yang melihatnya.


“Kau!!” Sang Ayah langsung menunjuk wajah Antony dengan segala emosinya yang dia tahan, hal itu membuat tubuh Ayah Antony bergetar begitu kuat.


“Suamiku, jangan begini. Antony! Jangan berpikiran seperti itu pada Ayahmu. Dia tidak mungkin ingin kau bertindak menjadi seorang korban.” Ibu Antony mencoba menenangkan sang suami. Takut jika tiba-tiba sang suami malah ambruk karena tingkah sang anak.


“Jangan berkata lembut seperti itu Ibu. Aku tahu sebenarnya ibu juga tahu bahwa Ayah ingin aku menceraikan Adelia dan membuat seolah-olah semuanya adalah kesalahannya sehingga orang bersimpati kepadaku. Ibu, apakah ibu tega melakukan hal seperti itu pada seorang wanita? Adelia, akan menanggung semuanya.” Antony melihat ke arah sang Ibu yang sebenarnya serba salah. Dia tidak ingin Antony melakukan itu pada Adelia, bagaimana pun dia tahu wanita itu adalah wanita yang baik. Tapi, tentunya tanpa itu, mimpi suaminya pun akan hancur.


“Kalau begitu, aku sudah hangus Ayah.” Antony menatap ke arah ayahnya dengan suara yang lirik. Tatapan matanya yang tadi tegas perlahan berubah menjadi sendu, lembut, tapi juga menyentuh.


“Apa maksudmu, Nak?” tanya Ibu Antony bingung. Kenapa Adelia yang terbakar api akibat ulahnya, tapi Antony yang mengaku hangus?

__ADS_1


“Karena aku sudah bermain api lebih dahulu. Adelia melakukan semua itu karena aku sama sekali tidak mencintainya. Aku tidak pernah bisa mencintai dirinya dan aku membuatnya seperti itu. Dia dan pria itu, mereka sama sekali tidak punya hubungan tapi karena aku yang sangat keras kepala, aku mengabaikannya. Hal itu dilakukan oleh Adelia karena aku meminta cerai darinya. Dan dia mengorbankan dirinya juga nama baiknya hanya agar kami bisa berpisah.” Antony memutar balikkan kenyataan agar keluarganya tidak menuduh Adelia. Walaupun mungkin tak ada maksud Adelia melakukan hal itu untuk lepas darinya, dan semua ini hanya sebuah salah paham belaka. Atau memang Adelia punya perasaan lebih pada Raftan, Antony tidak peduli. Tapi dia tidak ingin wanita itu disalahkan oleh keluarganya, karena dia tahu, akar masalah ini semua adalah dirinya. “Aku akan punya anak dari wanita lain.”


Seketika ruangan yang hanya diisi oleh mereka bertiga terasa hening. Wajah ayah dan ibu Antony terlihat syok dan benar-benar tidak percaya apa yang baru saja keluar dari mulut sang Putra. Anak?! Dari wanita lain!


“Apa!! Apa yang kau katakan itu Antony!” teriak Ayah Antony. Untung saja keadaan fisiknya baik-baik saja sehingga dia tidak mengalami serangan jantung atau apa pun walaupun sekarang kepalanya bagaikan dihantam palu gada dan dadanya seperti terikat erat, terlilit tambang yang meyesakkan.


“Aku punya anak dari wanita lain, dan aku ingin menikahinya sebelum anak kami lahir. Jadi aku rasa, Aku tetap akan turun dari kedudukan kepresidenan ini walaupun Adelia tidak melakukan hal ini untukku. Dan Ayah, semua ini salahku. Jika Ayah tak ingin lagi mengakui diriku sebagai anak. Aku akan menerimanya. Tapi, apa pun yang terjadi, aku akan menikahi wanita itu,” kata Antony dengan wajah yang kembali tegas dan tak kenal ragu.


Ayah Antony hanya menggeleng pelan. Tak tahu lagi apa yang harus dia katakan pada putranya yang ternyata sangat hancur ini. Dia selalu bangga akan putranya yang sedari dulu berprestasi dan menjadi begitu sempurna. Tapi ternyata … Ayah Antony hanya bisa terduduk dengan mata yang tak sanggup lagi menerima segala kejutan demi kejutan yang diberikan oleh anaknya ini.


Ibu Antony pun tak tahu harus bagaimana lagi. Dia hanya duduk di samping sang suami sambil mengelus pundaknya. Air mata yang menjadi senjatanya hanya bisa mengalir begitu saja. Antony pun hanya menatap keduanya, seumur hidup menjadi boneka sempurna untuk kedua orang tuanya. Sekarang, dia ingin lepas.


Antony berjalan meninggalkan ruangan itu. Tak ada lagi yang ingin dia katakan atau bahas karena dia yakin ayahnya sekarang pun tak akan ingin lagi melihat dirinya.

__ADS_1


“Antony! Antony!” teriak seorang pria dengan suara gemetar berjalan ke arahnya. Susah payah menembus pertahanan dari paspamres yang sekarang masih bersiaga di istana kepresidenan itu.  Tentu saja hal itu membuat langkah tegas Antony terhenti seketika.


Mata pria itu menatap Antony dengan mata memerah dan tubuh gemetar. Memegang erat lengan atas Antony dengan bibir yang terlihat sangat sulit terbuka. “Di mana Adelia?”


__ADS_2