
Selamat membaca ...
...****************...
Deva menghentikan mobilnya tepat di sebuah hutan yang ada di pinggir jalan sisi kota tersebut. Pria itu tak terlalu kesulitan mencari jalan, karena ada sebuah lampu di pinggir jalan tersebut, yang tembus ke sisi hutan.
Deva turun dari mobilnya dan berjalan menuju hutan, ia sangat yakin, jika istrinya tidak akan jauh darinya, apalagi jalan itu sepi jarang ada pengendara yang lewat dari sana.
Deva juga sangat yakin, jika istrinya memilih jalan ke arah hutan agar memudahkan wanita itu lari dari dirinya. Tidak! Deva tidak akan pernah membiarkan istrinya lari dari kehidupannya, Deva akan melakukan cara apapun agar bisa mendapatkan Davina kembali.
Dorr! Dorr!
Deva menembakan senjata api miliknya ke arah langit, ia tahu Davina pasti sudah mendengar suara tembakan itu, dan berusaha untuk lari.
“Davina, kau tidak akan bisa lari dariku,” gumam Deva sambil terus menelusuri hutan tersebut.
Sedangkan, Davina yang mendengar suara tembakan dari arah belakang, langsung ketakutan dan berlari lagi sekuat tenaga. Jantungnya terus berdetak dengan kencang, seolah ingin melompat dari dalam tubuhnya.
Ia tahu jika Deva pasti sudah mengetahui keberadaannya, pria itu dengan mudah memprediksi tawanannya, sungguh Davina heran dengan suaminya, sebenarnya siapa sosok pria kejam itu, bukankah seorang CEO terlalu kejam untuk sifat Deva, begitu pikir Davina.
Perutnya kembali merasakan sakit, membuat ia mengeluarkan keringat dingin karena menahan rasa sakit itu.
Davina begitu tegang karena mendengar suara langkah kaki dari arah belakang, ia segera bersembunyi di balik pohon yang cukup besar sambil terus menahan ringisan dari mulutnya, perutnya yang terasa sakit tak begitu ia hiraukan.
Kini, yang ada dalam pikiran Davina hanya bagaimana caranya agar ia tidak ditemukan oleh Deva. Davina cukup tahu dan mengerti konsekuensi akibat ulahnya ini, ia tahu jika Deva akan menghukumnya jauh lebih berat daripada sebelumnya, jika ia ditemukan.
...----------------...
“Ya Tuhan, apakah ini akhir dari kehidupan ku, jika Deva berhasil menemukan aku. Aku hanya berharap Enkau melindungiku dan juga buah hatiku. Deva, sampai kapan pun aku tidak akan pernah memaafkan dirimu,” gumam Davina yang kini sudah meneteskan lelehan bening dari pelupuk matanya.
__ADS_1
Dorr! Dorr!
Terdengar suara tembakan dari arah yang tak jauh dari Davina, membuat wanita itu membungkam mulutnya sendiri karena terkejut. Davina memejamkan matanya seiring lelehan bening yang keluar dari pelupuk matanya tersebut.
Akhh!
Tiba-tiba saja perut Davina terasa jauh lebih sakit dari sebelumnya, membuat wanita itu meringis kesakitan tanpa memikirkan keadaan yang terjadi saat ini.
Degg!
Jantung Davina berdegup dengan kencang, keringat dingin mulai bercucuran, saat seorang pria yang ia hindari, kini sudah ada di depan mata.
Davina yang sudah terduduk di tanah, kini memundurkan tubuhnya sambil menatap Deva dengan penuh ketakutan.
“Apa kau sudah puas bermain-main denganku?” tanya Deva sambil menampilkan senyum smirk nya, membuat wanita cantik itu bergetar karena rasa takutnya.
“Apa kau terkejut?” tanya Deva lagi sambil melangkahkan kakinya ke arah Davina.
“Ma-mau apa kau?” tanya Davina gugup dengan wajahnya yang sudah pucat.
“Apa yang akan aku lakukan adalah untuk membuat mu menyesali perbuatan mu hari ini,” jawab Deva yang malah menampilkan senyum devil nya.
“Dev, maafkan aku, aku tahu aku salah. Aku mohon maafkan aku,” ucap Davina dengan memohon, agar suaminya tidak melakukan hal di luar kendali terhadap dirinya.
“Seharusnya kau menyadari hal ini sebelum kau bertindak, tapi sepertinya sekarang sudah tidak ada gunanya kau memohon padaku, meskipun kau harus menangis darah sekalipun, aku tidak akan pernah melepaskan mu,” ucap Deva dengan santai.
“Ap-apa yang akan kau lakukan, Dev. Aku sedang hamil, perutku sakit,” ucap Davina yang semakin takut saat melihat Deva mengambil sebatang kayu yang ada di dekatnya.
Buggh! Buggh! Buggh!
__ADS_1
Argghhh!
Deva memukul kedua kaki Davina dengan sebatang kayu yang cukup besar tersebut, hingga kaki Davina mengeluarkan sedikit darah, membuat wanita itu teriak histeris kesakitan.
“Sakit! Arghh! Sakit!” teriak Davina sambil menangis histeris, karena Deva terus menerus memukulnya tanpa ampun.
“Inilah akibatnya jika kau berani melarikan diri dariku,” ucap Deva dengan tegas, tanpa mengindahkan teriakan dan ringisan istrinya yang terdengar semakin pilu.
Namun, lama-lama suara Davina mulai melemah dan langsung senyap. Davina meringis kesakitan hingga wanita itu jatuh tak sadarkan diri karena kedua kakinya yang terus dipukuli oleh Deva dengan sebuah kayu.
Deva yang melihat hal itu langsung menggendong Davina menuju mobilnya. Di pinggir jalan sana, sudah ada sang asisten dengan beberapa pengawal lainnya. Galen akhirnya turun dari mobilnya dan mengemudi mobil milik Deva.
...----------------...
Dalam perjalanan, Deva terus memeluk tubuh Davina yang masih bergetar hebat, hanya satu tujuannya saat ini, yaitu Rumah sakit.
“Sakit, Deva, rasanya sangat sakit,” gumam Davina tanpa sadar.
“Galen, lebih cepat lagi! Apa kau tidak mendengar istriku sangat kesakitan,” bentak Deva sambil terus memeluk tubuh Davina.
...****************...
Terima kasih.
Note:
Mimin punya rekomendasi karya temen Mimin, Author Mphoon, jangan lupa mampir ya sambil nunggu bang Deva.
__ADS_1