
Selamat membaca ...
...****************...
Malam berganti pagi, di mana seorang pria sudah berpenampilan rapih semenjak istrinya sadar dari koma, ia sudah seperti seorang remaja yang baru pertama kali jatuh cinta, yang halnya selalu ingin terlihat tampan untuk menarik perhatian sang kekasih, meskipun pada kenyataannya Deva memang baru pertama kali jatuh, dan itu pada istrinya, Davina.
Putra kecilnya yang sudah di bersihkan oleh perawat, kini kembali tertidur pulas. Sedangkan, istrinya masih belum bangun dari alam mimpinya, hingga Deva yang takut istrinya koma kembali, kini mulai membangunkan sang istri dengan menciumi seluruh wajah cantik istrinya tersebut.
Cup! Cup! Cup! Cup!
Deva menciumi seluruh wajah Davina secara bertubi-tubi.
Davina yang merasakan sesuatu yang kenyal dan basah menyentuh wajahnya langsung terusik dan mulai mengerjapkan matanya berkali-kali.
“Selamat pagi, Baby girl,” bisik Deva tepat di telinga Davina, membuat wanita cantik itu langsung membulatkan matanya saat mendengar suara seorang pria yang sangat ia benci.
Davina langsung mendorong tubuh tegap dan kokoh milik suaminya secara berulang, hingga akhirnya Deva bangkit dan berdiri tegap mengadap ke arah arah sang istri.
“Sedang apa kau di sini?” tanya Davina dengan kesal sambil menatap wajah Deva dengan tatapan tajamnya.
“Sayang, apa yang kau tanyakan, tentu saja aku akan menemani mu di manapun kamu berada. Baby boy kita juga sudah dibersihkan, dia tidur kembali, sekarang aku akan membantu mu membersihkan diri, aku akan mengelap tubuh mu dengan pelan, kau jangan khawatir,” jawab Deva dengan santai dan segera mengambil tempat berisi air dan sehelai handuk kecil.
Davina mengernyitkan dahinya, saat melihat Deva sudah siap untuk membantunya membersihkan diri tanpa persetujuan darinya.
“Apa yang kau lakukan, aku belum menjawab apapun dan belum menyetujui hal ini,” ucap Davina kesa dan tak terima begitu saja. Namun, Deva hanya diam tak acuh dan tetap melanjutkan aksinya.
“Kau jangan banyak bergerak, aku hanya ingin mengelap sebagian saja dan tidak akan membuka seluruh pakaian mu,” ucap Deva sambil membuka kancing baju Davina.
Davina yang sudah seperti ini, tak bisa berkutik lagi. Wanita itu hanya diam saat Deva mulai mengelap beberapa bagian tubuhnya, tapi ia langsung mencegah tangan Deva saat pria itu hendak mengelap kedua gunung himalaya yang membengkak itu.
“Kenapa?” tanya Deva dengan santai.
__ADS_1
“Rasanya sakit, mungkin karena aku belum memberi ASI pada baby.” Deva hanya manggut-manggut tanda mengerti.
“Aku akan pelan-pelan,” ucap Deva yang sudah siap meletakkan tangannya ke area sensitif itu.
“Tapi rasanya sangat sakit,” ucap Davina kekeh.
“Diam dan aku akan membantu mu,” ucap Deva yang segera membungkuk dan menghisap chococip milik Davina, membuat wanita itu terkejut dan membulatkan matanya sempurna.
Deva menghisap chococip Davina dengan perlahan dengan satu tangannya yang lain ikut memijat pelan gunung himalaya di sebelahnya. Deva mulai bergantian menghisap chococip tersebut hingga sudah tidak terlihat sangat bengkak lagi.
“Apa masih tidak nyaman?” tanya Deva setelah selesai melakukan aksinya.
“Sudah tidak terlalu sakit,” jawab Davina yang sedikit kesal dan menampilkan raut wajahnya tak suka.
“Baiklah, sekarang aku akan mengganti pakaian mu,” ucap Deva dengan lembut.
Pria yang biasanya berkata kasar dan suka membentak, kini terlihat lembut dan penuh perhatian, tapi itu tidak membuat ia menjadi lebih baik di hadapan Davina. Wanita itu malah semakin muak saat melihat wajah suaminya tersebut.
“Aku bisa makan sendiri,” ucap Davina yang tidak ingin disuapi oleh Deva.
“Aku tahu itu, aku hanya ingin memastikan hal itu dengan tangan ku sendiri,” ucap Deva lembut.
“Kau tidak berangkat ke kantor? Apa kau tidak sibuk? Apa pekerjaan mu begitu sedikit dan ringan hingga bisa bersantai di sini menjaga ku?” cecar Davina sambil menatap Deva dengan tatapan tak habis pikirnya.
“Tidak ada yang jauh lebih penting dari anak dan istriku, meskipun aku tidak bekerja selama seumur hidup, akan aku pastikan anak cucu kita tidak akan kekurangan apapun selama tujuh turunan ke depan,” jawab Deva dengan mudahnya, agar istrinya tidak lagi mencari alasan untuk menghindarinya.
Bagi Deva, jika Davina jauh darinya, maka sejauh itu juga kemungkinan untuk mencegah perceraian diantara mereka. Deva yang menentang perceraian itu, harus berusaha sekuat mungkin agar istrinya mau bertahan dengan dirinya. Apapun akan ia lakukan asal Davina mau memaafkan dirinya.
“Kau sekarang pintar berbicara? Cih! sejak kapan?” tanya Davina sambil tersenyum mengejek, membuat Deva menundukkan kepalanya sejenak lalu mengelus pucak kepala istrinya secara perlahan.
“Biarkan aku berubah dan menebus semua kesalahan ku di masa lalu, meskipun pada akhirnya aku tahu, kau tidak akan pernah memaafkan aku, tapi aku senang karena aku tulus melakukannya,” ucap Deva lembut sambil menatap Davina dengan tatapan yang tak dapat diartikan.
__ADS_1
“Aku sangat lapar, cepat suapi aku,” ucap Davina dengan nada perintah, ia tidak ingin mendengar ucapan Deva lebih jauh lagi, ia tidak akan pernah terjatuh lagi pada seorang pria kejam itu.
Deva yang mendengar hal itu hanya tersenyum kaku dan melepaskan belaian tangannya di kepala sang istri, untuk segera menyuapi wanita cantik itu.
Tak butuh waktu lama, akhirnya Deva sudah selesai menyuapi sang istri, tapi tak lama setelah itu terdengar suara tangisan sang putra dari box tempat tidur putranya.
“Sayang, jangan menangis lagi, apa kau mendengar suara Mommy mu,” ucap Deva sambil mengelus tubuh putranya agar terdiam, tapi ternyata Baby boy itu menangis semakin kencang.
“Dev, bawa kemari, mungkin dia ingin minum ASI,” ucap Davina pelan.
Deva yang mendengar sang istri ingin memberi ASI pada putranya, begitu bahagia sampai ia tersenyum sambil menggendong baby boy tersebut.
“Sayang, kau minum ASI dulu bersama Mommy ya,” ucap Deva sambil memberikan putranya pada Davina.
Dengan sangat hati-hati Davina menggendong putranya dan mulai menyusui sang buah hati.
“Dev, sedang apa kau di sini, aku sedang menyusui putraku, cepat keluar,” ucap Davina dengan nada mengusir.
“Apa yang kau khawatirkan, aku suami mu, bahkan sebelum putra kita yang meminumnya, aku lah yang pertama menyentuhnya. Jadi aku akan tetap di sini dan melihat putraku meminumnya,” ucap Deva dengan santai dan malah duduk di samping Davina sambil mengelus pipi lembut putranya.
“Hentikan Dev, kau mengganggunya,” ucap Davina kesal dengan nada ketus, membuat Deva diam seketika dan menyingkirkan tangannya dari sang baby.
Cup! Cup!
Deva mencium putranya yang masih menempel di permukaan squishi istrinya, bahkan juga mencium squishi milik Davina dengan tiba-tiba, membuat Davina menatap Deva dengan tajam seolah ingin menerkam suaminya.
...****************...
Daddy Deva
__ADS_1