
“Nona, ini makanan Anda.” Seorang pelayan wanita meletakkan senampan makanan pada meja di dekat Laura sedang duduk. Dia bergeming diam menatap tembok berwarna abu-abu itu. Pandangannya kosong.
Pelayan itu lalu melihat piring dan makanan yang tadi pagi dia bawa. Tak tersentuh sedikit pun. Sepertinya Nona ini tidak memakannya sama sekali.
“Nona, Anda tidak sarapan?” tanya pelayan itu menatap Laura. Tadi malam pun wanita ini tidak makan atau pun meminum apa yang dia bawa.
Laura hanya diam. Tapi tak lama dia menatap ke arah pelayan itu. Wajahnya cukup pucat dengan mata bengkak karena menangis semalaman.
“Aku tidak ingin makan kecuali Antony datang ke mari,” ucap Laura dengan datar.
“Tuan Presiden sedang pergi untuk kunjungan keluar negeri. Dia ada di sana lebih dari tiga hari. Jika Anda menunggunya. Maka Anda tidak akan makan tiga hari. Lebih baik nikmati saja makanan ini. Tidak perlu menyiksa diri dan merepotkan kami.” Max tiba-tiba saja muncul dari pintu besi berwarna senada dengan dindingnya.
Laura menatap pria menyeramkan itu. Dari awal dia sudah punya firasat bahwa pria ini memang tidak menyukainya. Perkataan dan perlakuannya terkadang ketus dan kasar. Karena itu dia tidak ingin berhubungan dengan pria ini.
“Biar saja,” acuh Laura.
“Anda bisa dehidrasi jika tidak makan dan minum dalam waktu yang lama,” ujar pelayan wanita itu dengan sedikit khawatir.
Laura tahu. Tentu saja dia tahu. Bukannya sebelumnya dia juga seorang dokter. Dia tahu tubuh bisa bertahan beberapa minggu tanpa makanan. Tapi jika tanpa minuman, hanya beberapa hari saja. Tapi dia tidak ingin makan dan minum sekarang. Bukan karena dia menyukai makanan yang diberikan. Makan itu lebih dari makanan di restoran bintang lima. Bahkan lebih lengkap dengan sayur dan buahnya.
Tapi ini adalah bentuk protesnya. Dia sudah diculik, dipaksa, sekarang dikurung bagaikan seorang penjahat. Dia tahu dia salah, tapi bukannya seharusnya dia tidak perlakukan seperti ini. Biar saja, toh memikirkan akan disekap begini selamanya membuatnya sangat frustasi. Belum lagi ancaman Antony terhadap orang tuanya. Jika dia benar mengatakan pada orangtuanya dia sudah meninggal. Dia berpikir lebih baik dia benar-benar meninggal saja.
Kali ini dia merasakan bagaimana perasaan Graciella. Bahkan baru begini saja dia sudah berpikir untuk mati, bagaimana lagi perasaan Graciella yang kehilangan putrinya dulu.
Max menarik napasnya panjang melihat kebungkaman Laura. “Biarkan saja. Jika memang tidak mau makan itu bukan salah kita. Kita sudah melayaninya dengan baik. Biarkan saja.”
__ADS_1
Max melirik ke arah Laura yang kembali terdiam memeluk lututnya sambil melihat dinding kelabu itu. Pelayan wanita mengambil piring sarapan dan segera keluar karena Max sudah menunggunya. Tak lama terdengar suara bantingan pintu besi itu kuat. Membuat Laura sedikit tersentak kaget.
Laura menelan ludahnya yang terasa pahit. Air matanya yang panah kembali mengalir. Apa salahnya jika dia tidak ingin menikahi pria itu? Apa salahnya jika dia kabur untuk mencari kesenangannya. Apa salahnya jika dia tidak bisa mencintai Antony?
Laura kembali menggigil efek dari kekurangan gula yang mulai dia rasakan. Nyatanya menangis saja dia sudah tidak kuat. Perutnya sudah perih dari tadi pagi. Sangat perih hingga rasanya mungkin lambungnya mulai mencerna dirinya sendiri.
Laura memilih untuk membaringkan tubuhnya. Perlahan lahan hingga akhirnya dia kehilangan kesadarannya. Entah tertidur atau pun pingsan. Bahkan dia sudah tidak menyadarinya.
...****************...
Antony baru saja turun dari pesawat kepresidenannya. Tiga hari kunjungan kerja ke negara lain membuatnya sangat sibuk hingga hanya bisa mengetahui kabar Laura dari laporan Max. Dia juga tidak bisa memeriksa CCTV, karena ponsel yang dia bawa bukanlah ponsel yang bisa memantau keadaannya.
Adelia berjalan perlahan di belakang suaminya. Untunglah ini sudah cukup malam hingga mereka tak perlu terlalu berpura-pura mesra di hadapan semua wartawan. Mereka segera masuk ke dalam mobil dan melaju ke arah Istana Kepresidenan.
“Bagaimana keadaan kudaku?” tanya Antony yang baru bisa menghubungi Max setelah delapan belas jam perjalanan tanpa berita. Kuda adalah kode mereka untuk Laura.
“Saat ini dia tenang di dalam kandangnya Tuan,” lapor Max.
“Baiklah.” Antony segera memutuskan panggilan itu.
Adelia melirik suaminya. Entah sejak kapan atau memang dia yang belum mengenal suaminya dengan baik. Tapi selama perjalanan ini. Adelia menangkap bahwa beberapa kali Antony menanyakan tentang ‘kuda’-nya. Sepertinya pria ini benar-benar menyukainya.
“Sejak kapan kau memiliki peliharaan?” tanya Adelia lembut. Khas dirinya.
“Baru-baru saja.”
__ADS_1
“Oh, boleh aku bertemu dengannya. Aku juga menyukai kuda dari kecil.”
“Lebih baik jangan.” Antony melirik ke arah Adelia dengan serius. Tapi tiba-tiba satu sudut bibirnya naik. “Dia belum dijinakkan.”
Adelia melihat itu sedikit kaget. Selama beberapa bulan ini bahkan dia tidak pernah melihat Antony tersenyum padanya. Tapi malam ini, walaupun hanya sekilas saja. Dia menjadi begiti senang. Apakah ini tandanya hubungan mereka sudah membaik?
Mereka segera tiba di istana kepresidenan. Antony berjalan masuk lebih dahulu. Adelia mengikutinya dari belakang. Saat Antony melewati ruangan kerjanya. Antony langsung terhenti seketika yang membuat Adelia langsung kaget.
“Ada yang harus ku bereskan lagi,” ujar Antony segera.
Adelia mengerutkan dahinya. Mereka baru pulang dari dinas kenegaraan di mana di sana Antony sangat-sangat sibuk. Sampai di rumah, dia kira pria ini akan istirahat tapi nyatanya dia ingin langsung bekerja. Apakah ini cara Antony melampiaskan semuanya?
“Tidak bisa menunggu besok? Kau sudah cukup lelah. Lebih baik istirahat dulu. Kesehatanmu juga sangat penting bukan?” kata Adelia yang sedikit khawatir.
“Tak masalah. Aku tidak lelah. Aku masuk dulu,” ujar Antony segera masuk ke dalam ruangan kerjanya.
Adelia ingin mencegahnya. Tapi Antony sudah masuk dan terdengar suara dia mengunci pintu ruangan kerja itu. Mendengar itu pastinya sebuah pertanda bahwa Antony sama sekali tidak ingin diganggu. Karena itu dia urungkan niatnya untuk berbicara lagi dengan Antony.
Antony berjalan di lorong yang cukup remang di tempat itu. Dia mengerutkan dahinya. Pantas saja Laura ketakutan melewati tempat ini. Bahkan dia sendiri merasa tak nyaman di sana. Suasananya dingin dan lembab. Dia tidak memeriksa keadaan di tempat ini terlebih dahulu dan hanya menerima laporan dari Max.
Tak lama Max segera membuka pintu besi tempat Laura tinggal. Antony mengerutkan dahinya, dia tahu bahwa ruangan itu memang cukup sempit. Tapi dia tidak tahu keadaannya yang lembab dan juga berbau tidak sedap. Sepertinya karena makanan basi atau apa yang ada di dalam.
Antony tadinya berharap melihat Laura yang mungkin ketakutan atau masih berusaha untuk menantangnya. Tapi yang dia dapatkan malah tubuh Laura yang terbaring di ranjangnya.
“Hei! Bangunlah!” suara Antony terdengar sedikit tinggi melihat tubuh Laura yang tidur membelakanginya.
__ADS_1