Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 184. Kaoru.


__ADS_3

Helikopter itu akhirnya mendarat di sebuah desa kecil yang terletak di bagian timur dari ibukota. Xavier segera membantu ibunya turun lalu membantu Graciella turun dari helikopter yang menerbangkan debu-debu dari tanah di sana. Tempat itu bukanlah tempat yang indah. Daerah tandus di tepi pantai yang tidak terawat.


Sebuah mobil Alphard sudah terparkir tak jauh dari sana. Monica segera menunjuk ke arah mobil  dan Xavier juga Graciella langsung berjalan menuju ke arah mobil itu.


“Selamat siang Nyonya, sudah lama tidak bertemu dengan Anda,” ujar supir itu membukakan pintu untuk Monica. Monica hanya mengangguk pelan. Dia memang sengaja memanggil supir yang selalu membawanya ke tempat Moira setiap kali dia ingin melihat keadaan cucunya itu. Tentu saja hal itu dia lakukan di belakang suaminya, biasanya setiap kali David Qing pergi keluar kota atau keluar negeri.


Xavier langsung membukakan pintu sisi lain untuk Graciella karena memang matahari di sana begitu menyengat. Panasnya khas sekali daerah pesisir. Xavier sendiri duduk di sebelah supir yang segera masuk ke dalam mobil dan bersiap mengemudi. Tanpa diberikan arahan pria yang berumur sekitar tiga puluh tahunan itu segera menjalankan mobilnya.


Graciella mengenggam tangannya melihat ke arah jalanan itu. Semakin roda itu berputar mendekat ke arah Moira semakin cemas pula hatinya. Ada perasaan cemas, senang, takut, juga perasaan gugup yang menyergap dirinya.Bagaimanakah Moira sekarang?


“Tak perlu begitu takut,” ujar Monica memegang tangan Graciella yang terasa sedikit dingin. Tak tahu karena memang AC di dalam mobil itu terlalu dingin atau memang karena gugup dirinya. “Dia ingat tentang kalian.”


Mata Graciella yang tampak khawatir itu menatap ke arah Monica. Entahlah, sepertinya itu yang dia takutkan. Dia takut, Moira mengingat dirinya dan Xavier hingga merasa dia ditelantarkan. Dia takut gadis kecilnya salah paham bahwa dia tidak diinginkan oleh kedua orang tuanya hingga memunculkan perasaan marah yang bisa saja berubah benci. Pelajaran psikologi yang dia pelajari membuat otaknya memunculkan kemungkinan dan kemungkinan yang tidak ingin dia pikirkan, tapi muncul begitu saja.


Xavier hanya melirik ke arah Graciella dari arah spion tengah mobil itu. Tapi dia hanya diam saja.


“Apa dia pernah bertanya kenapa dia tidak bersama dengan kami?” tanya Graciella menatap ke arah Monica.

__ADS_1


Monica tersenyum. Merasakan dan juga mengerti dari mana datangnya kekhawatiran itu. “Tidak, aku rasa walau umurnya masih sangat muda, Moira sudah cukup mengerti kenapa dia tidak bersama dengan kalian. Sebelumnya ibu dan ayah angkat Moira selalu mengatakan bahwa ada sebuah masalah yang membuat kalian tidak bsia bersama dengannya. Tapi kalian tetap memperhatikannya walau dari jauh. Moira tidak pernah bertanya lebih, dia hanya mengangguk. Itu pengakuan dari Ibu dan ayah angkatnya,” ujar Monica.


Graciella menggangguk pelan lalu dia melihat ke arah spion tengah. Matanya akhirnya berpaut dengan mata Xavier yang terus memperhatikan dirinya. Graciella hanya tersenyum sedikit kecut.


“Sudah, jangan berwajah ketat seperti itu. Sebentar lagi kita akan sampai. Itu, rumah itu yang ada di ujung jalan,” ujar Monica memeras tangan Graciella. Graciella mendengar itu langsung melihat ke arah depan. Tak susah menemukan rumah yang dimaksud oleh Monica karena rumah di sana hanya hitungan jari dan juga terletak berjauhan. Jika Monica mengatakan di ujung jalan, hanya satu rumah sederhana yang ada di sana.


Jantung Graciella berdegub begitu kencang. Dia bahkan seperti ingin bertemu dengan kekasih yang sudah begitu lama dia nantikan. Benar, Moira adalah separuh belahan jiwanya. Tentu saja hal ini normal jika dia begini.


Mobil mereka benar-benar berhenti di depan rumah sederhana itu. Kedatangan mereka menarik perhatian orang-orang yang ada di desa kecil itu.  Tentu mobil mewah seperti ini jarang sekali melewati tempat ini, bahkan jika boleh dikatakan, hanya mobil Monica inilah satu-satunya yang pernah masuk ke dalam desa itu.


Pintu mobil itu terbuka bersamaan dengan terbukanya pintu rumah itu. Seorang wanita berumur sapantaran dengan Graciella keluar dari sana dengan wajah penasaran tapi juga bingung. Saat dia melihat Monica, dia langsung tersenyum sungkan.


“Apa kabarmu, Anali?” tanya Monica dengan senyuman penuh kewibawaan.


“Saya baik, Nyonya,” ujar Anali yang wajahnya tampak bingung melihat Xavier dan juga Graciella yang baru turun dari mobil. Anali tidak pernah melihat Monica mengajak siapa pun untuk datang ke sini. Dia biasanya datang sendiri karena takut akan keselamatan dari Moira. Anali menatap ke arah wajah Xavier dan juga Graciella dengan seksama. Sekali saja melihat dia langsung tahu bahwa mereka berdua adalah ayah dan ibu kandung dari Moira.


Mobil mereka segera pergi mencari parkiran yang lain.

__ADS_1


“Bolehkah kami masuk, Anali?” tanya Monica lagi yang terdiam melihat Xavier dan juga Graciella.


“Oh, tentu Nyonya, silakan,” ujar Anali yang sedikit salah tingkah karena tertangkap menatap ke arah Graciella dan Xavier.


Anali segera membuka pintunya lebar, mempersilakan Monica untuk masuk, Xavier dan juga Graciella berjalan mendekat untuk mengikuti Monica yang sebelum masuk menoleh ke arah mereka seolah mengatakan untuk mengikuti dirinya.


Graciella yang melewati Anali hanya menatap wanita itu. Wanita itu sederhana, wajahnya penuh aura keibuan. Dia melemparkan senyuman kakunya pada Graciella yang cepat Graciella balas sebelum dia masuk ke dalam rumah itu.


Rumah Anali benar-benar sederhana. Ruang tamunya pun sangat kecil dan hanya berisi beberapa kursi kayu tanpa meja. Graciella mengamati rumah itu, dia bahkan bisa langsung melihat di rumah itu hanya ada dua kamar dan dapur. Udara di sana terasa begitu panas untuk siang hari ini, bahkan kipas angin pun tak ada. Hanya ada sebuah jendela kecil agar angin bisa masuk ke dalamnya.


Di sinikah anaknya tumbuh? Entah kenapa Graciella merasa sedikit miris merasakannya. Jika saja dia bisa bersama dengan Moira, pastilah dia tak perlu tumbuh di tempat ini.


“Graciella,” ujar Xavier kecil mengajak Graciella yang tampak mengamati segalanya untuk duduk. Graciella yang sadar bahwa kelakuannya itu tidak pantas segera duduk di sebelah Xavier yang menuntutnya duduk.


“Aku akan mengambilkan minuman, tapi maaf, aku hanya punya air putih saja Nyonya, Nyonya, Tuan,” ujar Anali sungkan.


“Anali tidak perlu. Duduklah, ada yang ingin aku bicarakan padamu,” ujar Monica meminta Anali segera duduk. Anali dengan canggung segera duduk di dekat Monica. Matanya tampak ketakutan menatap ke arah Graciella dan Xavier, mungkin karena jarang bertemu dengan orang asing.

__ADS_1


“Ada apa ya, Nyonya?” tanya Anali yang memberanikan diri untuk bertanya pada Monica.


“Kau pasti sudah tahu untuk apa kami di sini. Dia adalah anakku, Xavier, dia adalah ayah dari Kaoru. Dan dia adalah ibu Kaoru, Graciella.” Monica memperkenalkan Xavier dan Graciella. Graciella mengerutkan dahinya, Kaoru?


__ADS_2