
“Graciella! Jangan membuatku kesal!” ujar Xavier langsung menangkap pipi Graciella dan langsung mencium wanita itu.
Graciella membesarkan matanya mendapatkan serangan dari Xavier. Serangan yang ganas dan langsung begitu menggebu. Terlihat sekali bahwa Xavier sudah menahan emosinya sebisa mungkin. Graciella mendorong tubuh Xavier secara spontan.
Mendapat penolakan kembali dari Greciella. Xavier yang tadinya menggebu langsung menyudahi ciumannya.
"Kenapa mendorongku?" Tanya Xavier menatap manik mata yang jernih itu.
Graciella pun bingung. Dia tak tahu kenapa dia mendorong tubuh Xavier. Tapi dia merasa ini semua tidak benar. Mungkin dia masih ingat tentang statusnya. Menerima ciuman dari pria yang bukan suaminya. Rasanya hal yang tak baik
Mata Xavier bergerak-gerak menatap mata Gracilella. Tapi Greciella segera tertunduk karenanya. Xavier merasa tak nyaman. Apakah benar Graciella masih punya perasaan dengan Adrean hingga dia menolaknya?
Xavier menegakkan tubuhnya. Kembali duduk dengan posisinya. Wajahnya terlihat ketat. Graciella hanya mengerutkan dahinya. Sekarang dia malah merasa tak enak sudah membuat Xavier seperti itu.
"Kita ke mana?" Tanya Graciella mencoba mencairkan suasana. Wajah Xavier masih saja datar dan dingin.
"Markas militer," singkat Xavier seperti orang yang malas bebicara.
"Eh itu …."
"Kenapa? Kau juga menolak tinggal di tempatku?" Xavier melirik tajam ke arah Graciella seolah sedang menginterogasinya.
"Eh? bukan, tapi aku rasa itu tak pantas. Bukannya kau yang membuat peraturan agar tak sembarang orang untuk masuk ke dalam markas militer, tapi kau sendiri membawaku ke tempatmu. Apa yang akan dipikirkan oleh bawahanmu jika mereka melihat hal itu? bukannya akan membuat namamu menjadi jelek, mereka akan menjadi kurang menghormati mu. Pembuat peraturan tapi malah melanggarnya," ujar Graciella perlahan agar Xavier mengerti.
"Jadi kau ingin pulang kembali ke rumahmu?"
__ADS_1
Graciella tersenyum tipis. Nyatanya Xavier masih saja marah. "Aku tidak akan pulang ke rumah. Aku ke tempat Laura saja."
"Tidak bisa. Kemarin Adrean menjemputmu dengan mudahnya di sana. Kali ini dia pasti tahu kau pergi bersamaku. Aku melihatnya sebelum kita pergi dari sana tadi. Dia pasti akan melakukan sesuatu padamu." Xavier seolah berbicara pada bawahannya. Tegas tak bernada.
"Benarkah?" Tanya Graciella dengan wajah kagetnya. Dia langsung takut. Pria itu melihat mereka pergi. Pastilah Adrean akan marah besar dan benar bukan! Akhirnya ini akan menjadi alasan Adrean untuk menyalahkannya. Selama ini dia tak masalah jika Adrean menuduhnya yang tidak-tidak, dia bisa buktikan bahwa semua perkataan pria itu salah tentangnya. Tapi sekarang? Bagaimana dia membela dirinya. Bahkan jika ada saksi, Graciella lah yang salah.
Xavier melirik tajam pada Graciella yang terdiam dengan wajahnya yang bingung. Xavier semakin tak menyukai ekspresi yang di tunjukkan oleh Graciella. Apa dia begitu karena takut Adrean salah paham? Sial! Semakin melihat semakin dia yakin bahwa di dalam hati Graciella yang ada hanya Adrean.
"Fredy, ke villa Amethyst," Xavier memerintahkan langsung. Greciella melirik pria yang hanya diam saja.
"Siap komandan!" Jawab Fredy cepat.
"Kau boleh tinggal di rumah pribadiku. Aku akan meminta Fredy menjemput Laura untuk menemanimu di sana." Xavier hanya melirik ke arah Graciella.
Mendengar itu Greciella menjadi tak enak hati. Dia sudah kembali merepotkan orang-orang di sekitarnya.
"Hmm …." Deheman Xavier menjawab.
Hening menyelimuti sisa dari perjalanan itu. Mobil mereka segera masuk ke dalam sebuah rumah yang cukup besar. Bergaya minimalis modern.
Xavier segera membuka pintu mobilnya dan keluar begitu saja. Graciella hanya menarik napasnya. Dia tidak bermaksud membuat Xavier marah. Tapi ya sudahlah, mungkin lebih baik begini.
Graciella segera ingin membuka pintu di sisinya. Namun tiba-tiba saja pintu terbuka. Xavier ternyata ada di sana. Seperti biasanya, pria itu segera saja menyusupkan tangannya ke bawah kaki Graciella dan di belakang punggungnya. Dengan cepat langsung menggendong Graciella.
Graciella yang dulunya merasa risih dan takut di gendong oleh Xavier. Sekarang merasa sudah terbiasa dengan tingkah spontan pria ini.
__ADS_1
Xavier segera berjalan membawa Graciella untuk masuk ke dalam rumahnya. Graciella memandang wajah pria yang sekarang begitu dekat dengannya. Dia hanya menatap ke arah depan. Graciella ingat perkataan Laura, wajah tegas dan dingin milik Xavier memang sangat tampan.
“Ada apa?” tanya Xavier yang akhirnya menoleh ke arah Graciella.
“Tidak apa-apa," jawab Graciella yang sedikit kaget, salah tingkah karena tertangkap basah memandangi Xavier. “Kau tidak marah padaku?”
“Marah.” ujar Xavier begitu saja. Graciella mengerutkan dahinya. Kalau marah kenapa menggendongnya lagi? “Tapi bukan berarti aku melupakan kewajiban ku, lagi pula aku sudah mengatakannya. Hanya kematian yang membuatku menyerah untuk mendapatkan mu.” Xavier hanya melirik Graciella dengan cepat. Tapi hal itu membuat jantung Graciella tak karuan. Perlakuan dan juga perkataan Xavier itu membuat hangat perasaannya. Dia sekarang tak yakin apakah yang di dengarnya adalah suara jantungnya atau jantung Xavier.
Xavier mendudukkan Graciella di ruang tengah. Graciella hanya melihat pria itu sebelum dia pergi meninggalkan Graciella. Ternyata benar, Xavier masih marah.
“Nona, apakah Anda butuh sesuatu?” seorang wanita datang menghampiri Graciella. Dari perilakunya Graciella berasumsi dia salah satu pelayan di sini.
“Eh, tidak," ujar Graciella seadanya. Xavier sudah meninggalkannya cukup lama.
“Tuan sedang ada pekerjaan. Beliau mengatakan jika ingin tidur, Anda bisa tidur dahulu, saya di minta membantu Anda untuk berjalan ke kamar Anda,” ujar pelayan itu lagi.
“Eh, kata Xavier dia ingin menjemput temanku untuk datang ke mari, apakah dia jadi menjemputnya?” tanya Graciella. Dia menunggu Laura untuk datang.
“Maaf Nona, tentang itu, Tuan tidak memberitahukannya pada saya," ujar pelayan itu lagi sopan.
“Oh, ya, aku mengerti.” Graciella mengangguk kecil. Dia kembali melihat ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul 21.
Tak lama tiba-tiba suara bel berbunyi. Graciella dan pelayan itu refleks melihat ke arah pintu yang ada di belakang Graciella. Apakah itu Laura? Pikir Graciella.
Pelayan itu segera ingin menuju ke arah pintu, tapi langkahnya langsung dihentikan oleh Fredy yang baru saja keluar dari salah satu ruangan di sana. Graciella mengerutkan dahinya melihat hal itu.
__ADS_1
Fredy segera membuka pintu. Graciella terus mengamatinya, mana tahu di balik pintu itu benar-benar adalah sahabatnya yang bermulut besar tapi setia, si Laura, pikir Graciella. Namun Graciella sedikit mengerutkan dahinya ketika melihat Fredy tiba-tiba memberikan hormat pada orang yang ada di balik pintu itu. Siapa itu? tak mungkin Fredy memberikan hormat pada Laura.
Pintu itu terbuka lebih lebar, memunculkan sosok yang menggunakan jas semi formal berwarna biru dongker. Pria itu segera membesarkan matanya menemukan Graciella yang ada di ruang tengah.