
Selamat membaca ...
...****************...
Setelah diusir oleh Deva, akhirnya dokter Emma pulang dengan membawa kekesalannya. Darahnya seakan mendidih saat mengingat Deva membelakangi dirinya dan malah memeluk Davina. Tanpa terasa, makan malam pun sudah tiba. Namun, Deva masih berbaring tak berniat untuk bangkit dari sana.
Tokk! Tokk! Tokk!
Suara ketukan pintu membangunkan seorang wanita cantik yang ada dalam dekapan Deva, membuat wanita itu sulit untuk bergerak.
“Nona, waktunya makan malam!” ucap Aliya dari balik pintu, dengan sedikit meninggikan volume suaranya.
“Aku ingin makan di sini saja, aku tidak sanggup berdiri,” ucap Deva lirih tepat di telinga Davina, membuat wanita itu mendengus dengan kesal.
“Aliya, tolong bawakan saja makan malam kami di sini!” ucap Davina dengan meninggikan volume suaranya.
“Baik nona, saya akan menyiapkannya terlebih dulu,” ucap Aliya dari balik pintu, dan segera bergegas pergi untuk menyiapkan makan malam Deva dan Davina.
“Ke mana sifat kasar mu selama ini, apakah sudah lenyap. Ke mana sikap kasar mu padaku, apakah sudah terganti dengan dirimu yang lemah ini?” tanya Davina dengan nada mengejek, tapi Deva hanya diam tak menanggapi ucapan Davina.
__ADS_1
Namun, Davina merasa bulu kuduknya meremang, karena merasakan napas Deva di ceruk lehernya, bahkan pria itu tak segan untuk mengendus-endus leher wanita yang ada di hadapannya tersebut. Davina yang membelakangi Deva, sangat risih di perlakukan seperti itu.
“Dev, berhentilah. Jangan mengendus ku seperti itu,”ucap Davina dengan nada perintah, tapi Deva malah semakin menjadi dan terus menciumi leher istrinya.
“Perutku sangat tidak nyaman,” ucap Deva lirih.
“Apa hubungannya perutmu yang tidak nyaman dengan mengendus ku?” tanya Davina tak habis pikir.
“Aroma dirimu membuatku sedikit tenang, jadi diam dan patuh lah,” ucap Deva yang kembali ke setelan awal, membuat Davina menganga tak percaya. Bisa-bisanya dia mengancam ku saat sedang sakit, begitu pikir Davina.
Tokk! Tokk! Tokk!
“Biarkan saja Aliya masuk,”ucap Deva santai, membuat Davina tak habis pikir di mana rasa malu pria itu.
“Apa kau sudah gila!” ucap Davina mendesis karena kesal.
“Aku sudah gila sebelum bertemu dengan dirimu, jadi cepatlah panggil Aliya agar masuk ke dalam,” ucap Deva bernada perintah, membuat Davina akhirnya menyerah dan mengikuti apa perintah Deva.
“Aliya masuk saja!” titah Davina sedikit meninggikan volume suaranya.
__ADS_1
Ceklekk!
Pintu terbuka, menampilkan sosok wanita sambil membawa beberapa makanan. Aliya sangat terkejut saat melihat pemandangan yang ada di hadapannya, wanita itu segera menunduk sambil meletakkan makanan tersebut di atas nakas samping tempat tidur Deva.
“Terima kasih Aliya,” ucap Davina yang merasa tak enak hati.
“Sama-sama nona. kalau begitu, saya permisi,” ucap Aliya kemudian segera bergegas pergi meninggalkan kamar tersebut.
“Dev, bangunlah. Aku sangat lapar,” ucap Davina kesal. Akhirnya Deva melepaskan Davina untuk makan malam. Deva yang melihat Davina sendirian dan tak berniat untuk menawari dirinya makan, begitu kesal dengan istrinya.
“Aku ingin makan,” ucap Deva lirih.
“Makanlah! Memang siapa yang melarang mu untuk makan,” ucap Davina acuh tak acuh sambil terus menyantap makanannya, tanpa melirik ke arah Deva sedikitpun, membuat pria itu semakin kesal.
“Aku masih lemas. Suapi aku,” ucap Deva dengan santai, membuat Davina terhenti sejenak saat mendengar ucapan Deva, Davina mendengus kesal sambil melirik ke arah Deva dengan tatapan sinis nya.
...****************...
Terima kasih.
__ADS_1