Jerat Cinta Sang Penguasa.

Jerat Cinta Sang Penguasa.
Bab 87. Rasa yang membara.


__ADS_3

Graciella perlahan membantu Xavier untuk duduk di ranjangnya. Pria itu dari tadi tak lepas memandang lekat pada Graciella. Graciella hanya berusaha pura-pura tak tahu. Dia menggigit bibirnya sesekali menutupi rasa manis dan salah tingkah yang tiba-tiba saja dia rasakan.


Graciea sudah berumur dua puluh enam tahun dan sudah memiliki anak, tapi kenapa sekarang dia merasa seperti anak yang remaja yang baru saja mengenal cinta. Rasa yang timbul seperti saat merasakan cinta pertama.


Graciella mengambil bantal dan menyisipkannya ke belakang tubuh Xavier. Mata Xavier mengikuti segala gerak gerik Gracilella. Graciella langsung membuang pandangannya. Pria itu terus menatapnya dengan tatapan yang seolah begitu terpukau oleh dirinya. Tentu hal itu membuatnya semakin salah tingkah. Panas di pipinya terasa sekali.


“Apa sudah nyaman?” tanya Graciella dengan napasnya yang cukup berat karena jantungnya yang berdetak begitu keras hingga membuatnya sesak napas. Ah! sepertinya kadar oksigen di ruangan ini sangat tipis.


“Ya, sudah,” suara berat itu terdengar semakin membuat Graciella tak bisa bernapas.


“Eh? ya kalau begitu … eh? Aku keluar dulu.” Graciella tak sanggup lagi. Sekejap lagi dia rasa dia akan pingsan karena kekurangan oksigen dan serangan jantung. Graciella langsung ingin cepat-cepat keluar.


Tapi langkahnya langsung terhenti ketika pergelangan tangannya segera digenggam oleh Xavier. Graciella menarik napasnya dalam.


“Tunggu dulu, di sini saja,” pinta Xavier seolah memelas. Dia belum puas menumpahkan rasanya pada Graciella.


Graciella menggigit bibirnya. Perasaan ini sangat tak nyaman tapi juga membuatnya ketagihan. Dia tahu berdekatan dengan Xavier akan membuatnya jantungnya seolah ingin berontak keluar, melompat dari kungkungan iganya. Tapi dia juga tak kuasa untuk menolak Xavier.


Xavier menarik Graciella yang pasrah saja. Graciella lalu duduk di sisi ranjang di dekat Xavier. Memandang Xavier yang terus memberikannya tatapan sendu yang penuh dengan perasaan itu.


“Sudah bercerai?” tanya Xavier pada Graciella pelan dan lembut.

__ADS_1


“Ya, sudah. Terima kasih,” ujar Graciella. Bagaimana pun dia ingat perkataan Stevan bahwa Xavier yang melakukan hal ini. Tanpa Xavier, dia pasti tak akan bisa lepas dari cengkraman Adran.


“Jangan berterima kasih,” Xavier membenarkan anak rambut Graciella yang jatuh ke dahinya. “Itu yang memang seharusnya aku lakukan untukmu.”


Graciella hanya bisa menggigit bibirnya. Merasakan sentuhan-sentuhan jari jemari Xavier yang tak sengaja menyentuh dahinya. Xavier yang tadinya menyenderkan badannya di sandaran tempat tidur langsung menegakkan tubuhnya. Membuat tubuhnya sekarang lebih dekat dengan Graciella yang langsung tertahan napasnya.


“Apa kau tidak merindukanku?” tangan Xavier sekarang menyentuh pipi Graciella yang membuatnya langsung menegang.


“Eh?” Graciella bingung harus menjawab apa.


“Karena aku sangat merindukanmu,” ujar Xavier. Perasaannya benar-benar membuncah. Rasanya menyesak seluruh rongga dadanya hingga tak bisa lagi dia tahan dan ingin segera dia salurkan, dan hanya Graciella lah pengobatnya.


“Aku ….”


Xavier mulai mencium bibir Graciella dengan gerakan lembut. Tangannya yang lain mulai menyusup ke pinggang kecil milik Graciella. Menarik tubuh Graciella agar mendekat ke arah Xavier. Saat ini tubuh mereka berhimpit.


Graciella tahu seharusnya dia menolaknya seperti yang lalu. Tapi sekarang tubuhnya bahkan tidak ingin mendengarkan perkataan dari otaknya. Dia malah menutup matanya menikmati rasa yang diberikan oleh Xavier. Nyatanya, sepertinya dia juga merindukan pria ini.


Xavier yang merasa Graciella pun menikmatinya, seolah mendapatkan pesetujuan saat mata Graceilla tertutup. Aksinya semakin ganas ******* bibir dan semua yang ada di dalam mulut Graciella. Menyedot semua napasnya hingga terkadang Graciella kehabisan napas. Beberapa kali Graciella memutus ciuman itu hanya untuk sekedar menarik napas, tapi Xavier tak membiarkannya terlalu lama.


Graciella mendorong tubuh Xavier ketika dia benar-benar sudah kehabisan napas. Tapi Xavier malah menyerang leher jenjang milik Graciella. Menyentuhkan bibir hangatnya yang langsung membuat Graciella mengelinjang geli menahan sensasinya. Dia bahkan tanpa sadarnya mendesah pelan. Xavier mendengarnya senang seolah itu tanda Graciella membiarkannya melakukan hal yang lebih.

__ADS_1


Tangan Xavier langsung menyusup. Meraba kulit halus Graciella yang selama ini dia tutupi. Perlahan meraba punggung Graciella, membuat Graciella langsung kembali menegang. Saat Xavier mulai menyusup lebih jauh. Suara tawa Moira terdengar. Membuat Graciella langsung sadar apa yang sudah terjadi.


“Xavier!” ujar Graciella langsung mendorong pria itu pelan. Xavier mengerutkan dahinya. Kepalang tanggung dengan aksinya. “Ada Moira dan yang lain di luar. Aku takut mereka masuk. Moira nanti mencariku,” Graciella sedikit gelagapan mengatakan hal itu. Dia tahu na*f*sunya juga sudah bangkit. Bagaimana pun dia wanita dewasa. Terlalu munafik jika tidak mengakui dia juga terang*sa*ng dengan perlakuan Xavier.


“Mereka tidak akan berani masuk,” ujar Xavier yang kembali menciumi leher Graciella.


“Tapi aku merasa tidak nyaman. Aku hanya takut mereka akan melihat kita,” ujar Graciella. Dia menggigit bibirnya melihat wajah kecewa Xavier. “Lagi pula keadaanmu masih begini.”


Xavier benar-benar kepalang tanggung. N*a*f*s*unya sudah sampai ke ubun-ubunnya. Tapi dia tidak ingin melakukannya jika Graciella merasa tak nyaman. Pertama kali mereka melakukannya. Graciella mungkin saja merasa terpaksa karena saat itu Xavier yakin dia sangat kasar memperlakukan Graciella. Kali ini, dia ingin memperlakukan Graciella dengan lembut. Bukan lagi pemaksaan.


Graciella merasa benar-benar bersalah melihat wajah kecewa dari Xavier. Dia juga merasakan delema. Banyak hal yang dia pertimbangkan. Awalnya mungkin dia ingat tentang Moira, tapi setelah dia bisa berpikir lebih jernih. Dia berpikir tentang hubungannya dengan Xavier. Apakah boleh melakukan ini dengannya?


Xavier melihat Graciella yang menunduk. Dia lalu merapikan baju yang digunakan oleh Graciella. “Boleh bantu aku ke kamar mandi?” ujar Xavier. “Kau tahu bukan bagaimana pria jika sudah seperti ini?”


Graciella mengerti, dia mengangguk pelan. Tentu dia harus membantu Xavier menuntaskan hasratnya. Laki-laki dan wanita berbeda. Wanita bisa bernafsu lalu turun dan hilang begitu saja. Tapi jika pria, hal itu lebih menyiksa mereka. Jadi Graciella merasa dia punya tanggung jawab untuk membantu Xavier melewati hal ini.


Graciella langsung membantu Xavier untuk berjalan ke arah kamar mandi.


“Sampai di sini saja. Jika kau ada, aku tak akan sanggup menahan dan melakukan hal yang lainnya,” ujar Xavier lagi dengan senyumannya. Graciella sampai terdiam mendengar dan melihat senyuman Xavier. Pria itu, sejak kapan begitu hangat.


Xavier langsung masuk ke dalam dan mencoba menenangkan dirinya dengan mandi air dingin. Saat dia merasa sudah tenang dia lalu segera keluar dan menemukan ternyata memang cukup ramai sekarang. Ada Stevan, Moira dan Laura di ruang tengah. Sedangkan Graciella tampak baru keluar dari dapur membawakan segelas susu untuk Moira.

__ADS_1


Xavier dan Graciella sesaat melempar pandang. Graciella lalu dengan kikuk membuang pandangannya. Hal itu ditangkap oleh Laura, melihat wajah Graciella yang langsung memerah. Sepertinya apa yang dikatakan oleh Stevan benar adanya. Ah! Dia harus menginap di sini nanti malam dan mengintrogasi Graciella! Dia harus tahu apa yang dilakukan mereka berdua!


__ADS_2