Jerat Dendam Sang Mafia

Jerat Dendam Sang Mafia
Melamar


__ADS_3

Selamat membaca ...


...****************...


Setelah memadu kasih bersama sang istri, akhirnya Deva berangkat ke kantor perusahaan miliknya. Bukan untuk bekerja, tapi untuk mempersiapkan dirinya saat bertemu dengan Davina malam hari ini.


Entah apa yang terjadi pada pria itu, hingga membuat pria tampan itu menjadi gugup untuk makan malam bersama sang istri. Jantungnya berdegup dengan kencang, saat mengingat kembali wajah cantik Davina, apalagi jika mengingat kejadian tadi pagi, membuat ia semakin bersemangat untuk menyatakan perasaannya pada Davina secara resmi.


“Selamat siang Bos,” sapa seorang pria yang baru saja memasuki ruangan Deva.


“Hmm, apa ada hal penting?” tanya Deva penasaran.


“Semua tugas yang Bos berikan sudah selesai, hanya mengirim Gaun saja belum saya lakukan. Akan ada seseorang yang akan mengantarkannya ke Mansion,” jawab Galen dengan tegas.


“Apa kau yakin, mengirim orang lain ke tempat ku?” tanya Deva penuh selidik.


“Saya sudah menyiapkan segala perlindungan untuk nyonya dan tuan muda kecil di dalam sana,” jawab Galen panjang lebar.


“Baiklah kalau memang begitu,” ucap Deva yang kembali berkutat dengan layar monitornya.


...----------------...


Waktu sudah menunjukkan sore hari. Di mana sekarang adalah waktu yang ditentukan oleh Deva untuk menjemput sang istri. Deva meminta sopir kepercayaannya untuk menjemput Davina. Sedangkan, ia sudah lebih dulu ke tempat yang sudah disiapkan sebelumnya.


Deva ingin menunggu istrinya di sebuah tempat indah dengan nuansa sunset di tepi pantai. Warna jingga di atas awan, membuatnya sedikit mengukir seulas senyuman di bibirnya. Hatinya tak menyangka, hari ini akan tiba untuk dirinya.


Sebuah hari di mana seorang penjahat masih bisa mempunyai kesempatan untuk bahagia. Deva tahu, ia tak pantas merasakan apa yang ia rasakan hari ini, tapi ia tahu hati Davina begitu lembut dan bersih, hingga wanita itu sanggup menerima dirinya kembali.


Terkadang, malam yang gelap sekalipun, masih ada satu titik cahaya yang tersimpan. Begitu pun dengan Deva. Pria dingin dengan dengan darah di tangan sepanjang hidupnya, kini dicuci bersih oleh wanita yang ia sakiti.

__ADS_1


Apakah aku masih pantas jika bersamanya? Ah , aku rasa tidak. Hanya itu yang ia tegaskan pada hati dan pikirannya. Ia merasa tak pantas menerima maaf dari Davina, tapi ia akan bertahan untuk putranya.


“Huftt! Davina, aku sangat mencintaimu. Sangat.” Deva memejamkan matanya kembali, sambil menghirup udara di sore hari ini. Ia masih sabar menunggu Davina yang sedang dalam perjalanan.


Beberapa menit kemudian ...


Seorang wanita datang menggunakan Dress warna merah selutut, dengan mata yang ditutup sebuah kain tipis, ditemani dua orang wanita yang menuntunnya. Deva yang melihat hal itu, langsung menghampiri dan memberi kode pada dua orang wanita tersebut untuk pergi.


“Selamat datang, babbe,” ucap Deva sambil mencium punggung tangan Davina, membuat wanita itu tahu siapa yang ada di hadapannya.


“Deva, kau mau membawa ku ke mana?” tanya Davina yang belum melepaskan penutup matanya.


“Sebentar lagi kau akan mengetahuinya, sabarlah. Pelan-pelan,” jawab Deva sambil menuntun Davina melewati lilin-lilin yang ada di sekitar mereka.


Deva menghentikan langkah kakinya, begitu juga dengan Davina. Deva melepaskan dengan perlahan penutup mata istrinya. Davina yang merasakan hembusan napas Deva malah merasa merinding dan mengusap tengkuk lehernya.


“Buka pelan-pelan,” ucap Deva agar Davina membuka matanya secara perlahan.


“De-deva, apa ini sungguhan?” tanya Davina tak percaya.


“Sungguh Vin. Ini adalah awal dari kehidupan kita yang indah di masa yang akan datang,” ucap Deva sambil menuntun Davina untuk duduk di sebuah meja yang sudah disiapkan.


“Ayo kita makan malam dulu. Kau harus makan yang banyak,” ucap Deva sambil menyiapkan makanan untuk Davina. Namun, wanita itu hanya diam sambil memperhatikan pria yang ada di hadapannya. Pria yang sudah berubah menjadi sangat lembut dan bersikap sangat hati-hati terhadap dirinya.


“Itu terlalu banyak Dev,” ucap Davina mencegah Deva untuk mengambilkan dirinya makanan lagi.


“Ini masih sedikit, dulu aku mengambil mu dengan tubuh yang masih bersisi daging, sebelum akhirnya menjadi kurus seperti ini,” ucap Deva sambil menyendokkan makanan tersebut untuk Davina.


Davina sedikit tertegun dengan kalimat Deva dan berubah kaku. Namun, ia kembali tersenyum saat mulai mengikhlaskan semua yang telah terjadi.

__ADS_1


“Kenapa kau malah mau menyuapi aku. Kau juga harus makan,” ucap Davina sambil mencegah tangan Deva yang ingin menyuapinya.


“Aku akan makan, tapi suapan pertama ini, biar aku yang menyuapi mu,” ucap Deva menyuapkan makanan tersebut dan langsung dilahap oleh Davina.


Setelah beberapa suapan, akhirnya Deva mengambil makan untuk dirinya sendiri. Mereka berdua menikmati makan malam yang sangat indah, dibarengi dengan canda dan tawa. Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka sudah selesai dengan acara makan malamnya.


“Davina, ada yang ingin aku sampaikan padamu. Aku mohon, dengarkan aku baik-baik dan jangan menyela,” ucap Deva menatap Davina dengan lembut.


“Baiklah, aku menunggu mu,” jawab Davina sambil tersenyum.


“Aku sudah menunggu saat ini untuk waktu yang lama. Untuk mengatakan ini, aku butuh banyak waktu. Mempertimbangkan segala hal yang mungkin terjadi. kamu adalah alasan ku untuk tetap hidup, segala yang aku lakukan hanya untuk mu. Jangan buat aku hancur dengan menolakku malam ini. Jadilah istriku, jadilah matahari di dalam rumah ku selamanya. Bersediakah kau menjadi pendamping hidup ku, dan menajdi ibu dari anak-anakku?” tanya Deva dengan tatapan penuh harap.


“Ada banyak kesalahan di masa lalu, yang membuat aku tak menerima jalan hidupku. Sekarang, yang ada banyak hal yang harus aku pikirkan, yaitu masa depan putraku. Kesalahan mu tak mungkin aku maafkan, apalagi untuk aku lupakan. Jalan saat ini, aku hanya mengikhlaskan, agar semua terasa lebih damai. Aku menerima mu dan seluruh keturunan yang akan kau berikan padaku. berjanjilah satu hal, jangan kau ingkari janji mu itu,” jawab Davina dengan lembut.


Deva yang mendengar jawaban dari Davina sektika menangis dan berlutut di kaki istrinya. Pria itu tak bisa menggambarkan perasaannya saat ini yang sangat bahagia. Davina membantu Deva untuk bangkit dan mengusap lelehan bening yang membasahi pipi berbulu halus itu.


“Aku berjanji Vin, aku akan membahagiakan mu dan seluruh keturunan kita. Aku sangat mencintaimu. Sangat,” ucap Deva sambil menatap lekat mata Davina, tapi ia tahu, Davina tidak akan menjawab cintanya.


Tidak peduli Davina mencintainya atau tidak, yang terpenting saat ini adalah kebersamaan mereka. Deva akan tetap berusaha mengejar cinta Davina sampai dapat.


...****************...


Terima kasih semuanya yang masih setia menunggu cerita ini. Mimin harap kalian masih mau membaca karya Mimin.


Maaf, akhir-akhir ini jarang update, karena Mimin sedang banyak tugas dan mendekati waktu ujian semester. Jika masih ada umur panjang, bulan Juli setelah ujian, akan rilis karya baru, tapi entah di mana publish nya ...


Satu atau dua bab lagi akan tamat, dengan ending yang tidak pernah Mimin bayangkan sebelumnya ...


Oh iya, mampir juga ke karya Mimin yang lain ya, biar semangat nulisnya hehe ...

__ADS_1



__ADS_2