Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 44. Katakan padaku apa yang kau mau?


__ADS_3

Graciella melihat ke arah Adrean. Tangannya sedikit gemetar memegang senjata yang disuguhkan oleh Adrean. Dia langsung mengambilnya sebelum pria itu menariknya kembali. Adrean hanya memberikan senyuman maklumnya. Dia memang patut ditakuti oleh Graciella.


Graciella segera memegang pistol tangan kecil itu dengan eratnya. Dia tak menyangka walaupun bentuknya kecil, beratnya ternyata cukup terasa. Graciella hanya menyipitkan matanya pada Adrean dan dengan cepat dia menodongkan pistol itu ke arah Adrean yang langsung mengerutkan wajahnya.


Graciella tahu itu adalah pistol asli tapi dia tidak tahu apakah pistol itu terisi atau tidak, dia tidak mengerti cara memeriksanya. Jadi dia tak bisa percaya begitu saja dan merasa tenang. Dia harus yakin bahwa pistol ini bisa berfungsi dengan baik. Karena hal itu tangan Graciella menjadi gemetar melakukannya.


“Hati-hati menggunakannya, pistol itu terisi penuh, percayalah," ujar Adrean pada Graciella yang tampak tak gentar walaupun Graciella sudah menodongkan ujung pistol itu ke arahnya.


“Katakan padaku. Apa yang ingin kau lakukan padaku?” tanya Graciella dengan wajahnya yang serius mencoba menutupi keraguannya. Walaupun Adrean mengatakan dia hanya ingin membawa Graciella bertemu keluarganya tapi dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Adrean.


“Tidak ada, aku hanya ingin membawamu dengan keluargaku," jawab Adrean lagi.


“Aku tidak percaya. Untuk apa kau membawaku bertemu dengan keluargamu setelah sekian lama? Kenapa sekarang kau malah ingin melakukan itu?” tanya Graciella, hal ini sangat aneh baginya.


Adrean segera melangkah maju hingga ujung dari pistol itu menempel di dadanya. Tangan Adrean menggeser ujung senjata itu ke arah dada kirinya. Tepat di mana jantung berada.


Graciella melihat itu membesarkan matanya. Walaupun dia menodongkan pistol itu ke arah Adrean, tapi Graciella tidak punya niatan sama sekali untuk menembak Adrean. Tangannya semakin gemetar akibat ulah Adrean.

__ADS_1


Pintu lift itu terbuka menunjukkan beberapa penjaga Adrean yang ternyata menunggu di basemen. Mereka langsung kaget dan ingin melakukan tindakan karena melihat Graciella yang menodongkan pistol ke arah Adrean. Tapi Adrean menaikkan tangannya menunjukkan gestur agar para penjaganya tidak melakukan tindakan apapun.


“Aku hanya ingin kau bertemu dengan keluargaku. Aku pastikan aku tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh padamu lagi. Kali ini percayalah. Jika nantinya aku melakukan hal yang tidak sesuai dengan apa yang aku katakan sekarang. Kau boleh melakukan apapun?” Adrean berdiri semakin kukuh di depan Graciella.


“Kau yakin? bahkan jika aku berpisah denganmu?” tanya Graciella yang rasanya mendapatkan angin segar. Walau hanya janji palsu, kata-kata itu seperti sebuah oase di padang gurun yang sangat tandus.


Adrean melihat itu mengerutkan wajahnya. Ada raut kesal mendengar hal itu. Bagaimana pun dia tak suka Graciella meminta berpisah dengannya. Tapi dia sudah terlanjur mengatakan hal itu. Jika dia mengubah pernyataannya tadi, pastilah Graciella tak mau pergi dengannya.


Adrean menarik napasnya, mencoba menghalau emosinya yang biasanya cepat naik, “Hanya jika nantinya tidak sesuai dengan kata-kata yang aku ucapkan sekarang. Tapi aku tak yakin kau tetap akan mau bercerai denganku setelah ke acara ini.”


“Eh? Kenapa?" ujar Graciella mengerutkan dahinya.


"Baiklah," ujar Graciella tak memikirkan apa yang akan terjadi, toh dia yakin tak akan ada yang bisa mengubah pemikirannya untuk berpisah dengan pria ini. Lagipula setidaknya tak ada ruginya dia melakukan hal itu. Lagi pula jika memang pistol ini tak berisi, rasanya jika dia memukulkannya ke kepala Adrean akan terasa sakit juga. Graciella menarik pistol dari dada Adrean. Dia tetap menggenggamnya dengan erat.


Adrean kembali ke posisinya untuk mendorong Graciella. Para pengawal Adrean tidak melakukan apapun kecuali membuka jalan untuk Adrean membawa Graceilla yang langsung menuju ke arah mobil. Adrean segera ingin mengendong Graciella membantunya untuk masuk ke dalam mobil tapi dengan cepat Graciella menapis tangannya.


“Aku bisa sendiri," ujar Graciella yang sebisa mungkin berdiri. Adrean mengurungkan niatnya membantu Graciella untuk masuk ke dalam mobil itu. Tak lama Adrean masuk dan duduk di samping Graicella. Mobil mereka segera berjalan meninggalkan basemen.

__ADS_1


Graciella terus memegang erat pistol tangan yang tadi diberikan oleh Adrean. Dia tampak sangat waspada dengan semuanya. Berulang kali melihat jalanan dan juga keadaan di luar. Dia juga berpikir bagaimana caranya agar dia bisa dengan gampang memukul pria di sampingnya ini jika melakukan hal yang tidak-tidak. Graciella menggeser tubuhnya untuk duduk tidak terlalu dekat dengan pintu agar kejadian beberapa waktu yang lalu tidak lagi terjadi. Dia benar-benar berhati-hati. Tapi tampaknya mobil ini memang menuju ke arah rumah mereka.


“Apa keluargamu ada di rumah?” tanya Graciella yang terus melihat ke arah luar.


“Mereka ada di restoran Golden Pheonix. Kita akan ke sana setelah kau berpakaian dengan pantas, aku tidak ingin dikatakan suami yang menelantarkan istrinya," ujar Adrean yang tampak memperbaiki jas yang sedang dipakainya.


Graciella mengerutkan dahinya juga menyipitkan matanya menatap ke arah Adrean, “Bukannya memang itu yang sebenarnya?” gumam Graciella kecil. Adrean pura-pura tak mendengarnya. Dia sedang tak ingin mengubah moodnya yang sedang baik sekarang.


Graciella melihat mobil mereka masuk ke dalam garasi rumah. Graciella segera membuka pintu sebelum Adrean membukakannya. Dia berjalan perlahan, terkadang melompat tapi sesekali menggunakan kakinya yang terluka dengan cara berjinjit. Obat pereda rasa sakit itu bekerja bagus sekali padanya.


“Aku akan membantumu," ujar Adrean ingin memengang lengan Graciella. Graciella menggeser tangan Adrean tanda menolak. Dia tidak ingin tangan Adrean menyentuh dirinya. Graciella langsung menghempaskan tubuhnya saat salah satu penjaga itu mengeluarkan kursi rodanya.


“Aku tak ingin mengotori tanganmu. Aku bisa sendiri. Aku sudah terbiasa sendiri, jadi tidak perlu dibantu siapapun," sindir Graciella melirik ke arah Adrean. Adrean hanya menyipitkan sedikit matanya. Sikap Graciella ini, entah kenapa menjadi sangat menyebalkan. Tapi Dia berusaha tetap menjaga emosinya.


Graciella masuk ke dalam rumahnya. Saat pintu terbuka dia kaget melihat beberapa orang sudah menunggu di dalam. Dia juga melihat sebuah gaun berwarna putih tergeletak di sofanya. Graciella langsung mengerutkan dahinya.


“Ini istriku, dandani dia secepatnya, kami sudah di tunggu," ujar Adrean dengan entengnya.

__ADS_1


Orang-orang yang tadi berdiri melihat ke datangan Adrean langsung tersenyum manis pada Adrean. Salah satu dari mereka dengan sopan meminta izin mendorong Graciella ke kamarnya. Sebelum meninggalkan ruang tengah itu, Graciella melirik lagi ke arah pria yang sedang duduk santai sambil mulai menyalakan rokoknya. Siapa pria itu? Graciella tiba-tiba merasa tak mengenal Adrean.


__ADS_2