
"Diamlah!" suara dingin dan datar itu membuat Graciella langsung terdiam. Dia kenal suara berat itu. Dia langsung melihat ke arah atas. Melihat wajah tegas dengan kesan dingin dan mata tajam. Xavier hanya memandangnya sesaat lalu kembali menatap ke arah depan. Perlahan dia berjalan. “Ternyata kau lebih suka ada di sini dari pada ada di dekatku.” Xavier mengatakannya dengan nada sarkasnya.
Graciella hanya bisa terdiam. Wajah Xavier remang di bawah cahaya lampu yang tak terlalu terang. Graciella menggigit bibirnya. Rasa takutnya tiba-tiba hilang seketika. Berganti rasa aman tapi menyesakkan.
"Kenapa kau ada di sini?" tanya Gracilella bergetar.
"Perlukah aku menjawab kenapa aku ada di sini?" Xavier melirik Gracilella. Dia lalu kembali fokus ke jalannya.
"Bagaimana kau tahu aku di sini?"
Xavier tak langsung menjawab. Dia segera membuka kunci mobilnya, perlahan membuka pintu mobilnya karena dia tak mau menjatuhkan Graciella yang ada di gendongannya. Dengan pelan dia mendudukan Graciella.
Xavier menatap nanar pada kaki Graciella yang sudah kotor terlumuri darah dan tanah bahkan masih ada darah yang mengalir. Bagaimana dia bisa berlari dan berjalan dengan kaki seperti ini. Bahkan sebagai pria, Xavier yakin nyerinya sangat. Xavier tak ambil waktu lama. Dia segera masuk ke dalam mobilnya dan mulai melajukan mobilnya.
Graciella hanya menggigit kembali bibirnya. Dia melihat pria ini tampak marah. Terlihat beberapa kali dia mengencangkan otot pipinya.
"Aku meminta Fredy untuk melacak keberadaan mu," kata Xavier akhirnya menjawab pertanyaan yang sudah lama diutarakan oleh Graciella.
"Kenapa kau lakukan itu?"
Xavier mengerutkan dahinya. "Apakah itu juga harus aku jawab? kira-kira kenapa aku harus melacakmu? aku rasa kakimu saja yang luka, bukan kepala mu," ujar Xavier lagi. Dia kesal, kenapa Graciella masih saja ingin berdekatan dengan pria seperti Adrean. Apakah dia tak lebih baik dari pria bre'ngsek itu?
"Aku mencemaskanmu." Xavier mengucapkan dengan nada yang kaku. Graciella mengerutkan dahi dan alisnya. Dia hanya bisa memandangi pria itu. Mulutnya sekarang terasa kelu untuk berucap. Kata-kata Xavier sebenarnya sangat dingin. Tapi kenapa? hangatnya sangat terasa di hati Graciella.
Graciella hanya memandang ke arah Xavier. Pria ini? kenapa sekarang selalu ada dalam hidupnya? padahal dari awal dia sudah ingin menjauhinya. Tapi semakin menjauh, semakin dekat pula mereka. Kali ini dia menolong Graciella lagi. Kenapa?
Untuk pertama kali, selama hidupnya yang tragis ini. Ada orang yang mencemaskannya. Yang begitu khawatir hingga melakukan hal seperti ini. Graciella tiba-tiba merasakan rasa aman dan nyaman yang sudah begitu lama hilang. Bagaimana ini? dia takut akan kembali memerlukan rasa nyaman seperti ini lagi.
__ADS_1
Graciella lalu menundukkan kepalanya untuk menutupi air matanya yang tak lagi bisa dia bendung. Kehangatan ini? kenapa harus dia rasakan lagi? kenapa harus dengan pria ini? padahal dia tahu, dia dan Xavier tak mungkin bersatu.
Xavier mengerutkan dahinya mendengar suara tangis tertahan dari Graciella. Dia juga melihat air mata menetes jatuh. Xavier langsung terlihat cemas. Dia kira Graciella menangis karena merasakan sakit di kakinya. Yang dia tak tahu, Graciella menangis karena dirinya.
“Bertahanlah. Aku akan langsung membawamu ke rumah sakit," ujar Xavier melajukan mobilnya cepat
Graciella hanya mengangguk pelan. Namun dia masih menutupi wajahnya dan tangisnya. Dia benar-benar tak mengerti bagaimana nasibnya sebenarnya. Pria yang berjanji di hadapan Tuhan akan menjaganya baik sehat ataupun sakit, malah memberikannya pada pria lain. Pria yang tak pernah dia bayangkan akan datang, malah selalu ada memberikannya segala perhatian. Graciella harus bagaimana?
****************
"Lukanya cukup dalam, tapi aku rasa tak apa. Nona ini juga sudah disuntikkan anti tetanus serum. Jahitannya jangan dulu terkena air. Kita akan memeriksanya lagi setelah tiga hari." Dokter menjelaskan keadaan Graciella. Dokter itu saja sampai kaget bagaimana kaca sepanjang lima inci bisa terbenam begitu dalam di kaki Graciella.
"Baik. Terimakasih," ujar Xavier segera mengangguk. Dokter itu segera pergi dari sana. Xavier hanya melihat ke arah Graciella. Wanita itu langsung tertidur ketika dia dipindahkan di ruang perawatan.
Xavier melepaskan jasnya dan meletakkannya ke kursi yang ada di dekat ranjang Graciella. Dia langsung duduk di sana. Kembali menatap wajah polos Graciella. Dia tak tahu bagaimana Graciella bisa melewati hal ini. Saat pemeriksaan tadi, bukan hanya kakinya saja yang terluka. Banyak luka di tubuh Graciella bahkan kulit tangannya ada yang terkelupas mungkin karena kaca yang dia genggam tadi.
"Ada apa?" tanya Xavier yang kaget melihat Graciella membuka matanya. "Apa ada yang sakit?"
Graciella mengerutkan dahinya. Lalu menggeleng pelan.
"Apa aku sudah boleh pulang?" tanya Graciella. Dia memang seorang dokter, tapi dia paling benci dirawat di rumah sakit.
"Dokter tidak mengizinkan," kata Xavier singkat saja.
"Aku rasa aku tidak apa-apa, itu hanya luka jahitan."
"Dua puluh jahitan."
__ADS_1
"Mau berapa banyak yang penting sudah terjahit. Aku ingin pulang, aku tahu, aku kan dokter," kata Graciella langsung ingin duduk. Tapi kali ini dia baru sadar bahwa keseluruhan tubuhnya nyeri. Graciella meringis kesakitan.
"Jangan bergerak. Tidurlah. Jangan keras kepala," ujar Xavier. Graciella mendengar itu tentu mengerutkan dahinya, Bukannya Xavier yang keras kepala?
Xavier mengambil gelas dan menuangkan air lalu meletakkan sebuah sedotan agar Graciella mudah meminumnya. "Minumlah, bibirmu kering."
Graciella mengerutkan dahinya. Bagaimana bisa Xavier memperhatikan bibirnya. Graciella mau tak mau mengikuti keinginan pria ini.
"Terimakasih," kata Graciella.
"Hmm."
Graciella memperhatikan pria itu. Dia sedikit canggung berduaan dengan Xavier. Harus apa dia sekarang?
"Ehm, sudah malam, aku juga sudah tidak apa-apa. Jika ingin, kau boleh pulang sekarang." Graciella tak ingin membuat repot Xavier.
"Tak bisa pulang, kau malah mengusirku? Huh?" Xavier mendekatkan wajahnya ke arah Graciella yang langsung membesarkan matanya. "Sekali lagi kau bilang kata pulang! Ku cium kau!" Ujar Xavier yang langsung dijawab gelengan kepala oleh Graciella yang kaget dengan apa yang dilakukan dan diucapkan oleh Xavier. Dia serius atau tidak, Graciella tak tahu.
Xavier menaikkan sudut bibirnya. Graciella kaget melihat senyuman itu, ternyata sangat manis. "Tidurlah. Aku harus mengurus sesuatu. Jika sampai aku kembali kau belum tidur …." Xavier sedikit mengancam.
"Iya, iya, aku tidur! Jangan cium aku karena aku tidak tidur!" Graciella sedikit menggerutu. Ancamannya aneh sekali, pikir Graciella. Dia menggambil posisi untuk tidur.
Xavier kembali menaikkannya sudut bibirnya kembali. Dia tak menyangka lebih menyukai wajah kesal Graciella. Dia langsung keluar dari ruang perawatan Graciella.
"Fredy! Aku ingin kau menyelidiki semua tentang Adrean Han. Dan minta dokter di tempat kita untuk bersiap, besok aku ingin Graciella dipindahkan perawatannya ke tempat kita," perintah Xavier segera.
Dia harus tahu semua tentang pria itu sebelum melakukan langkah selanjutnya.
__ADS_1