Jerat Dendam Sang Mafia

Jerat Dendam Sang Mafia
Sadar


__ADS_3

Selamat membaca ...


...****************...


Tiga hari telah berlalu ...


Hari demi hari kini sudah berlalu, sudah banyak waktu yang Deva habiskan di rumah sakit bersama sang istri. Bahkan, tubuhnya terlihat semakin tak terurus, penampilan yang semakin berantakan tanpa diperhatikan, apalagi untuk makan, pria itu jarang sekali makan dengan alasan sang istri pun tidak makan.


Bahkan baby Derry pun kini sudah ada di ruangan Davina, putra kecil mereka sudah sehat seperti bayi pada umumnya. Deva yang kesepian, hanya ditemani sang putra di kamar tersebut, tentu saja ada perawat khusus untuk putranya.


“Vin, kenapa kau tidur lama sekali, apa kau masih lelah, hum? Apa karena kau masih membenci ku hingga kau masih ingin tidur? Jika kau membenci ku, aku akan terima hal itu karena semua ini adalah kesalahan ku, tapi aku mohon jangan benci putra kita, aku mohon sadarlah demi baby boy kita,” ucap Deva seperti biasanya setiap saat semenjak Davina mengalami koma.


“Apa kau mendengarnya setiap malam selalu menangis? Mungkin dia mencari sosok ibu yang sangat ia rindukan, yang mana hal itu tidak ada pada diriku. Putra kita mencari mu, apa kau tidak merasakan hal itu, setiap malam putra kita menangis, aku mohon bangunlah demi Derry,” ucap Deva sambil meneteskan lelehan bening yang sejak tadi ia tahan.


Namun, betapa terkejutnya ia saat merasakan jari jemari istrinya bergerak sedikit demi sedikit. Deva membulatkan matanya sempurna saat istrinya membuka matanya secara perlahan.


Ughhh!


Terdengar suara lenguhan sang istri. Deva yang mendengar hal itu langsung menekan tombol yang ada di dekat sana untuk memanggil dokter.


“Vina, kau sudah sadar sayang,” ucap Deva yang sudah menangis karena merasa bahagia istrinya sudah sadar kembali.


Namun, beberapa saat kemudian, terdengar suara pintu terbuka dan menampilkan sosok wanita yang berprofesi sebagai dokter tersebut.


“Dok, periksa istri saya, dia sepertinya merasa sakit,” ucap Deva dengan cemas.


“Baik tuan, kalau begitu saya periksa dulu,” ucap sang dokter.


Beberapa saat kemudian ...

__ADS_1


“Dok, bagaimana keadaan istri saya?” tanya Deva sambil memasang wajah cemasnya.


“Istri anda sudah baik-baik saja, sekarang hanya perlu waktu pemulihan saja. Selamat ya tuan, kalau begitu saya permisi dulu,” ucap sang dokter dengan ramah dan segera meninggalkan keluarga kecil tersebut dalam ruangan itu.


“Vina, aku sangat senang kau sudah sadar kembali,” ucap Deva sambil menciumi seluruh wajah Davina, membuat wanita itu hanya bisa memejamkan matanya saat merasakan serangan Deva yang bertubi-tubi.


Davina merasa ada yang aneh dengan tubuhnya, wanita itu meraba bagian perutnya yang sudah rata. Davina begitu terkejut dan membulatkan matanya sempurna saat tahu akan hal itu, wanita itu meneteskan lelehan bening dari pelupuk matanya, membuat Deva terdiam seketika, saat melihat Davina kembali menangis.


“Bayi ku,” ucap Davina dengan lirih tapi masih bisa terdengar di telinga Deva.


“Sayang, putra kecil kita sudah selamat, dia sangat tampan,” ucap Deva dengan lembut, membuat Davina diam dan menatap Deva seolah ingin meyakinkan.


“Aku ingin melihatnya,” ucap Davina dengan mata yang berkaca-kaca.


Mendengar hal itu, Deva segera bergegas mengambil putranya yang tak jauh dari mereka. Deva dengan sangat hati-hati saat menggendong putra kecilnya agar tidak merasakan sakit sedikit pun.


“Sayang lihatlah, dia sangat tampan,” ucap Deva sambil memperlihatkan baby Derry pada sang istri.


“Kau jangan menangis, kau masih dalam masa pemulihan. Kau bisa melihat putra kita sepuas hati setelah sembuh, kita akan membesarkan putra kita bersama-sama,” ucap Deva sambil meletakkan kembali sang putra pada tempatnya semula.


“Bersama?” tanya Davina sarkas.


“Iya sayang, kita akan membesarkan putra kita bersama,” jawab Deva yakin.


“Jangan memanggil ku dengan sebutan menjijikan itu, lagipula aku ingin kita bercerai secepat mungkin. Jadi, aku mohon ceraikan aku,” ucap Davina dengan nada ketus meskipun suaranya masih lemah.


Bagai disambar petir di siang bolong, hati Deva seakan berhenti berdetak saat mendengar ucapan sang istri. Deva yang ingin memperbaiki semua kesalahannya di masa lalu terhadap sang istri, tak ingin menerima keputusan Davina.


“Davina, kau masih belum pulih, kau istirahatlah dan jangan banyak bicara dulu, nanti kita bicarakan setelah kau sembuh,” ucap Deva yang ingin mengalihkan topik pembicaraan yang sangat sensitif itu.

__ADS_1


“Aku baik-baik saja, aku juga sudah cukup tidur. Apakah kau ingin aku tidur selamanya?” tanya Davina datar, yang mana hal itu membuat Deva jadi serba salah.


“Tidak Vin, mana mungkin aku berpikir seperti itu,” bantah Deva yang serba salah di depan istrinya.


“Bukankah dulu kau juga berpikir akan membunuh ku secara perlahan, apa tujuan mu belum selesai, atau kau masih berencana untuk membunuh ku kembali dengan alasan tidak ingin cerai dariku,” cecar Davina datar, membuat Deva bagai tertusuk seribu jarum di jantungnya saat mendengar kalimat yang baru saja keluar dari mulut istrinya.


“Vin, maafkan aku,” ucap Deva sambil menundukkan kepalanya menahan lelehan bening yang sudah menggenang di pelupuk matanya.


“Semuanya sudah terlambat Dev, aku sudah tidak ingin hidup berdampingan dengan orang seperti dirimu. Apa kau tahu? Bagiku melihat mu sama saja dengan menyakiti hatiku, ingatan ku masih bisa merekam jelas saat kau menghancurkan hidup ku,” ucap Davina lirih.


“Vin, aku salah, hukum saja aku seperti yang aku inginkan, tapi aku mohon jangan pernah pergi dari hidupku. Sekarang ada baby Derry diantara kita,bagaimana mungkin kita bisa membuatnya punya keluarga tak sempurna,” ucap Deva dengan memohon sambil menampilkan raut wajahnya yang penuh dengan penyesalan.


“Namanya Derry?” tanya Davina yang penasaran.


“Iya Vin, namanya Derry yang sudah aku sematkan namaku di dalamnya,” jawab Deva dengan lembut sambil mengelus puncak kepala sang istri.


“Apa dia akan akan seperti dirimu?” tanya Davina datar.


“Dia akan menjadi sosok pria yang bertanggung jawab, dan akan menjadi pelindung untuk menjaga ibunya,” jawab Deva sambil terisak, karena ia teringat kembali saat membunuh dan memperkosa Davina hingga menumbuhkan benih di rahim sang istri.


“Kenapa kau menangis?” tanya Davina heran.


“Aku senang karena kau masih bertahan di sisiku,” ucap Deva berkilah.


“Tapi aku akan mengakhiri segalanya secepat mungkin,” ucap Davina sangat yakin.


“Kau terlalu banyak bicara, sebaiknya kau istirahat, hari sudah malam,” ucap Deva yang berusaha mengalihkan topik, tapi istrinya begitu keras kepala.


Deva yang biasa menggunakan kekerasan kini harus ekstra sabar untuk menghadapi sang istri, apalagi dengan kesadaran penuh ia mengakui kesalahannya pada Davina. Deva akan merasakan rasa penyesalan seumur hidupnya dan di hantui rasa bersalahnya.

__ADS_1


Akhirnya Davina mau istirahat dan memejamkan matanya setelah beberapa kali di bujuk Deva.


...****************...


__ADS_2