Jerat Dendam Sang Mafia

Jerat Dendam Sang Mafia
Penculikan


__ADS_3

Selamat membaca ...


...****************...


Setelah menyatakan perasaannya, kini Deva dan Davina tengah menikmati waktu kebersamaan mereka. Deva memeluk Davina seolah tak membiarkan wanita itu pergi darinya sedikit pun. Dengan perasaan yang penuh bahagia, membuat Deva sesekali mengecup singkat bahu Davina secara bertubi-tubi.


“Deva, hentikan, aku geli,” ucap Davina sambil menghindari ciuman dari Deva.


“Aku sangat menyayangi mu. Aku tidak ingin kehilangan mu, dan aku tidak bisa hidup tanpa dirimu,” ucap Deva yang semakin mengencangkan pelukannya.


“Jangan mengatakan hal itu. Hidupmu masih panjang, ada putra kecil kita yang masih harus kita jaga,” ucap Davina kesal jika Deva bersikap terlalu berlebihan.


“Tapi aku sungguh tidak bisa hidup tanpa dirimu. Untuk apa aku hidup tanpa orang-orang yang aku sayangi,” ucap Deva berkilah.


“Jika aku mati, masih ada putra kita. Jangan biarkan dia menderita tanpa orang tuanya di muka bumi ini,” ucap Davina yang mengingatkan akan kehadirang sang putra.


“Tapi aku jauh lebih mencintaimu,” ucap Deva dengan bodoh.


“Apa kau tidak menyayangi putramu sendiri?” tanya Davina kesal sambil melirik Deva dengan ekor matanya, yang terlihat seperti pedang yang siap menghunus leher Deva, membuat pria itu menelan salivanya kasar.


“Tentu saja aku menyayangi kalian berdua,” jawab Deva kembali.

__ADS_1


“Dev, aku ingin ke toilet, jadi tolong lepaskan aku,” ucap Davina yang segera bengkit dari pangkuan Deva.


“Apakah aku boleh ikut dengan mu?” tanya Deva yang sudah berdiri.


“Duduklah, aku tidak ingin kau ikut dengan ku. Apa kau masih tidak percaya padaku, hum?” tanya Davina penuh selidik.


“Aku percaya padamu, aku hanya ingin ikut menjaga mu,” jawab Deva dengan sungguh-sungguh.


“Aku hanya sebentar saja,” ucap Davina yang segera meninggalkan Deva seorang diri.


...----------------...


Deva bergegas ke arah toilet untuk menyusul Davina dengan langkah kaki yang sangat cepat. Benar saja, di dalam area toilet itu sudah tidak ada orang. Tanpa menunggu lama lagi, akhirnya Deva menyalakan sebuah GPS yang tersambung dengan kalung istrinya, yang sudah dirancang seunik mungkin untuk menutupinya.


Deva membulatkan matanya, saat melihat radar GPS itu berada di sebuah jurang di pinggiran kota. Deva sadar, jika kini istrinya tengah diculik oleh seseorang. Tak ingin membuang banyak waktu akhirnya Deva segera menancapkan pedal gas mobilnya dengan kecepatan tinggi, tanpa memikirkan apapun selain Davina.


Deva segera mengambil satu buah senjata api yang ada di laci mobil. Pria itu sangat khawatir dengan apa yang terjadi pada sang istri. Baru saja ia akan membina rumah tangga yang bahagia, tapi kini masalah datang kembali.


...----------------...


Butuh waktu empat puluh menit untuk sampai di tepi jurang tersebut. Terdengar suara seorang wanita yang berteriak, yang ia yakini adalah Davina. Deva mengernyitkan dahinya, saat melihat sebuah gudang yang terang dengan beberapa lampu di sana.

__ADS_1


“Bedebbah! Siapa yang sudah berani menculik istriku. Aku lupa untuk memanggil Galen. Ck!”desis Deva menggerutu sambil melihat ponselnya tidak ada jaringan sama sekali.


Tak ingin sang istri terluka, akhirnya Deva mulai melangkahkan kakinya secara perlahan agar tidak ketahuan.


“Lepas! Tolooong!” teriak Davina di dalam sana meminta pertolongan.


Brakk!


Deva mendobrak pintu yang sudah kumuh itu hingga hancur. Davina dan seorang pria yang ada di dalam sana langsung merasa terkejut dengan kedatangan Deva yang tiba-tiba. Begitu juga dengan Deva. Ia terkejut saat melihat wajah pria yang sudah lama mati, kini hadir kembali.


“Bedebbah! Berani sekali kau menyentuh istriku!” bentak Deva dengan tatapan tajamnya. Beruntung di sana belum ada anak buah yang membantu pria tersebut.


“Apa kau sangat mengkhawatirkan istrimu?” tanya sosok pria misterisu tersebut. Sedangkan, Davina hanya terisak sambil menggelengkan kepalanya saja.


“Siapa kau sebenarnya?! Cepat lepaskan istriku!” bentak Deva dengan tatapan menyalang.


“Apa kau lupa, padaku. Sosok wajah ini pernah kau bunuh sebelumnya, Arsen. Apa kau tidak tahu jika kakak ku punya saudara kembar?” tanya sosok pria yang ternyata saudara kembar Arsen, yaitu Daren.


Deva dan Davina kembali menganga tak percaya dengan apa yang sebenarnya terjadi di depan matanya. Namun, yang lebih mengejutkannya lagi, Daren mengeluarkan sebuah senjata api dan di arahkan ke kepala Davina, yang mana hal itu membuat Deva segera menodongkan senjata api miliknya ke arah Daren.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2