Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 40. Wrong Time!


__ADS_3

Graciella memukul kepalanya kecil, kenapa tidak melihat dulu apakah ada sabun atau tidak di dekatnya sebelum dia memutuskan untuk berendam. Graciella awalnya ingin berdiri, tapi karena hanya bertumpu dengan kedua tangannya yang memegang pinggiran bath up dan dia juga harus menjaga kakinya agar tak terkena air. Tapi tiba-tiba saja tangannya tergelincir dan membuatnya jatuh ke dalam air yang sudah hampir penuh.


“Aw!” pekik Graciella dan di sambut suara air yang beriak.


Xavier yang menunggu di luar langsung sigap ketika mendengar suara teriakan dari Graciella di dalam. Dia langsung masuk tanpa memikirkan apapun dan mendapati Graciella sudah terendam air. Xavier langsung membantu Graciella yang tampak tenggelam di air bath up. Dia menarik tubuh Graciella yang langsung menarik napas panjang dan terbatuk. Graciella langsung menyandarkan tubuh depannya ke dinding dari bath up itu. Menutupi tubuh bagian atasnya dari pandangan Xavier.


“Kau tidak apa-apa?” tanya Xavier yang berjongkok di depan Graciella yang tampak mencoba mengatur napasnya. Graciella yang mendengar suara itu perlahan melihat ke arah Xavier. Setelah otaknya bekerja, Graciella membesarkan matanya. Dia sama sekali tak menggunakan apapun di dalam bath up ini. 


Xavier yang melihat wajah Graciella yang awalnya lemas karena kehabisan napas malah berubah kaget hanya mengerutkan dahinya. 


“Apa yang kau lakukan di sini! pergi!” teriak Graciella yang langsung mendorong Xavier. Karena dorongan dari Graciella, Xavier hingga hampir jatuh terduduk di lantai kamar mandi. Untung saja dia refleks menahan tubuhnya dengan telapak tangannya.


“Ada apa?” tanya Xavier dengan polosnya. Tapi memang dia tidak punya pikiran tentang yang lain kecuali ingin menolong Graciella.


“Jangan berani melihatku! Tutup matamu!” ujar Graciella yang memeluk erat dinding bathupnya. Tapi karena Graciella mengatakan hal itu, Xavier baru sadar tentang apa yang terjadi sekarang.


Xavier menatap ke arah Graciella. Bahunya yang putih terekspose, begitu juga kakinya yang walau terlilit oleh kassa, entah kenapa tampak menggoda menjulur ke luar seperti itu. Melihat Xavier malah terpaku memandangi dirinya, Graciella malah jadi salah tingkah.


“Kenapa kau malah di sini? apa yang kau lihat?” tanya Gracilella dengan panik.

__ADS_1


Xavier yang sadar ditegur oleh Graciella langsung berdiri dan membalikkan tubuhnya. Graciella akhirnya kembali menghembuskan napas leganya. Bagaimana jika Xavier melihat tubuhnya yang polos saat ini? bukankah itu sangat memalukan?


“Jangan terlalu lama berendam, keadaanmu belum sehat sempurna,” ujar Xavier yang sedikit berat napasnya. Membayangkan kulit putih itu membuatnya sedikit bergejolak. Xavier sejujurnya tak ingin keluar dari sana, tapi dia tak mungkin ada di sana terus menerus.


“Komandan?” ujar Graciella. Xavier mengerutkan wajahnya. Kenapa Graciella ikut-ikutan memanggilnya komandan?


“Ada apa?” tanya Xavier.


“Bolehkah mengambilkan sabun itu untukku?” tanya Graciella. Mumpung Xavier ada di sini, dia bisa meminta tolong bukan?


Xavier dengan cepat melirik ke arah westafel dan melihat sebotol sabun cair ada di sana. Xavier langsung mengambilnya. Tapi saat hendak memberikannya, Xavier tahu, dia seharusnya tidak memberikannya langsung atau Graciella akan kembali berteriak. Xavier menarik napasnya panjang. Dia berjalan mundur sambil menyerahkan sabunnya ke arah belakang.


"Terima kasih," ujar Graciella sambil mengambil sabun cair itu. Xavier hanya mengangguk, saat itu dia tak sengaja melihat ke arah kaca yang nyatanya memunculkan pantulan apa yang sedang dikerjakan oleh Graciella. Wanita itu sedang menuangkan sabun cair di tangannya. Tubuhnya yang putih terlihat sedikit mengkilat karena basah. Xavier menelan ludahnya. Bagaimana pun dia pria normal, melihat itu, lonjakan ***** segera mencoba menerobos akal sehatnya. 


 "Bisa menunggu di luar saja. Jika selesai aku akan keluar." Graciella melihat Xavier yang masih terkaku membelakanginya.


"Panggil saja, aku akan kembali menggendongmu keluar," ujar Xavier segera berjalan keluar. Otaknya entah kenapa selalu memunculkan gambaran pantulan kaca itu. Tiga tahun yang lalu … tiba-tiba mata Xavier menyuram. Apakah jika Graciella tahu dia adalah pria yang merenggut keperawanannya dan membuat Adrean menyiksanya, dia akan bisa menerima Xavier? Bencikah dia dengannya? 


Seketika saja kebimbangan tentang perasaan Graciella membuat nafsunya hilang.

__ADS_1


Xavier menunggu cukup lama di depan kamar mandi itu. Suara nyanyian dari Graciella di dalam kamar mandi terkadang seolah menggodanya untuk melihat ke dalam, tapi sebisa mungkin dia tak melakukannya. Itu tindakan tak terpuji. Jadi dia hanya tersenyum sesekali mendengar suara riang Graciella. Dia menyukainya.


Xavier mendengar suara riak air yang kuat. Suara nyanyian dari Graciella pun tak terdengar lagi. Xavier yang tadinya bersandar langsung menegakkan tubuhnya. Apakah Graciella sudah selesai?


"Sudahkah?" teriak Xavier pada Graciella.


"Sudah, tapi aku bisa sendiri …." Ujar Graciella yang langsung membesarkan matanya ketika lagi-lagi Xavier sembarangan saja membuka pintu kamar mandinya. Bagaimana jika tadi dia belum selesai melilitkan handuk di tubuhnya. Dan lagi-lagi tanpa diminta, Xavier langsung saja menggendong Gracilella.


"Turunkan aku, aku bisa sendiri kok," ujar Graciella dengan wajah bersemu merah tanda dia malu. Di balik handuk ini dia tak menggunakan apapun.


"Melihat kau berjalan dengan satu kaki seperti itu, aku yang merasa ngilu," ujar Xavier yang mencium wangi segar seperti bunga sakura yang menyeruak dari tubuh Graciella. Dingin kulitnya terasa menyengat. Karena itu dia dengan cepat membawa Graciella ke ranjangnya. Mendudukannya dengan hati-hati di tepian ranjang. Xavier mencoba menghela napasnya yang berat, apalagi wajah Graciella yang memerah karena malu malah semakin menggodanya. Sekuat tenaga dia menahan kewarasannya agar tetap ditempatnya.


"Hei! aku pulang! kalian sedang a … wow! Wrong time!" ujar Laura yang melihat Xavier dan Graciella saling tatap. Matanya membesar melihat Graciella yang hanya terbalut handuk putih. 


Laura baru saja pulang untuk membeli beberapa bahan makanan tinggi protein agar Graciella cepat sembuh. Tapi pemandangan pertama yang dia lihat membuatnya langsung salah tingkah. "Lanjutkan! aku akan berbelanja lagi, aku lupa membeli udang!" ujar Laura yang sudah merasa mengganggu momen Xavier dan Graciella. Dan sebenarnya Xavier juga merasa begitu.


"Hei! Sahabat gila! Jangan pergi! Seharusnya kau yang membantuku! Bantu aku memakai baju!" Teriak Graciella pada Laura. Dia lalu melirik ke arah Xavier. Sudah cukup dia dibuat mati kutu dengan tingkah pria ini. Bagaimana pun dia bukan siapa-siapa.


"Ehm? Pak Komandan tidak mau memakaikan bajunya?" tanya Laura polos menatap ke arah Xavier dengan senyuman cengengesannya.

__ADS_1


Xavier yang melihat itu hanya menaikkan satu alisnya. Jika di perbolehkan pasti dia akan melakukannya.


__ADS_2